
Perusahaan Industri Sepatu.
"Cie.... yang baru tunangan," kata Afika pada Sahira yang baru nyampe di kantor.
Sahira hanya tersenyum saja mendengar ejekan Afika barusan. Kemudian dia segera duduk di meja kerjanya.
"Kapan rencana pernikahannya Ra...," tanya Afika mau tau.
"InsyaAllah dua bulan lagi Ka....," jawab Sahira sambil tersenyum.
"Makanya dari sekarang harus kalian siapkan kado buat Sahira," ucap Airin becanda.
"InsyaAllah kami siapkan mbak. Tapi kira-kira apa kado yang kamu mau Ra!" tanya Alea yang kebetulan berada didekat situ.
"Terserah kalian sajalah. Aku hanya mengharap doa terbaik buat aku dan mas Arfi," jawab Sahira.
"Kalau doa, sudah pasti kami mendoakan kalian berdua Ra....," jawab Afika.
"Gimana kalau kadonya perlengkapan dapur saja. Sahira pasti butuh peralatan dapur," ucap Airin.
"Benar juga kata mbak Airin," ucap Alea lagi.
Sahira hanya tersenyum saja mendengar pembicaraan teman-temannya. Dia sangat bersyukur karena teman kerjanya sangat perhatian padanya.
Menjelang istirahat siang, bundanya menelpon Sahira.
"Assalamualakum, ada apa bun....," tanya Sahira pada bundanya.
"Ra.... ayahmu sakit. Ini baru diantar pulang," ucap bunda dalam telponnya.
"Sudah dibawa berobat bun?" tanya Sahira lagi.
"Ini lagi diperiksa sama om Oga," jawab bundanya lagi.
"Bentar lagi Sahira pulang bun," ucap Sahira.
Kemudian Sahira buru-buru permisi pulang untuk melihat kondisi ayahnya. Biasanya kalau ayahnya sakit, om Ogalah yang mengobati. Untuk biaya berobatnya Sahira yang membayarnya.
Hari ini juga pasti seperti itu, makanya bundanya menelponnya. Karena Sahira tau, bundanya tidak akan mau mengeluarkan uang untuk biaya berobat suaminya selagi masih ada Sahira.
Sesampainya di rumah, dilihatnya anak pak Mahendra yang bernama Zio di rumah masih mengobrol dengan bundanya.
"Gimana kondisi ayah bun?" tanya Sahira begitu masuk rumah.
__ADS_1
"Baru saja istirahat setelah disuntik om Oga. Ayah kecapean jadi tensinya turun. Tadi ayah oyong dan terjatuh di kantor, makanya dibawa kemari oleh mas Zio," jawab bundanya menjelaskan.
"Om Oganya mana bun?" tanya Sahira.
"Baru saja pulang. Tadi mas Zio yang bayar semuanya Ra," ucap bundanya.
Saat Sahira melihat kearah Zio, dilihatnya Zio sedang memandang Sahira tidak berkedip.
"Terima kasi ya pak sudah menolong ayah saya. Bukankah bapak yang menabrak saya semalam ya!" tanya Sahira sambil menyalam tamunya.
"Maaf... saya semalam tidak sengaja. Saya buru-buru sehingga tidak melihat kalau mbak lagi berdiri disitu," jawab Zio sedikit malu.
"Nama saya Sahira," ucap Sahira saat menjabat tangan Zio.
"Kalau saya Zio. Panggil saja saya Zio, atau mas Zio. Jangan panggil bapak. Kesannya tua kali," jawab Zio sambil tertawa.
"Oh iya.... kita kan sudah pernah ketemu di pesta Afgan!" tanya Sahira lagi.
"Saat itu kita hanya bersalaman saja, tidak memperkenalkan nama," jawab Zio sambil tersenyum.
Zio sangat senang bisa duduk berdekatan dengan orang yang sudah beberapa hari ini selalu hadir dalam ingatannya. Seandainya Sahira ini jadi kekasih aku..... aku akan sangat bahagia, batin Zio dalam hati.
"Bun.... sudah bisa Hira tinggal? Hira mau masuk kantor lagi," ucap Sahira pada bunda tirinya.
"Kalau mau ke kantor biar saya antar. Saya juga mau ke kantor juga," ucap Zio sambil permisi pada bunda tirinya Sahira.
Saat pulang ke rumah tadi Sahira naik gojek. Rencananya mau naik gojek lagi, tetapi Zio bersikeras mau mengantarnya.
"Sudah lama kamu kerja di industri sepatu itu?" tanya Zio saat didalam mobil.
"Sudah hampir tujuh tahun mas. Mas sendiri sudah lama kerja di perusahaan orang tua mas?" gantian Sahira bertanya.
"Baru setahun ini saya bekerja di perusahaan papa. Sebenarnya saya pingin kerja di perusahan pertambangan, kebetulan ada tawaran. Tetapi papa saya tidak mengizinkan, dan saya disurunya meneruskan usaha beliau. Ya dengan terpaksa saya turuti juga kemauannya. Papa saya punya penyakit jantung, saya tidak mau penyakitnya kambuh. Makanya sekarang saya disini. Sebelumnya saya di Sulawesi," jawab Zio menjelaskan.
Tidak lama kemudian, Sahira pun sampai di perusahaan industri sepatu tempat dia bekerja.
"Terima kasih banyak ya mas Zio. Mas Zio sudah menolong ayah saya, sekarang mengantar saya sampai di depan gerbang," ucap Sahira saat turun dari mobil.
"Hati-hati ya Sahira," ucap Zio sambil terus memperhatikan Sahira.
Setelah Sahira turun, Zio kembali ke kantornya dengan tersenyum sendiri mengingat kebersamaannya dengan Sahira barusan.
Malam Minggu.
__ADS_1
"Ra.... nanti malam mas jemput ya. Kita ke mall ya nyari kemeja putih untuk pernikahan nanti," ucap Arfi pada tunangannya Sahira.
"Tapi pulangnya jangan malam kali ya," jawab Sahira.
Sehabis magrib Arfi langsung menjemput Sahira. Kemudian mereka ke mall. Ternyata Zio dan Nayla juga ada disana. Zio melihat Sahira dan Arfi bergandengan tangan.
Menyaksikan pemandangan seperti itu hati Zio sangat sakit. Kenapa aku harus sakit hati. Merekakan sudah bertunangan, batin Zio dalam hati.
Sementara Sahira tidak memperhatikan kalau di dekat situ ada Zio dan kekasihnya.
Setelah selesai membayar kemeja yang dipilih-pilih tadi, Arfi pun mengajak masuk cafe yang ada di mall itu. Melihat Sahira nongkrong di cafe, Zio pun mengajak Nayla ke cafe itu.
Tetapi Zio sengaja duduknya berjauhan dengan Sahira agar Sahira tidak mengetahuinya. Pandangan Zio bolak balik tertuju pada Sahira. Tidak disangka, ternyata Nayla memperhatikan tingkah laku Zio yang matanya bolak balik tertuju ke arah Sahira.
Saat Nayla melihat ke arah tempat duduk Sahira, dilihatnya disitu ada beberapa cewek yang semuanya cantik. Nayla bingung, sebenarnya cewek yang mana yang diperhatikan Zio dari tadi.
Kemudian Sahira berjalan ke toiler. Saat Sahira menuju toilet, Zio juga pergi ke toilet, pingin menyapa Sahira walaupun sebentar saja.
Diam-diam Nayla mengikutinya. Begitu Sahira keluar dari toilet, dilihatnya Zio ada di dekat situ. Merekapun saling tegur sapa. Tiba-tiba Nayla yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Zio muncul dan marah-marah pada Sahira.
"Oh..... ini perempuan yang sejak tadi menyita perhatian kamu mas. Dasar perempuan kampung, suka menggoda tunangan..... "
Belum sempat Nayla melanjutkan omongannya sudah ditarik tangannya oleh Zio.
"Maaf Sahira....," ucap Zio sambil menarik tangan Nayla dan mengajaknya pulang.
Sahira hanya terdiam dan perasaannya sangat sedih melihat dihina seperti itu.
"Apa maksud kamu ngomong seperti itu pada Sahira!!!" ucap Zio dengan penuh emosi.
"Dia kan perempuan penggoda. Dia telah menggoda kamu mas, sehingga sikapmu belakangan ini sangat berubah," jawab Nayla dengan emosi juga.
"Biar kamu tau ya. Kalau sekarang ini sikapku ke kamu berubah.... itu bukan karena dia, tetapi karena kamu sendiri yang terlalu egois, mau menang sendiri, kasar, boros!" ucap Zio lagi.
"Oh..... kenapa baru sekarang kamu ngomong seperti itu. Kenapa kamu meminang aku, kalau kamu tidak suka dengan kepribadianku!!!" jawab Nayla lagi.
"Karena baru sekarang sifat asli kamu muncul!" jawab Zio.
Kemudian Zio menurunkan Nayla di depan gang rumahnya. Tanpa basa basi Zio langsung menyetir mobilnya dan pulang ke rumahnya. Zio sangat marah pada Nayla karena telah menghina Sahira.
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih...
__ADS_1