Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Bertengkar


__ADS_3

Hari ini pesta pernikahan Afgan yang merupakan salah seorang pegawai pak Mahendra. Rencananya, pak Mahendra pergi ke pesta dengan istri dan Zio anaknya.


"Zio.... nanti Nayla ajak ke pesta Afgan ya. Agar pegawai papa mengenalnya. Karena pegawai papa pasti banyak disana," kata papanya pada Zio.


"Lain kali sajalah pa, untuk hari ini biar Zio pergi sendiri saja tanpa pasangan," jawab Zio pada papanya.


"Loh... kenapa Nayla tidak diajak. Kamu kan sudah tunangan dengan dia. Bawa saja ke pesta nanti, biar dari sekarang dia mulai mendekatkan diri pada pegawai-pegawai papa. Nanti juga akan menjadi pegawai kamu," ucap mama Zio.


"Zio sebenarnya malas bawa dia ma.... Dia terlalu banyak mengatur. Zio sering kesal dibuatnya," ucap Zio pada mamanya.


"Bukankah dia itu pilihan kamu ! Kenapa baru sekarang kamu ngomong seperti itu. Sementara tinggal beberapa bulan lagi kamu akan menikah dengan dia!" ucap mama Zio lagi.


Akhirnya Zio memberitau Nayla juga walaupun sebenarnya hatinya berat. Semakin hari perasaan Zio terhadap Nayla semakin berubah.


Bukan semakin cinta, tetapi semakin pudar cintanya karena belakangan baru ketauan kalau Nayla egois, selalu mengatur, dan juga terlalu matre.


Setelah papa dan mamanya Zio selesai berdandan, merekapun segera pergi ke pesta pernikahan Afgan.


"Kita jemput Nayla dimana Zio?" tanya mamanya pada Zio.


"Di depan Indomaret saja ma biar lebih cepat," jawab Zio santai.


"Kenapa tidak jemput ke rumahnya saja. Bukankah rumahnya searah dengan tempat pesta," ucap papa Zio.


"Kalau kita jemput ke rumahnya, nanti kelamaan pa. Rumahnya kan masuk gang, dan gang ke rumahnya agak sempit. Jadi tadi Zio suru dia nunggu di ujung gang ke rumahnya di dekat Indomaret," jawab Zio lagi.


Tidak lama kemudian merekapun sampai di depan Indomaret dan Nayla sudah menunggu disana.


"Sudah lama Nayla menunggu kami?" tanya mama Zio saat Nayla masuk mobil.


"Lumayan lama juga bu," jawab Nayla.


Saat mereka sampai ke tempat pesta, tamu-tamu sudah banyak yang datang. Mereka juga ketemu dengan keluarga pak Yusuf.


"Dengan siapa Suf kamu kemari!" ucap pak Mahendra sambil menyalam Yusuf.


"Itu pak sama istri dan anak saya. Kebetulan Afgan teman SMA anak saya," ucap pak Yusuf.

__ADS_1


Kemudian pak Yusuf memanggil istri dan anak gadisnya untuk berkenalan dengan keluarga pak Mahendra.


Begitu Zio melihat Safira, jantungnya berdetak kencang. Dia sangat terpesona dengan kecantikan Sahira yang alami. Beda dengan Nayla yang terlalu banyak polesan dan gayanya juga terlalu norak.


Penampilan Sahira sangat sederhana tanpa memakai make up. Dia hanya memakai lipstik yang sangat tipis. Hidungnya mancung dengan mata yang bulat seperti boneka barbie. Dengan rambut sebatas bahu dibiarkan terurai, menambah sempurna kecantikannya.


Setelah bersalaman dengan keluarga pak Mahendra, Safira pun kembali bergabung dengan teman-teman SMA nya.


Zio dari jauh selalu memperhatikan setiap gerak gerik Sahira. Kenapa jantungku berdetak tidak menentu saat dekat gadis itu. Kenapa dari tadi aku tidak berhenti memikirkan gadis itu. Apakah aku jatuh cinta padanya, batin Zio dalam hati.


Setelah satu jam dipesta Afgan, pak Mahendra pun mengajak Zio pulang.


Kemudian merekapun pulang ke rumah.


Sesampai di rumah, papa dan mama Zio turun dari mobil, sedangkan Zio pergi mengantar Nayla pulang ke rumahnya.


"Mas Zio.... kita singga dulu ke mall ya. Ada yang ingin aku beli," ucap Nayla pada Zio.


Zio tidak menjawab, hanya mengangguk saja. Sejak mereka bertunangan, Nayla selalu mengajak ke mall kalau mereka pergi berdua. Sampai mall ada saja yang dibelinya. Saat pembayaran, Zio yang disuru bayar.


"Sudah selesai kamu shopingnya ? Kalau sudah selesai biar kita pulang," ucap Zio pada Nayla.


"Kamu apa tidak shoping mas Zio. Kamu beli kemeja yang mahal kenapa mas. Kamu kan calon manager di perusahaan papa kamu. Biar penampilan kamu lebih wah.... gitu. Maksudku lebih berkelas," ucap Nayla.


"Aku lebih suka berpenampilan yang sederhana. Lebih baik uangnya disumbangkan ke fakir miskin dari pada buat beli baju yang mahal. Masih banyak orang susah yang membutuhkan uluran tangan kita," jawab Zio menyindir Nayla.


Kemudian Zio segera mengantar Nayla pulang ke rumahnya.


"Aku antar kamu sampai depan Indomaret lagi ya Nayla?" kata Zio pada Nayla.


"Kamu tidak singga ke rumah?" tanya Nayla.


"Lain kali saja ya, aku mau buru-buru ada urusan," jawab Zio.


"Urusan apa mas Zio?" tanya Nayla lagi.


"Adalah....," jawab Zio lagi.

__ADS_1


"Aku kan pingin tau mas...," tanya Nayla lagi.


"Mau pergi dengan teman," jawab Zio datang.


"Pergi kemana mas, siapa teman mas Zio?" tanya Nayla ingin tau.


"Lebih bagus kamu jangan terlalu ikut campur urusan pribadi aku Nayla," jawab Zio datar.


"Apa kamu bilang ! Aku tidak boleh tau tentang urusan kamu ! Kamu itu calon suami aku, jadi aku harus tau kemana, dengan siapa kamu pergi. Apakah itu salah!!!" jawab Nayla dengan nada marah.


"Ya itu salah.... Belum menikah kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi aku, apalagi kalau sudah menikah nanti," jawab Zio dengan nada marah juga.


Akhirnya Nayla terdiam saja. Keduanya diam tidak ada suara sepata katapun. Saat tiba di depan Indomaret, mobil diberhentikan dan Nayla keluar dari mobil tanpa ngomong apa-apa pada Zio.


Begitu juga sebaliknya dengan Zio. Begitu Nayla turun dari mobil, Zio langsung menyetir mobilnya menuju jalan pulang. Tidak lama kemudian, Zio pun sampai di rumahnya.


Begitu sampai rumah, Zio langsung masuk kamar untuk istirahat.


Sebenarnya Zio tidak mau pergi dengan temannya, tetapi dia menghindar untuk diajak singgah ke rumah Nayla. Zio sudah malas mendengar ocehan Nayla yang selalu mau tau, selalu mengatur dan banyak sekali permintaannya.


Selesai sholat magrib, Zio dan papa mamanya makan malam bersama.


"Pa.... anak pak Yusuf itu sudah married?" tanya Zio pada papanya.


"Setau papa belumlah. Anaknya hanya satu dari istri pertamanya. Dari istri keduanya tidak punya anak," jawab papa Zio menjelaskan.


"Memangnya kenapa nanya anaknya pak Yusuf. Apakah kamu naksir?" tanya mama Zio.


"Jangan melirik gadis lain. Kamu sudah bertunangan dengan Nayla," ucap papanya.


"Zio hanya nanya saja, tidak ada maksud lain, " jawab Zio bohong.


Padahal Zio sangat tertarik dengan anaknya pak Yusuf. Dia tertarik pada pandangan pertama. Wajahnya yang manis, kulitnya yang putih bersih, dan senyumannya tidak bisa dilupakan. Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya ya, batin Zio dalam hati.


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya.... Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2