Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Dituduh Pelakor


__ADS_3

Menjelang magrib Sahira dan Zio sampai di rumah pak Mahendra orang tua Zio.


"Cepat mandi biar magrib berjamaah kita," kata bu Sisu pada Zio dan Sahira.


"Iya ma," jawab Sahira dan Zio bersamaan.


"Kalian tidur disini saja malam ini. Besok pulang kerja baru kalian pulang ke rumah. Kasihan Sahira kecapean," ucap bu Sisu pada Zio dan Sahira.


"Iya ma. Kami memang rencana mau nginap di rumah mama," ucap Sahira.


Selesai sholat isya, Zio langsung mengajak istrinya tidur.


"Kita tidur sekarang ya sayang....," ajak Zio pada istrinya.


"Iya Ra, pergilah sana tidur. Kamu pasti capek, " ucap bu Sisu mertua Sahira.


"Kami masuk dulu ya pa, ma," ucap Zio pada papa dan mamanya yang sedang menonton TV di ruang tengah.


Kemudian Zio dan Sahira masuk ke kamar.


"Mas....., betis aku sakit loh," kata Sahira sambil memegang betisnya.


"Kenapa Ra, apa kamu ada terpeleset?" tanya Zio khawatir.


"Tidak ada. Atau mungkin karena terlalu banyak berjalan ya," jawab Sahira.


"Mungkin juga. Sini biar mas kusuk," kata Zio sambil memegang betis Sahira.


Zio segera mengusuk betis Sahira sampai Sahira tertidur pulas.


Dilihatnya Sahira sudah nyenyak, Zio pun segera tidur.


***


Pagi-pagi sekali bu Sisu sudah bangun untuk membuat sarapan. Sedangkan pak Mahendra setelah sholat subuh menonton TV di ruang tengah.


Saat bangun tidur, Sahira muntah-muntah di kamar mandi. Segera Zio masuk ke kamar mandi dan mengusuk pundak Sahira.


"Mas ambilkan air hangat ya," kata Zio sambil keluar kamar.


Ketika Zio pergi ke dapur, dilihatnya mamanya sedang memasak sarapan untuk mereka.


"Perlu Zio bantuin ma?" tanya Zio pada mamanya.


"Tidak usah Zi, mama bisa sendiri. Kamu mau ngapain ke dapur?" tanya mamanya.


"Zio mau mengambilkan air putih hangat untuk Sahira. Barusan Sahira muntah-muntah ma," ucap Zio pada mamanya.


"Kalau hamil muda ya seperti itu. Selalu muntah, apalagi bangun tidur saat pagi hari," ucap bu Sisu.


***

__ADS_1


Hari ini Zio berangkat kerja dari rumah orang tuanya.


"Mas berangkat kerja ya sayang...., ucap Zio sambil mencium kening istrinya.


"Hati-hati ya mas," ucap Sahira sambil tersenyum.


"Iya sayang. Kamu juga harus hati-hati ya. Jangan terlalu capek," ucap Zio pada istrinya.


Setelah Zio pergi kerja, Sahira kemudian membantu mama mertuanya membereskan meja makan.


"Biar saja Ra....., nanti biar bi Sarni yang membereskan semuanya," ucap bu Sisu pada Sahira.


"Tidak apa-apa ma. Inikan pekerjaan yang tidak terlalu berat, jadi biar Sahira saja yang mengerjakannya," ucap Sahira.


Bu Sisu hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa. Dilihatnya Sahira memang termasuk wanita yang rajin dan pembersih. Setiap ada yang berserak, pasti dengan cepat dibersihkannya.


***


Saat istirahat jam makan siang, tiba-tiba hp Zio berdering ada telepon masuk. Dilihatnya panggilan dari Nayla mantan tunangan Zio. Dengan sedikit berat, Zio mengangkat telepon Nayla.


"Ada apa Nay?" tanya Zio datar.


"Mas....., bisa aku minta tolong. Tolong carikan aku pekerjaan ya," ucap Nayla dalam teleponnya.


"Kenapa baru sekarang kamu terpikir untuk mencari pekerjaan. Bukannya dulu saat mas tawari pekerjaan kamu tidak mau, dengan alasan capek," ucap Zio ketus.


"Itukan dulu mas. Sekarang kan sudah beda. Aku pingin mandiri mas," ucap Nayla.


"Nantilah kalau ada akan mas kabari," jawab Zio.


"Tidak ada Nay. Nanti mas tanya relasi mas. Kalau memang ada akan mas kabari ya," jawab Zio.


Padahal di perusahaan Zio lagi mencari pegawai, tetapi Zio tidak mau satu kantor dengan Nayla. Zio memang menghindar dari Nayla karena dia tidak mau nantinya Sahira salah paham tentang hubungan mereka. Lebih baik aku menghindar dari Nayla daripada berhubungan dengan dia.


***


Pulang kerja Zio langsung menjemput Sahira di rumah orang tua Zio.


"Kita pulang sekarang sayang?" tanya Zio pada Sahira.


"Terserah mas saja. Apa mas tidak mandi dulu?" tanya Sahira.


"Mandi di rumah sajalah," jawab Zio.


Kemudian Sahira dan Zio pamit pulang pada kedua orang tua Zio.


"Jaga kandungannya ya Ra," ucap bu Sisu sambil memeluk Sahira menantunya.


"Jangan terlalu capek. Banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi dan jangan lupa banyak makan buah karena ini sangat berpengaruh pada kulit baby nantinya," jelas pak Mahendra.


Kelihatan pak Mahendra dan bu Sisu sangat mengharap kehadiran seorang cucu.

__ADS_1


***


Sesampai di rumah, Zio langsung masuk kamar mandi untuk segera mandi.


Saat Zio mandi, hp Zio berdering ada panggilan masuk. Segera Sahira mengambil hp suaminya yang terletak di meja rias. Begitu dilihatnya panggilan masuk dari Nayla, Sahira segera mengangkatnya.


Mendengar yang mengangkat suara Sahira, Nayla pun sedikit marah.


"Oh ini istrinya mas Zio yang merupakan seorang pelakor," ucap Nayla.


"Kamu kalau ngomong yang bagus sedikit. Jangan menuduh orang sembarangan. Kami menikah setelah kalian putus. Jadi tidak ada yang merusak hubungan kalian. Kenapa hubungan kalian bisa putus, tanya diri kamu sendiri," ucap Sahira tidak mau kalah.


"Hubungan kami putus karena mas Zio tergoda sama kamu. Kamu menggoda dia sehingga dia memutuskan hubungan dengan aku. Padahal dia sangat mencintai aku," ucap Nayla ketus.


"Kalau mas Zio lebih memilih menikah dengan aku, berarti karena dia lebih mencintai aku daripada kamu," jawab Sahira sambil menutup teleponnya.


Begitu Zio keluar dari kamar mandi, dilihatnya Sahira sedang duduk di tepi tempat tidur dengan wajah yang cemberut.


Setelah Zio selesai memakai baju, dia kemudian mendekati Sahira yang sedikit cemberut.


"Ada apa sayang....., kenapa wajah kamu merengut seperti jeruk purut," ucap Zio sambil mengelus rambut Sahira dengan lembut.


"Tadi mantan pacar mas nelepon barusan itu," ucap Sahira.


"Nayla maksud kamu," tanya Zio penasaran.


"Iya. Memangnya mas masih berhubungan dengan dia?" tanya Sahira lagi.


Mas Zio bukannya menjawab pertanyaan Sahira, tetapi mas Zio makin tertawa mendengar omongan Sahira barusan.


"Kamu cemburu ya," ucap mas Zio menggoda Sahira.


"Siapa yang cemburu," ucap Sahira ketus.


"Buktinya kamu marah," kata mas Zio lagi.


"Kalau mas masih berhubungan sama dia, ya tidak apa-apa karena cinta tidak bisa dipaksakan," ucap Sahira sudah mulai emosi.


Zio bukannya menjawab, tetapi tersenyum sambil memandang wajah Sahira dalam-dalam.


"Mas ini kenapa....., bukannya menjawab tetapi mala tersenyum sendiri," ucap Sahira.


"Kamu kelihat semakin cantik kalau lagi marah seperti ini," ucap mas Zio.


"Sanalah....., jangan dekat-dekat," ucap Sahira sambil menggeser duduknya lebih jauh dari posisi semula.


Tidak terasa air mata Sahira mulai keluar dari sudut matanya. Melihat air mata Sahira keluar, mas Zio segera memeluk Sahira. Sahira memberontak minta dilepaskan dari pelukannya, tetapi mas Zio semakin mempererat pelukannya. Sahira tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya pasrah, terdiam tanpa ada perlawanan.


"Maafkan mas sayang....., mas tidak ada niat menyakiti hati kamu. Kamu harus percaya pada mas. Wanita yang mas cintai hanya kamu seorang," ucap mas Zio sambil membelai rambut Sahira.


Kemudian Zio menceritakan tentang Nayla yang sedang minta dicarikan pekerjaan. Perlahan hati Sahira sudah mulai percaya dengan penjelasan mas Zio.

__ADS_1


- Bersambung -


Jika kamu suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.


__ADS_2