
Setelah pak Yusuf selesai dioperasi hasilnya tetap sama seperti semula masih tidak sadarkan diri. Sehingga dibawa ke ruang icu lagi.
"Kamu pulang ke rumah mama apa ikut tante Ira sayang....," tanya mas Zio pada Sahira.
"Ikut mama sajalah mas," jawab Sahira.
Sehabis waktu isya, Sahira dan kedua mertuanya pulang, sedangkan mas Zio dan om Budi menunggu di rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah mertua, Sahira langsung pergi tidur. Tetapi pikirannya tidak tenang memikirkan kondisi ayahnya.
Setelah hampir jam dua belas malam, lama kelamaan mulai terasa ngantuk barulah Sahira tertidur.
***
Keesokan paginya sehabis subuh mas Zio pulang ke rumah orang tuanya menjumpai Sahira. Dari rumah orang tuanya mas Zio berangkat kerja.
Sedangkan om Budi masih di rumah sakit menunggu tante Ira datang. Setelah itu baru om Budi berangkat kerja.
"Ra....., selesai sarapan mas antar ke rumah sakit saja ya sekalian mas berangkat kerja," ucap mas Zio pada istrinya.
"Ya tidak apa-apa. Tante Ira katanya juga sehabis sarapan langsung menggantikan om Budi biar om Budi berangkat kerja," ucap Sahira.
***
Selesai sarapan Sahira diantar mas Zio ke rumah sakit. Sampai rumah sakit, tante Ira baru saja sampai diantar oleh suaminya om Dana.
Om Budi sendiri baru saja pulang setelah tante Ira datang.
"Mas berangkat kerja ya sayang. Tapi nanti tengah hari mas sudah pulang. Pulang kerja mas langsung kemari," ucap mas Zio pada istrinya Sahira.
"Hati-hati ya mas," ucap Sahira.
Sekarang tinggal Sahira dan tante Ira yang menunggu di rumah sakit.
Ketika dokter keluar dari ruang icu memeriksa ayah sahira, tante Ira segera menanyakan kondisi abang kandungnya.
"Gimana kondisi abang saya dok," tanya tante Ira pada dokter.
"Ibu banyak saja berdoa. Kalau dilihat dari kondisinya, kecil kemungkinan untuk sembuh, tetapi kita kembalikan semuanya pada Allah karena Allah yang menentukan semuanya," ucap dokter menjelaskan.
Tante Ira hanya terdiam merenung nasib abangnya.
"Apa kata dokter tante?" tanya Sahira pada tante Ira.
Tante Ira pun menjelaskan seperti yang dikatakan dokter barusan.
__ADS_1
Sahira hanya bisa menangis dan pasrah pada kehendak Allah.
Tepat jam sebelas siang, ada beberapa orang tetangga pak Yusuf yang datang menjenguk.
"Gimana kondisi ayah Ra....," tanya bu Rika salah seorang tetangga pak Yusuf.
"Semalam sudah dioperasi bu, tetapi sampai sekarang masih koma. Maafkan ayah ya bu," pinta Sahira pada tetangga pak Yusuf yang baru datang.
Setelah tetangga pak Yusuf pulang, Sahira dan tante Ira kembali duduk di ruang tunggu.
Tiba-tiba suster memanggil keluarga dari pak Yusuf untuk masuk ke ruang icu tersebut.
Sahira dan tante Ira segera masuk dan menjumpai suster yang memanggil tadi. Ketika sampai di dalam ruangan, dokter memberitau kalau pak Yusuf baru saja menghembuskan napas terakhirnya.
Betapa terkejutnya Sahira dan tante Ira. Langsung pecah tangis Sahira dan tante Ira saat itu.
Kemudian tante Ira menelepon semua keluarganya.
"Mas....., ayah sudah meninggal," ucap Sahira sambil menangis saat menelepon mas Zio suaminya.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Mas kesana sekarang ya," ucap mas Zio.
***
Tidak lama kemudian mas Zio pun sampai di rumah sakit. Kemudian dia mengurus semua administrasinya.
Sedangkan yang membereskan rumah pak Yusuf, adalah tetangganya. Mereka semua membereskan ruangan untuk menyambut kedatangan jenazah pak Yusuf.
***
Setelah hampir satu jam membereskan semuanya, jenazah pak Yusuf pun sampai ke rumahnya.
Sampai di rumah pak Yusuf sudah banyak tetangga yang datang untuk melayat.
Begitu juga dengan sanak famili pak Yusuf. Hampir semua keluarga pak Yusuf yang datang. Kebetulan keluarga pak Yusuf rumahnya banyak yang tidak terlalu jauh dari rumah pak Yusuf, sehingga begitu dikabari mereka segera sampai ke rumah ahli musibah.
Mertua Sahira pak Mahendra dan bu Sisu juga sudah sampai di rumah ayah Sahira.
Sampai di rumah pak Yusuf, Sahira dan tante Ira disambut tangis tetangga dan sanak famili.
"Banyak bersabar ya Ra....," ucap tante Irma saat sampat di rumah pak Yusuf.
Sahira hanya bisa menangis.
***
Acara penguburan direncanakan selesai sholat ashar, sehingga sebelum masuk sholat ashar jenazah harus sudah dibawa ke mesjid untuk disholatkan.
__ADS_1
Mas Zio, om Budi, dan om Dana ikut serta memandikan jenazah.
Selesai dimandikan, kemudian jenazah diberangkatkan dari rumah menuju mesjid.
Banyak pelayat yang berdatangan. Baik itu tetangga, famili maupun rekan kerja pak Yusuf.
Pak Yusuf di tempat tingganya terkenal sebagai pribadi yang baik dan ramah.
Begitu juga di tempai kerjanya. Pak Yusuf dikenal semua orang sebagai pribadi yang baik, ramah dan bertanggung jawab.
Banyak orang yang terkejut dengan meninggalnya pak Yusuf karena kepergiannya begitu cepat.
Baru semalam masuk rumah sakit, sekarang sudah meninggal. Yang namanya umur tidak ada seorangpun yang tau.
"Memangnya pak Yusuf sakit apa ya. Kita tidak dengar pak Yusuf sakit, taunya sudah meninggal," kata salah seorang rekan kerja pak Yusuf.
"Semalam pak Yusuf tidak sadarkan diri. Kemudian dibawa ke rumah sakit dan hari itu juga dioperasi karena pembuluh daranya pecah. Tapi namanya sudah ajal, kita berbuat semampu kita tetapi Allah yang menentukan semuanya," ucap bu Sisu pada rekan kerja pak Yusuf.
"Pak Yusuf ini orangnya baik dan ramah loh bu. Kebaikannya tidak bisa kami lupakan. Kalau di kerjaan beliau sering tertawa. Orangnya selalu ceria walaupun sedang banyak masalah," ucap rekan kerja pak Yusuf pada bu Sisu.
"Kasihan pak Yusuf ya. Ditinggalkan istrinya begitu saja," ucap salah seorang pelayat.
"Kebanyakan seperti itu. Kalau orangnya baik, pasangannya tidak baik. Begitu juga sebaliknya," ucap pelayat yang lainnya.
***
Sebelum jenazah dibawa ke mesjid untuk disholatkan, terlebih dahulu digelar acara pemberangkatan dengan pidato singkat oleh masyarakat di tempat tinggalnya.
Pidato dari keluarga pak Yusuf sampai pada rekan kerjanya dan tokoh masyarakat di tempat tinggalnya.
Sahira sangat terpukul dengan kepergian ayahnya. Dia hanya bisa menangis saat pidato pemberangkatan digelar.
Untunglah ada tante Ira dan tante Irma yang selalu setia mendampinginya dan memberi suport pada Sahira.
***
Setelah selesai disholatkan di mesjud, jenazah dimakamkan di kuburan terdekat di tempat tinggal Sahira.
Sahira berjalan ke kuburan digandeng oleh tante Irma.
Jenazah ayah Sahira dimakamkan disamping kuburan ibunya.
"Hira sudah tidak punya orang tua tante. Ibu sudah pergi, sekarang ayah juga pergi meninggalkan Hira," ucap Hira pada tante Irma.
"Kamu harus ikhlas melepas kepergian ayah Hira...., biar ayah tenang di alam sana. Kamu sudah tidak ada orang tua, tetapi masih punya tante dan om yang selalu menyayangi kamu," ucap tante Irma sambil merangkul pundak Sahira.
Sahira sangat bersyukur walaupun tante Irma adalah istri dari omnya sendiri tetapi sayang padanya.
__ADS_1
- Bersambung -
Jika kamu suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.