Close

Close
Bab : 10


__ADS_3

‘Perawat itu terakhir diketahui sedang mendapat giliran tugas jaga di Rumah Sakit tempat dia bekerja pada malam itu, dan sejak itu dia seperti menghilang tanpa jejak, keluarganya sudah melaporkan kehilangan ini pada Polisi...dst’



“Hiiy, ada perawat yang menghilang secara misterius di Rumah Sakit..Eh bukannya ini Rumah Sakit tempat Fairro dirawat kemaren?” Nania serius membaca sebuah koran yang iseng di belinya, sambil duduk di sebuah cafetaria sore itu. “Wah kemana ya perawat itu?? Aneh...Kenapa bisa menghilang ya? Jangan – jangan dia dibunuh atau diculik orang! Hmm... kalo dibunuh, pasti ada mayatnya...Tapi Polisi belum menemukan mayat perawat itu dimanapun...Jadi pasti dia diculik...”



Nania memotong Strawberry Cake yang dipesannya, sambil masih membaca koran.



“Ah, sudahlah...Jadi galau membaca berita ini, lebih baik aku menikmati kue lezat ini, mumpung lagi tenang tanpa gangguan biang – biang heboh itu , si Winda, Lusy dan Abi. “ kata Nania di dalam hati sambil menutup lembaran koran dan mulai menyuap Strawberry Cake kesukaannya dengan penuh perasaan. “Hmmm...Lezat sekali...Sungguh jenius orang yang menciptakan kue Strawberry ini..Hehehhe..”



“Nania...” sebuah sapaan nyaris membuat Nania tercekik dengan kue-nya sendiri. Gadis berambut ikal lucu itu buru – buru meneguk Orange Juice-nya untuk melancarkan tenggorokannya. Mata Nania membulat ketika melihat siapa yang menyapanya itu.



“Fairro??” Gadis itu merasa jantungnya berdegup kencang.



“Sekarang lo percaya kan kalau gue bukan hantu...” kata Fairro tanpa memperdulikan Nania yang terkejut memandangnya.



Sesaat Nania tidak menangkap apa maksud Fairro bicara seperti itu. Dilihatnya si gondrong itu meraba balutan kain kassa yang direkatkan dengan 2 handyplast di kepalanya.



“Ooh...” Nania baru paham.



“Kayaknya gue mau nggak mau harus berterima kasih pada Abi yang sudah membuat kebetulan ini...Kalau dia tidak menabrak gue..Lo nggak akan mau percaya dengan gue kalau gue itu bukan hantu...” kata Fairro lagi. “Hantu nggak mungkin bisa ditabrak kan?”



“Fairro...Maafkan gue karena gue sudah salah mengira...” kata Nania buru – buru memotong perkataan Fairro, gadis itu merasa sangat malu di hadapan Fairro. “Maafkan gue...Lo pasti marah ya sama gue? Kata – kata gue selama ini pasti sudah kasar banget sama lo...Gue pasti sudah konyol banget ya? Abisnya lo mirip sekali sih dengan hantu Jelangkung itu...Malam itu kami bermain Jelangkung dan didatangi sama sosok yang mirip sekali dengan lo...Gue nggak tau mungkin kami sudah salah melihat tapi hantu itu mirip lo...Nggak ngerti deh kenapa...Pokoknya seram banget..Horror banget..Dan kalung Pentagram itu..Ah semua itu pasti cuma suatu kebetulan ya?”



Fairro tampak sama sekali tidak heran atau terkejut dengan cerita Nania. Pemuda itu cuma mengangkat bahu, tapi tatapan matanya berkilat penuh makna.



“Nggak apa - apa...Gue tau semua pasti cuma salah paham...” kata Fairro. “Yang penting sekarang lo sudah tau kalau gue bukan hantu...”



“Ya mungkin kami cuma salah lihat aja...Kami memang sudah konyol banget sampai bisa mengira lo hantu.....Benar – benar bikin malu banget yah...” Nania benar – benar nggak enak dengan Fairro.



“Sekarang gue boleh menjadi teman lo?” tanya Fairro.



“Boleh...Tentu saja boleh...” sahut Nania segera.



“Terima kasih...Ya, gue tau lo mungkin sudah punya Abi...Tapi setidaknya gue ingin jadi salah satu teman lo...” Fairro teringat dengan penolakan Nania tempo hari sewaktu mereka di pelataran parkir Cafe.



“Eh Abi?” Nania tergagap karena dia juga teringat dengan kata – kata penolakannya sendiri pada Fairro. “Ah ya...Anu...Abi bukan pacar gue...Dia cuma teman satu genk...”



“Cuma teman satu genk?” Fairro duduk di kursi yang berseberangan dengan Nania di meja itu. Mata elang abu – abunya tak lepas menatap Nania.



“Iya...” jawab Nania dengan wajah bersemu merah.



Aduh...Mami...Kenapa sih dia menatap gue seperti itu?? Batin Nania. Matanya itu lho... Mata abu – abu itu tampak begitu jernih dan teduh, seolah sanggup meruntuhkan perasaan siapa saja yang membalas tatapannya.



Nania merasa tersiksa banget duduk dihadapan Fairro. Selama ini gue sudah berpikir yang tidak –tidak padanya. Hantu Jelangkung? Oh Tidak! Nania betul – betul merasa malu. Diam – diam gadis itu juga sangat menyesal karena buru – buru menolak perasaan suka Fairro kepadanya hanya karena dia mengira Fairro itu hantu. Ampun...Gue harus bagaimana??



Nania sangat bersyukur ketika perhatian Fairro jadi teralih karena pesanan Mocha Latte Fairro datang, dibawa oleh seorang pelayan Cafetaria ke meja mereka Sesaat si gondrong itu tampak sibuk dengan minuman Mocha Latte-nya.



“Fairro...” kata Nania sebelum Fairro melanjutkan lagi bertanya – tanya soal Abi.



“Ya??”



 “Kok cepat benar lo keluar dari Rumah Sakit?? Perasaan kan baru dua hari yang lalu lo kecelakaan dan masuk Rumah Sakit? Jangan – jangan lo kabur ya??” sekilas Nania melihat kalo Fairro sedikit terjengah disodori pertanyaan seperti itu.



“Gue...Gue kan sudah bilang kalau gue nggak apa – apa...Nggak perlu dirawat di Rumah Sakit...” Fairro menjawab dengan nada enggan. “Jadi ngapain gue lama – lama di Rumah Sakit?”



“Tapi lo kan belum sembuh? Apa sih yang lo takutkan?? Nanti kalo luka – luka lo kambuh atau terkena infeksi gimana??” tanya Nania heran.



“Ini cuma luka – luka ringan...” bantah Fairro.



“Lalu...Bagaimana dengan penyakit Anemia lo?”



“Gue tidak punya penyakit Anemia!!” tukas Fairro tetap membantah. “Dokter itu cuma mengada – ada...”



“Nggak mungkin dong Fairro...Dokter kan mengatakan itu berdasarkan hasil diagnosa dari kondisi lo...”



“Bullshit!”



“Lo tuh aneh, Fairro!”



“Sorry...”



Sesaat keduanya jadi terdiam canggung. Fairro mempermainkan jemarinya diatas pinggiran mug Mocha Latte-nya dengan gelisah, sedangkan Nania menunduk menyibukkan diri dengan kegiatannya memotong – motong Strawberry Cake-nya tanpa tau untuk apa sebenarnya dia melakukan itu, karena kue itu justru menjadi hancur akibat perbuatan itu. Nania terjengah ketika tiba – tiba mendengar ada yang tertawa tertahan. Gadis berambut ikal itu mengangkat wajahnya dan melihat Fairro, si gondrong itu tertawa, walau tampak jelas pemuda itu berusaha menahan tawa itu, tapi dia tertawa! Astaga...Berbeda sekali tampangnya kalo dia tertawa...Begitu manis...Begitu menyenangkan...Mata abu – abunya juga seolah ikut tertawa...Betapa sejuknya memandang mata indah itu...Tapi kenapa sih dia tiba – tiba tertawa begitu?



“Kalo lo nggak suka kue itu...Lo bisa mengangsurkan piringnya ke gue...” kata Fairro membuat Nania tersadar.

__ADS_1



“Haa?? Kue gue!!” pekik Nania histeris, gadis itu terbelalak kaget menyaksikan kue kesukaannya hancur.



Fairro tertawa.



“Ya sudah, kita ganti saja kue itu...” usul Fairro sambil mengangkat tangannya hendak memanggil pelayan.



“Eeh...Nggak usah! Kue ini kan masih bisa dimakan kok...” cegah Nania buru – buru.



“Oke..Oke..” Fairro mulai lagi tertawa.



Dasar orang aneh! Gerutu Nania di dalam hati. Nih orang jarang sekali memasang tampang ramah, tapi sekalinya tertawa malah gak berhenti – berhenti! Padahal kelakuan gue tadi nggak ada lucu – lucunya deh rasanya! Nania jadi uring – uringan memperhatikan si gondrong yang masih tertawa itu.



Gadis itu menghela nafasnya, kenapa gue sampai bisa mengira dia hantu Jelangkung? Orang secakep ini? Semanis ini? Tapi hantu Jelangkung yang mendatangi mereka malam itu memang mirip sih! Heran, kok ada ya hantu cakep? Eh maksud gue, kok ada orang secakep ini mirip dengan hantu? Ah bagaimana sih? Nania meneguk Orange Juice-nya dengan wajah merah padam.



“Haloo?? Udah belom sih ketawanya?” tegur Nania akhirnya. “Urat ketawa lo lepas ya?”



“Oh Sorry...Sorry...” Fairro berusaha menghentikan tawanya melihat Nania udah mulai bete.



“Gue sudah mau pulang nih...” kata Nania kemudian.



“Mau gue antar?” Fairro memandang Nania dari balik geraian rambut panjang hitamnya.



“Ah nggak usah deh...Nggak apa – apa kok..Gue bisa pulang sendiri.” tolak Nania.



“Sekalian jalan...Gue kebetulan ada keperluan yang tempatnya searah dengan rumah lo...Yuk? Please?” bujuk Fairro, tapi nadanya lebih terdengar seperti memohon. Nania akhirnya tak kuasa menolak Fairro dan mengikuti si gondrong itu keluar Cafetaria. Mata Nania membulat ketika melihat mobil Fairro. Sebuah Mercedes Benz, cink!



“Nania?” ajak Fairro sambil membukakan pintu mobilnya untuk Nania.



“Kemana motor Harley lo?” tanya Nania masih terbengong – bengong di depan Mercedes Benz itu.



“Masih di bengkel...” sahut Fairro singkat.



Nania menggigiti kukunya sambil melirik ke arah Fairro yang masih menunggunya masuk ke dalam mobil. Fairro, si gondrong yang aneh itu, yang sempat dikira Hantu Jelangkung itu, yang selalu datang dan pergi sesukanya seperti angin yang berhembus, si gondrong yang bermata abu – abu seperti kristal itu, sekarang mau mengantarnya pulang?? Salahkah dia menuruti ajakan itu? Sekilas ada keraguan di hati Nania.



Seandainya peristiwa Jelangkung itu tak pernah ada. Seandainya Nania tak pernah mengucapkan kata – kata penolakan itu...Ah, tapi gadis mana sih yang rela melepaskan Fairro? Dengan wajah yang begitu tampan seperti wajah Dewa – dewa Legenda Yunani, bentuk tubuh jangkung proporsional seperti fotomodel, mata abu – abunya yang selalu menatap tajam laksana mata elang, tajir banget, baik hati dan begitu romantis...Masa bodoh dengan penolakannya kemarin, toh Fairro sepertinya masih memberikan kesempatan...Nania akhirnya menepis semua keraguannya.



Gadis itu hampir saja memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Fairro, ketika tiba – tiba Mbak Maya, Abi dan beberapa teman Mbak Maya muncul.




Abi cuma menggerutu panjang – pendek mendengar kata – kata kakaknya itu.



“Gue nggak apa – apa...” sahut Fairro. “Cuma kecelakaan kecil, mbak...”



Mbak Maya membelalakkan matanya.



“Eh, kok masih juga panggil mbak sih?? Kan sudah gue bilang lo boleh panggil gue Maya saja. “ kata Mbak Maya mengoreksi.



“Maaf mbak...Maksud gue, Maya...”



“Nah gitu dong...Kan kedengarannya jadi lebih akrab...” Mbak Maya tertawa, sambil menggelayut manja di lengan Fairro, membuat kedua alis mata si gondrong itu saling bertaut memandang Mbak Maya. “Teman – teman sudah pada cemas lho ketika mengetahui kabar lo kecelakaan...Makanya kita – kita sebetulnya mau menjenguk lo di Rumah Sakit sekarang...Tuh Abi sudah bela – belain lho mau mengantarkan kita...Eeh...Ternyata elo-nya sudah keluar dari Rumah Sakit...”



“Iya nih Fairro...Kita sudah bawain lo buah – buahan segala lho??” kata salah satu teman Mbak Maya ikut menimpali.



“Thanks banget semuanya...Gue jadi ngerepotin ya??” kata Fairro dengan nada serba salah.



“Ah enggak kok, Fairro...” tukas Mbak Maya buru- buru. “Ya sudah, sekarang begini saja deh, karena Fairro sudah nggak apa – apa...Bagaimana kalau kita semua pergi ke Cafe yuk?? Sekalian ngerayain kesembuhan Fairro...Setuju?”



“Usul bagus, May!”



“Setujuu!!”



“Fairro setuju juga kan?”



“Ayo dong, Fairro...Katakan kalau lo mau...”



Teman – teman Mbak Maya langsung heboh menanggapi usul Mbak Maya dan mengelilingi Fairro membujuk si gondrong itu agar setuju juga dengan usul tersebut dan mau ikut ke Cafe. Fairro terjengah dikelilingi oleh gadis – gadis itu, jelas – jelas si gondrong itu tampak tidak suka dengan keadaan itu.



“Eh..Kayaknya gue nggak bisa...” kata Fairro dengan nada hati – hati.



“Sshh...Jangan ada kata nggak bisa dong? Emangnya lo mau kemana sih?” Mbak Maya mendekatkan jemarinya ke bibir Fairro.



“Gue mau mengantar Nania...” sahut Fairro.

__ADS_1



“Nania?!!” Mbak Maya terbelalak, seolah baru terlihat olehnya Nania yang berdiri lugu di samping Fairro sedari tadi. “Ooh...Hai Nania? Sedang apa lo disini??”



“Mbak Maya...” Nania tergagap, karena dari pandangannya jelas Mbak Maya tidak senang Nania ada di dekat Fairro. “Nania baru dari Cafetaria, mbak, trus mau pulang...”



“Mau pulang ya? Tumben nggak sama Winda dan Lusy?? Mobil lo kemana, Nan??” tanya Mbak Maya.



“Mobil Nania lagi dibawa Joe, mbak...” jawab Nania.



“Ya sudah, lo pulang sama gue saja Nan...” Abi yang sedari tadi diam saja, menawarkan jasa.



“Tapi, Bi...” sia – sia Nania hendak menolak karena Abi sudah menggandeng tangannya agar ikut.



“Mbak...Abi tinggal ya?? Mbak kan bisa dengan Fairro??” kata Abi pada kakaknya.



“Ya, ya...Nggak apa – apa...Lo pergi aja dengan Nania...” sahut Mbak Maya sambil lalu.



Mungkin ini cuma perasaannya saja, tapi Nania seperti melihat ada raut kecewa di wajah Fairro. Demi Tuhan...Diam – diam Nania berharap agar Fairro mencegah Abi membawanya pergi, tapi ternyata Fairro cuma diam saja sambil memandangi kepergian Nania dan Abi dengan mata abu – abunya itu.



Sebelum masuk ke dalam mobil Abi, Nania masih sempat melihat Fairro yang dikerumuni teman – teman Mbak Maya. Apa Fairro suka dikerumuni gadis – gadis seperti itu? Yah...Rasanya pasti Fairro sudah terbiasa dikejar – kejar, dikerumuni, di puja – puja oleh gadis – gadis di kampusnya. Dengan penampilan Borjuis seperti itu, siapa sih yang akan melewatkan Fairro?? Batin Nania didalam hati. Gadis berambut ikal itu menghela nafasnya. Busyet! Kenapa gue jadi cemburu gini?? Fairro mau ngapain juga, itu kan bukan urusan gue, kok jadi gue yang repot sih?



“Kenapa lo, Nan?” Abi menegurnya karena Nania tampak melamun.



“Eh?...Ah, enggak kenapa – napa kok...” Nania tersentak.



“Nan...”



“Ya??”



“Kok lo bisa dengan Fairro tadi?” tanya Abi mulai.



“Cuma kebetulan ketemu saja dengan dia di Cafetaria tadi, terus dia nawarin gue pulang bareng dia...” jawab Nania.



“Oh begitu...Lo nggak takut ama dia? Biasanya lo selalu menghindari dia, kok sekarang mau diantar dia??” tanya Abi lagi.



“Iya sih...Tapi sejak peristiwa kecelakaan itu, gue jadi tau kalau gue sudah salah mengira dengan Fairro...” Nania menjelaskan.



“Salah mengira bagaimana??”



“Kan tadinya gue, Winda dan Lusy mengira dia adalah hantu Jelangkung yang mendatangi kami malam itu...”



“Terus?”



“Tapi ternyata bukan, soalnya hantu mana bisa ditabrak kan?”



“Jadi kalo gitu, lo menerima dia dong sekarang??”



“Menerima apa??”



“Ya menerima dia sebagai pacar lo...”



“Lho kok gitu??” Nania memandang Abi dengan mata terbelalak.



“Ya memang begitu kan yang terjadi?” Abi bicara tanpa membalas pandangan Nania. “Buktinya lo mau diantar dia tadi...”



“Abi...”



“Kenapa? Gue salah ngomong?”



“Apa maksud lo??”



“Fairro itu tajir, cakep, keren..Apa lagi yang kurang?? Semua cewek tergila – gila dengan dia...Pasti lo juga...”



Nania mulai senewen mendengar kata – kata Abi.



“Iya terus?...Kalo seandainya gue suka juga, terus lo kenapa??” tanya Nania sedikit emosi.



“Ya...Gue nggak kenapa – napa...”



Tapi kata – kata ‘Nggak kenapa – napa’ itu ternyata justru menjadi ‘kenapa – napa’, karena setelah mengatakan itu sikap Abi berubah. Pemuda itu jadi membisu seribu bahasa sepanjang perjalanan mengantar Nania pulang ke rumah. Kalau pun Nania mengajaknya bicara, pemuda itu cuma menjawab singkat dan basa – basi banget.



“Kenapa sih si Abi??” pikir Nania setengah kesal, setengah heran. “Kok ngomongnya jadi aneh gitu??”


__ADS_1




__ADS_2