
Laki – laki itu duduk termenung di tepi tempat tidur memandangi anak laki - lakinya yang berumur 3 tahun yang sedang tertidur. Malam sudah pukul 2 dini hari, tapi laki – laki itu tidak merasa mengantuk sama sekali.
“Anakku...3 tahun sudah ibumu pergi dengan cara yang begitu aneh...Darahnya tersedot sampai kering...Mengerikan sekali...Se...Seperti di gigit...Oleh...Aah...Bukan Cuma ibumu...Pengasuh – pengasuhmu...Apa yang terjadi?...Kasihan sekali anakku...Kenapa kematian selalu mengiringi hidup mu?? Beruntung kamu tidak ikut terbunuh...Kamu begitu polos dan lucu...Kami sudah jatuh cinta padamu ketika kami menemukanmu di pintu gerbang...” laki – laki itu menutup wajahnya dengan murung. Tak bisa pupus rasanya kesedihan kehilangan istri yang sangat dicintai. Apalagi kepergiannya begitu aneh. Polisi dan dokter sampai sekarang tidak bisa menemukan sebab kematiannya atau siapa yang sudah membunuh istrinya Dina.
“Ayah...” tiba – tiba anak laki – lakinya terbangun dan merintih. “Ayah...Sakit..Ayah...Sakit...”
Laki – laki itu tersentak memandang anaknya.
“Ada apa nak? Apanya yang sakit??” tanya laki – laki itu terkejut sambil buru – buru memeriksa anaknya. Anak kecil itu memandang ayahnya sambil mulai menangis.
“Sakit, ayah...sakit...”
“Sayang...Kamu kena apa?” laki – laki itu buru – buru meraba kening anaknya dengan risau, mengira si kecil itu terserang demam. Anak kecil itu tampak menggigil kesakitan, nafasnya terengah – engah di sela tangisannya yang semakin keras.
“Anggra...Anggra...” sambil menangis anak itu menunjuk – nunjuk ke sudut kamar. “Anggra tidak boleh...”
“Anggra siapa?” laki – laki itu memandang ke sudut kamar
Sesosok tubuh mungil muncul dari dalam kegelapan sudut kamar itu, sosok itu juga memiliki sepasang mata abu – abu yang begitu jernih, dia tersenyum pada laki laki itu dan mengembangkan kedua tangannya seolah minta dipeluk.
“Ayah?” katanya.
Sebelum laki – laki itu bergerak mendekati sosok mungil misterius itu, tiba – tiba lehernya terasa sakit seperti ada yang mengigit. Laki – laki itu menoleh.
__ADS_1
“Aaarrrgghhh!!! Tidaaak!!!”
Teriakan Fairro yang tersentak bangun dari tidurnya seolah terdengar sama kerasnya dengan teriakan laki – laki itu.
“Mimpi...Mimpi itu lagi...” kata Fairro dengan nafas terengah – engah. Mata abu – abunya nyalang memandangi jam dinding yang berdentang dua kali. Sudah pukul 2 dini hari. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. “Apa maksud mimpi itu? Anak laki – laki kecil di dalam mimpi itu siapa? Kenapa dia menyebut Anggra? Apakah...Apakah itu gue?”
Tangan Fairro bergetar ketika menyeka keringat dari keningnya.
“Gue...Gue tau...Gue yang menyebabkan semua kematian – kematian itu...Tapi gue nggak ingin mengingatnya...Gue nggak ingin tau...Kenapa mimpi – mimpi itu seolah sengaja datang untuk memaksa gue agar mengingat apa yang sudah gue lakukan sewaktu kecil...Kenapa?” Fairro dengan gelisah menyibakkan rambutnya yang acak – acakan menutupi wajahnya. “Apa semua ini belum cukup menyiksa gue? Gue nggak suka dengan keadaan gue...Gue sudah seperti setan yang butuh ritual mistik untuk menambah kekuatan gue...Dan penyakit ketergantungan dengan darah itu...Kenapa masih harus dipaksa melihat semua mimpi – mimpi mengerikan itu?? Oh shit!! Kenapa?!”
Fairro merosot turun dari tempat tidurnya, duduk di lantai kamar apartemennya. Jam terus bergeser dari pukul 2 dini hari, detik demi detik, menit demi menit. Si gondrong itu mengeluh. Anggra biasanya muncul jam segini, tapi mungkin kembarannya itu sedang gentayangan mencari tempat – tempat dimana ada orang yang sedang bermain Jelangkung atau ritual – ritual mistik lainnya. Biar saja. Masa bodoh! Bagus banget! Shit! Dia memang butuh kekuatan dari ritual - ritual itu sekarang, kekuatan untuk segala kebrengsekan ini!
“Oh Shit...” Fairro ambruk setibanya di kamar mandi.”Gue memang benar – benar butuh kekuatan ritual mistik itu sekarang! Gue...Gue...Shit! Kemana Anggra? Kenapa dia lamban sekali malam ini?”
Mata abu – abu Fairro menatap nanar bathtub kamar mandinya. Seperti ada yang menggerakkan tubuhnya, perlahan Fairro merangkak mendekati bathtub itu, dibukanya keran air bathtub, membiarkan airnya yang jernih mengucur deras, memenuhi bathtub. Si gondrong itu memandangi tetesan air yang berasal dari pinggiran bathtub yang mulai penuh dengan air. Air mengalir membasahi tubuhnya yang bertumpu pada pinggiran bathtub. Membelai-belai, menyejukan tubuhnya. Mata abu – abu Fairro kemudian bergerak ke dalam bathtub. Airnya yang berpusar lembut seolah memanggilnya untuk menceburkan diri ke dalamnya.
Fairro mengidik, dia tidak tau kenapa, tiba – tiba dia mengidik. Serasa ada angin dingin yang mendesir ditengkuknya. Si gondrong itu tidak tau apa pusaran air di dalam bathtub itu yang sudah menghipnotisnya sedemikian rupa sehingga pikiran - pikiran aneh tiba – tiba mengusik benaknya atau dia cuma berhalusinasi. Dia merasa ada sesosok bayangan putih tiba – tiba sudah berdiri di belakangnya, berbarengan dengan aroma melati yang merebak memenuhi kamar mandi itu. Fairro merasa tubuhnya gemetar ketika dia bangkit dari lantai kamar mandi untuk berdiri, kepalanya seolah begitu berat untuk menoleh ke belakang. Pemuda itu merasa bulu kuduknya berdiri merasakan tangan bayangan itu, merayap di atas T – Shirt hitamnya, perlahan, begitu perlahan, mencapai puncak punggung Fairro. Sreet!! Tangan bayangan misterius itu menyentakkan T – shirt Fairro sehingga robek di bagian punggungnya membuat Fairro mendelik kaget.
“Oh...Ss..Shit...” Fairro mengeluh merasakan dinginnya telapak tangan bayangan itu kini semakin leluasa bergerak membelai dan menelusuri punggungnya yang telanjang. Kuku – kuku panjang tangan itu tajam mengiris punggungnya, si gondrong itu merasakan ada aliran hangat yang mengucur dari punggungnya. Pedih. Fairro memejamkan matanya, mengutuk rasa itu.
Tubuhnya serasa lumpuh saat tangan itu perlahan turun dan memeluk pinggangnya, Fairro mengerutkan keningnya, betapa pun kuatnya dia berusaha memberontak tapi bayangan misterius yang ada di belakangnya itu seolah mempunyai kekuatan ghaib yang tak bisa dilawan. Siapapun...Atau mahluk apapun...Sosok bayangan itu tidak saja memeluk Fairro tapi juga menciumi telinganya, mendesah, seolah hendak mengajak Fairro bermain cinta. Si gondrong itu merasakan keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, dia mengigil ketika tangan itu mulai bergeser turun dari pinggangnya, menyelipkan jemari lentiknya dengan manja ke dalam pinggang celana panjang Fairro sebelum turun lagi, turun...
__ADS_1
BYUUR!!!
Deburan air bathtub begitu keras terdengar bersamaan dengan tubuh Fairro yang terjun masuk ke dalam bathtub. Cowok gondrong itu membiarkan dirinya terbenam sampai ke dasar bathtub. Lama. Seolah Fairro tidak mau keluar lagi dari dalam air untuk selamanya, seolah dia membiarkan dirinya mati kehabisan nafas disitu. Entah karena dia tak mau bertemu dengan bayangan putih misterius itu, mencari tau siapa, atau memang sengaja hendak menghabisi nyawanya sendiri. Fairro pasti mati lemas, kalo saja sepasang tangan gemulai berkuku – kuku panjang milik bayangan putih itu tidak segera menarik tubuh Fairro keluar lagi.
Sesosok tubuh semampai bergaun putih panjang, tipis, yang samar – samar memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat bagus dan menebarkan bau harum bunga melati berdiri di depan bathtub. Sosok itu adalah seorang wanita yang berambut panjang hitam kemilau, dengan poni yang hampir menutupi matanya yang berbentuk seperti kacang almond, membuat wajah wanita itu terlihat sangat oriental. Cantik, seperti boneka. Wanita itu menatap ke arah Fairro lurus – lurus. Si gondrong itu terjengah membalas tatapan itu.
“Lo? Lo yang mengikuti gue di pelataran parkir cafe itu, di depan gerbang pemakaman itu...” Fairro setengah mati mengatur nafasnya yang terengah – engah. “Si..Siapa lo?...Mau apa lo?”
“Saya menginginkan kamu...” wanita itu mendesis berbicara.
Fairro terjengit menggigil ketika tangan wanita mahluk halus itu membelai wajahnya. Dicobanya untuk menepis tangan wanita itu dengan tangan kirinya, tapi wanita mahluk halus itu justru menangkap tangannya dan mencengkramnya erat - erat.
Kilauan Pentagram Fairro tiba – tiba saja membuat wanita mahluk halus itu terbelalak memandangi tangan kiri Fairro.
“Oh! Tidak mungkin!! Pentagram itu!! Kalung Pentagram itu!!” Wanita itu memekik histeris. “Bagaimana mungkin...Kamu...Kamu...”
Si gondrong itu hendak mencegah, tapi wanita itu seperti sirna dari hadapannya. Menghilang entah kemana.
Fairro mengusap rambut panjangnya yang basah itu dengan gugup. Si gondrong itu tampak sangat kebingungan. Apa yang sebetulnya terjadi? Siapa wanita mahluk halus itu? Kenapa dia? Kenapa dengan kalung ini??
__ADS_1