
Nayla melahirkan bayinya di rumah Tsako. Beruntung Tsako adalah seorang mahasiswi Kedokteran dari negeri seberang yang sedang mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa di negeri ini, sehingga semua proses kelahiran itu dapat berlangsung aman dan tak diketahui siapapun juga. Indra kuatir kalau Nayla melahirkan di Rumah Sakit, bayi mereka akan menimbulkan kehebohan dan tanda tanya.
Bayi itu terlahir kembar. Laki – laki. Satu terlahir sebagai manusia, dan satu lagi terlahir dalam sosok gaib. Begitu lucu dan menggemaskan, mereka memiliki mata abu – abu seperti milik Indra. Nayla begitu bahagia akan kelahiran bayi kembarnya, dia memendekkan rantai kalung Pentagram pemberian Indra sedemikian rupa sehingga pas untuk dipakaikan pada salah satu bayinya dan meminta Tsako untuk memotret kedua bayi kembarnya. Karena Nayla tau bayinya yang seorang lagi tidak bisa lama bertahan dalam cahaya matahari, jadi akan sulit menyaksikan keduanya bersama – sama seperti itu.
“Bayi kita sangat lucu, Nayla...” kata Indra pada Nayla pada suatu malam. “Kita harus berterima kasih pada Tsako yang sudah membantu kelahiran mereka...”
Nayla seolah tak mendengar kata – kata Indra, dia justru sedang sibuk mengira – ngira apa nama yang pantas untuk kedua bayinya itu.
ANDRA dan ANGGRA
ANDRA dan ANGGRA
ANDRA dan ANGGRA
Nayla menulis dua nama itu berulang – ulang pada kertas.
“Kamu yakin ini nama yang bagus?” Indra akhirnya memperhatikan kertas itu. Nayla menggangguk pasti, wajahnya tampak begitu berseri – seri seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat indah. Indra tertawa dan mencium kening Nayla.
“Baiklah, baiklah, ini nama anak – anak kita. Andra dan Anggra...Oke, bagus...”
Nayla mengambil sebuah kotak kayu yang ada di meja kecil di dekatnya, dan menunjukkan isinya kepada Indra. Buku Hariannya dan foto kedua bayinya yang sudah dicetak Tsako kemarin siang.
Kotak ini akan diberikan kepada anak – anak kita kelak jika mereka sudah besar, begitu tulis Nayla diatas kertas, agar mereka tidak bertanya – tanya kenapa mereka berbeda dari orang – orang lainnya.
Indra membelai rambut Nayla dengan lembut. Dia tersenyum, tapi senyumnya keliatan sedih.
“Maafkan aku, Nayla...Seharusnya aku bisa membawamu ke Istanaku, disana tidak akan ada yang menganggap kedua bayi kita aneh...” kata Indra dengan suara berat. “Tapi...Tapi aku tidak bisa...Karena...Ayah dan ibuku menentang hubungan kita...Dan mereka ingin...Mereka ingin...”
__ADS_1
Nayla memegang tangan Indra, raut wajahnya seolah bertanya, ‘Mereka ingin apa?’
“Mereka ingin...Mereka ingin membinasakan bayi – bayi kita... “ kata Indra tersendat.
Nayla tiba – tiba berdiri. Jam dinding di rumah Tsako berdentang keras, dua kali, sudah pukul dua dini hari.
“Ada apa, Nayla?” Indra terjengah.
Nayla tampak ketakutan dan menunjuk ke arah pintu depan rumah. Seolah ada angin yang begitu kencang, tiba – tiba pintu itu terhentak terbuka lebar.
Tiga sosok berpakaian putih berkilau, tampak berdiri di depan pintu. Wajah mereka begitu dingin memandang Indra dan Nayla.
“Oh tidak!! Ayah...Dan Paman...Ba...Bagaimana mungkin kalian bisa tau kami ada disini??” wajah Indra langsung pucat – pasi ketika mengenali siapa tiga sosok itu. “Bagaimana mungkin??”
“Ada ap...?” Tsako tak sempat bertanya karena Nayla sudah menubruknya dengan tubuh gemetar. Di lantai tampak Indra berlutut di depan tiga sosok aneh.
“Jangan Ayah! Saya mohon jangan! Paman...Jangan!” Indra menangis. “Mereka adalah anak – anak saya, ampunilah mereka...Bunuh saja saya, Ayah...Bunuh saja saya...”
Tapi tiga sosok itu cuma melambaikan tangannya, yang membuat Indra seketika terjengkang ke belakang. Nayla spontan berlutut disisi Indra dan memeluk kekasihnya itu sambil berlinangan air mata ketakutan.
“Kamu sudah melanggar aturan - aturan dunia kita...Kamu sudah melakukan dosa tak terampunkan, Indra!” geram salah satu dari tiga sosok itu.
“Maafkan saya, Ayah! Tapi saya sangat mencintai Nayla...” rintih Indra di dalam pelukan Nayla. "Saya mohon...Izinkan saya...Restui kami...”
“Anak bodoh!! Kamu sudah membuat leluhur kita marah! Tidak tau kah kamu? Tidak boleh ada mahluk – mahluk baru yang akan merusak sistem kehidupan dunia gaib dan dunia fana...Bayimu adalah mahluk – mahluk baru...Bayimu bukan manusia, dan juga bukan mahluk halus...Hanya ada dua dunia di dalam kehidupan, dunia fana dan dunia gaib, tidak akan pernah ada dunia percampuran antara yang fana dan gaib...Maka bayimu tidak boleh ada! Bayimu harus musnah!!!”
__ADS_1
Tsako tak sanggup membendung air matanya melihat betapa menggigilnya tubuh Indra dan Nayla yang berpelukan dilantai bagai tikus kecil yang sudah terjebak di dalam perangkap.
Tanpa pikir panjang lagi Tsako berbalik dan berlari menuju ke kamar dimana kedua bayi kembar itu sedang tertidur. Cepat Tsako menggendong kedua bayi itu dan membawanya keluar dari kamar. Bagai kesetanan gadis berambut panjang itu menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar rumahnya lewat pintu belakang, menuju garasi mobilnya.
“Aku...Aku harus menyelamatkan bayi Indra dan Nayla...” batin Tsako dalam kepanikan.
Teriakan – teriakan Indra yang terdengar dari dalam rumahnya, membuat Tsako bertambah panik. Tangannya begitu gemetar ketika masuk ke dalam mobil bersama kedua bayi itu dan menstarter mobilnya.
Mobil itu melaju entah kemana menembus kegelapan malam. Tsako tidak tau sudah berapa jauh, sudah berapa lama, ketika akhirnya dia menghentikan laju mobilnya di sebuah jalan sepi karena keletihan. Hari sudah hampir subuh. Gadis berwajah oriental itu akhirnya menangis tersedu – sedu dibelakang kemudi. Lama Tsako menangis.
“Kasihan Indra, Kasihan Nayla...Entah bagaimana nasib mereka sekarang?” tangisnya pilu. Diliriknya kedua bayi kembar yang tergolek di jok mobil disampingnya. “Yah...Se...Setidaknya bayi mereka masih bisa terselamatkan...”
Cahaya lampu rumah besar yang pertama terlihat membuat Tsako mengambil keputusan singkat. Digendongnya kedua bayi kembar itu keluar mobil.
“Suatu hari kalian akan saya jemput kembali dan akan saya kembalikan pada Indra dan Nayla...Kalung Pentagram pelindung itu yang menjadi tanda pengenal kalian...” bisik Tsako ketika meletakkan kedua bayi itu di depan gerbang rumah besar itu. “Saya...Saya tidak bisa merawat kalian...Maafkan saya...Tapi mahluk – mahluk mengerikan itu sudah mengenali saya...Dan itu akan berbahaya buat kalian...Karena mereka akan dengan mudah menemukan kalian...Tapi di rumah ini...Mereka tak akan tau...Jangan kuatir rumah ini cukup besar, pasti kalian akan mendapat hidup yang layak di rumah ini...”
Bersamaan dengan kokok ayam jantan di sinar pertama cahaya mentari pagi, Tsako masuk ke dalam mobil, meninggalkan kedua bayi kembar itu. Tsako tau, orang – orang dirumah itu pasti cuma akan menemukan satu bayi di depan gerbang mereka, karena salah satu bayi kembar itu akan lenyap seiring pagi menjelang.
“Jangan kuatir, saya pasti akan menjemput kalian kembali...Jangan kuatir...” bisik Tsako sambil menjalankan mobilnya melaju di jalan yang mulai terang itu.
BRAAK!!
Sebuah Truck Tronton besar tiba – tiba muncul dari arah yang berlawanan, tanpa ampun menabrak mobil sedan yang dikemudikan Tsako.
Mobil Tsako yang hancur tak berbentuk seolah ikut menghancurkan segala harapan dan janji Tsako untuk menjemput kembali kedua bayi kembar malang itu. Karena Tsako tak akan pernah bisa menjemput lagi, untuk selamanya.
__ADS_1