Close

Close
Bab : 22


__ADS_3

Jam dinding berdentang dua kali. Sudah pukul dua dini hari di dalam kamar Apartemen Fairro di tingkat lima. 



“Wah...Wah...Apa yang sedang dilakukannya? Kasihan sekali bro gue yang satu ini, dia sudah gila karena cewek...” Anggra menggeleng – gelengkan kepalanya melihat Fairro bagaikan orang stress, menghantamkan kepalan tangannya ke dinding kamar berulang-ulang, darah meleleh dari kepalan tangannya tidak dipedulikan oleh Fairro, atau mungkin memang Fairro sudah tidak sanggup merasakannya lagi karena rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit pada luka hatinya yang begitu dalam.



“Gue...Gue sudah mencelakai Nania...Gue sudah mencelakai Nania...Penyakit sialan ini sudah menghancurkan semuanya...Semuanya...” kata – kata itu berulang – ulang dilontarkan Fairro. “Gue pikir...Gue pikir semua akan baik – baik saja...Gue pikir gue bisa mengatasi penyakit gue...Ta..Tapi ternyata gue nggak bisa...Gue nggak bisa...”



Tubuh Fairro merosot ke lantai.



“Maafkan gue, Nania...Maafkan gue...Gue mohon...Maafkan gue...”



Anggra tak berani mendekati saudara kembarnya. Tapi ada sesuatu di raut wajah Anggra yang tidak seperti biasanya. Pemuda berambut gondrong kusut itu diam – diam menghilang di kegelapan sudut kamar Apartemen itu.



“Ke...Kenapa?...Kenapa gue terlahir seperti ini? Gue mencintai Nania...Gue...Gue nggak mau kehilangan Nania...Ta...Tapi gue juga nggak mau mencelakai dia...” Fairro begitu merana, si gondrong itu menghantamkan kepalan tangannya lagi ke dinding. “Nggak ada gunanya gue hidup kalau gue nggak bisa bersamanya...”



“Kamu memang harus mati...Karena kamu tidak boleh ada...” sebuah suara serak tiba – tiba mengejutkan Fairro.



Fairro terjengit melihat seraut wajah putih keriput berada dekat sekali dengannya, seraut wajah mengerikan yang tempo hari tergolek di bawah tempat tidur Fairro. Mata abu - abu mahluk itu terbelalak senang mendengar Fairro berkata ingin mati.


__ADS_1


“Saya akan membantu kamu supaya mati lebih cepat...” sosok itu terlihat sangat renta tapi gerakannya masih gesit. Dia menyambar tubuh Fairro dan membawanya ke jendela kamar Apartemen Fairro yang tiba – tiba saja sudah terbuka lebar. Angin dini hari yang dingin menerpa masuk ke dalam kamar Apartemen di tingkat lima itu.



Mata abu – abu Fairro mendelik kaget mendapatkan separuh dirinya sudah tergantung diluar jendela Apartemennya. Rambut panjang Fairro tergerai dipermainkan angin. Kerasnya semen pelataran parkir gedung apartemen seolah menunggu tubuh Fairro menghujam diatasnya.



Mahluk renta itu bagaikan merayap di kaki Fairro, terkekeh – kekeh mengerikan.



“Tugas kami akan selesai kalau kamu mati...Tuanku Paduka Raja pasti akan senang...” desis mahluk itu senang.



Fairro cuma mengeluh panjang mendengarnya.




Mahluk itu kembali terkekeh, tangannya yang berkuku – kuku panjang mengendurkan pegangannya pada kaki Fairro, membuat tubuh Fairro melorot beberapa senti lagi dari jendela. Fairro mau tak mau menggidik juga akibatnya, si gondrong itu spontan berteriak tertahan.



“Selamat tinggal anak terkutuk!” seringai mahluk itu dengan nada puas.



Fairro memejamkan matanya pasrah ketika mahluk renta mengerikan itu melepaskan tangannya dari tubuh Fairro.



Si gondrong itu meluncur jatuh dari tingkat lima gedung Apartemen itu, melewati lantai empat dengan cepat, melewati lantai tiga, dua...

__ADS_1



Zreeet!!



Sebelum tubuh Fairro mencium semen pelataran parkir, tiba – tiba sekelebatan bayangan putih menyambar tubuh Fairro.



“Kamu belum saatnya mati...Anak Indra tak boleh mati...” kata bayangan putih itu ketika dia sudah membawa Fairro duduk di sudut halaman gedung Apartemen, tersembunyi dari pandangan siapa pun.



“Shh...Shit...” Fairro mengutuk, setengah bergumam.



Aroma bunga melati begitu pekat menguar dari tubuh bayangan putih yang ternyata adalah wanita mahluk halus berambut panjang berponi, berwajah oriental yang selalu mengikuti Fairro, di Pelataran parkir Cafe, di depan pemakaman, di kamar mandi tempo hari. Wanita itu membelai wajah Fairro, membuat si gondrong itu terjengit karena tangan wanita itu dingin sekali.



“Saya tidak mengira kalau kamu adalah anak Indra...” bisik wanita mahluk halus itu. “Saya...Saya tidak mengira...Kalung Pentagram itu...Ooh...Padahal saya sudah mencarimu dan saudara kembarmu kemana-mana...Saya tidak mengira ternyata kamu disini...Dan saudara kembarmu...Ooh...”



Fairro melihat mata wanita mahluk halus itu, yang berbentuk seperti kacang Almond, terbelalak, berkaca – kaca penuh air mata. Wanita itu kemudian menangis dengan suara yang mendirikan bulu kuduk bagi siapa saja yang mendengarnya, tak terkecuali Fairro.



Si gondrong itu memejamkan matanya pasrah ketika wanita mahluk halus itu menarik tubuhnya dan memeluknya erat – erat. Biarlah...Biarlah gue mati...Fairro mengeluh. Karena memang sudah nggak ada gunanya lagi gue hidup...Semua sudah hancur...



__ADS_1



__ADS_2