
“Hei...Hei...Nania...Hentikan!” Winda baru saja menyelamatkan mangkuk bakso Nania dari ulah Nania yang menuang saus tomat hampir setengah botol ke dalamnya. “Sadar...Nan...Sadar...”
Nania tersentak.
“Ha??...Oh maaf!” Nania kaget melihat isi mangkuk baksonya telah berubah warna menjadi merah akibat keteledorannya, menuang saus sambil melamun.
“Nania, Kenapa?” tanya Winda sambil melepaskan botol saus itu dari tangan Nania dan meletakkannya jauh – jauh dari Nania, mereka bisa diomeli tukang bakso nanti karena telah membuang – buang setengah botol saus dengan percuma. “Dari tadi gue lihat lo melamun aja...”
“Pasti ngelamunin Fairro lagi... “celetuk Lusy spontan. Tapi Winda segera menyikut Lusy supaya diam karena melihat mata Nania berkaca- kaca.
“Nan, gue tau lo sedih, tapi jangan terus – terusan begini, please?...Gue yakin pasti ada jalan keluarnya...” Winda mencoba menghibur Nania.
“Iya, Nan...Biarin aja Mbak Maya...Si tante centil itu...Lagi pula dia toh tidak hamil gara – gara itu...Yah setidaknya belum...Jadi gue rasa lo masih bisa terus jalan dengan Fairro...” kata Lusy sambil berpikir – pikir.
“Gue nggak bisa begitu...Nggak bisa...” suara Nania bergetar karena dia berusaha menahan tangis yang sudah hampir – hampir tak terbendung.
Betapa Nania sebetulnya ingin sekali mengikuti kata – kata Lusy, tapi hati nuraninya mengatakan tidak bisa, rasanya tidak tega dia terus jalan dengan Fairro sementara Mbak Maya menderita karena kejadian itu...Yah...Walau...Walau itu karena ulah Mbak Maya sendiri...Tapi tetap saja...Nuraninya sebagai sesama wanita membuat Nania tak bisa untuk tidak memikirkan Mbak Maya...Oh Tuhan, gue harus bagaimana? Haruskah cintanya dengan Fairro usai begitu saja karena Mbak Maya?...Tuhan, Nania membatin lagi, gue nggak tau sampai kapan gue bisa bertahan berada dalam kondisi yang menyakitkan seperti ini.
Saat itu Abi datang ke meja mereka dan duduk disamping Nania. Pemuda siswa SMU itu memesan satu mangkuk Bakso.
“Nania?” Abi tertegun melihat wajah Nania yang muram. “Kok lo kelihatan sedih begitu? Ada apa?...Ooh yaah...Pasti karena si brengsek Fairro itu lagi kan?”
Kaki Winda menendang kaki Abi di bawah meja.
“Abi, sudahlah...Jangan mulai lagi...” desis Winda, tapi peringatan Winda sepertinya sia – sia.
“Semua gara – gara kakak lo!” Nania akhirnya tak bisa menahan air matanya lagi.
“Kakak gue?? Kenapa kakak gue jadi yang disalahkan?? Kakak gue justru salah satu korban Fairro!!” bantah Abi segera. “Nania, please? Kenapa lo masih saja dibutakan oleh perasaan lo?? Sadarlah, Nan! Lihat siapa Fairro sebenarnya! Fairro itu anak setan! Tukang sihir! Fairro nggak pantas buat lo!”
“Lo jahat banget, Bi! Lo tega banget ngomong seperti itu!” Nania berkata diantara linangan air matanya.
“Nania...Gue ngomong seperti itu karena gue...Karena gue sayang sama lo...” kata Abi dengan suara yang hampir tak terdengar.
__ADS_1
“Apa??” Nania terjengah, Winda terbelalak dan Lusy sampai menjatuhkan sendok baksonya mendengar itu.
“Ya Nania, gue sayang sama lo...Semua yang gue lakukan selama ini cuma karena gue sayang sama lo...” Abi menatap Nania lurus – lurus, sikapnya setengah menantang. “Dan...Dan suatu saat lo pasti akan tau kalau gue...Kalau gue bisa lebih baik dari Fairro, si tukang sihir itu!”
“Abi...” Nania tak bisa berkata – kata.
Abi berdiri.
“Ya sudah!” Pemuda siswa SMU itu berpaling dan pergi begitu saja meninggalkan teman – teman wanitanya yang terpana menatapnya, meninggalkan tukang bakso yang baru saja datang mengantarkan pesanan mie bakso Abi, terbengong – bengong melihat Abi tak jadi makan.
Dalam perjalanan pulang, di mobil Winda, Nania menangis lagi membuat Winda dan Lusy risau melihatnya. Nania tak pernah menyangka Abi ternyata memiliki rasa lebih padanya, selama ini dia cuma menganggap Abi adalah teman dekatnya sama seperti Winda dan Lusy. Gadis itu sama sekali tak menyangka kalo Abi sayang padanya. Pantas saja selama ini Abi selalu cemburu setiap kali dia bersama Fairro.
Nania minta diturunkan di depan gerbang pemakaman dimana makam mamanya berada. Sendirian. Nania tidak ingin ditemani Winda dan Lusy saat itu, walau teman – teman akrabnya itu mengkuatirkan dirinya. Kesedihan dan kegundahannya membuat Nania ingin pergi menemui mamanya sendirian saja, walau dia tau, benar – benar tau, kalau mama yang hendak ditemuinya hanya berupa sebuah makam bisu. Tapi Nania sudah tidak tau lagi harus pada siapa dia mencurahkan kesedihan dan kegundahan yang sudah menyesakkan pikirannya itu, kesedihan dan kegundahan tentang Fairro...Tentang Abi...Oh, kenapa semua teman laki – lakinya membuatnya sedih?
Tanah pemakaman itu begitu sepi siang itu. Hanya suara angin yang menggeser – geser dedaunan pohon membuat merinding bulu kuduk bagi yang lewat dibawahnya. Langkah Nania terhenti bukan karena bunyi geseran dedaunan yang terkena angin, tapi karena alunan biola yang terdengar begitu lirih mendayu – dayu di tengah tanah pemakampan itu. Fairro! Nania mendekap mulutnya. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat Fairro sendiri berdiri, menggesek biolanya di depan makam kedua orang tua angkatnya.
Air mata Nania meleleh lagi. Itu...Itu lagu Mi Mancherai (Il Postino) milik Josh Groban. Ta...Tapi kenapa Fairro memainkan lagu itu dengan cara yang begitu sedih? Nania diam – diam terisak. Lagu itu serasa mengiris – ngiris kalbunya. Lagu itu terdengar menjadi begitu memilukan! Oh Tuhan...Sesedih itu kah perasaan Fairro sekarang?
Nania hendak berlari saja rasanya, meninggalkan tanah pemakaman itu, dia tak ingin Fairro menyadari kehadirannya disitu. Dia tak akan sanggup jika harus berhadapan dengan sorot mata abu – abu Fairro, tak akan sanggup, sorot mata abu – abu yang belakangan ini selalu terlihat terluka setiap kali Nania menatapnya. Dia tak akan sanggup!
“Nania...” panggilan itu membuat langkah Nania terhenti. Gadis itu berbalik, dilihatnya Fairro sudah berhenti bermain biola dan sedang menatap ke arahnya. Nania tidak tau apakah ini cuma perasaannya saja atau tidak, Fairro terlihat begitu menderita, begitu nelangsa berdiri dengan biola di tangannya disana, menatap Nania dengan mata abu - abunya, seolah Nania sudah lama tak dilihatnya. Gadis berambut ikal itu tak tahan lagi.
“Fairro!!” Nania berlari menubruk Fairro dan memeluk pemuda itu erat – erat membuat biola Fairro terjatuh. “Fairro...Fairro...Gue nggak bisa seperti ini terus – terusan, gue nggak bisa berpisah dari lo...Gue nggak bisa...”
Air mata Nania membanjir membasahi baju Fairro.
“Orang tua mbak Maya menuntut gue supaya menikahi Mbak Maya...Mereka sudah merencanakan pesta pernikahan gue dengan Mbak Maya...” kata Fairro pelan membuat Nania semakin terisak.
“Ja...Jadi bagaimana dengan kita??” tanya Nania diantara tangisnya. “Haruskah...Haruskah hubungan kita putus??”
Fairro tak menjawab, lama dia tak menjawab, seolah dia sudah tak tau lagi bagaimana harus menjawab pertanyaan Nania.
__ADS_1
Sampai hari sudah menjadi gelap, Nania masih bersama Fairro. Keduanya duduk di tepi makam orang tua angkat Fairro tanpa bicara, cuma saling menatap, saling berpegangan tangan, seolah pikiran mereka sudah tak mampu menahan kesedihan mereka, seolah sudah tak ada lagi yang bisa dibicarakan, seolah semuanya sudah buntu dan gelap.
“Fairro...” Nania akhirnya membuka suara setelah sekian lama mereka terdiam. “Pasti bahagia banget ya kalau kita bisa pergi jauh ke suatu tempat dimana kita nggak usah memikirkan Mbak Maya...Ke suatu tempat dimana nggak ada yang bisa memisahkan kita...”
Fairro memandang Nania dengan mata abu – abunya yang jernih seperti kristal itu.
“Nania...” Fairro berbicara lambat – lambat. “Lo...Percaya gue??”
Nania membalas pandangan Fairro dengan heran.
“Ya, kenapa?” Nania balik bertanya.
Fairro mencium kening Nania dengan lembut sebelum kemudian dia berdiri.
“Besok, yuk?” Fairro mengulurkan tangannya ke depan Nania.
“Besok kemana, Fairro?” tanya Nania heran.
“Pergi ke suatu tempat yang jauh seperti yang lo inginkan...” sahut Fairro membuat Nania terkejut.
“Fairro? Lo sadar apa yang sudah lo ucapkan?”
“Ya...”
“Tapi kemana?”
“Ya kemana saja...Hmm...Lo punya paspor kan?”
Nania hanya menatap Fairro dengan jantung yang berdegup kencang.
__ADS_1