
“Yuk, Nan...”
“Sebentar...”
“Kenapa?”
“Lo lihat makam yang disana itu, Bi?” Nania menunjuk kearah 2 makam batu yang terletak tak jauh dari makam mamanya.
Pagi yang dingin menyejukkan di hari Minggu itu, Nania mengunjungi makam mamanya di temani oleh Abi.
“Ya...Ada apa dengan makam – makam itu?? Memangnya itu makam siapa?” tanya Abi sambil mengikuti langkah Nania mendekati ke 2 makam batu itu.
“Itu makam orang tua Fairro...Tapi coba lo baca tulisan di makam – makam itu...Menurut lo aneh nggak??” Nania meminta pendapat Abi.
Ke 2 remaja SMU itu memandangi makam – makam yang dimaksud Nania.
‘Disini beristirahat dengan tenang, orang tua ke - 6 ku,
dengan penuh cinta aku akan mengenang kalian selamanya.’
“Makam orang tua Fairro? Orang tua yang ke-6?!” Abi membelalakkan mata ketika sudah membaca tulisan di makam – makam batu itu. “Memangnya ada berapa orang tua Fairro?”
“Kenapa dengan orang tua gue??” tiba – tiba terdengar suara orang ke – 3 dari belakang mereka. Abi dan Nania serentak menoleh ke belakang. Fairro!!
“Fairro?!! Lo...” Abi terjengit seperti sedang melihat setan
“Eh...Fairro?!...Lo juga ada disini?” tanya Nania yang juga terkejut akan kehadiran Fairro yang tidak disangka – sangka itu. “Maaf...Jangan marah ya?...Soalnya tulisan di makam orang tua lo aneh sekali...Orang tua ke – 6? Memangnya orang tua lo ada banyak ya?”
“Ya...Kenapa??” Fairro balik bertanya, tapi nadanya seperti gusar karena orang tuanya dibicarakan.
“Kok bisa?”
“Mereka semua orang tua angkat gue...” sahut Fairro sambil berdiri di depan makam – makam orang tua ke – 6 nya itu dan memandangi makam – makam itu. Nania tertegun mendengar itu. Orang tua angkat? Kemana orang tua kandung Fairro? Apakah sudah meninggal?
“Orang tua angkat?? Sampai 6 begitu?Pasti...Pasti tak ada yang betah menampung lo, tukang sihir!” terdengar suara Abi mendesis dari belakang Nania. Menyindir tapi suara itu terdengar ketakutan. Nania tidak menyadari pemuda teman sekolahnya itu diam – diam menggidik ngeri menatap Fairro.
Abi tersentak ketika tatapannya itu beradu dengan mata elang abu – abu Fairro yang berkilat tajam menatap ke arahnya, rupanya Fairro mendengar kata – kata sindiran itu.
__ADS_1
“Apaan sih Abi??” cetus Nania. “Fairro...Maaf...Si Abi nggak bermaksud...”
“Biar saja...Terserah dia mau bilang apa...” kata Fairro.
“Yuk, Nan! Kita pergi saja.” ajak Abi langsung sambil menarik tangan Nania.
“Lho kenapa sih? Kita kan baru saja ketemu Fairro, masa langsung pergi begitu?” tukas Nania, tapi gadis berambut ikal itu heran merasakan tangan Abi yang sedang menggenggam tangannya itu dingin gemetaran.
“Sebaiknya kita nggak perlu lama – lama berdekatan dengan anak setan seperti dia...” Abi berbicara setengah bergumam.
“Apa? Siapa yang anak setan?”
“Nggak...”
“Tapi...” Nania tak kuasa mencegah Abi yang menariknya keluar dari kompleks Pemakaman itu meninggalkan Fairro yang masih berdiri di depan makam orang tuanya, memandangi kepergian mereka dengan mata abu – abunya yang jernih seperti kristal itu.
“Abi, ada apa sih? Muka lo juga sampai pucat begitu? Kayak baru melihat hantu saja lo?” tanya Nania ketika mereka sudah berada di depan mobil Abi.
“Ya?”
“Gue ngomong begini, karena gue teman lo...Please, jauhi Fairro...Dia berbahaya, Nan...Dia...Dia tukang sihir!”
Nania tidak tau apakah dia harus ketawa atau kaget mendengar kata – kata Abi.
“Tukang sihir?? Oh please deh! Lo sudah kebanyakan baca kisah Harry Potter!!” tukas Nania sambil membelalakkan matanya pada Abi, gadis manis itu jelas – jelas sudah menganggap Abi sedang ngelantur berat.
“Gue serius, Nan...”
"Sudah ah, Abi! Lo tuh yang aneh, menuduh orang yang enggak – enggak gitu...”
“Nania...Lihat gue..Lihat tangan gue...” Abi memperlihatkan ke 2 telapak tangannya yang diperban kehadapan Nania. “ Lo pikir tangan gue kena apa? Ini gara – gara Fairro! Dia yang membakar tangan gue!! Fairro tukang sihir!”
Nania tercengang.
__ADS_1
“Fairro membakar tangan lo??”
“Dan lo tau Fairro membakar tangan gue dengan apa??...Hanya dengan pandangannya saja...Dia membuat kerah jaketnya tiba – tiba menjadi panas seperti api...” Abi menggigil mengingat kejadian yang membuat tangannya melepuh itu.
Nania terdiam beberapa saat mendengar kata – kata Abi, teringat olehnya waktu dia ditolong Fairro dari gangguan brandal – brandal di cafe tempo hari. Waktu itu, Fairro juga menolongnya dengan cara yang aneh.
“Ya, Gue...Gue tau kok...Gue tau...Fairro pastilah punya kekuatan supranatural...” kata Nania kemudian.
“Lo...Lo sudah tau?!” Abi terperangah. “Kekuatan Supranatural?? Omong-kosong, Nania, kenapa sih lo harus membela si tukang sihir itu segala?”
“Abi...Dengar gue...Fairro bukan tukang sihir...Dia cuma sedikit berbeda dengan yang lain karena kemampuan supranaturalnya...Dan itu jelas – jelas beda dengan sihir...” jelas Nania. “Fairro tidak jahat, Bi...Dia bahkan pernah menggunakan kekuatan supranaturalnya untuk menyelamatkan gue dari gangguan brandal - brandal di cafe waktu itu...”
“Tapi...” Abi hendak membantah.
“Lo kali yang sudah menyinggung perasaan Fairro, membuat dia marah...Makanya lo jadi kena...” kata Nania. “Lagian memangnya kapan sih lo ketemu Fairro?”
“Hee...Gue...” Abi tak bisa menjawab, karena pemuda SMU itu gak mau Nania tau kalo dia ketemu Fairro sewaktu dia membuntuti Fairro dengan Nania tempo hari.
Sementara itu Fairro ternyata juga sudah keluar dari kompleks pemakaman, tak berapa lama setelah Abi dan Nania. Si gondrong itu duduk diatas Harley Davidsonnya yang terparkir tak jauh dari mobil Abi, terlindung dibawah pohon Beringin tua yang tumbuh di depan pemakaman.
“Oh shit, mereka ngomongin gue...” dari balik pohon besar itu, Fairro tidak mengira dia bisa mendengar semua percakapan Abi dan Nania, walau tidak dari awal. Si gondrong itu mengeluh, tak sengaja terpandang olehnya kaca spion Harley Davidsonnya. Bayangan wajahnya terpantul disana.
“Gue punya kekuatan Supranatural? Mungkin justru si Abi yang benar...Gue tukang sihir...Gue...Pastilah tukang sihir..Kenapa gue bisa melakukan yang aneh – aneh begini kalau gue bukan semacam tukang sihir?” Fairro mengerutkan keningnya. Wajahnya seperti gusar. “Kenapa gue harus terlahir seperti ini?...Ayah Jefri... Dan Bunda Dina...Dulu gue mengira mereka adalah orang tua kandung gue, tapi...Tapi semua orang mengatakan kalau mereka cuma orang tua angkat gue...Mereka...Mereka menemukan gue di depan gerbang pagar rumah mereka...Oh great, gue bahkan nggak tau siapa orang tua kandung gue...Dimana mereka, apakah masih hidup...Atau sudah mati...Lalu Anggra? Dibelahan bumi mana ada orang yang punya saudara kembar gaib seperti Anggra? Shit...Kenapa tidak ada yang bisa memberi tau kami?...Apa...atau siapa kami sebetulnya? Bahkan si Anggra...Anggra tidak pernah tau sapa namanya sendiri kalo nggak gue yang asal sebut...memanggilnya Anggra...Yeah..Entahlah, gue merasa itu nama nya..”
Mata abu – abu Fairro begitu muram memandangi kaca spion itu.
“Seandainya gue dan Anggra sama seperti yang lainnya...Semua pasti akan berbeda...Semua pasti akan tampak begitu menyenangkan...Dan Nania pasti...Oh, shit!!” tiba – tiba Fairro mendelik.
Seseorang memandanginya dari dalam kaca spion itu. Seorang wanita, kulitnya begitu putih, rambutnya panjang lurus berponi menghiasi wajahnya yang sangat oriental, cantik seperti boneka. Cepat Fairro berbalik. Tapi tidak ada siapa – siapa disitu. Sepi. Bahkan Nania dan Abi pun tampaknya sudah berlalu dengan mobil mereka dari area permakaman itu.
Fairro kembali memandangi kaca spion Harley Davidsonnya, kosong, tidak ada bayangan siapa – siapa lagi disitu kecuali bayangan dirinya sendiri. Si gondrong itu tiba – tiba mengusap tengkuknya yang terasa merinding saat aroma bunga melati tiba – tiba menggelitik hidungnya.
“Wanita itu lagi...” nafas Fairro tercekat ketika memikirkan itu. “Waktu itu...Dia juga ada sewaktu gue di pelataran parkir cafe bersama Nania dan Abi...”
__ADS_1