Close

Close
Bab : 17


__ADS_3

Fairro nyaris tak dapat mengangkat kepalanya dari meja bar karena pengaruh Johnnie Walker yang di tenggaknya – entah untuk yang ke berapa gelas.



“Siapa gue? Anak terkutuk? Berdarah campuran? Bulshit!!” Fairro meracau sendiri di meja itu. Waiter Bar cuma mengeleng – gelengkan kepala melihat Fairro yang tampaknya sudah mabuk itu.



“Gue mencintai Nania...Gue cuma mencintai Nania...Nggak ada yang bisa menghalangi gue!! Nggak ada!!” Fairro seolah bicara dengan gelas Johnnie Walkernya sambil tertawa – tawa tak keruan, gak ada yang tau apakah itu tawa sedih atau tawa kemarahan. Seseorang menyentuh bahunya dan duduk disampingnya.



“Fairro? Ya Tuhan! Lo mabuk ya?” Mbak Maya yang ternyata juga ada di Bar itu menegur Fairro dengan nada kuatir.



“Jangan ganggu gue!!” Fairro menepis tangan mbak Maya dari bahunya dengan kasar. Si gondrong itu bangkit dari kursinya hendak menghindari mbak Maya, tapi segera saja dia ambruk ke lantai bar.



“Fairro!!!” pekik mbak Maya. “Hei...Tolong dia...Please??”



Dari lantai bar, Fairro samar – samar melihat bayangan orang – orang silih – berganti berputar – putar mengelilinginya berteriak – teriak membuat kepalanya terasa sakit. Bayangan itu makin lama makin kabur, matanya semakin sulit untuk melihat jelas. Fairro mengeluh panjang. Dipaksakannya matanya untuk tetap terbuka, tapi semuanya terasa begitu berat menghimpit, seolah ada yang menekannya kuat – kuat ke dalam kegelapan yang tak berdasar. Hanya suara – suara saja yang samar – samar masih bisa dia dengar. Apa yang sedang mereka bicarakan?



“Kasihan anak ini...Jeffri menemukannya terlantar di depan gerbang rumahnya...Sekarang dia harus sendiri lagi...” Seorang ibu separuh baya bersimpuh dengan air mata masih berlinang memeluk seorang anak laki – laki berumur 3 tahun dan bermata abu – abu. “Kamu ikut tante ya? Biar tante dan om yang akan memelihara dan merawatmu, kamu tak perlu dibawa ke Panti Asuhan...Kamu begitu manis...Kami semua menyayangimu...”



Seberkas cahaya membuat Fairro bisa melihat lagi, aneh, siapa ibu itu? Siapa anak laki –laki itu? Dimana dia sekarang? Bukankah seingatnya tadi dia berada di Bar? Dengan susah payah Fairro mendongakkan kepalanya, diatas sana, langit mendung membentang begitu luas.



“Shit..Kapan gue keluar dari Bar?” Fairro merasa kepalanya sakit sekali seperti ada yang memukulnya dengan palu berat berkali – kali. Si gondrong itu berusaha memusatkan pandangannya yang masih belum fokus itu ke depan, ada sebuah acara pemakaman. Anak bermata abu – abu itu masih ada, dia sedang memandangi tubuh ayahnya, Jeffri, yang terbujur kaku di bawah sana, di dalam lubang besar makam yang sedang ditimbun.



“Ayah?” Fairro memaksakan dirinya untuk bangun, seolah baru sadar akan sesuatu. “Ini...Ini nggak mungkin! Ini pemakaman ayah!...Ayah, maafkan saya...Maafkan saya!! Saya tidak bermaksud membunuh ayah! Percayalah ayah...” bagaimanapun Fairro berusaha berteriak, tapi tak ada seorangpun yang bisa mendengar suaranya, semua bahkan seperti tidak melihatnya, semua orang cuma menunduk memandangi lubang besar makam ayahnya yang perlahan - lahan ditimbun tanah. Fairro berjuang keras untuk bangun, menyeret – nyeret kakinya yang terasa berat, anak itu...Anak itu...



“Ayah...Saya mohon...Maafkan saya...” Fairro terhuyung jatuh, kegelapan tiba – tiba kembali datang mencabik – cabik penglihatannya. Seperti ada tangan raksasa yang merenggut tubuhnya dari pemakaman itu dan membawanya berputar – putar entah kemana.



Fairro merasa tubuhnya melayang – layang seperti terbawa angin tornado yang kemudian menghempaskannya ke sebuah lantai yang keras dan dingin.



“Oh shit...” Fairro mengerang kesakitan. Di depannya tampak anak laki – laki yang tadi dilihatnya di pemakaman tapi anak itu kini sudah lebih besar, kurang lebih berumur 8 tahun. Anak itu sedang duduk di anak tangga paling atas di dalam sebuah rumah besar bertingkat dua. Fairro samar – samar seperti mengenali rumah siapa itu.



“Hey...” Fairro berusaha memanggil anak laki – laki itu. Anak itu tampaknya sedang menangis, sepertinya sedih sekali, tangannya menggenggam bandul kalung yang berbentuk Pentagram erat - erat, kalung itu putus rantainya dan penuh noda kemerahan seperti darah.



“Mama...Maafkah Fairro, mama...Maafkan Fairro...” Air mata meleleh satu – satu di pipi anak laki – laki yang bermata abu – abu itu. Fairro merasa kepalanya mau pecah karena sakit, dia pasti sudah gila, anak laki – laki itu bernama Fairro juga.



“Gue...Gue tau sekarang...Itu...Itu gue waktu berumur 8 tahun...Oh, shit! Kenapa gue bisa?” Fairro berhenti berbicara karena melihat ayah angkatnya datang menghampiri dirinya yang masih berumur 8 tahun itu dari belakang.



“Lho? Kenapa kamu menangis disini? Sore – sore begini, seharusnya kamu sudah mandi...Lihat...Mukamu...Bajumu? Kenapa bajumu sampai merah begini, kamu habis bermain cat ya? Mana Mama Bella??” tanya ayah angkatnya.



“Mama Bella...Jatuh dari tangga...”

__ADS_1



“Apaaa??!!” laki – laki yang menjadi ayah angkat Fairro itu baru sadar ketika melihat ke bawah tangga. Bella istrinya terkapar kaku disana. Laki – laki itu langsung memburu turun untuk mengetahui keadaan istrinya. Tapi istrinya itu tampaknya bukan cuma terjatuh dari tangga tapi sudah tidak bernyawa lagi dengan luka menganga di lehernya.



“Oh, Tidaaaaakkkk!!!!”



Fairro tersentak bangun, nafasnya memburu cepat, tubuhnya dibanjiri dengan keringat basah.



“Gue...Gue cuma bermimpi...Di...Dimana gue??” Fairro gugup memandang berkeliling dan menemukan dirinya terbaring di sebuah tempat tidur nyaman di dalam kamar yang bernuansa minimalis, yang jika dilihat dari letak furniturenya menandakan itu adalah sebuah kamar hotel. “Kamar siapa ini??”



Fairro nyaris terjatuh dari tempat tidur ketika mendengar suara desahan wanita dari balik selimut di sampingnya. Wanita itu bergerak dan mengeluarkan kepalanya dari selimut, seolah dia baru saja terbangun.



“Fairro...Lo udah bangun ya?” kata wanita itu sambil tersenyum pada Fairro.



“Mbak Maya??!!!” Fairro kaget bagai tersambar petir. “Ini....Ini nggak mungkin!!”



Si gondrong itu spontan melompat dari tempat tidur, tapi Fairro segera terjengah, baru disadarinya kalau saat itu dia tidak mengenakan pakaian, begitu juga wanita yang ternyata adalah Mbak Maya itu.



“Fairro mau kemana?” tanya mbak Maya melihat Fairro buru – buru mengenakan pakaiannya.




Si gondrong itu mengerutkan keningnya menatap Mbak Maya. Bagaimana bisa? Apa yang sudah terjadi tadi malam?? Kenapa dia tidak bisa mengingat apa - apa? Yang dia ingat cuma saat dia minum di Bar, mimpi – mimpinya tentang pemakaman ayah angkatnya dan kematian ibu angkatnya......Tapi Bagaimana dia bisa sampai di kamar ini bersama mbak Maya? Oh shit! Fairro merasa kepalanya berdenyut - denyut sakit.



“Salah gimana? Nggak ada hubungan gimana? Lo sendiri sangat menikmati kan tadi malam?? Kita melakukannya atas suka sama suka!” kata mbak Maya dengan muka masam.



“Menikmati?? Gue bahkan nggak ingat apa – apa...Bagaimana gue bisa sampai disini pun gue nggak tau...” tukas Fairro gusar. “Pasti Mbak sudah menjebak...”



“Menjebak??! Jangan ngomong sembarangan lo, Fairro...Gue justru menolong...Lo jatuh di Bar karena kebanyakan minum...Oh, please deh! Jangan menyangkal apa yang sudah lo perbuat! Lihat...Lihat leher gue...Ini buktinya...Lo bahkan sampai mencakarnya...Apa itu juga nggak lo ingat??” kata Mbak Maya sambil memperlihatkan lehernya yang kemerahan bekas cakaran kuku – kuku panjang. Mata abu – abu Fairro mendelik melihat itu. Mengertilah dia sekarang siapa yang punya ulah sebetulnya.



“Anggra!!!!” Fairro menghantamkan tinjunya ke lemari pakaian yang ada disamping tempat tidur, sampai lemari itu bergetar keras. “Bangsat!!”



Mbak Maya sampai ketakutan melihat kemarahan Fairro.



“Siapa Anggra?? Jangan mengalihkan pembicaraan! Lo nggak bisa kemana – mana sekarang!! Lo udah terikat dengan gue!!” jerit Mbak Maya. “Karena lo harus bertanggung – jawab!!!”



Tapi Fairro sudah keluar dari kamar sambil membanting pintu dengan penuh kegusaran.



Fairro nggak tau bagaimana Anggra bisa melakukannya. Menggantikan posisinya dan mencumbui Mbak Maya. Oh Shit!! Fairro mengutuk dengan geram.

__ADS_1



Pukul 2 dini hari ketika Anggra muncul di Apartemennya, Fairro langsung menerjang Anggra dan menyentakkan saudara kembarnya itu ke dinding keras – keras.



“Apa maksud lo??!! Apa maksud lo menggantikan posisi gue dan mencumbui Mbak Maya??!!” Fairro membentak penuh emosi.



Anggra yang tadinya kaget karena Fairro tiba – tiba menerjangnya, kini jadi tertawa terbahak – bahak mendengar amarah kembarannya itu.



“Hey, kenapa marah – marah sih?? Gue kan cuma kasihan melihat cewek itu...Mbak Maya...Membelai – belai wajah lo dikamarnya...Sepertinya dia suka banget sama lo dan ingin bercumbu dengan lo...Tapi lo cuma tidur dan tidur...Jadi, ya sudah? Gue ganti saja posisi lo...Si Mbak Maya itu nggak tau kalo gue merasuki tubuh lo dan meladeni semua maunya...Hahahhahaha...” kata Anggra menjelaskan sambil tertawa – tawa kurang ajar. “Lo tau? Dia cewek hot!! Rugi lo nggak merasakan dia...”



Fairro mendelik mendengar itu.



BUUK!!!



Tinju Fairro yang melayang ke perut Anggra membuat saudara kembar Fairro itu berhenti tertawa.



“Gila lo!!” maki Fairro. “Kenapa sih lo dari dulu selalu saja membuat gue jadi kena masalah!! Senang lo ngerjain gue??!!”



“Siapa yang ngerjain lo??...Lagi pula...Apa sih rugi lo??...Mbak Maya itu kan cukup cantik...Boleh dibilang...Gue ini sudah membantu...Memperlancar hubungan lo dengan dia...” kata Anggra sambil terbungkuk – bungkuk menahan pukulan Fairro yang bertubi – tubi menghajar perutnya.



“Dasar nggak punya otak!! Ngapain gue harus memperlancar hubungan dengan Mbak Maya? Cewek gue Nania, dan kelakuan lo justru udah menghancurkan hubungan gue dengan Nania!! Oh, Shit! Sumpah mampus gue menyesal punya saudara seperti lo?!!” Fairro berteriak marah bercampur putus – asa, dan akhirnya melepaskan Anggra.



“Menyesal?...Ooh, jadi lo menyesal punya saudara seperti gue??!!...Ya sudah, ayoo...Habisi saja gue sekarang! Kan cuma lo yang bisa menghabisi gue?” Anggra mulai ikut emosi, dia menegakkan badannya memandang Fairro dengan pandangan menantang.



“Yah why not? Memang itu yang gue mau!!” balas Fairro panas, dan segera mengangkat tangannya ke atas wajah Anggra. “Lo lihat gue!”



Fairro lalu membuat gerakan seperti hendak memuntir sesuatu. Gerakan di udara itu sudah cukup membuat si Anggra melotot kesakitan seperti orang yang sedang tercekik sesuatu. Fairro memperhatikan wajah kesakitan Anggra sambil menyeringai puas. Wajah yang sangat mirip dengannya itu. Fairro seperti sedang menatap ke sebuah cermin setiap kali dia memandang wajah itu. Wajah saudara kembarnya, belahan lain dari dirinya sendiri. Tiba – tiba Fairro berhenti.



“Lho kok berhenti? Ayoo teruskan saja, bunuh saja gue! Tunggu apa lagi??” kata Anggra sambil tersengal – sengal kehabisan nafas, tapi dia masih bisa meledek, karena melihat Fairro tampak seperti ragu – ragu.



Fairro mengangkat tangannya lagi, tapi tangan itu kemudian cuma terhenti di udara. Anggra bisa melihat kalau saudaranya itu sebetulnya tak tega untuk menghabisinya. Anggra mendengus meremehkan, nasib mereka mempertemukan mereka sebagai saudara kembar, mereka adalah dua orang dengan satu jiwa, walau seberapa besar pun amarah dan kebencian yang ada, Fairro akan selalu begitu...Tak akan pernah tega untuk sungguh – sungguh menggunakan kekuatannya pada dia - Anggra ...Dan itulah kelemahan si Fairro...



“Lo nggak akan berani menghabisi gue...Gue tau...” ledek Anggra sambil terkekeh.



“Lo harus membayar semua perbuatan lo!!” kata Fairro dengan nada geram. Anggra cuma mengangkat bahunya dengan sikap menganggap enteng.




__ADS_1


__ADS_2