Close

Close
Bab : 6


__ADS_3

“Thanks ya Bi...” kata Nania sambil turun dari mobil Abi yang berhenti tepat di depan pagar rumah Nania malam itu.



“Benar nih lo gak apa – apa sendirian??’ tanya Abi. “Nggak perlu kita temankan dulu sampai lo masuk? Gelap lho, Nan??”



“Nggak apa – apa...Benar!! Lagi pula ada Pak Agus, Satpam...Tuh dia sudah bukain pintu pagar....” jawab Nania meyakinkan Abi.



“Oke deh kalo begitu, kita pergi ya Nan?” kata Winda yang juga ada di dalam mobil Abi.



“Daaah...Nania...” Lusy melambai dari jok belakang.



“Daaaah...” balas Nania.



Gadis berambut ikal itu menghela nafas saat lambaian tangan teman – temannya lenyap bersamaan dengan mobil Abi yang semakin menjauh dari pandangan. Saat itu Nania baru saja pulang dari mengerjakan tugas sekolah di rumah Abi, karena hari sudah malam, Abi lantas menawarkan jasa untuk mengantarkan teman – teman wanitanya pulang.



Nania mendongakkan kepalanya ke atas, memandang gelapnya malam pukul 9 itu.



“Sebetulnya hari ini gue berulang tahun yang ke –17.” bisik Nania getir. “Tapi mama baru aja pergi 2 minggu yang lalu...Mama...Ah seandainya mama masih ada, Nania pasti akan bahagia sekali bisa merayakan ulang tahun yang seharusnya istimewa ini bersama mama...”



Nania mengusap air matanya yang tiba-tiba saja mulai menetes satu-satu. Papa begitu sibuk belakangan ini sehingga sepertinya tidak sempat mengingat ulang tahun Nania. Joe? Ah abangnya itu sudah dua hari ini tidak pulang ke rumah, Nania tidak tau kemana abangnya itu pergi. Tak ada WA apalagi telepon dari Joe yang menandakan abangnya itu ingat akan ulang tahunnya hari ini. Hanya Abi, Winda dan Lusy saja yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya tadi. Abi bahkan memberinya CD album band kesayangan Nania sebagai hadiah ulang tahun.



Nania melihat pak Agus satpam rumahnya sudah kembali ke pos jaganya untuk mengambil sesuatu. Nania menghela nafas lagi dan hendak melangkah masuk ke halaman rumahnya.



“Ya Tuhan!!” pekik Nania tertahan ketika matanya tiba – tiba tertumbuk pada sesosok tubuh jangkung berkostum hitam – hitam, berambut panjang, yang berdiri tersembunyi dibawah pohon rimbun yang tumbuh dipinggir jalan di depan halaman rumahnya, tak jauh dari tempat Nania berdiri. Si...Siapa itu? Han...Hantu?? Tangis Nania terhenti seketika, gadis itu mendadak merasa bulu kuduknya berdiri, merinding. Sosok itu bergerak, seolah terkejut mengetahui Nania memandangnya. Akhirnya Nania berhasil menguasai dirinya dan melihat kalau yang berdiri di bawah pohon itu adalah Fairro, si gondrong misterius itu.



“Fairro??!” Nania mendekap mulutnya.



Fairro memandangi Nania dengan sepasang mata abu – abunya yang begitu jernih seperti kristal itu tanpa berkata – kata, membuat jantung Nania berdebar tak keruan. Ke...Kenapa Fairro bisa ada di sini? Apa yang hendak dilakukannya disini?

__ADS_1



“Mau apa lo disini??” tanya Nania ketakutan, gadis itu tanpa sadar mencengkram tas besar yang berisi tugas – tugas sekolahnya erat- erat karena tegang.



Nania secara reflek mundur beberapa langkah ke belakang ketika melihat Fairro tiba – tiba berjalan mendekatinya. Gadis manis itu merasa seperti ada sesuatu yang dingin mencelos hatinya. Tangan – tangannya yang masih mencengkram tas serasa beku seperti es.



“Nania??” Fairro membuka suara, menahan Nania yang sepertinya berusaha menjauh darinya itu. Sekilas Fairro tampak seperti ragu – ragu, tapi kemudian si gondrong itu merogoh saku jaket hitamnya, mengeluarkan sesuatu. Sebuah kotak kecil terbungkus kertas kado biru muda. Fairro mengulurkan kotak itu pada Nania, membuat gadis berambut ikal itu terperangah.



“A...Apa ini???” tanya Nania sambil terbelalak memperhatikan kotak kecil biru muda yang mau tak mau diterimanya itu.



“Maafkan gue....” kata Fairro sebelum dia pergi meninggalkan Nania menuju ke gang di samping rumah Nania, tampak sebuah motor Harley Davidson terparkir gagah menunggu pemuda itu.



“Ada apa non Nania??” Pak Agus, satpam rumah Nania menjenguk dari balik pagar. Fairro memandang Pak Agus beberapa saat sebelum akhirnya dia menaiki Harley Davidsonnya dan melesat ke jalanan menembus kegelapan malam tanpa berkata apa – apa lagi.



“Siapa orang itu, Non?? Dia mengganggu Non Nania???” tanya pak Agus.




Gadis berambut ikal itu memandangi kotak kecil biru muda yang diberikan Fairro dengan penuh kecurigaan. Apa isi kotak ini?? Sempat terbersit di benaknya untuk membuang saja kotak itu karena takut ada apa – apanya. Tapi rasa penasaran yang amat sangat mengalahkan rasa takut Nania, dengan hati – hati dibukanya bungkus kotak kecil itu. Sebuah kotak musik mungil yang terbuat dari kayu berukir indah, begitu artistik. Nania membuka tutupnya, sesosok Balerina mungil muncul berputar – putar perlahan mengikuti denting lirih lagu Fur Elise-nya Beethoven yang mengalun keluar dari dalam kotak musik itu. Mau tak mau Nania terpesona memandangnya. Secarik kertas putih terselip diantara kertas kado biru muda pembungkus kotak musik itu. Nania mengambil kertas putih itu dan membacanya. Isinya pendek saja.



‘Selamat Ulang Tahun Nania’



~Fairro~



Nania menjatuhkan kertas putih itu, kaget.



“Dia...Dia memberi kado ulang tahun untuk gue!! Dia tau hari ulang tahun gue!!” desis gadis berambut ikal itu terpana. “Ba...Bagaimana bisa??”



Besoknya begitu bangun dari tidur Nania langsung menelepon Winda, menceritakan tentang pertemuannya dengan Fairro malam tadi, juga tentang hadiah yang diberikan Fairro kepadanya. Mendengar berita itu, Winda meneruskan menelepon Lusy. Dan jadilah di pagi Minggu itu ke – 3 gadis bersahabat karib itu berkumpul di rumah Nania, ribut membicarakan Fairro dan hadiahnya.

__ADS_1



“Ya ampun! Jadi pas kita nganterin lo pulang kemarin malam itu, dia ada didekat situ??” tanya Winda tak percaya. “Kok gue nggak lihat yah?”



“Hmm....Ka...Kayaknya dia naksir lo deh, Nan...” tiba – tiba Lusy berkata, membuat Nania menggidik mendengarnya.



“Ih Lusy...Jangan ngomong gitu ah! Seram gue....” tukas Nania segera.



“Iya nih si Lusy, darimana lo bisa membuat kesimpulan begitu sih??” tanya Winda sambil mengerutkan keningnya memandang Lusy.



“Lihat saja dari caranya tau hari ulang tahun Nania...Terus pakai memberi kado segala lagi...Kan mencurigakan nggak tuh?? Padahal kita dengan dia...Belum kenal...Baru ketemu – ketemu nggak sengaja begitu....” Lusy menerangkan dengan gaya bak detektif sedang menganalisa suatu kasus. “Walau dia....Yah...Entah mahluk apa...Hantu atau manusia...Tapi tetap saja dia itu cowok...Dan kalau cowok sudah kasi - kasi kado segala begitu, pasti dia punya maksud tertentu...Pasti dia tuh lagi pedekate sama cewek...”



Nania dan Winda surprise setengah menggidik ngeri mendengar itu.



“Kayaknya Lusy benar deh Win...” kata Nania sambil memandangi kotak musik pemberian Fairro itu dengan pandangan ketakutan. “Ja...Jadi gue harus bagaimana? Please...Tolongin gue dong??”



“Aduh...Gimana ya?” Winda balik bertanya dengan kebingungan.



Sejenak ke – 3 gadis itu terdiam membisu, tak tau harus berbuat apa. Dalam hati Nania membatin, ya Tuhan! Dosa apa yang sudah gue perbuat?? Fairro naksir gue?? Hantu Jelangkung itu? Kenapa dia harus naksir gue??



“Eh Nan...Fairro naik Harley Davidson kata lo??” Lusy tiba – tiba menyeletuk seolah baru terpikir. “Hantu Jelangkung bisa naik Harley Davidson juga ya?”



Nania dan Winda saling berpandangan.



“Mungkin....Naik Harley hantu juga...” Winda menanggapi dengan suara tak yakin.




__ADS_1


__ADS_2