
Nania baru saja hendak pulang dari sekolah ketika dia menemukan setangkai bunga mawar putih dan selembar kartu mungil berwarna hijau muda terselip di kaca mobilnya yang terparkir di pelataran parkir sekolah.
“Eh siapa yang menaruhnya di mobil gue?” tanya Nania pada Winda, Lusy dan Abi yang ikut dengannya.
“Wadduh...Siapapun yang memberi, pasti romantis sekaliiii orangnyaaa...” komentar Lusy setengah bermimpi. “ Seandainya gue yang di kasih...Oow...Pingsan deh gue!!”
“Ah diem lo, Lus...Ayo Nan, cepat baca kartunya...” pinta Winda tak sabar.
Nania segera membaca tulisan yang ada di kartu hijau muda itu dengan hati yang berdebar – debar dan menebak – nebak siapa yang sudah begitu romantis memberinya bunga mawar putih dan kartu itu.
‘Buat Nania,
Lo akan selalu menjadi yang terindah...’
~Fairro~
“Dia!” pekik Nania sambil memandangi kartu dan bunga mawar putih itu dengan pandangan ketakutan. “Ke..Kenapa? Kenapa dia memberi gue bunga seperti ini?”
Ke empat remaja itu saling berpandangan terkejut ketika mengetahui isi kartu itu.
“Ya apalagi kalo bukan dia naksir lo...Kenapa nggak diterima aja si Fairro itu?” celetuk Abi yang membuat Nania jadi mendelik.
“Abi!! Lo ini bukannya membantu...Tapi kok malah meledekin gue sih??” kata Nania kesal.
“Lha, gue benar toh? Apa salahnya diterima...Kalau sudah suka sama suka??”
“Siapa yang sudah suka sama suka?? Jangan sembarangan ngomong! Elu nggak ikut mengalami kejadian Jelangkung yang mengerikan itu tempo hari, jadi nggak merasakan bagaimana seramnya!” tukas Nania dengan suara setengah berteriak pada Abi.
Abi tak menjawab.
“Hey...Kok jadi bertengkar begini sih?” kata Winda menengahi. “Nan...Cuekin aja. Nggak usah lo tanggapin isi kartu itu...Kalau perlu buang saja deh kalau lo takut...”
“Tapi apa maksudnya berbuat seperti ini pada gue? Bagaimana kalau nanti dia macam – macam dengan gue?” tanya Nania hampir menangis.
“Jangan takut, Nan! Kan ada gue, Winda dan Abi...Kalau dia melakukan yang aneh – aneh dengan lo, kita akan hadapi bersama – sama ...Tenang deh...” kata Lusy sambil merangkul bahu Nania, berusaha menenangkan teman akrabnya itu.
“Yah....Ta...Tapi dia kan han...” Nania tak sanggup meneruskan kata – katanya.
“Shh Nania...Please...Jangan diterusin...Seram.... Kita.... Kita makan saja yuk?...Ada yang mau makan pizza nggak?” usul Winda berusaha mengalihkan percakapan yang tidak mengenakkan itu.
“Usul bagus! Gue juga sudah lapar neh...Yuk, Nania...Abi...” Lusy menggamit Nania dan Abi yang masih bertampang muram.
Ke empat remaja itu akhirnya masuk ke dalam mobil Nania, dan melaju meninggalkan halaman sekolah menengah itu, meninggalkan bunga mawar putih dan kartu Fairro tergeletak sia – sia terbawa angin di pelataran parkir sekolah.
Di Restoran Pizza, mereka bertemu dengan Mbak Maya, kakaknya Abi. Gadis kuliahan itu datang bersama teman – temannya.
“Wah nggak disangka kita ketemu disini ya?” kata Mbak Maya sambil tertawa. “Kebetulan, besok sore lo – lo semua datang ya ke kampus? Kami sedang mengadakan bazaar untuk amal...Bazaar itu terbuka untuk umum kok. Yang dijual pokoknya asyik –asyik deh! Selain itu ada konser musiknya juga lho?”
“Ohya?”
__ADS_1
“Asyiiiikkk!”
“Makanya datang ya?” kata Mbak Maya.
“Sip, Mbak Maya!!” sahut Lusy, Nania dan Winda riang
Dasar ABG, Anak Baru Gede, mereka seolah lupa akan ketakutan mereka pada Fairro yang mengganggu pikiran mereka sewaktu di sekolah tadi. Setelah Mbak Maya pergi, anak – anak SMU itu sibuk berkasak – kusuk membicarakan bazaar kampusnya kakak Abi tersebut.
“Wah asyik benar...Kita bisa ngecengin cowok – cowok kuliahan yang keren – keren itu kan?” kata Lusy bersemangat.
“Ah elu, cowok saja yang ada di otak lo.....” gerutu Winda. “Tapi...boleh juga sih? Hehehehe...Mumpung gue lagi jomblo ini...”
“Yeee elo, Win...”
Gadis – gadis itu ribut cekikikan.
“Terus gue bagaimana? Apa gue harus ngecengin cewek – cewek kuliahan juga??” celetuk Abi, tapi nada suaranya terdengar sedikit bete, karena sudah membayangkan bagaimana suasana di kampus kakaknya itu nanti, mana mungkin mahasiswi – mahasiswi itu mau melirik seorang anak SMU seperti dia?
“ Ya, why not??” sahut Lusy asal. Abi mengomel – ngomel sendiri mendengar kata – kata Lusy, membuat Nania dan Winda semakin cekikikan.
Tapi keesokan sorenya, Abi ikut juga dengan trio Nania, Winda dan Lusy ke Bazaar itu. Keempatnya segera asyik bergerilya berkeliling area Bazaar itu dengan penuh semangat.
Di Stand Boneka yang ditunggui oleh Mbak Maya, kakak Abi, gadis – gadis SMU itu berhenti agak lama, karena tertarik dengan bentuk boneka yang lucu – lucu yang dijual disitu. Abi terpaksa menjadi satpam yang baik selama teman – teman wanitanya itu asyik memilih – milih boneka.
Nania hampir saja menjatuhkan boneka beruang yang dibelinya ketika melihat siapa yang sedang berbicara dengan Mbak Maya di stand boneka itu. Fairro!! Oh God, kenapa dia bisa ada disini juga?? keluh Nania. Oh tentu saja Fairro ada disini...Kan kata Abi...Kata Abi, Fairro itu satu Kampus dengan Mbak Maya...Ta...Tapi...Bukannya Fairro itu sudah...Nania mengigit bibirnya tak sanggup meneruskan pemikirannya. Mbak Maya keliatan begitu bersemangat berbicara dengan Fairro, sesekali kakak Abi itu tampak terkikik – kikik sambil mengerling genit kepada Fairro, jelas banget kalau Mbak Maya naksir Fairro. Sayangnya Mbak Maya cuma bertepuk sebelah tangan, karena Fairro tampaknya tidak peduli dengan Mbak Maya. Si gondrong itu membalas obrolan Mbak Maya seperlunya saja, bahkan lebih banyak melengnya ketimbang memperhatikan Mbak Maya. Duh, apa Mbak Maya tidak menyadari siapa Fairro itu sebenarnya? pikir Nania gundah.
“Iya, benar! Kok dia bisa ada disini juga? Dia....Dia seperti mengikuti kita...” Winda juga baru melihat .
“Tapi Mbak Maya kok tenang – tenang saja ya mengobrol dengan dia?” Lusy mengerutkan keningnya memandang Fairro.
“Sudah ah...Yuk kita pergi dari sini!” ajak Nania buru – buru, gadis berambut ikal itu takut Fairro menyadari kehadiran mereka kalau mereka lama – lama berdiri disitu.
“Yuk, deh...” Winda segera menyetujui.
Nania tidak tau kalo kepergian mereka dari stand Boneka itu diawasi sepasang mata elang abu – abu Fairro yang sebetulnya sudah mengetahui kehadiran anak – anak SMU itu sedari tadi. Mata itu masih mengawasi ketika ke empat sekawan Nania – Winda – Lusy - Abi masuk ke dalam stand Peramal yang berada tak jauh dari stand boneka itu.
Anak - anak SMU itu berdesakan di tenda stand peramal yang dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat begitu bernuansa mistik dan remang – remang. Si tukang ramalnya jelas – jelas adalah salah satu mahasiswi di kampus itu, yang sudah berdandan begitu cemerlang sehingga mirip orang Gypsy. Tapi si mahasiswi itu tampaknya tak sia – sia kebagian tugas menunggui stand peramal itu, karena dia begitu terampil memainkan kartu – kartu Tarot dan menerangkan maknanya, membuat Nania – Winda – Lusy – Abi sejenak melupakan tentang masalah keberadaan Fairro di Kampus itu.
Lusy begitu percaya akan ramalan kartunya yang mengatakan dia bakal mendapat jodoh seorang pemuda kaya raya, dan Winda cuma ternganga mendengar dia diramal bakal naik kelas dengan rangking satu. Sedangkan Abi mengerutu panjang – pendek ketika Winda, Lusy dan Nania memaksanya agar mau diramal juga oleh mahasiswi itu
“Nan...Gue sudah, Winda sudah, bahkan Abi juga sudah...Hayo sekarang giliran lo!” kata Lusy bersemangat. Nania berdebar – debar melihat si mahasisiwi peramal itu mulai mengocok kartu Tarotnya untuk meramal Nania.
“Wah..Kamu sangat beruntung! Kartu – kartu kamu bagus...Nah kartu yang ini melambangkan cinta...Artinya sebentar lagi bakal ada seorang pemuda tampan yang akan mendekati kamu dan menyatakan cintanya dengan kamu...” kata si peramal itu mulai. “Walaupun ada beberapa penghalang...Tapi pada akhirnya kamu....”
“Wah wah...Pemuda Tampan? Beruntung banget lo, Nan!” bisik Lusy dengan bisikan yang terlalu keras, sehingga mahasiswi peramal itu berhenti membuka – buka kartu Tarotnya dan memandang Lusy.
“Eh maafkan temen saya, mbak peramal...Tolong lanjutkan ramalannya...” kata Nania buru – buru, sambil menyikut Lusy supaya diam.
Mahasiswi peramal itu melanjutkan membuka – buka kartunya lagi. Tapi dia tiba – tiba berhenti dan mengerutkan keningnya memandangi kartu terakhir yang dibukanya.
__ADS_1
“Kenapa mbak?” tanya Nania penasaran. Remaja – remaja SMU itu ikut memandangi kartu Tarot terakhir yang di letakkan Mahasiswi peramal itu di meja dengan penuh rasa ingin tau.
“Ah ini tidak mungkin...Kartu ini...Kartu ini...Kenapa gambarnya?? Gambarnya....” tiba – tiba mahasiswi itu berdiri dari tempat duduknya.
Nania merasa bulu kuduknya tiba – tiba berdiri, ketika merasakan tangan Winda mencengkram lengannya. Abi dan Lusy juga keliatan sama tegangnya dengan mahasiswi peramal itu. Kartu Tarot itu...Kartu itu kosong...seolah gambarnya tiba – tiba terhapus oleh sesuatu yang tak nampak...
Angin menyelusup dingin diantara remang – remang tenda stand peramal yang mendadak sunyi – senyap itu.
“Mbak, kenapa kartunya nggak ada gambarnya?” Abi bertanya memecah keheningan sesaat itu, tapi pertanyaan Abi yang terdengar sederhana justru berakibat fatal.
“Tidaak!..Jangan!...Jangaaaan!!!!”
Ke empat remaja SMU itu nyaris shock karena serangan jantung ketika si mahasiswi peramal itu tiba – tiba menjerit histeris, lalu jatuh pingsan.
“Mbak!! Mbak peramal kenapa??”
“Aduh, kok tiba – tiba jadi begini??”
“Gimana nih?”
“Ayo kita cari bantuan!!”
Ke empat remaja itu serabutan keluar tenda untuk minta tolong.
*****
Kalo saja bik Inah tidak mengetuk pintu kamarnya, Nania masih saja berbaring – baring di tempat tidurnya pagi itu. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian di tenda peramal Bazaar Kampusnya Mbak Maya kemarin sore. Kenapa ya Mbak Peramal itu tiba – tiba jatuh pingsan begitu? Keliatannya Mbak Peramal itu shock banget waktu melihat kartu ramalan Nania. Apa yang akan terjadi pada dirinya?? Nania mau tak mau cemas juga. Itu memang cuma ramalan, tapi kenapa cuma dia yang mengalami kejadian seperti itu? Sedangkan Winda, Lusy dan Abi tampak oke - oke saja ramalannya. Mula – mula Nania diramalkan bakal dicintai oleh seorang pemuda tampan, tapi kenapa lalu jadi kacau begitu??
“Ada apa bik??” tanya Nania setelah membuka pintu kamarnya dan melihat bik Inah berdiri di depannya sambil membawa sebuah buket bunga mawar putih yang sangat indah.
“Maaf Non...Ini ada kiriman untuk Non...” kata Bik Inah sambil menyodorkan buket bunga mawar putih itu ke hadapan Nania.
“Lho? Siapa yang mengirim, bik??” tanya Nania tercengang menerima buket bunga itu.
“Nggak tau, Non! Tadi yang membawa bunga ini cuma seorang kurir dari toko bunga” jawab Bik Inah.
“Oh iya deh...Makasih ya bik...” Nania akhirnya membawa masuk buket bunga mawar putih itu ke kamarnya.
Nania terduduk di tempat tidurnya sambil memandangi buket bunga mawar putih yang begitu menawan itu. Sebuah kartu berwarna pink tersembul di dalam rimbunan bunga, dengan hati – hati Nania mengambilnya.
“Semoga bukan dia..Semoga...” Nania berdo’a sebelum dia membaca isi kartu itu. “Oh...Tidaak!!’
‘Buat lo selalu..Yang seperti Bidadari....’
~Fairro~
Nania mendekap mulutnya.
__ADS_1