Close

Close
Bab : 14


__ADS_3

Sore menjelang malam itu tampak Nania dan Winda sibuk berkasak – kusuk di teras rumah Lusy, membaca koran. Tajuk yang mereka baca tentang berita kriminal.



‘Selang beberapa bulan ini, polisi sering dihadapkan dengan kasus – kasus misterius, seperti hilangnya perawat Rumah Sakit yang sampai sekarang belum diketahui jejaknya, sebulan yang lalu seorang pekerja malam juga diberitakan hilang tanpa jejak. Jika dikait- kaitkan peristiwa tahun – tahun sebelumnya, tentang hilangnya pasangan suami istri, sampai sekarang masih menjadi misteri besar bagi kepolisian, sepertinya terdapat banyak kemiripan dalam hal modus penculikannya. Korban selalu hilang tanpa bekas...dst'



“Hiyy...Seram deh, seperti ada hantu penculik saja di kota ini...” komentar Nania menggidik.



“Hati – hati siapa tau besok giliran kita...” Winda menakut – nakuti padahal dalam hati dia pun ketakutan sendiri.



“Huss Winda ah! Jangan ngomong gitu ah!” tukas Nania.



“Hayooo!! Lagi baca apaan??!!” Lusy tiba – tiba keluar dari dalam rumah mengagetkan Nania dan Winda. “Gue sudah siap nih, yuk berangkat, nanti telat lagi...Konsernya jam 7 kan?? Tiket konser untukku dan Winda sudah dapat kan?”



“Ya ayo! Siapa juga yang kelamaan dandan??” gerutu Winda sambil meletakkan koran yang dibacanya bersama Nania ke atas meja kecil yang ada di teras rumah Lusy. “Nih tiketnya, simpan gih!”



“Eh benar nih kita tidak mengajak Abi?? Ntar dia marah lho?” tanya Lusy sambil menyimpan tiket konsernya di dompet, saat itu mereka bertiga masuk ke mobil Winda. “Kan biasanya kita selalu berempat kemana – mana...”



“Ah biar saja deh, gue malas mengajak Abi, nanti dia bertingkah macem – macem lagi di konser...” tukas Nania. “Lo – lo kan tau Abi nggak suka sama Fairro?”



Winda dan Lusy terkikik karena tau kenapa Abi gak suka dengan Fairro.



“Ya sudah kalo gitu! Let’s gooo!!” kata Lusy dengan gaya ringan, seolah nggak ada masalah.



Gedung konser itu sudah penuh sesak dengan anak – anak muda dengan gaya yang beraneka ragam. Sebagian besar wanita!! Nania, Winda dan Lusy tidak heran akan hal itu. Orang seperti Fairro? Mana mungkin dianggurin oleh para wanita itu!! Nania bahkan melihat Mbak Maya dan gerombolannya ditengah kerumunan anak – anak muda itu.



“Hei, lihat! Ada Mbak Maya!! Dia juga mau menonton konser Fairro!” seru Nania.



“Jelas! Mana mungkin si tante centil itu melewatkan Fairro!” kata Lusy dengan nada menyindir.



Winda dan Nania terkikik mendengar Lusy menyebut ‘Tante Centil’ untuk Mbak Maya. Kakak Abi itu memang rada – rada genit dan centil orangnya. Tidak terlalu banyak orang yang suka kepada mahasiswi berusia 22 tahun itu.



Pukul setengah 8 malam, setelah semua penonton masuk ke dalam gedung konser, grup Band penggiring Fairro mulai memainkan intro lagu pertama. Nania terkesima memandang Fairro yang sedang berdiri ditengah panggung, dengan balutan pakaian hitam – hitam yang kelihatan sangat trendy, si gondrong itu tampak lebih menawan dari yang biasa dilihat Nania sebelumnya. Rambut panjang Fairro diikat sekenanya saja ke belakang, sehingga disana – sini terlihat jatuh tergerai ke wajahnya yang specifik itu, begitu eksotik di tengah sorotan lampu spotlight panggung.



Mata abu – abu Fairro seperti bersinar – sinar bagaikan nyala api yang sedang berkobar setiap kali dia menggesek biolanya. Permainan biola Fairro kadang terdengar begitu romantis saat dia memainkan nada – nada melodius, tapi kadang bisa juga terdengar begitu energik meliuk – liuk menderu cepat, seolah dia memainkan biolanya dengan penuh emosi. Nania tidak tau, tiba – tiba saja dia menggidik mendengar permainan biola Fairro. Dia teringat dengan cerita guru keseniannya di sekolah tentang seorang pemain biola musik Klasik, Nicolo Paganini, yang terkenal sebagai pemain biola yang romantis tapi juga beraura mistik. Mistik karena kehebatan permainan biolanya itu dikabarkan berasal dari hasil persekutuannya dengan setan. Permainan biola Fairro terdengar sangat terinspirasi permainan biola Nicolo Paganini tapi band penggiring Fairro membuat permainan biola itu mendapat banyak sentuhan musik Rock...Atau mungkin juga Heavy Metal?... Aah...Nania nggak tau! Fairro lebih mendominasi musiknya dengan sayatan biolanya sendiri...Entah apa nama jenis musik Fairro...Klasik Rock? Yang jelas musik itu terdengar begitu mistik, membuat bulu kuduk Nania berdiri. Begitu indah, tapi juga begitu menyeramkan. Mungkin Fairro bisa dikatakan seperti seorang Nicolo Paganini dalam versi musik rock.



Nania memandang Winda dan Lusy, juga seluruh penonton...Mereka...Mereka seperti sedang tersihir, memekik – mekik histeris, menggema memanggil – manggil nama Fairro, memuja – mujanya. Nania benar – benar menggidik dibuatnya. Fairro, pemuda itu seperti memiliki kekuatan gaib pada setiap gesekan biolanya, pada sorot mata abu – abunya. Fairro sepertinya begitu berhasil menyita seluruh perhatian penonton saat itu.



Hampir saja Nania pingsan, ketika mendengar Fairro berbicara di microphone saat akan melanjutkan ke lagu berikutnya.



“Lagu yang berikut ini, berjudul Nania, sama seperti nama gadis yang sangat saya cintai...Lagu ini memang khusus saya ciptakan untuk dia...Walau saya nggak tau apakah dia sedang menonton konser ini atau tidak sekarang...”



Kata – kata itu jelas - jelas sudah membuat banyak wanita patah hati mendengarnya. Lusy menyikut Nania begitu keras sehingga membuat Nania hampir saja terjerembab jatuh.



“Gila!! Beruntung benar lo!!” seru Lusy setengah iri pada Nania.



“Seandainya gue bisa melihat wajah Mbak Maya sekarang...” kata Winda terkikik, karena dia tau kakak Abi itu tergila – gila dengan Fairro.



“Pasti panas banget si mbak satu itu...” kata Lusy menimpali. “Ya nggak, Nan??”



Nania tidak menjawab, gadis berambut ikal itu cuma bisa terpaku menatap ke arah panggung, tampaknya dia tidak menyangka Fairro akan senekad itu menyebut namanya dan mengungkapkan perasaannya di depan khalayak ramai. Ada rasa yang menggemuruh di dadanya saat itu, rasa yang bertalu – talu memukul tubuhnya seolah hendak mendorong tubuh itu untuk segera berlari ke atas panggung dan memeluk Fairro. Tapi dengan sekuat tenaga ditahannya rasa itu dalam – dalam di lubuk hatinya yang paling dasar. Ah, Fairro, Fairro...Apakah ini sungguh – sungguh? Batin Nania.



Ketika konser itu usai dan penonton mulai berangsur pulang mengosongkan gedung konser itu, Lusy dan Winda heboh menyeret Nania agar mau menemui Fairro di belakang panggung.



“Ah, untuk apa sih??” tolak Nania. “Kita pulang saja deh! Lagipula nanti dia ge-er...”



“Ge-er apaan sih? Ayolah, tolol! Kenapa sih lo menyia-nyiakan si cakep itu??” kata Lusy sambil melotot pada Nania. “Kalau lo nggak mau, gue selalu siap menyambar Fairro!”

__ADS_1



Winda cekikikan mendengarnya.



“Memangnya makanan, pake disambar segala??” kata Nania cemberut.



Ketika akhirnya mereka bertiga berhasil masuk ke ruang ganti Fairro di belakang panggung, ketiga sahabat karib itu terpaksa harus kecewa karena mengetahui niat mereka menemui Fairro sudah keduluan oleh Mbak Maya. Kakak Abi itu tampak bergelayut manja di tubuh Fairro seolah ingin memiliki Fairro dan tidak peduli kalo Fairro tidak suka akan kelakuannya itu. Nania menggigit bibirnya menyaksikan itu.



“Tuh kan...Sudah gue bilang, percuma...” kata Nania pelan. “Yuk, kita pergi saja...Nanti kita mengganggu...”



“Ya ampun Nan...Lo belum pikun kan? Apa lo lupa nama siapa yang disebut Fairro di panggung tadi?? Nama lo kan?! So jangan hiraukan Mbak Maya deeh...” desis Winda mengingatkan Nania.



Nania hampir saja berpaling pergi ketika Fairro baru menyadari kehadiran ke 3 gadis SMU itu di ruang gantinya.



“Nania??” Fairro tampak surprise melihat kehadiran Nania dan 2 sahabatnya. Si gondrong bermata abu – abu itu bergerak hendak menemui Nania. Tapi Mbak Maya segera menahannya.



“Biarkan saja mereka...Tak usah dipedulikan, Fairro...Mereka paling mau minta tanda tangan lo atau foto – foto, jadi biar saja mereka menunggu...” kata Mbak Maya sambil memandang kearah trio Nania – Winda – Lusy dengan pandangan seolah ketiga gadis SMU itu adalah lalat pengganggu.



Fairro mengerutkan keningnya memandang Mbak Maya, si gondrong itu melepaskan pelukan Mbak Maya dari tubuhnya dan bergegas mendekati Nania.



“Fairro, ngapain sih lo?” Mbak Maya berkata kesal, tapi Fairro tidak peduli.



“Nania?” si gondrong itu tak dapat menyembunyikan raut wajah gembiranya karena kehadiran Nania.



“Konser lo bagus banget, Fairro. Thanks lagunya...Yang judulnya Nania itu...Gue suka banget...” sahut Nania kaku, gadis manis berambut ikal itu grogi berhadapan dengan Fairro dibawah tatapan tajam Mbak Maya.



“Lo suka lagunya? Sungguh? Itu khusus untuk lo...” Mata abu – abu Fairro begitu cemerlang menatap wajah Nania.



“Lo...Lo terlalu menyanjung gue, Fairro...” kata Nania dengan wajah merah padam.




Nania serasa ingin menjebloskan diri ke dalam lantai saat itu juga karena tak kuasa menahan jantungnya yang berdegup begitu kencang, mendengar kata – kata Fairro. Oh God, apa gue sedang bermimpi? Batin Nania.



Sementara Winda dan Lusy secara sembunyi – sembunyi sibuk sikut - menyikut penuh arti.



Nania tak sengaja memandang Mbak Maya. Sorot mata kakak Abi itu tampak begitu dingin membalas pandangannya, sorot mata itu menusuk – nusuk perasaan Nania, membuat gadis SMU itu merasa tidak enak.



“Eh iya...Anu...Oke deh, Sukses saja buat lo, Fairro...Tapi...Eh...Kayaknya kami harus pulang nih...Soalnya sudah malam banget...” kata Nania sambil pura – pura melihat ke arlojinya untuk menghilangkan kegugupannya. Dia tak tahan berlama – lama berdiri di hadapan Fairro dibawah pandangan Mbak Maya yang tidak bersahabat seperti itu.



“Oh...Oke...Mmm...Mau gue antar?” tanya Fairro, dari nada suaranya si gondrong itu sepertinya kecewa mendengar Nania begitu cepat memutuskan untuk pulang.



“Eh...Thanks...Tapi nggak usah, soalnya kami...Aduh!” Nania dengan sukses terjungkal ke depan karena Winda menyikutnya keras – keras. Nania mengerenyit memandang Winda. Dilihatnya sahabatnya itu melotot padanya, seolah Winda ingin berkata, ‘jangan bodoh lo, Nan...Ini kesempatan baik...’



“Oh iya Nan...Sorry banget, kayaknya lo harus pulang dengan Fairro deh, soalnya gue harus buru – buru pulang sekarang, gue lupa, abang gue mau pinjam mobil gue malam ini juga!” Winda tiba – tiba berkata keras, membuat Nania melongo mendengarnya.



“Apa – apaan sih lo? Memangnya abang lo mau kemana malam – malam begini??” tanya Nania heran. “Perasaan waktu kita berangkat tadi dia...”



“Ini mendadak, Nan! Ehm...Dia...Dia harus pergi menengok nenek...” sahut Winda asal. “Dia baru saja telepon gue tadi...”



“Kapan? Kok gue nggak dengar HP lo bunyi?”



“Tadi...Pokoknya tadi...”



“Ah jangan bohong lo?” Nania tak percaya.



Tapi Winda dan Lusy dengan tidak sabar segera mendorong Nania ke dekat Fairro.

__ADS_1



“Fairro, please tolong antar Nania pulang ya?” kata Winda pada Fairro.



“Ok.” sahut Fairro singkat, tapi Nania yakin matanya tidak mungkin salah melihat reaksi wajah Fairro, jelas – jelas si gondrong itu sedang berusaha keras menahan senyumnya menyaksikan ulah Winda dan Lusy. Dalam hati Nania mengomeli ke - 2 sahabatnya yang sedang berusaha menjodohkannya dengan Fairro malam itu.



Nania terjengah ketika Fairro memandangnya dengan kedua mata abu – abunya yang begitu jernih seperti kristal itu. Gadis berambut ikal itu membalas memandang Fairro dengan pandangan ragu – ragu. Mata abu – abu itu seolah menunggunya, tidak hanya menunggu persetujuannya untuk ikut pulang bersama, tapi juga hatinya, perasaannya, cintanya...Darah Nania serasa mendesir dibuatnya.



“Fairro!! Mau kemana lo??...Fairro!!” pekikan Mbak Maya terdengar nyaring di belakang mereka, ketika mereka hendak keluar dari ruang ganti itu bersama Fairro.



Nania, Winda dan Lusy serentak memandang Fairro, mengira si gondrong itu akan menoleh ke arah Mbak Maya. Tapi Fairro seperti tidak mendengar sama sekali pekikan Mbak Maya, tidak ada reaksi apa – apa di wajah Fairro. Si gondrong itu justru malah meraih tangan Nania dan menggandengnya erat – erat, dan mengajaknya segera mempercepat langkah keluar dari ruang ganti itu bersama Winda juga Lusy, meninggalkan Mbak Maya yang mendelik melihat kepergian mereka.



Sementara Winda dan Lusy pulang dengan mobil Winda. Nania naik mobil Fairro meluncur dalam kegelapan malam, menuju rumah Nania.



“Fairro, benar nih nggak apa – apa?” tanya Nania pada Fairro setelah beberapa saat keduanya cuma membisu.



“Ya nggak apa – apa kok...”



“Maksud gue...Mbak Maya...Apa dia nggak marah kalau gue pulang ama lo?” tanya Nania lagi, dengan nada hati – hati.



Fairro mengangkat kedua alis matanya mendengar itu.



“Mbak Maya??” Fairro balik bertanya, sepertinya si gondrong itu heran dengan pertanyaan Nania.



“Yah...Dia kan...”



“Dia apa? Maksud lo...Dia...” Fairro tiba – tiba tertawa seperti baru sadar kemana arah pembicaraan Nania.



“Kok ketawa sih?”



“Mbak Maya bukan pacar gue...”



“Tapi dia sepertinya suka sama lo...”



“Dia terlalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.” Fairro bicara sambil tertawa lagi, tapi tawanya terdengar hambar.



“Mbak Maya pasti sangat menyukai lo, sampai – sampai dia jadi bersikap begitu dengan lo...” kata Nania sambil meremas – remas sapu tangannya, masih teringat olehnya pandangan dingin Mbak Maya kepadanya tadi. Pandangan itu pandangan cemburu seorang gadis saat pemuda yang sangat disukainya begitu perhatian pada gadis lain di depan matanya. Pasti rasanya menyakitkan. Nania tiba – tiba merasa kasihan dengan Mbak Maya, dan merasa serba salah.



“Tapi gue cuma suka ama lo...” kata Fairro membuat perasaan Nania semakin tak menentu.



Bintang – bintang di langit begitu cemerlang menyaksikan mobil Fairro yang berhenti di depan pagar rumah Nania. Fairro ikut turun dari mobil ketika Nania turun.



“Thanks ya Fairro...” kata Nania. “Gue jadi ngerepotin elo nih...”



“It’s Ok...” sahut Fairro.



Nania mengangkat wajahnya memandang Fairro. Deg! Jantung Nania berdegup begitu kencang saat matanya beradu pandang dengan mata abu – abu Fairro, mata abu – abu itu juga sedang memandanginya, begitu lembut, membuat Nania terkesima memandang mata itu. Ke...Kenapa Fairro memandanginya seperti itu?



Nania masih terkesima ketika tangan Fairro perlahan membelai pipinya. Hembusan angin malam mempermainkan rambut panjang Fairro saat pemuda bermata abu – abu itu menundukkan kepalanya mencium kening Nania. Oh Tuhan, jika ini mimpi, jangan bangunkan gue...batin Nania menggigil. 



Gadis itu cuma bisa terpaku ditempatnya memandangi Fairro yang masuk ke dalam mobilnya dan melesat ke jalanan bersama mobil itu diantara kegelapan malam.



Ya Tuhan, Nania membatin lagi, meraba keningnya perlahan, malam itu begitu dingin tapi entah kenapa ada rasa yang begitu hangat menyelimuti hatinya. Mbak Maya maafkan gue...Tapi gue juga menyukai Fairro...




__ADS_1


__ADS_2