Close

Close
Bab : 25


__ADS_3

Tangan Fairro bergetar ketika membuka halaman demi halaman buku harian tua itu. Dengan penerangan cahaya bulan yang samar – samar, Fairro berusaha membaca isi buku itu.



Buku Harianku Sayang,



Tidak ada seorangpun yang mengerti duniaku.



Aku sendiri juga tidak pernah mengerti



Aku berjalan dalam maya



Mendahului kematian



Mendahului petaka



Malam itu, di malam durjana itu, aku masih berumur tujuh tahun, tapi sampai sekarang, sampai umurku sudah tiga belas tahun, aku masih bisa mengingat setiap detail kejadian itu bagaikan mimpi buruk yang terus berputar – putar di dalam kepalaku. Aku tak pernah bisa melupakan saat aku terbangun dari tidur dan mengintip dari balik tirai, mataku tersilaukan akan kilatan – kilatan parang berayun kesana – kemari menghancurkan pintu rumah kayu kami. Serombongan orang bertubuh besar menerjang masuk.



“Mana anak setan itu? Mana??” teriak salah seorang dari mereka. Aku ketakutan, karena pasti yang dimaksud mereka adalah aku. Karena pada siang sebelumnya mereka tak senang aku mengatakan kalau semua ayam – ayam peliharaan mereka akan mati. Dan ayam – ayam itu memang mati beberapa jam setelah aku memberi tau mereka. Ayam – ayam itu memang akan mati, aku tau. Tapi mereka tidak tau. Dan mereka mengira akulah yang sudah membuat ayam – ayam itu mati. Untung ayah membelaku sehingga mereka tak jadi memukuliku siang itu. Tapi ternyata mereka masih mendendam dan datang lagi mencariku.



Pada malam durjana itu aku melihat ayahku berdiri dibalik lemari, memandang kearahku. Matanya seolah memberi isyarat agar aku tetap diam didalam tirai tempat aku mengintip.Tapi aku menggigil melihat ayah, entah kenapa tiba – tiba aku menggigil. Tubuhku serasa dingin membeku ketika melihat ada sosok lain berdiri menjulang dibelakang ayah. Oh tidak...Itu...Itu Malaikat Maut...Ke...Kenapa dia datang pada saat – saat begini? Kenapa?



“Ayaah!! Izinkan aku memeluk ayah!” aku berlari, dan berlari kearah ayah, seolah begitu sulit aku mencapainya. “Aku akan sangat merindukan ayah...Tapi Ayah akan tenang di alam sana...”



“Nayla?? Jangaan...” Ayah terkejut.



Kilatan - kilatan parang simpang siur menyambar – nyambar disekelilingku. Darah muncrat membasahi mukaku. Aku melihat Ayah tau – tau sudah terkapar bersimbah darah diantara kaki – kaki mereka. Aku menjerit sejadi – jadinya ketika mereka memegang kaki dan tanganku.



“Jangaaan!!! Tidaaaakkk!!”



BRAAK!! BRUUUK!!



Tiba – tiba saja orang – orang bertubuh besar itu melambung tinggi ke udara sebelum terbanting ke lantai kayu rumahku. Mereka pingsan.



Aku melihat ibu berlari – lari dengan orang – orang kampung masuk ke dalam rumah. Ibu merangkulku yang masih menjerit – jerit histeris.



“Nayla...Nayla...” tangis ibuku. Aku masih menjerit melengking – lengking walau aku tau itu menjadi jeritanku yang terakhir.



Fairro gelisah membolak – balik halaman buku harian itu dengan sikap tergesa. Tulisan – tulisan di halaman buku itu sudah banyak yang luntur tak terbaca karena basah. Tangan Fairro berhenti membalik halaman buku, ketika matanya menangkap barisan kalimat yang masih utuh tulisannya.



Buku Harianku Sayang,



Hari ini aku berulang tahun ke tujuh belas. Empat tahun sudah di dalam dunia sunyiku. Tubuhku penuh bekas – bekas luka karena orang – orang kampung selalu melempariku dan memukuliku karena mereka menuduhku sebagai penyebab kematian – kematian di kampungku.



Kemarin aku datang ke rumah bu Dewi tetanggaku dan memberi tau kalau Kiki, anak bu Dewi akan meninggal. Mereka mengusirku dan marah – marah padaku.



Aku tidak mengerti kenapa mereka marah. Aku cuma ingin membantu memberi tau mereka supaya mereka tidak kaget kalau Kiki betul – betul meninggal. Aku juga tidak tau mengapa, tapi seperti ada yang menggerakkan sehingga aku merasa bahwa memberi tau mereka adalah suatu keharusan. Hari ini ketika Kiki meninggal, mereka malah menuduhku sudah membunuh Kiki. Padahal aku melihat malaikat mautlah yang datang mencabut nyawa Kiki bukan aku. Tapi mereka terlanjur mencambukku dengan pecut kuda hingga aku pingsan.



Fairro menggidik membaca kisah di buku harian itu, seolah terpapar dimatanya kelebatan sosok Nayla, ibunya, melanjutkan kisahnya...



Hujan turun sangat lebat sore ini, tapi kakiku tak berhenti untuk terus berjalan ke atas batu – batu terjal itu. Tak ada gunanya aku hidup kalau orang – orang kampungku membenciku.



“Gadis bisu Tukang sihir...Gadis bisu Tukang sihir...” begitu mereka memanggilku. Dan ibu tak berdaya untuk melindungiku. Ibu cuma bisa menangis dan menangis. Kasihan ibu.



“Nayla...Nayla...Kenapa nak? Kenapa nasibmu begini malang?” tangis ibu. “Ibu tau kamu memang berbeda dengan yang lain...Seperti nenekmu...Kamu punya kekuatan supranatural...Tapi kenapa cuma nasibmu yang begini mengenaskan? Kenapa?”



Oh Tuhan, mungkin nasibku memang mengenaskan dan sial. Mungkin aku memang anak terkutuk pembawa kematian!! Aku merintih putus asa.



Batu - batu itu begitu licin dan terjal. Di depannya jurang yang begitu dalam menganga seolah menungguku. Biarlah, biarlah aku jatuh dan mati terhempas dibawah sana.

__ADS_1



Aku memejamkan mata, merentangkan tanganku lebar – lebar kesamping. Tuhan, ambilah nyawaku! Petir menyambar pada saat aku melompat ke bawah. Tapi aneh! Aku tidak merasakan terhempas dimanapun! Tubuhku seperti melayang perlahan dan kemudian kaki – kakiku merasakan tanah lagi.



“Kamu terlalu cantik untuk terhempas dibawah sana...” terdengar suara lembut didepanku.



Aku terkejut dan membuka mataku. Sepasang mata abu – abu jernih seperti kristal sedang memandangku dengan kuatir.



“Eh...Aku...Indra...Kamu siapa? Dan kenapa kamu bertindak nekad seperti tadi??” tanya si mata abu – abu itu padaku. Aku cuma menunduk dan tak berani menatapnya. Si...Siapa dia? Yang jelas dia bukan salah satu orang di kampungku karena aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Kenapa dia menyelamatkan aku dan tidak membiarkan aku mati terhempas dibawah sana?



“Aku tau orang – orang kampung sini tidak mengerti kelebihanmu...” si mata abu – abu itu melanjutkan bicara. Dia memegang ke dua lenganku erat – erat ketika aku memberontak tak senang karena niatku melompat ke dalam jurang telah digagalkan olehnya. 



“Aku tau mereka membencimu...Tapi bukan begini caranya menyelesaikan semua masalah...” kata si mata abu – abu itu lagi.



Buku Harianku Sayang,



Aku tidak tau tapi tiba – tiba aku merasa kedamaian yang mendalam saat Indra, si Mata abu – abu itu ada disampingku. Indra yang menawan, Indra yang ceria. Rasanya semua masalah dan penderitaanku hilang bersamanya.



“Kelebihanmu adalah suatu anugerah yang tidak bernilai dari Sang Pencipta...Kamu seharusnya bersyukur menjadi salah satu yang terpilih untuk memilikinya...” kata Indra. Si mata abu – abu itu tau aku hendak membantahnya walau aku tak bisa berkata – kata.



“Nayla manis...Kebahagiaan selalu ada dimana – mana asalkan kamu mau sungguh – sungguh merasakannya...Memikirkannya...Cobalah...” lanjut Indra sambil memejamkan matanya seolah – olah sedang menghirup udara disekitarnya. “Percayalah...Coba kamu rasakan betapa luar biasanya kamu bisa mengetahui kematian seseorang manusia atau seekor hewan...Tuhan selalu menjaga rahasianya akan kematian...Tapi kamu diberi izin olehNya untuk mengetahuinya...Bukankah itu adalah sesuatu yang menakjubkan??”



Aku cuma ternganga mendengar kata – kata Indra. Belum pernah ada yang mengatakan bahwa mengetahui kematian adalah sesuatu yang menakjubkan. Semua selalu mengatakan bahwa kelebihan itu adalah sesuatu yang mengerikan dan penuh kesialan. Tapi Indra justru mengatakan lain. Oh sungguhkah itu? Atau Indra cuma hendak menghiburku saja?



Buku Harianku Sayang,



Indra...Indra...Hari ini dia membawaku ke sebuah Taman yang sangat indah. Belum pernah aku melihat Taman yang seperti itu. Penuh bunga – bunga berbagai rupa semerbak mewangi mengundang kita untuk memetiknya...Pepohonan yang rindang dan hijau menyejukkan mata...Air kolam yang begitu jernih bergemericik lembut membuat ikan – ikan damai berenang di dalamnya...Oh aku tidak tau dimana Taman itu berada sebenarnya...Karena rasanya disekitar Kampungku tak pernah ada Taman seindah dan seasri ini. Ini...Ini bagai di surga...



Indra mengajariku menari. Untuk menikmati hidup, katanya. Dia lalu menari – nari di depanku sambil menyenandungkan lagu ceria. Ditariknya tanganku agar ikut menari bersamanya. Kami menari – nari lama sekali, berputar – putar, berhadap – hadapan, melompat kesana – kemari. Ah, Indra...Indra...Tak taukah kamu? Kamu begitu lucu, begitu ceria, membuatku lupa akan penderitaanku. Seandainya aku bisa tertawa, pastilah aku akan tertawa bahagia saat ini.



Buku Harianku Sayang,




Indra yang tampan menawan, yang bermata abu – abu jernih bagai dewa – dewa dalam dongeng, Indra yang ceria, Indra yang selalu menghiburku dan menyayangiku, mengusir kesepianku, membelaiku disaat aku ketakutan dan kesakitan.



Kadang kami cuma saling menatap diantara deru nafas kami tanpa kata – kata. Tapi aku tau kami bisa saling merasakan satu sama lain. Merasakan cinta kami yang membara, merasakan hasrat kami yang bergejolak. Aku menangis dalam pelukan Indra. Aku menangis saat tubuh kami saling menyatu. Tapi aku bahagia. Walau dosa itu telah tergores. Aku bahagia.



“Aku sangat mencintaimu, Nayla cantik...” bisik Indra ditelingaku. “Suatu hari aku akan membawa kamu ke istanaku dan kita akan menikah resmi disana...”



Istana? Aku cuma termangu tak begitu paham akan kata – katanya.



Buku Harianku Sayang,



Ibuku panik ketika melihat perutku yang semakin hari semakin membesar.



“Nayla, kamu hamil!!” teriak ibu histeris. “Siapa yang melakukannya?! Siapa, Nayla?? Siapa??!! Beri tau ibu!!”



Aku mengelus perutku, sambil menulis ‘Indra’ pada sehelai kertas. Ya Indra, Indralah yang melakukannya. Tapi aku rela, aku bahagia, karena Indra adalah cintaku, sayangku, aku menyerahkan seluruh hidupku padanya.



“Siapa Indra??” ibuku bertanya. “Kenapa ibu tak pernah melihatnya?”



Aku cuma tercengang mendengar pertanyaan ibu. Tak pernah melihatnya? Mustahil! Indra selalu mengantarku pulang sampai ke depan pagar rumahku. Mustahil ibu tak pernah melihatnya!!



“Nayla?” tiba – tiba terdengar suara Indra di depan pintu. Ah Indra, untung dia datang pada saat yang tepat. Aku menarik – narik ibu supaya melihat ke arah pintu. Itu Indra, ibu! Itu Indra!!



“Ada apa Nayla?? Kenapa kamu menunjuk ke arah pintu? Tak ada siapa – siapa disana!” kata ibu membuatku kaget.



Ti...Tidak ada siapa – siapa?? Ta...Tapi jelas – jelas Indra berdiri disana...Kenapa ibu tidak melihat Indra?? Tiba – tiba aku merinding. Aku melihat Indra masih berdiri di depan pintu dan tersenyum padaku ketika ibu berjalan melewatinya. Tetes keringat yang membasahi wajahku mengalir turun mengenai mataku, mengaburkan pandanganku, mengaburkan semuanya ....Semuanya...Gelap...Begitu gelap, semuanya tiba – tiba menjadi gelap..

__ADS_1



Buku Harianku Sayang,



Sejak orang – orang kampungku tau aku hamil tanpa jelas siapa ayah bayiku, nasibku semakin buruk. Hari itu mereka nyaris hendak membunuhku, untung ibu yang menangis bersimpuh dikaki mereka, membuat mereka membatalkan niatnya. Tapi sebagai gantinya mereka memasungku. Mereka menganggapku sebagai aib buruk yang mencemarkan nama baik kampungku.



Setiap hari ibu – ibu mencibirku saat mereka melewatiku, bahkan ada yang melempari aku dengan telur busuk. Anak – anak kecil meneriakiku ‘Orang gila! Orang gila!’ Para ayah meludahi wajahku. Dan ibuku cuma bisa menangis dan menangis menyaksikan semua itu.



Tapi aku sudah tak sanggup untuk memikirkan itu semua. Di dalam benakku hanya ada seribu pertanyaan tentang Indra. Tiba – tiba saja aku merasa sangat ketakutan dengan Indra. Kenapa tidak ada yang bisa melihat Indraku? Kenapa? Berkali – kali Indra berusaha menjelaskan kepadaku, tapi aku tetap saja tidak bisa memahami ceritanya. Indra bilang dunia tidak hanya ada satu, ada dunia lain selain disini. Dunia yang juga memiliki kehidupan seperti duniaku, tapi sedikit berbeda. Serupa tapi ada sesuatu yang lain. Aku cuma menatap Indra dengan rasa tidak percaya. Dunia yang mana? Dunia apa?



“Tidak, Nayla, tidak! Aku bukan hantu...” Indra seperti tau isi benakku. “Aku seperti kamu juga, cuma aku hidup di dunia lain...Yah...Manusia – manusia sepertimu selalu menyebut kami adalah masyarakat yang hilang. Kami ada tapi kami tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Hanya orang – orang yang memiliki kelebihan sepertimulah yang bisa melihat kami...Jadi kamu mengerti kan kenapa ibumu dan orang – orang di kampungmu tidak bisa melihat aku?”



Buku Harianku Sayang,



Aku tidak tau, sejak aku hamil, sejak aku dipasung, seolah ada kekuatan jahat yang selalu menyelubungi kampungku. Aku tidak tau apa, tapi aku merasakannya. Karena kematian – kematian semakin banyak menghantui disekitarku. Kematian aneh yang terkadang sangat mengerikan. Bahkan ibuku bilang, kampungku mulai suka didatangi oleh mahluk – mahluk aneh yang tidak diketahui darimana asalnya. Orang – orang kampung ketakutan dan mengira mahluk – mahluk itu berasal dari aku. Tapi yang membuatku heran, Indra kian hari tampak semakin aneh, dia memberiku seuntai kalung berbandul Pentagram, memaksaku untuk memakainya. Dan setiap malam Indra selalu duduk meringkuk disampingku. Dia bilang untuk menjagaku dan bayi yang ada di dalam perutku, tapi aku tak percaya.



Sampai suatu hari, Indra datang mengunjungiku dengan wajah membiru seperti baru saja ada yang menamparnya keras – keras.



“Jangan pedulikan aku!” kata Indra. “Tapi kita harus pergi dari sini, tempat ini sudah tidak aman lagi bagimu dan calon bayi kita...”



Aku cuma memandanginya tidak mengerti, tidak aman bagaimana? Tapi Indra seperti tergesa membuka rantai pasungku dan mengajakku kabur dari kampung.  



Aku tak sempat membawa apa – apa kecuali buku harian ini, buku harian yang selalu menemaniku selama dalam pemasungan. Di ujung kampungku, sudah menunggu seorang gadis dengan mobilnya yang terlihat mewah. Sepertinya gadis itu adalah orang kota. Aku merinding melihat gadis itu. Siapa dia? Dia begitu cantik, seperti boneka, rambutnya yang panjang kemilau, berponi hampir menutupi matanya yang berbentuk seperti kacang Almond, membuat wajahnya terlihat sangat oriental. Dan hmm...Parfumnya...Begitu wangi semerbak seperti bunga melati.



“Nayla, ini Tsako...Dia sahabat baikku...Dia juga manusia sepertimu, manusia yang memiliki kelebihan supranatural...” Indra seperti menjawab semua kecurigaanku pada wanita itu. “ Tsako yang akan menolong kita...Untuk sementara kita akan tinggal dirumahnya...”



Indra menyuruhku masuk ke dalam mobil Tsako. Dan membiarkan Tsako membawaku pergi, jauh, entah kemana, yang jelas jauh dari kampungku. Mungkin ke kota.



Sampai pada bagian itu Fairro tidak bisa konsentrasi lagi membaca buku harian itu karena wanita mahluk halus yang sedari tadi ikut membaca buku itu, menangis sangat keras, seolah ingin meruntuhkan dinding sumur batu itu. Fairro mengangkat wajahnya, mengerutkan kening pada wanita itu.



“Saya tau...Saya tau Indra ayahmu sudah membuat kesalahan yang sangat fatal...Saya tau...Indra dan Nayla sudah melakukan pernikahan terkutuk itu! Saya tau...” tangis wanita mahluk halus itu pilu. “Tapi saya juga tau betapa sucinya cinta mereka...”



“Per...Pernikahan terkutuk?” Fairro kebingungan mendengarnya.



“Ya...Kamu tau ibumu, Nayla adalah manusia biasa, sedangkan ayahmu Indra, adalah pangeran dari dunia gaib! Dunia masyakarat yang hilang, dunia mahluk – mahluk halus. Jika mereka menikah dan punya anak, dalam hal ini kalian, maka anak yang lahir merupakan percampuran dari dua dunia itu. Anak – anak itu tak akan bisa sempurna...Darah manusia yang mengalir di tubuh kalian akan selalu kering diserap hawa api yang menghidupi bagian mahluk halus yang ada pada kalian. Sekarang kamu tau kenapa kamu selalu kesakitan setiap kali hawa api itu menguasai darah manusiamu, dan untuk menghentikan hawa api itu dan mengembalikan sistem peraliran darah manusiamu, kamu harus menyedot darah segar. Saudaramu Anggra tidak sekuat kamu, hawa api lebih mendominan pada dirinya, sistem peraliran darah manusianya cuma bisa kembali normal untuk beberapa saat saja, karena itu dia cuma bisa nyata sebagai manusia pada jam – jam tertentu, dalam hal ini jam dua dini hari sampai subuh menjelang...” wanita itu menjelaskan dengan panjang lebar.



Fairro mengusap rambutnya dengan tangan gemetar. Tubuhnya yang meringkuk di dalam air seolah sudah tak mampu lagi menahan beban yang sedang menyesakkan pikiran dan perasaannya saat itu. Pemuda itu tampak sangat menderita, dia merasa sulit mempercayai apa yang baru saja di dengarnya dari wanita mahluk halus itu.



“Tapi sebaliknya, kalian juga membutuhkan hawa api untuk menghidupi bagian mahluk halus yang ada pada tubuh kalian...Karena itu Anggra yang lebih dominan hawa apinya, otomatis dia lah yang selalu mencari tempat orang – orang melakukan ritual mistik, seperti permainan Jelangkung, pemujaan roh atau apa, agar dapat mengembalikan kekuatan hawa api di tubuh kalian berdua...Kamu tau, bagi mahluk halus seperti kami, ritual – ritual mistik yang dilakukan oleh manusia – manusia yang percaya akan keberadaan kami akan menambah kekuatan kami...” lanjut wanita itu. “Memang ruwet sekali bagi kalian, tapi itulah hasil percampuran yang terjadi akibat dari pernikahan terkutuk itu!”



“Ja...Jadi gue...Gue dan Anggra campuran dari manusia dan mahluk halus? Dan yang menyebabkan keanehan – keanehan yang terjadi pada gue dan Anggra selama ini...Penyakit ketergantungan darah itu...Semua...Semua karena pernikahan terkutuk itu?” suara Fairro seperti tercekat ketika mengatakan itu, si gondrong itu memejamkan matanya karena merasa kepalanya tiba – tiba berdenyut – denyut sakit tak tertahankan. ”Ta...Tapi kenapa Anggra tidak bisa menyedot darah sendiri? Kenapa harus melalui gue?”



“Sudah saya katakan tadi...Saudaramu tak sekuat kamu jika di dunia manusia...” sahut wanita itu. “Bahkan pada saat kelahirannya, dia hampir meninggal karena tak kuat menerima cahaya matahari...Untung saya cepat menutup semua tirai jendela rumah...”



“Lo?” Fairro membuka matanya lagi.



“Yah...Saya...Ka...Karena sayalah saksi kelahiran kalian berdua...” wanita itu menatap Fairro dalam linangan air matanya.“Karena saya adalah Tsako...”



“Lo?...Tsako?...Ta...Tapi kenapa lo...Sekarang...”



Wanita mahluk halus yang ternyata bernama Tsako itu membelai rambut Fairro, memandangi Fairro dengan pandangan yang membuat Fairro menggidik.



“Ceritanya panjang...”






__ADS_1


__ADS_2