Close

Close
Bab : 23


__ADS_3

Malam itu Mbak Maya memandangi pantulan wajahnya di cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Gadis mahasiswi itu tersenyum – senyum sendiri, sambil menyisiri rambutnya yang panjang sebahu.



“Minggu depan gue akan menikah dengan Fairro...” bisiknya. “Akhirnya gue bisa juga mendapatkan si cakep itu...Sudah lama gue mengejarnya...Akhirnya gue mendapatkannya juga...”



Kakak Abi itu menoleh ke gaun indah putih keemasan yang tergantung di pintu lemarinya. Itu gaun pengantinnya yang baru saja dibelinya di toko sore tadi. Mbak Maya meletakkan sisirnya dan bangkit mendekati gaun itu. Dirabanya, diciuminya dan dicobanya gaun itu dengan mata berkaca – kaca penuh air mata kebahagiaan.



“Mimpi gue...Mimpi gue yang terindah...Menikah dengan Fairro...Si cakep itu...Si Sexy itu...Aaahh...”



Jam mulai bergeser menuju lewat tengah malam, mbak Maya masih menari – nari dengan gaun pengantinnya di depan cermin, seolah membayangkan dirinya sedang menari bersama Fairro yang dipujanya.



“Fairro...Fairro...Sayang gue...Cinta gue...Lo cuma milik gue seorang...Tidak ada seorangpun yang bisa merebutnya dari gue...Tidak juga Nania...”



Seiring dengan semilir angin yang perlahan menelusup masuk lewat celah – celah jendela kamarnya, yang meniup nyala lilin aroma therapy di meja rias hingga padam, Mbak Maya menjatuhkan tubuhnya di kasur spring bednya masih mengenakan gaun pengantinnya.



Pukul dua dini hari, rasanya baru sebentar Mbak Maya memejamkan matanya ketika dia merasakan ujung – ujung jemarinya seperti dijilat – jilat oleh sesuatu yang basah dan lunak. Mbak Maya membuka matanya, dan segera saja dia melihat suatu pemandangan yang begitu ganjil dan mengerikan.

__ADS_1



Fairro sedang membungkuk menjilati ujung – ujung jemarinya seperti kucing. Tapi Fairro tampak berbeda malam dini hari itu, si gondrong itu tampak lebih pucat dari biasanya, dan tubuhnya yang bertumpu di tepi tempat tidur itu tampak seperti baru saja ditabrak truk tronton besar, tubuh itu tampak hancur terpatah - patah!



“Fairro?!!” spontan Mbak Maya melompat bangun karena sangat terkejut. Sesak nafasnya menyaksikan semua itu, Mbak Maya memandangi Fairro dengan penuh kengerian.



“Mau apa lo, Fairro?? Ngapain lo dikamar gue malam – malam begini??” teriak Mbak Maya panik. Butir – butir keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya yang gemetaran itu.



Fairro tidak menjawab, si gondrong itu cuma menatap Mbak Maya dengan pandangan dingin. Dengan gerakan yang amat perlahan dan terlihat sangat aneh, Fairro merangkak di tempat tidur itu mendekati Mbak Maya. Gerakan Fairro tampak begitu rapuh dan terseret – seret, seolah Fairro memaksakan tubuhnya yang sudah hancur terpatah – patah itu untuk bergerak maju.




“Kesalahan apa?!!” jerit Maya kebingungan dan ketakutan. Fairro mengulurkan tangannya yang berkuku – kuku panjang seperti cakar harimau itu ke arah Mbak Maya.



“Gue...Mau...Lo...Mati...Demi...Saudara...Gue...Fairro...”



“Apa maksud lo? Lo bukan Fairro? Si...Siapa lo?? Aaah...Jangaaan!! Tidaaak!!” jeritan histeris Mbak Maya melengking tinggi memecah kesunyian malam dini hari itu.

__ADS_1



BRAAK!!



Pintu kamar Mbak Maya didobrak Abi, yang menerjang masuk bersama Ayah dan ibunya, tepat ketika sosok Fairro, yang ternyata adalah Anggra itu, memasukkan tangannya yang berkuku – kuku panjang dan runcing itu ke dalam dada Mbak Maya yang malang itu, dan merenggut jantungnya keluar.



“Mbak!!!...Oh, ibuu!!” Abi meraung keras ketika melihat ibunya langsung jatuh pingsan menyaksikan adegan yang sangat diluar batas perikemanusiaan itu.



Anggra menyeringai sambil menyodorkan jantung yang masih berdenyut itu kehadapan Abi dan Ayahnya, sebelum saudara kembar Fairro itu melompat keluar dari jendela kamar Mbak Maya dan menghilang di dalam kegelapan malam dini hari itu.



“Fairro...Fairro...Lo...Lo Pembunuuuhhh!!!” Abi yang mengira Anggra adalah Fairro, bagaikan gila menerjang ke jendela juga, dan melompat keluar berlari menembus halaman rumahnya, berteriak – teriak sendirian. “Fairro pembunuuuh!!! Pembunuuuuuh!!!!”






__ADS_1


__ADS_2