Close

Close
Bab : 24


__ADS_3

Sementara itu jauh dari rumah Mbak Maya, Fairro yang asli masih berada di sudut halaman gedung Apartemen bersama wanita mahluk halus berwajah oriental itu di malam dini hari yang gelap gulita.



“Kamu tidak aman lagi disini...Mereka sudah tau kamu disini...Kalung Pentagram itu...” wanita mahluk halus itu meraba pergelangan tangan kiri Fairro. “Kamu tidak memakainya lagi...Kamu sudah merusakkannya...Kalung Pentagram itu melindungimu dan saudaramu dari penglihatan para tetua dunia kami...Itu milik Indra...Tapi...Tapi kamu merusakkannya...” 



Wanita itu memegang wajah Fairro dengan kedua tangannya, menegakkan kepala Fairro yang sedari tadi cuma menunduk bersembunyi dibalik geraian rambut panjangnya, memaksa Fairro menatapnya.



“Kamu tau? Mereka mencarimu...Mereka sudah lama mencarimu...Mereka tak ingin kamu ada...Karena itu saya harus membawamu pergi dari sini...Pergi jauh dari kejaran para tetua...” wanita itu menangis lagi, suaranya terdengar seolah dia begitu sedih, begitu terluka. “Anak malang..Anak malang...Kasihan sekali kamu...Kasihan Indra...”



Fairro cuma mengeluh panjang. Si gondrong itu tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan wanita mahluk halus itu, sebetulnya bukan tidak mendengar, tapi memang tidak peduli. Persetan dengan – entah apa – yang disebut tetua...Persetan dengan orang yang bernama Indra...Siapa dia? Gue nggak kenal...Mereka selalu menyebut gue anak Indra...So Indra ayah kandung gue? Shit...Orang tua macam apa dia? Meninggalkan gue begitu saja di rumah orang lain? Si gondrong itu mengerutkan keningnya. Kepalanya terasa sakit sekali. Brengsek! Ya orang tua yang menyebabkan gue jadi punya penyakit aneh ini pastilah orang tua yang brengsek! Gue...Gue hampir saja mencelakai Nania gara – gara penyakit ini...Kenapa? Kenapa mereka, yang mengaku orang tua, tidak membunuh saja gue sewaktu gue masih bayi...Kenapa mereka membiarkan gue terus hidup dengan penyakit mengerikan ini...Yang membuat gue harus membunuh semua orang – orang...Kenapa?? Itu...Itu sangat menyakitkan...Itu sudah bertahun – tahun membuat gue hampir gila karenanya...Sudah beberapa kali gue mencoba bunuh diri...Sewaktu di pantai itu...Kalau saja Nania tidak datang mendekati...Gue pasti sudah berhasil...Dan waktu mobil Nania hampir tertabrak bus itu...Sebetulnya gue bukan hanya ingin menolong Nania, tapi juga ingin membiarkan bus itu menabrak gue, tapi...Selalu gagal...Oh, Shit...Shit...Siapa? Atau apa Indra sebenarnya? Ayah gue? Bullshit! Lalu ibu? Ya siapa Ibu gue? Dia pastilah wanita brengsek juga...Karena melahirkan gue dengan penyakit ini...Shit...



“Kamu...Kamu pasti ingin bertemu dengan ibumu, Nayla...Saya...Saya menyimpannya dengan baik...Karena Indra ingin kamulah yang menguburkannya...” wanita mahluk halus itu tiba – tiba berkata, membuat Fairro terperangah.



Menyimpan ibunya? Fairro berusaha meluruskan tubuhnya. Apa yang terjadi dengan ibunya? Fairro menggigil...Mahluk ini menyimpan ibunya? Ibunya?



Fairro terjengah karena tiba- tiba merasakan kaki – kakinya tidak lagi memijak tanah. Fairro merasa seperti tubuhnya dan tubuh wanita mahluk halus itu terangkat ke atas.



Angin malam begitu dingin menusuk – nusuk seolah tidak cukup menyiksa Fairro. Daun – daun di puncak pepohonan yang tumbuh di sudut halaman Gedung Apartemen menggesek – gesek tubuh Fairro menandakan sudah berapa tingginya Fairro dari tanah.



Fairro merasa kepalanya berdenyut – denyut melihat semua yang ada di sekelilingnya tiba – tiba memudar...Gedung Apartemen...Pepohonan...Bintang – bintang di langit...Semua menjadi samar- samar...Dan akhirnya lenyap...Memasuki kegelapan yang amat sangat melingkupi dirinya dan wanita mahluk halus itu. Seolah mereka sedang memasuki lautan langit gelap yang dingin dan begitu sunyi. Dimana dia sekarang? Kemana wanita itu membawanya?



Lama rasanya mereka berputar – putar dalam kegelapan. Tubuh Fairro seolah sudah membeku dingin dalam pelukan wanita mahluk halus itu. Suara gemeletuk gigi Fairro yang menggigil kedinginan seolah begitu keras terdengar di dalam kesunyian lautan gelap itu.



“Tu...Turunkan gue...” tak terasa Fairro mengeluh.


__ADS_1


“Sabarlah...Kita hampir sampai...Kita akan menemui Nayla, ibumu...” sahut wanita itu. “Kamu pasti ingin bertemu ibumu...Lagipula untuk sementara kamu akan aman jika berada di tempat ibumu...”



“Gue mohon...Turunkan gue...” ulang Fairro.



Tapi wanita mahluk halus itu seperti tidak mendengar kata – kata Fairro, dia malah makin mempercepat membawa Fairro melintasi kegelapan yang seolah tidak ada habis – habisnya itu. Fairro mengumpat pelan, dia merasa kaki dan tangannya seperti sudah mati rasa karena beku kedinginan. Adalah tindakan bodoh kalo dia berusaha memaksa turun sekarang, karena kalo wanita itu melepaskan pelukannya, dirinya pasti akan jatuh entah kemana, bisa celaka dia nanti.



“Nah kita udah sampai...” wanita mahluk halus itu akhirnya berbicara lagi. Fairro melihat cahaya yang lambat – laun mulai menyingkirkan kegelapan, walau cuma remang – remang tapi Fairro mulai bisa melihat keadaan disekelilingnya lagi. Dinding – dinding batu berwarna kusam kehijau-hijauan menghiasi di kiri – kanan mereka. Jauh rasanya mereka turun ke bawah, sampai akhirnya Fairro merasa kaki – kakinya menyentuh sesuatu. Basah. Hangat, setidaknya jadi terasa hangat setelah sekian lama berada di pelukan wanita mahluk halus yang membekukan itu. Fairro terkejut. Air?? Kakinya seperti menjejak ke dalam air! Dimana mereka sekarang berada?? Fairro seperti orang buta yang baru saja bisa melihat, kebingungan memandang kesekelilingnya, ketika dia dan wanita itu sudah berdiri sempurna di dalam air yang ternyata cuma setinggi lutut itu.



Dinding – dinding batu yang berdiri kokoh mengelilingi mereka membuat Fairro merasa seperti berada di dalam sebuah lingkaran sempit yang berdinding tinggi menjulang keatas sampai jauh melebihi kepala mereka. Fairro mendongakkan kepalanya. Tidak ada atap yang menaungi lingkaran batu itu. Langit malam dan cahaya bulan mengintip malu – malu dari atas, samar – samar menerangi mereka. Fairro mulai merasa tak enak, si gondrong itu gelisah karena menyadari kalo sepertinya mereka...Sepertinya mereka sedang berada di dalam...



“Sumur???” spontan kata – kata itu yang terucap oleh Fairro.



“Ya...Disinilah ibumu berada...” sahut wanita itu dengan suara lirih. “Untuk sementara kamu aman disini...Karena saya sudah memagari sumur ini dengan seluruh kemampuan saya...”




“Itu ibumu...” wanita itu menunjuk ke dasar sumur, diantara kaki – kaki mereka. Mata abu – abu Fairro mengikuti kemana telunjuk wanita itu mengarah.



“Ibu???” Fairro bagai terlompat menabrak dinding sumur, sebelum merosot jatuh ke dalam air. “Ibu? Itu...Itu Ibu gue??”



Wajah Fairro langsung pucat pasi dan tubuhnya mengigil bagai tersengat ribuan lebah melihat seonggok tubuh yang sudah menjadi kerangka berwarna kehijau – hijauan dipenuhi lumut, mengapung di antara kaki - kaki mereka.



“Nggak...Nggak mungkin...Nggak mungkin...” Fairro meraung keras. Wanita mahluk halus itu cuma menangis lirih mendengar raungan Fairro.



“Anak malang...Anak malang...Maafkan saya...Maafkan saya tidak bisa berbuat lebih dari ini...Indra berkata...Cuma kamu yang bisa menguburkan ibumu di tempat yang layak...Cuma kamu...” tangis wanita itu.

__ADS_1



“Apa...Apa yang sudah terjadi sebetulnya? Ke...Kenapa...Kenapa semuanya tampak begitu mengerikan...Kenapa ibu gue jadi seperti itu? Kenapa Ayah tidak bisa menolong ibu? Kenapa gue?...Gue...Dan Anggra...” Fairro tak sanggup meneruskan kata – katanya ditengah guncangan tubuhnya yang semakin kuat menggigil. Bukan saja menggigil kedinginan dan ketakutan, tapi juga karena tak kuasa menahan kesedihan yang sudah begitu memuncak.



Wanita itu duduk di dekat Fairro dan membelai rambut Fairro seolah ingin membuat pemuda itu menjadi sedikit lebih tenang.



“Mungkin...Mungkin sudah waktunya kamu tau semuanya...Saya...Saya akan memberi tau semuanya...Ya...Semuanya...” bisik wanita itu ditelinga Fairro.



Fairro melihat wanita itu meraba kerangka Nayla, ibu Fairro, menarik paksa sebuah kotak kayu yang seolah sudah menyatu dengan tulang – belulang tangan Nayla.



“Ini...Ini kotak yang selalu dibawa ibumu...Kotak yang suatu hari diharapkan akan diperlihatkan kepadamu dan Anggra...Anggra...Ya memang itu nama yang diberikan ibumu pada saudaramu...Ta...Tapi niat ibumu tak pernah kesampaian sampai hari ini...Karena...Karena ibumu...dan Ayahmu...” wanita itu menangis lagi. Fairro menggidik mendengar tangisnya.



Kotak itu dibuka wanita itu. Sebuah foto, dan sebuah buku harian tua yang sudah begitu lusuh dan tulisannya banyak yang luber terkena air.



“Foto ini...Foto ini selalu disimpan ibumu...Karena kondisi saudaramu yang tidak bisa nyata sebelum pukul dua dini hari...Sehingga akan sulit melihat kalian bersama – sama...Makanya...Makanya ibumu sangat menyayangi foto ini dan menyimpannya dengan baik dikotak kayu itu...” cerita wanita mahluk halus itu sambil memperlihatkan foto usang itu pada Fairro.



Di dalam foto itu tampak sepasang bayi kembar mungil, bermata abu – abu jernih, tampak berbaring berdampingan diatas sehelai selimut. Dileher salah satu bayi itu terdapat seuntai kalung berbandul pentagram.



“Dan ini...Buku Harian ibumu...Disini tertulis semuanya tentang ibumu...Ayahmu...Dan kalian...” wanita itu menyerahkan buku itu pada Fairro.



“Bu...Buku Harian ibu gue??” Fairro menatap buku harian tua itu.





__ADS_1


__ADS_2