
Karena rasa tanggung jawab, keesokan harinya, Abi dan Nania datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk keadaan Fairro. Si gondrong itu terbaring dengan perban di kepalanya dikamar rawat – inapnya, selang – selang infus dan transfusi darah juga menghiasi tubuhnya, dia belum siuman.
“Bagaimana keadaan dia, Pak Dokter?” tanya Abi pada Dokter yang merawat Fairro.
“Luka – lukanya tidak terlalu parah...” jawab Dokter menjelaskan. “Tapi dia perlu banyak tambahan darah...Karena...”
Abi yang semula sedikit lega ketika mengetahui Fairro tidak terlalu parah, kini jadi kembali panik karena mendengar kata – kata Dokter yang terakhir.
“Karena apa, pak Dokter??” tanya Abi dengan nada ketakutan.
Pemuda teman akrab Nania itu takut kalau ada apa – apa dengan Fairro, dia gak tau gimana menghadapi tuntutan keluarga Fairro nanti kepadanya.
“Pemuda itu sepertinya sudah menderita Anemia sebelum kecelakaan ini. Dan penyakit itu yang menyebabkan dia belum siuman dan kondisinya jadi lemah...” sahut Dokter membuat Abi dan Nania terhenyak. "Ohya, apakah kalian tau siapa atau dimana keluarga pemuda ini? saya rasa keluarga pasien perlu dihubungi."
"Keluarga pasien belum ada yang datang, pak dokter?" Abi bertanya getir.
"Belum ada satupun..." jawab dokter.
“Anemia??” Nania menggigit bibirnya. “Pantas saja selama ini Fairro selalu terlihat pucat...”
Nania merasa bersalah banget karena selama ini wajah pucat Fairro itu membuatnya mengira Fairro adalah hantu Jelangkung yang mengerikan. Ah...Pastilah gue, Winda dan Lusy sudah salah melihat dalam peristiwa Jelangkung malam itu...Batin Nania. Mungkin karena rambutnya sama – sama panjang dan kami sudah begitu ketakutan waktu itu jadi kami mengira Fairro adalah hantu...Nania mendekap mulutnya, kasihan sekali Fairro! Gadis itu teringat dengan kata – kata Fairro sewaktu di pelataran parkir Cafe malam itu, ‘maafkan gue karena sudah menyukai lo...’
“Ya Tuhan...Apa yang sudah gue lakukan??” Nania memandang Fairro dengan penuh penyesalan. Tampak Fairro bergerak dan mengeluh panjang.
“Pak Dokter...Dia bangun...” kata Nania tersentak.
Fairro membuka matanya, memandang ke sekelilingnya dengan bingung.
“Gue...Dimana??” tanya Fairro sambil berusaha bangun. Tapi Dokter menahannya.
“Jangan bangun dulu, anak muda...Kamu tak perlu cemas...Ini di Rumah Sakit...Tadi malam kamu mengalami kecelakaan...”kata Dokter berusaha menenangkan Fairro.
BRAAK!!!
Kata – kata Dokter ternyata justru memberi dampak yang luar biasa pada Fairro. Si gondrong itu tiba – tiba memberontak dan langsung terjatuh dari tempat tidurnya karena hendak turun dengan gerakan yang begitu mendadak. Fairro mengerang kesakitan di lantai.
__ADS_1
“Kenapa gue harus di Rumah Sakit?? Gue...Gue tidak apa – apa!!” Fairro setengah berteriak liar, ada nada panik di dalam nada suaranya.
Nania dan Abi cuma bisa ternganga melihat kelakuan Fairro.
“Kenapa kamu?? Apa kamu mau luka – luka mu terbuka lagi?? Apa kamu mau penyakit Anemia mu bertambah parah??” tegur dokter yang sama terkejutnya dengan Nania dan Abi karena reaksi Fairro yang diluar dugaan itu.
“Anemia?? Bullshit!!! Gue tidak terkena penyakit Anemia atau apapun!!” sergah Fairro sambil berusaha bangkit dengan susah – payah. Di tolaknya tangan Dokter dan Abi yang hendak membantunya untuk naik ke tempat tidur lagi. “Jangan sentuh gue!! Gue mau pergi dari sini! Gue nggak butuh perawatan!!”
Fairro mencabut selang – selang infus dan transfusi darah yang mengekang tubuhnya dengan paksa. Dengan terhuyung – huyung seperti orang mabuk, Fairro setengah mati berusaha mencapai pintu kamar rawat – inap itu untuk keluar.
"Perawat!!" Dokter tak tinggal diam, segera menangkap tubuh Fairro dan dengan bantuan perawat - perawat pria yang berdatangan ke ruang rawat-inap itu, berusaha menyeret si gondrong itu agar kembali berbaring di tempat tidurnya. Kondisi Fairro yang masih belum stabil membuat pemuda bermata abu – abu itu harus menyerah di dalam ringkusan Dokter dan para perawat. Tak ada yang mengerti kenapa Fairro tampak seperti sangat ketakutan berada di Rumah Sakit dan mati – matian menolak untuk di rawat.
*******
Pukul dua dini hari, masih di dalam kamar rawat - inap di Rumah Sakit, Fairro mengigil kesakitan di tempat tidurnya. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Bunyi tetes cairan infus yang jatuh satu demi satu memasuki selang infus menuju nadinya seolah sangat menyiksa si gondrong itu.
“Shit!!! Oh, Shit!! Kenapa penyakit sialan ini harus datang lagi?? Shit!!” Fairro memaki – maki di sela – sela tarikan nafasnya yang terengah - engah. Dengan seluruh tenaganya yang masih ada, Fairro berusaha menarik – narik tangan dan kakinya yang diikatkan ke pinggiran tempat tidur oleh perawat – perawat di Rumah Sakit itu, tindakan itu semata – mata untuk mencegah Fairro agar tidak bisa kabur lagi.
“Gue tau...” tiba – tiba terdengar suara parau dari sudut kamar rawat inap Fairro yang remang – remang itu, seorang pemuda jangkung berkostum hitam – hitam muncul entah dari mana. Wajah pemuda itu tampak sangat mirip dengan Fairro, serupa benar bagai pinang dibelah dua, tapi pemuda itu tampak begitu aneh menyeramkan muncul dengan langkah yang terseret – seret seolah seluruh tubuhnya sudah hancur terpatah – patah, wajahnya kebiru – biruan dan sangat kurus, dengan susah – payah dia mendekati Fairro yang sedang menggeliat – geliat kesakitan di tempat tidur. “Darah transfusi tidak oke ya?”
“Anggra, gue butuh darah segar!!” raung Fairro tak sabar. “Bukan darah transfusi yang sudah tidak segar itu!!”
“Oh jadi itu sebabnya gue nggak merasa dampaknya...” sahut pemuda mengerikan yang disebut Anggra oleh Fairro. “Lo tau gue nggak bisa menenggak darah sendiri...Gue sudah kuatir...Susah sekali menemukan lo tadi...”
Bunyi derak tulang – tulang Anggra terdengar begitu mengerikan ketika pemuda itu membungkuk berusaha membuka ikatan yang membelenggu Fairro.
Rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya menyebabkan Fairro tidak peduli lagi kalau teriakan dan raungan kesakitannya terdengar sampai keluar kamarnya dan yang jelas Fairro tidak tau kalau teriakan dan raungan itu terdengar oleh seorang perawat wanita yang kebetulan lewat di depan kamar rawat inapnya.
Anggra baru saja selesai membuka ikatan terakhir yang yang membelenggu Fairro ketika pintu kamar rawat inap itu terbuka.
Jeritan perawat wanita itu tak sempat terdengar karena Fairro yang sudah terbebas, bagaikan sudah kehilangan akal sehatnya, menerjang perawat malang itu dengan segala kekuatannya yang masih tersisa dan menyeret sang perawat masuk ke dalam kamar.
“Apa yang mau anda lakukan??!!” Perawat itu memandang Fairro dan Anggra dengan penuh kengerian.
__ADS_1
Fairro tidak berkata apa – apa, rasa sakit yang mendera tubuhnya menyebabkan Fairro tidak bisa berpikir normal lagi. Si gondrong itu meraung seperti harimau luka, dan menyambar pergelangan tangan si perawat itu, berusaha menggigitnya. Si perawat itu terpekik dan menendang Fairro sekuat yang dia bisa, membuat Fairro terguling ke lantai. Mata abu – abu Fairro mendelik pada perawat itu.
“Gue butuh darah!! Gue butuh darah!! Gue sakit!! Sakit!!” Fairro berteriak liar tak dapat menahan rasa sakitnya, disentakkannya sisa selang – selang infus dan transfusi yang masih terlibat ditubuhnya. Bagaikan kesurupan Fairro merangkul perawat itu.
“Aah...Tidaaakk!!! Jangaaaaan!!” perawat itu berusaha meronta sekuat tenaganya.
Dengan kasar Fairro merobek kerah seragam yang dikenakan perawat malang itu sehingga terbuka sampai ke bahu.
“Jangan!...Jangan!! Saya mohon jangan!!” perawat malang itu menjerit – jerit putus asa. “Lepaskan saya!! Lepaskan!!”
Fairro cuma menggeram sebagai jawabannya, dia seolah sudah menjelma menjadi Vampire bermata abu – abu yang dengan penuh gairah membenamkan gigi – giginya ke leher perawat itu. Si perawat mendelik kesakitan dan terkejut, tidak menyangka Fairro akan menggigit lehernya. Sia – sia saja perawat wanita itu meronta, karena Fairro dengan rakus menghisap darah si perawat sampai kering.
Setiap hisapan darah yang ditenggak Fairro sepertinya memberi dampak pada Anggra. Pemuda yang mirip Fairro itu menggeliat – geliat kesenangan, seolah - olah ada selang tak nampak yang mengalirkan darah yang dihisap Fairro dari leher perawat itu ke tubuh Anggra.
Perawat itu jatuh terkulai tak bernyawa ketika Fairro akhirnya mencampakkannya begitu saja ke lantai. Fairro mendongakkan kepalanya membiarkan darah yang membasahi bibirnya meleleh meliuk – liuk bagai aliran anak sungai membasahi dagunya, lehernya, kerah baju seragam Pasien Rumah Sakitnya. Si gondrong itu merasa seperti baru saja terlepas dari siksaan yang menyakitkan. Seperti seseorang yang tadinya sakau, kini sudah mendapat suntikan obatnya kembali, Fairro merasa begitu tenang, begitu lega, tarikan nafasnya perlahan – lahan menjadi normal.
Bersamaan dengan berkurangnya rasa sakit yang menyerang Fairro, sosok mengerikan Anggra juga perlahan – lahan berubah. Keretekan bunyi tulang – tulang yang menyambung kembali, tubuh yang kembali berisi dan bersemunya wajah kebiru – biruan Anggra membuat pemuda itu tertawa menggelegar seolah ingin memecah kesunyian malam dini hari itu.
“Arrgh...Tubuh gue sudah segar kembali!” tawa Anggra sambil meregangkan otot – ototnya seperti orang yang baru bangun dari tidurnya. “Aaarrrghhh nikmatnyaa!!”
Sementara Fairro masih sibuk mengatur nafasnya dilantai, Anggra membungkuk menepuk – nepuk bahu Fairro.
“Thanks bro...lo sudah menyelamatkan nyawa gue...” kata Anggra. “ Gue pergi dulu...Ada yang memanggil gue dengan ritual permainan Jelangkung...Gue merasakannya...Lo juga pasti butuh kan untuk memulihkan tenaga lo?”
Fairro terjengah.
“Heh...Jangan asal kabur lo!!” sia – sia Fairro hendak mencegah, karena Anggra sudah menghilang bagai tertiup angin lalu.
Mata abu – abu Fairro memandangi tubuh perawat yang sudah menjadi mayat itu. Pikirannya yang perlahan – lahan sudah mulai menjadi jernih kembali itu tiba – tiba membuatnya sangat menyesali apa yang sudah terjadi. Lama dia memandangi mayat perawat malang itu.
“Gue...Gue sudah membunuh satu orang lagi malam ini...Gue sudah membunuh lagi...” Fairro dengan gugup mengusap bibirnya yang masih menyisakan darah perawat itu, tapi gerakan tangannya justru membuat noda darah semakin melebar ke pipinya. “Maafkan gue...Maafkan gue, mbak perawat...Sebetulnya gue sama sekali nggak suka semua ini...Maafkan gue...Jangan kuatir, gue akan mengurus mbak perawat dengan baik...Mbak tenang saja ya?...Tenang aja...”
Dengan tangan bergetar Fairro mencoba memperbaiki letak seragam si perawat yang berantakan itu.
__ADS_1