
Jam besar yang ada di menara Kampus itu berdentang dua kali, sudah pukul 2 dini hari. Alunan biola Fairro menggema lirih mengusik keheningan Kampus yang seharusnya sudah lama terlelap. Satpam Kampus sudah terbiasa dengan alunan biola Fairro, mereka sudah bosan melarang si gondrong itu bermain biola di ruangan musik itu di tengah malam buta begini. Percuma saja, toh dilarang pun, Fairro tetap saja bisa menerobos masuk ke dalam ruangan musik itu. Para Satpam itu tidak habis pikir bagaimana Fairro bisa masuk ke ruangan yang selalu sudah mereka kunci rapat – rapat sejak mahasiswa terakhir pergi meninggalkan Kampus. Tak ada kunci ganda pada Fairro, dan tak ada tanda – tanda Fairro merusak atau mendobrak pintu ruangan musik.
“Anak muda aneh...” kata mereka bingung.
Setiap malam di pukul 2 datang ke ruangan musik kampus itu hanya untuk bermain biola. Diantara temaram cahaya lampu - lampu ruangan musik yang tidak di hidupkan semua itu, si gondrong bermata abu – abu itu bisa berjam – jam memainkan biolanya, seolah tak peduli apapun yang ada disekitarnya, seolah tak peduli akan keangkeran malam pukul 2 dini hari, yang konon adalah waktunya pertemuan antara gelombang dunia yang gaib dan dunia yang kasat mata, saat mahluk-mahluk kubur bangkit dari tidur abadinya menjenguk manusia-manusia di alam fana. Entah, mungkin kesunyian ruangan - ruangan kampus itu yang sangat dibutuhkan Fairro.
“Hey...Kenapa sih lo?...Lo mengulang nada itu udah berkali – kali...Ada apa dengan lo? Lupa dengan kelanjutan lagunya??” sebuah suara tiba – tiba membuyarkan permainan biola Fairro, yang memang malam itu terdengar sedikit berbeda dari biasanya, sepertinya Fairro sedang tidak konsentrasi memainkan biolanya. Seolah ada sesuatu yang membebani pikiran Fairro malam itu, sesuatu entah apa, tapi yang jelas si gondrong itu tampak begitu galau.
Suara itu tergelak, tertawa – tawa tak keruan menertawai kata – katanya sendiri. Fairro berhenti memainkan biolanya, menoleh kearah si pemilik suara. Anggra, pemuda yang sangat mirip dengan Fairro itu muncul dari balik keremangan sudut ruangan musik tersebut. Sorot mata abu - abu pemuda itu tampak begitu liar menyeramkan dan dengan rambut panjangnya begitu acak-acakan seolah tak pernah berjumpa sisir, membalas pandangan Fairro padanya.
“Anggra, jangan ganggu gue dulu...” desis Fairro.
“Hahahah...Kenapa? Oh...Gue tau, lo pasti sudah jatuh cinta dengan si Nania itu...Benar nggak??” kata Anggra sambil tertawa lagi.
“Tau apa lo tentang gue??” tukas Fairro dengan kedua alis mata bertaut.
“Oh pantas...Pantas lo nggak senang waktu gue mendatangi rumah si Nania tempo hari itu...Karena Nania bakal mengira yang datang itu adalah elo...Ingat? Saat lo kebingungan karena kehilangan kalung pentagram...Gue sudah membantu lo mengambilkan kalung itu dari rumah Nania...” sahut Anggra sambil duduk disalah satu meja yang ada di ruangan musik itu.
Fairro cuma mendengus mendengar itu, dengan gaya tak peduli, mulai lagi memainkan biolanya, seolah menganggap kata – kata Anggra cuma angin lalu.
“Lho...Apa gue salah? Gue kan sudah membantu...” kejar Anggra, tak puas dengan gaya tak peduli Fairro.
__ADS_1
Fairro menurunkan biolanya.
“Tapi cara lo salah........Lo sadar nggak sih kalo diri lo itu bagaimana??” kata Fairro dengan nada tak senang.
“Salah bagaimana? Sebetulnya gue sudah niat nggak mau menampakkan diri ke hadapan Nania dan teman – temannya...Tapi cewek – cewek itu sendiri yang bermain jelangkung, lo tau ritual permainan jelangkung membuat kekuatan kita bisa bertambah...Dan bukan salah gue juga lho, kalau gue datang bertepatan dengan saat cewek – cewek itu bermain Jelangkung...” Anggra memejamkan matanya dan mendesah, walau desahannya kedengaran lebih mirip dengan geraman harimau daripada suara manusia, dia mendesah panjang seolah dia sedang membayangkan kenikmatan rapal permainan Jelangkung itu bait demi bait merasuki jiwanya perlahan – lahan dan membuat kekuatannya bertambah.
Tiba – tiba Anggra mendadak membuka matanya lagi dan tertawa terkekeh – kekeh seperti orang tidak waras. Dicengkramnya wajah Fairro sebelum Fairro sempat mengelak, kuku – kuku Anggra yang seperti cakar harimau itu menekan wajah Fairro nyaris melukainya.
“Sudahlah bro, jangan mungkir...Gue saudara kembar lo, gue tau apa yang sedang lo rasakan...Lo benar sedang jatuh cinta...” lanjut Anggra dari balik geraian rambut panjangnya yang kusut. “Tapi...Lihat dulu...Lihat diri lo sendiri...Gue rasa lo nggak jauh beda dengan keadaan gue...Lihat saja...Kasihan sekali si Nania itu...Dicintai oleh cowok yang selalu ketergantungan dengan darah...”
Fairro mendelik mendengar itu.
“Tutup mulut lo!! Jangan mengulang – ulang membahas itu lagi!” sergah Fairro murka, menepis cengkraman Anggra dari wajahnya. “Gue melakukan itu semua cuma demi mempertahankan hidup lo, karena lo saudara kembar gue! Lo pikir gue senang melakukannya??”
Fairro meletakkan biolanya. Tangannya gemetar karena menahan kemarahan. Tapi Anggra malah tertawa – tawa lagi.
“Demi gue? Jangan asal ngomong lo, kalau gue mati, lo juga nggak kan bisa bertahan hidup, karena lo butuh gue untuk mencari ritual – ritual mistik untuk mengembalikan kekuatan lo ...Ayo lah, terimalah kenyataan kalo lo itu siapa? Lo ingat kan dengan Ustadz yang dipanggil orang tua angkat lo untuk nyembuhin lo, meruqyah lo...Belum lagi orang ‘pintar’...Semua menyerah...Mereka bilang lo itu anak Jin! Anak mahluk halus...Wow...Julukan itu keren banget, Fairro!! Sebetulnya gue iri dengan lo! Gue saudara kembar lo, seharusnya gue mendapat julukan itu juga...Tapi lo lihat? Tak ada orang yang memperhatikan gue...Bahkan mereka suka nggak sadar kalau gue itu ada...Karena gue tuh apa sih? Cuma bisa jadi tampak nyata pada setiap pukul 2 dini hari sampai saat matahari pagi akan terbit...” Anggra mengoceh tanpa memperdulikan kemarahan Fairro. “Yah...Lo sih, pakai acara jatuh cinta segala dengan Nania...Makanya jadi repot begitu...Kasihan juga lo sebetulnya, sebagai anak mahluk halus, jangan mimpi kalo lo bisa mendapatkan cewek...Hahahahah...Eh...Apa – apaan lo??”
Mau tak mau Anggra terjengah juga melihat tatapan abu – abu Fairro yang kini begitu tajam menatapnya. Sepasang mata itu berkilat - kilat mengerikan, penuh kobaran api yang membara, seolah sanggup membakar siapapun yang ada dihadapannya.
“Fairro...Hei...Begitu saja kok marah...Gue kan cuma ngomong apa adanya, bro... Gue...” Anggra tak sempat menyelesaikan kata – katanya karena dirinya hampir saja terlempar ke belakang, tiba – tiba saja hembusan angin misterius menerpa tubuhnya dengan kencang, dan belum sempat dia kembali ke posisinya yang semula, mendadak segala macam benda yang ada di ruangan itu terbang melesat di udara menghujani dirinya bertubi - tubi. “Fairro!!! Sabar bro!!...Heh...Stop!! Kendalikan emosi lo...Hentikan!!”
__ADS_1
TAR! TAR!
Bagaikan bunyi petir yang menyambar – nyambar, kaca – kaca jendela di ruangan musik Kampus itu susul – menyusul pecah berderai tanpa ada sebab – musababnya.
“Fairroo! Stop!! Hentikan, bodoh! Apa lo mau membangunkan semua orang disini?!!” teriak Anggra akhirnya kewalahan menahan serangan benda – benda yang terbang melesat dari segala arah menghujani dirinya, beriringan dengan derai pecahan kaca jendela yang juga berterbangan. Dan betul saja, dari kejauhan terdengar langkah – langkah kaki dan suara – suara para Satpam Kampus yang berlarian mendekati ruangan musik itu. Semua benda – benda yang tadinya melayang – layang kacau di ruangan itu tiba – tiba jatuh ke lantai dan diam tak bergerak lagi. Fairro masih melotot memandang Anggra, tapi sorot matanya tidak segarang tadi.
“Gue pergi, Fairro...” kata Anggra terburu - buru dan segera menghilang dari ruangan itu.
Fairro tidak menjawab, dia mengambil biolanya dan menyelinap pergi dari ruangan itu sebelum para satpam kampus mendobrak masuk kesitu, terkaget – kaget melihat pecahan kaca jendela yang berserakan dan betapa kacaunya ruangan musik itu seolah baru saja ada angin topan yang melanda.
Fairro menyusuri lorong – lorong gelap bangunan kampus itu menjauhi ruangan musik. Wajah Fairro terlihat masih gusar karena pembicaraannya dengan Anggra tadi.
“Kenapa gue nggak boleh mencintai? Kenapa gue harus seperti ini?... Siapa gue sebenarnya?...Apakah benar gue anak Jin? Anak mahluk halus? yang selalu butuh ritual mistik untuk menambah kekuatan? Apakah benar?! Oh shit...Gue nggak bermaksud membunuh orang tua angkat gue...Gue nggak pernah bermaksud membuat segala kekacauan...Dan penyakit ketergantungan darah ini...Penyakit sialan ini yang sudah membuat gue harus membunuh!” Fairro mengeluh. “Ini..Ini nggak adil...Ini nggak mungkin...Gue nggak minta dilahirkan seperti ini! Kenapa harus gue? Kenapa?”
Seberkas sinar yang menyilaukan mengejutkan Fairro.
“Kamu!!...Sudah saya duga...” seorang satpam memergoki dan menyorotkan senternya ke muka Fairro. ”Kamu yang biasanya memakai ruangan musik itu, apakah kamu bisa menjelaskan kenapa ruangan musik itu menjadi hancur berantakan begitu?”
Fairro cuma membisu.
__ADS_1