
“Fairro!! Kenapa sih lo selalu menghindar?? Hmm...Memang susah ya buat orang yang mau melarikan diri dari tanggung – jawab??” sindir Mbak Maya ketika melihat Fairro buru – buru mengemasi buku – buku kuliahnya saat dia masuk ke dalam ruangan kuliah Fairro.
“Tanggung – jawab apa? Semuanya terjadi bukan karena kemauan gue! Mbak saja yang memaksa...” bantah Fairro kesal. “Lagipula...”
“Lagipula apa? Apa lo mau seluruh Kampus tau kalo lo udah memperkosa gue??” ancam Mbak Maya.
“Apa??” Fairro terperangah melihat Mbak Maya menundukkan kepalanya dan menangis dengan suara keras sehingga menarik perhatian mahasiswa – mahasiswa lain yang ada di sekitar mereka. Beberapa bahkan mulai mendekati mereka.
“Ada apa May? Kenapa menangis?”
“Fairro, lo apain si Maya?”
“Ada apa sih?”
Fairro kebingungan melihat teman – teman mereka mulai ribut bertanya – tanya. Dengan panik, si gondrong itu menarik tangan Mbak Maya dan setengah menyeretnya pergi menjauh dari kerumunan teman – teman mereka sebelum Mbak Maya semakin membuat ulah.
Mbak Maya cekikikan ketika mereka berdua sudah berada di pelataran parkir Kampus yang sepi.
“Takut nih ye?” ledek Mbak Maya kesenangan melihat Fairro panik.
“Shit...”
“Apa Shit?”
“Mbak jangan memojokkan seperti itu...Mbak tau gue sudah punya...”
“Punya Nania? Oh tidak lagi, sayang! Mulai sekarang lo jadi pacar gue dan harus selalu bareng gue...” potong Mbak Maya membuat Fairro mendelik memandangi mbak Maya. “Nah, sekarang, lo harus mengantarkan gue pulang...”
“Tapi gue harus...”
“Harus menjemput Nania?” mata Mbak Maya berkilat berbahaya. “Ooh...Lo mau gue menangis seperti tadi? Atau mau gue teriak?”
“Mbak!” Fairro mengerutkan keningnya dengan gusar.
“Nah? Kalau begitu apa lagi? Yuk?” Mbak Maya duduk di boncengan Harley Davidson Fairro dengan sikap penuh kemenangan melihat Fairro tak bisa berkata – kata lagi.
Sore itu pulang dari mengantarkan Mbak Maya, Fairro masuk ke kamar Apartemennya dan membanting kunci Harley Davidsonnya ke atas meja, tak puas cuma membanting kunci, Fairro menendang meja itu sekuat tenaganya sehingga barang – barang yang ada diatas meja itu berserakan ke lantai.
__ADS_1
“Shit! Shit!! Shit!!” makian itu berkali – kali terlontar dari mulutnya. “Ini semua gara – gara perbuatan Anggra!! Gue jadi terperangkap dengan Mbak Maya gara - gara bangsat itu! Hubungan gue dengan Nania jadi hancur...Shit!!”
Fairro menghantamkan kepalan tangannya ke dinding berkali – kali.
“Anggra..Anggra harus membayar semua perbuatannya, shit!!” kepalan tangannya yang mulai memerah karena dihantamkan keras – keras ke dinding tidak dipedulikan si gondrong itu. Seolah dia sedang kelebihan tenaga, Fairro tak henti menghantamkan kepalan tangannya yang sudah memerah itu sehingga menjadi lecet berdarah.
“Fairro, gue menunggu lo...”
“Oh shit!”Fairro terperangah melihat tiba – tiba bayang – bayang Nania, gadis manis itu begitu putih molek sudah berdiri di depannya. Tangan – tangan halus Nania menggapai ke depan seolah hendak memeluk tubuh Fairro.
“Fairro, gue menunggu lo...” ulang bayang – bayang Nania dengan suara lembut berbisik, tapi kata – kata itu justru sangat menyiksa Fairro.
“Nania...Maafkan gue...Maafkan gue...” Fairro menatap bayang – bayang itu dengan tatapan penuh rasa bersalah, dia merasa seperti sudah mengkhianati Nania dan itu sangat membuatnya menderita. “Maafkan gue...”
Dikepalkannya tangannya yang berlumuran darah itu. Kamar apartemen itu dingin ber-AC tapi Fairro justru berkeringat di sekujur tubuhnya. Si gondrong itu gelisah mondar – mandir tak menentu di dalam kamar itu.
“Nania...Maafkan gue...Oh Shit!!!” Fairro menubruk sofa yang ada di kamar apartemennya dan mengerang kesakitan. “Sshhit...”
“Shiit!!” Fairro mendelik pada iphone itu, yang serta – merta membuat iphone itu melesat keluar dari tempatnya, menabrak dinding dan berderai berantakan. Tapi Fairro tidak peduli.
“Maafkan gue, Nania...Gue mohon...Maafkan gue...” Fairro merasa sangat sulit melangkahkan kakinya, seolah ada jerat – jerat berduri yang mengikat kaki - kakinya, begitu menusuk – nusuk, tidak hanya pada kakinya juga pada seluruh tubuhnya, rasa sakit itu begitu menyiksanya. Rambut panjangnya yang kusut tergerai menutupi seluruh wajahnya tak dihiraukan oleh Fairro. Pemuda itu memeluk tubuhnya sendiri seolah ingin mengurangi rasa sakit itu.
“Gue cuma sayang sama lo, Nania...Nggak akan ada yang lain...Percayalah...Tidak Mbak Maya, tidak yang lain...Percayalah...Cuma lo...” Fairro ambruk ke lantai ketika kakinya tersandung ujung karpet bulu yang terbentang di dalam kamar itu. Tubuh Fairro menabrak lemari yang ada didekatnya. Sumpah serapah tersembur dari mulut pemuda itu. Rantai kalung Pentagramnya putus tersangkut pintu lemari, liontin Pentagramnya menggelinding di lantai, terhentak ke dinding, dan terbelah menjadi dua. Ada rongga menganga di belahan Pentagram itu, secarik kertas usang tersembul dari dalam rongga kecil itu. Tapi Fairro yang sudah sangat kesakitan tidak menyadari itu.
“Oh sssh...Shit! Sa...Sakit...Gue nggak sanggup lagi...Darah...Darah...Gue sakit... Gue butuh darah...Sakit...”
Langkah – langkah kaki yang datang mendekati pintu kamarnya membuat mata elang Fairro waspada menatap pintu itu.
“Fairro, kenapa lo nggak mengangkat telepon gue...Aduh!” Pirlo, drummer band penggiring pertunjukan biola Fairro, masuk ke kamar Fairro, pemuda funky itu mengaduh karena merasa memijak sesuatu yang keras. “Apa ini? Hey, ini kan kalung Pentagram lo, Fairro? Patah...Eh...Kertas apa ini?? Coba lo lihat ini...Ada tulisan ‘Indra dan Nayla, Keramat Ular’...Siapa Indra dan Nayla?? ”
Fairro yang meringkuk di lantai, cuma menggeram sebagai jawabannya, melihat drummer band penggiringnya itu memperhatikan kalung Pentagram yang dipungutnya dari lantai.
“Fairro...”
BRAAAK!!
__ADS_1
Belum sempat Pirlo berbalik dan meneruskan kata – katanya, pemuda funky itu sudah jatuh tersungkur ke depan, Fairro menubruknya dan mencengkram lehernya. Kalung pentagram yang dipegang Pirlo terlepas dan menggelinding masuk ke bawah tempat tidur.
“Bro, apa – apaan ini? Lepasin gue!!” Pirlo berteriak kaget dan kesakitan karena Fairro yang sudah kesetanan itu merobek kerah kemeja tanpa lengan yang dikenakan Pirlo dengan kasar dan membenamkan giginya ke leher drummer yang juga temannya itu.
Tubuh Pirlo mengeliat – geliat meregang nyawa sebelum akhirnya Fairro menjatuhkan tubuh drummer itu ke lantai, Fairro ikut tersungkur disamping tubuh Pirlo yang sudah tak bernyawa itu. Nafas Fairro terengah – engah baru terlepas dari perjuangan menghilangkan rasa sakitnya.
Perlahan Fairro mengangkat kepalanya, menatap mayat Pirlo dengan pandangan nanar.
“Pirlo...Maafkan gue...” dengan tangan gemetar, Fairro menutup mata mayat Pirlo yang mendelik menatapnya seperti tak rela nyawanya di renggut. “Ke...Kenapa lo datang ke apartemen gue hari ini? Kenapa??”
Lama Fairro menatap mayat Pirlo, sebelum akhirnya si gondrong itu merangkak ke bawah tempat tidurnya, meraba – raba mencoba meraih kalung Pentagram yang tadi menggelinding dari tangan Pirlo ke bawah situ.
“Sshh...Shit!” Fairro terjengah ketika tangannya menyentuh sesuatu yang dingin...Sesuatu yang tiba – tiba mencengkram tangannya kuat – kuat, seolah hendak menyeretnya lebih dalam ke bawah tempat tidur itu.
Mata abu – abu Fairro mendelik melihat seraut wajah putih keriput tergolek diantara kegelapan. Rambut panjang wajah itu tipis penuh uban tergerai menutupi lantai, tersangkut – sangkut sarang laba – laba dan debu seolah dia sudah bertahun – tahun tergolek disana. Mata wajah itu melotot menatap Fairro dengan matanya yang juga abu – abu seperti mata Fairro, tapi mata itu tampak begitu mengerikan.
“Kamu...Sudah saya duga...Kami mencarimu kemana – mana...Kamu anak Indra dan Nayla...” bisik wajah itu serak.
Kepala Fairro terbentur - bentur dasar tempat tidur karena berusaha keluar dari bawah tempat tidur dengan tergesa - gesa. Nafas Fairro memburu cepat. Si gondrong itu merasa mayat Pirlo ikut menarik kakinya mempersulit dirinya bergerak menjauhi tempat tidur.
“Si...Siapa lo?...Apa maksudnya?” Fairro merapatkan tubuhnya yang menggigil kedinding menyaksikan sosok tubuh renta wajah putih keriput itu perlahan – lahan merangkak keluar dari bawah tempat tidur membawa serta semua sarang laba – laba yang menyangkut dirambut dan tubuhnya.
“Akhirnya kami tau kamu disini...Kalung Pentagram pelindungmu sudah rusak...Tak ada lagi yang melindungi kalian...” sosok itu berbicara seperti ular mendesis. “Kamu dan saudaramu tidak boleh ada...Kalian harus musnah!!”
Fairro terjengah mendengar itu.
“Apa?? Gue nggak kenal lo, kenapa lo mau menghabisi gue dan Anggra?? Siapa lo?!!” balas Fairro setengah kalap.
“Kalian anak terkutuk! Kalian tak boleh ada!” sosok itu bergeser mendekati Fairro, tangannya yang berkuku – kuku panjang terjulur ke depan seolah hendak meraih Fairro.
“Jangan sentuh gue!!” Fairro sekuat tenaga menendang tubuh sosok yang kian mendekatinya itu. Pemuda bermata abu – abu itu memberontak dan menerjang keluar kamar Apartemennya, membanting pintunya sehingga mahluk mengerikan itu terkurung di dalam kamar.
Satpam Gedung Apartemen yang berjaga di pintu gerbang cuma bisa ternganga melihat Fairro melarikan Harley Davidsonnya bagai kesetanan melesat entah kemana.
__ADS_1