Close

Close
Bab : 21


__ADS_3

“Lho besar banget tas lo, Nan? Mau menginap di rumah Winda lagi?” tanya Joe sewaktu mereka sarapan.



“Iya...” sahut Nania tanpa menatap Joe. Gadis itu buru - buru sibuk dengan roti bakarnya agar Joe tidak bertanya – tanya lagi padanya. Dari balik lembaran koran yang dibacanya, Papa mengintip tas besar Nania yang menggelembung di kursi meja makan disebelah kursi Nania.



“Ada tugas kelompok lagi, Nania?” tanya papa.



“Ya, Pa...” gadis itu merasa roti bakarnya sulit sekali ditelan ditengah debaran jantungnya yang begitu kencang.



Papa dan Joe sama sekali tidak menyadari kalau Nania tidak akan mengerjakan tugas kelompok apapun hari itu, tidak akan pergi menginap ke rumah Winda, bahkan mungkin tidak akan pernah pergi ke sekolah lagi. Nania menggigit bibirnya. Pagi itu mungkin menjadi pagi terakhir dia sarapan bersama papa dan Joe. Pagi itu dia sudah berjanji dengan Fairro, pangerannya, pujaannya. Berjanji akan mengikuti Fairro, terserah kemana pemuda itu akan membawanya. Nania tidak peduli. Asal dia bisa selalu bersama Fairro, dia tidak peduli akan pergi ke neraka sekalipun, pasti akan dia jalani.



Nania merasa papa pasti bisa mendengar debaran jantungnya ketika dia mencium tangan papanya untuk berpamitan. Dia bahkan tidak memandang Joe lagi ketika mengucapkan kata – kata pamitan pada abangnya itu.



“Nania...” panggilan Joe membuat Nania hampir membeku di depan pintu. “Mau gue antar? Gue juga ada kuliah pagi ini, sekalian jalan...”



“Nggak, nggak usah deh...Nania mau pergi sendiri saja...” sahut Nania dengan suara bergetar.



Ketika Pak Agus Satpam rumah Nania menutup pintu gerbang, Nania memandangi rumahnya dengan perasaan tidak menentu, rumah itu tempat dia dibesarkan, tempat segala kenangan indah bersama mama...Selamat tinggal semuanya...Papa...Joe...Maafkan Nania...



Nania berlari ke pangkalan ojek di ujung jalan rumahnya sebelum air matanya mengalir turun. Gadis itu tidak melihat mobil Abi yang berhenti di depan gerbang rumahnya, dan sudah pasti tidak melihat Abi, Winda dan Lusy yang ada di dalamnya, memandangnya dengan heran kenapa Nania lupa kalau mereka sudah berjanji untuk pergi bersama ke sekolah pagi itu.



Ojek yang membawa Nania melaju menembus dinginnya pagi itu menuju Taman Bunga, taman dimana Fairro menunggu Nania...



Menunggu sumpah setia bersama,



Menunggu cinta mati tak terbendung,



Biarlah orang berkata apa



Kita kan selalu berpegangan tangan



Menjunjung langit



Bersumpah



Biar embun pagi menjadi saksi


__ADS_1


Tak kan ada lagi yang memisahkan kita



Fairro, pangeranku, pujaanku,



Aku sayang kamu



Nania turun dari ojek, dan memasuki Taman itu mencari – cari Fairro. Sepi. Belum ada seorang pun disitu.



“Fairro!!” Nania melihat sosok gondrong Fairro berdiri di dekat bangku taman, sedang membelakangi Nania. Gadis itu bagai terbang, berlari mendekati pemuda itu dan memeluknya dari belakang. “Fairro...Fairro...Sorry, sudah lama ya menunggu?”



“Nania...” Fairro berbalik. Nania tertegun memandang Fairro.



“Fairro?!! Lo kenapa?” tanya Nania karena Fairro terlihat ringkih dan sangat pucat, seolah – olah pemuda itu sedang menahan sakit yang luar biasa. “Lo...Lo sakit?? Wajah lo...Wajah lo kelihatan pucat sekali?”



“Jauhi gue...Nania...Pergi...Gue mohon...” kata – kata Fairro membuat mata Nania terbelalak.



“Lho? Kenapa Fairro?” tanya Nania tak mengerti. “Kenapa lo mengusir gue? Bu...Bukankah kita akan pergi bersama? Bukankah kita sudah berjanji...”



“Please? Pergi! Jauhi gue! Tinggalkan gue...” Fairro lalu ambruk ke tanah.




“Nania, maafkan gue...Maafkan gue...Cepat, pergi...Gue...Gue nggak bisa menahannya...Gue nggak sanggup lagi...Cepat tinggalkan gue...” dengan sikap putus – asa, si gondrong itu berusaha mendorong Nania agar menjauh dari tubuhnya, tapi Nania justru malah memeluknya erat – erat.



“Fairro, gue telepon dokter ya?” kata Nania, gadis itu ketakutan mendengar suara Fairro lama – kelamaan terdengar seperti geraman harimau di dalam pelukannya. “Please jangan membuat gue takut, Fairro! Apa yang sudah terjadi dengan lo?”



Nania merasakan bulu kuduknya berdiri ketika tiba – tiba nafas Fairro terasa dekat sekali dengan lehernya. Dirasakannya tangan si gondrong itu meraba kerah kemeja seragam sekolahnya. Sreeet! Fairro menyentakkan kerah seragam Nania. Kerah itu robek!



“Fairro...” Nania tak sempat meneruskan kata - katanya ketika Fairro yang bagaikan sudah kehilangan akal sehatnya, mencengkram bahu Nania dengan kasar berusaha menggigit lehernya.



Gadis itu menggigil melihat sorot mata abu – abu Fairro tampak menjadi begitu liar dan menakutkan, wajah Fairro pucat seperti setan, deru nafasnya memburu cepat tak terkendali sangat terasa menghembus leher Nania, seolah – olah Fairro saat itu sudah berubah menjadi sesosok mahluk asing yang sama sekali tak dikenal Nania. Sia – sia Nania mencoba meronta, tenaganya serasa lumpuh, hilang, membeku dalam cengkraman Fairro. Air mata Nania terbersit keluar ketika Fairro membenamkan gigi – giginya ke leher Nania dengan bengis.



“Fairro...Jangaaann!! Tidaaaak!!!” lengkingan jeritan Nania begitu nyaring seolah hendak membelah keheningan pagi di taman sepi itu.



BUUK!!!



Tiba – tiba sebuah hantaman kayu menghajar punggung Fairro, membuat pemuda bermata abu – abu itu pingsan tersungkur diatas tubuh Nania.

__ADS_1



“Abi??” Nania melihat Abi berdiri garang dengan kayu panjang terhunus bagai pedang ditangannya. Gadis itu tidak tau bagaimana Abi bisa ada disitu, tapi Abi sudah menyelamatkan dirinya.



“Lo nggak apa – apa, Nan?” Abi menarik tubuh Fairro dari Nania, dan membantu gadis itu berdiri. Tapi Nania tidak bisa berdiri, tubuhnya gemetaran tak keruan sehingga Abi harus memapahnya.



“Abi...Abi...” Nania menangis penuh kengerian di dalam pelukan Abi. “Kenapa...Kenapa Fairro jadi seperti itu??”



Abi membelai rambut Nania berusaha menenangkannya, karena gadis itu kelihatannya sangat terguncang karena kejadian itu.



“Kan sudah berkali – kali gue bilang...Fairro itu anak setan...Tapi lo nggak pernah mau percaya...” kata Abi pelan.



Winda dan Lusy datang berlari – lari mendekati mereka.



“Kami tadi melihat lo naik ojek ke arah Taman...”



“Nania, lo nggak apa – apa?? Apa yang sudah terjadi??”



Winda dan Lusy ribut bertanya – tanya mengkuatirkan Nania. Tapi Nania cuma bisa menangis dan menangis, tak mampu lagi menjawab pertanyaan – pertanyaan itu.



Sampai siang Nania masih mengurung diri di dalam kamarnya, walaupun teman – temannya sudah berkali – kali mengetuk pintu kamarnya berusaha membujuknya agar keluar.



Nania menelungkup di tempat tidurnya sambil menangis. Fairro...Fairro...Ini tidak mungkin! Ini mustahil...Fairro anak setan?? Tidak...Tidak mungkin! Fairro yang sangat dicintainya...Fairro yang begitu lembut...Fairro yang begitu romantis...Ke...Kenapa?? Kenapa harus Abi yang benar??!! Nania membatin putus asa. Padahal dia selalu menentang Abi dan mengatakan bahwa kecurigaan Abi pada Fairro cuma omong – kosong belaka, tapi...Tapi pagi tadi?? Kenapa?? Kenapa Fairro?



Terpandang olehnya foto Fairro yang ada disamping tempat tidurnya, Nania memandangnya dengan penuh kengerian. Semuanya begitu menakutkan, begitu horror, gadis itu tak bisa melupakan bayangan Fairro yang merobek seragam sekolahnya dengan kasar, Fairro yang bagaikan setan bengis menggigit lehernya sampai terluka...Luka itu terasa pedih sekarang...Air mata Nania meleleh lagi...Pedih...Walau tak sepedih perasaannya...Fairro yang sangat dicintainya...Kenapa jadi begitu mengerikan...Seperti Vampire...Vampire pengisap darah yang menghapus semua harapan dan kepercayaannya...Oh Tuhan...Siapa Fairro sebenarnya?? Atau apa? Nania menangis sejadi – jadinya di tempat tidur. Dan jika benar Fairro itu anak setan, kenapa? Kenapa gue harus ketemu dan jatuh cinta dengan Fairro?? Karena...Karena rasanya sakit sekali...Sakit sekali...Tuhan...Gue sudah jatuh cinta padanya, tapi gue harus menghadapi kenyataan mengerikan seperti ini, menyaksikan orang yang gue cintai ternyata setan pengisap darah...Seorang Vampire...



Hujan turun siang itu, di Taman Bunga, Fairro terbatuk – batuk baru siuman dari pingsannya. Si gondrong itu menyeringai karena punggungnya terasa nyeri akibat hantaman kayu Abi tadi pagi. Tangannya yang gemetar mencoba menopang tubuhnya agar bisa bangkit.



“Na...Nania? Lo dimana?...” sia – sia mata abu – abu Fairro mencari – cari sosok Nania. “Apa...Apa yang udah gue lakukan pada Nania?...Apa yang udah gue lakukan?”



Di tengah rinai hujan yang membasahi Taman Bunga itu, Fairro menengadahkan kepalanya ke langit.



“Gue...Gue sudah mencelakai Nania...Gue pasti sudah mencelakai Nania...Tidaaaak!!!” teriakan putus – asa Fairro seolah membahana diseluruh Taman.





__ADS_1


__ADS_2