
“Kenapa dengan kalung Pentagram ini?? Ada apa dengan kalung ini?” Fairro memandangi kalung Pentagram yang melilit pergelangan tangan kirinya dengan penasaran. Si gondrong itu duduk di kursinya sendirian dalam ruangan kuliah yang sudah setengah jam yang lalu kosong setelah perkuliahan berakhir sore itu. Dengan kaki menopang pada meja di depannya, Fairro mengerutkan kening masih memandangi kalung Pentagram itu.
“Selama ini...Selama ini tak pernah ada yang peduli dengan kalung Pentagram gue...Kenapa justru wanita mahluk halus seperti dia yang peduli dan terkejut melihat kalung gue?” Fairro bertanya – tanya didalam hati. “Mungkin...Mungkin gue dan Anggra ada hubungannya dengan wanita mahluk halus itu? Oh shit...Mungkin...Atau mungkinkah dia itu adalah...Oh nggak...Nggak...”
Fairro mengusap rambut panjangnya dengan gelisah.
“Gue nggak boleh berpikir yang bukan – bukan sebelum semuanya jelas...” Fairro mengeluh.
“Hei...Ternyata lo masih disini Fairro??” tegur Mbak Maya yang membuat Fairro terjengah.
Mbak Maya masuk ke dalam ruangan kuliah Fairro. Tampaknya mahasiswi kakak tingkat Fairro itu sudah mencari – cari Fairro sejak tadi.
“Ngapain lo sendirian disini? Temani gue ke kantin yuk?” ajak Mbak Maya.
Fairro melirik arlojinya. Sudah pukul 4 sore. Kehadiran Mbak Maya sepertinya malah membuat Fairro jadi tersadar akan sesuatu. Si gondrong itu mengemasi buku – buku kuliahnya yang berserakan dan segera berdiri.
“Gue...Gue harus pergi...” kata Fairro.
“Pergi kemana Fairro?” tanya Mbak Maya sambil berusaha mengiringi langkah Fairro yang seperti tergesa keluar dari ruangan kuliah. Fairro tak menjawab, pemuda itu sudah duduk di atas Harley Davidsonnya yang terparkir di pelataran parkir kampus yang tak jauh dari ruangan kuliah. Mbak Maya yang mengikuti Fairro ke pelataran parkir itu mengomel.
“Pasti lo mau menjemput Nania kan?” Mbak Maya menatap kesal pada Fairro.
“Nggak...Gue memang ada urusan...” Fairro mencoba berdalih.
“Jangan bohong...”
“Nggak...”
“Kalo begitu gue ikut...” pinta Mbak Maya.
Kedua alis mata Fairro saling bertaut mendengar itu.
“Jangan sekarang ya?” Fairro menstarter Harley Davidsonnya.
“Oh Oke...Oke...Tapi janji ya sebagai gantinya besok lo mau menemani gue shopping ke Mall...Ada yang mau gue cari di sana...Penting banget...”
“Ke Mall?”
“Please??” Mbak Maya menatap Fairro dengan tatapan memohon, membuat Fairro risau membalas tatapan itu. “Please? Sekali ini saja, Fairro...”
“Gue...” Fairro ragu – ragu hendak menjawab.
“Gue tunggu lo besok sepulang kuliah...Kita langsung saja ke sana...Okey?” Mbak Maya mendahului kata – kata Fairro.
“Tapi gue...” kata – kata Fairro terhenti karena si gondrong itu terkejut mbak Maya tiba – tiba mencium pipinya.
“Sampai besok ya? Jangan lupa...” kata Mbak Maya sambil melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Fairro. Mata abu – abu Fairro yang jernih seperti kristal itu terbelalak memandangi Mbak Maya yang semakin menjauh, pandangannya terlihat sangat gusar.
Ketika Fairro tiba di depan pintu pagar rumah Nania, Fairro melihat Nania sudah menunggunya disitu.
“Sorry...” kata Fairro pada Nania.
“Nggak apa – apa, Fairro...Gue juga belum lama kok...Soalnya Winda, Lusy dan Abi tadi lama banget menyelesaikan PR di rumah gue, jadinya gue terpaksa menunggu mereka pulang dulu baru bisa bersiap – siap...Nggak tau tuh, mereka sepertinya sengaja berlama – lama...Mau ngeliat lo datang kali?” sahut Nania sambil tertawa. Fairro juga tertawa.
Nania selalu suka kalau melihat Fairro tertawa. Si gondrong bermata abu – abu itu akan tampak begitu manis bila tertawa. Lusy memang benar, Fairro cakep sekali...Batin Nania terpesona.
“Kita pergi sekarang?” tanya Fairro sambil menyodorkan helm pada Nania.
“Eh...Iya...Yuk!” Nania sedikit tergagap menjawab Fairro. Setelah memakai helmnya, gadis itu segera naik ke boncengan Harley Davidson Fairro.
Fairro tidak pernah tau kalo rona wajah Nania yang ada diboncengannya itu begitu merah padam.
“Fairro...Fairro...” bisik Nania berulang – ulang di dalam hati. Entah kenapa...Padahal ini kali kedua dia berboncengan dengan Fairro. Tapi setiap kali dia berboncengan, ada rasa yang bergejolak di dalam hatinya, rasa yang seolah bisa membuat dirinya terbang melayang bersama hembusan angin yang menerpa mereka berdua seiring dengan deru Harley Davidson yang sedang melaju di jalanan itu.
__ADS_1
Gadis itu merasakan jantungnya berdebar begitu keras sampai – sampai dia takut Fairro bisa mendengar debaran jantungnya yang tidak keruan itu. Dipandanginya punggung Fairro yang berbalut Jaket olahraga berwarna hitam yang senada dengan warna celana jeans si gondrong itu. Rambut panjang Fairro yang tersembul dibalik helm terkadang menggelitik nakal ke wajah Nania.
Nania menyibakkan rambut itu. Gadis itu tak kuasa menahan diri untuk tidak memeluk punggung Fairro, merasakan si gondrong itu bergerak karena terkejut akibat ulahnya. Nania tak peduli, diam – diam dia memejamkan matanya dan tersenyum senang.
Tidak kah kau tau?
Kaulah yang pertama
Membuat aku melayang
bersama sejuknya angin
bersama indahnya sinar mentari
bersama merdunya kicauan burung
Oh betapa aku melayang
Menantikan kau dalam mimpi – mimpiku
Menantikan kau dalam damaiku
Biarlah buta mata hati untuk yang lain
Karena kau kan menjadi pujaanku
Pangeranku
Hanya engkau
Tidak kah kau tau?
“Eh sudah sampai ya?” Nania tersipu malu karena kedapatan masih memeluk punggung Fairro. Buru – buru dilepaskannya tubuh Fairro dan meloncat turun dari Harley Davidson.
Mereka menikmati Iced Cappucino dan Strawberry Cake - yang merupakan pilihan Nania - dengan penuh canda dan tawa. Angin yang menyejukkan pada sore menjelang malam itu membuat Fairro dan Nania memutuskan untuk berjalan – jalan menyusuri pantai itu sesudah makan, sembari menanti indahnya pemandangan matahari terbenam.
Birunya air laut yang berulang kali menyapu pantai mengundang Nania melepas sepatunya. Gadis berambut ikal itu bagaikan burung kecil yang baru merasakan kebebasan terbang melayang, berlari – lari riang mengelilingi Fairro.
“Ayo dong, Fairro...Buka sepatu lo...Rasakan sejuknya air laut bersama gue...” ajak Nania. “Kita lomba yuk? Siapa yang paling dulu bisa mencapai air...”
“Lomba??” Fairro cuma bisa kebingungan ketika Nania menarik – narik tangannya mengajak berlomba lari. Nania tertawa melihat raut wajah Fairro. Oh God, kemana saja Fairro selama ini? Dia seperti orang yang tak pernah menikmati cerianya masa muda.
“Ayo dong...Nikmati keindahan pantai ini...” Nania melompat – lompat tak sabar. Fairro yang akhirnya membuka sepatunya, cuma sempat melempar sepatu itu dan juga ransel kuliahnya sekenanya ke atas pasir pantai, karena Nania sudah menarik tangannya untuk berlari menyambut ombak yang datang menyapu pantai.
Ke dua remaja itu bagaikan menari bersama ombak, berkejar – kejaran, berputar – putar, bercanda, tertawa kala air ombak membasahi kaki – kaki mereka.
Nania sembunyi – sembunyi memandangi Fairro, belum pernah dia melihat mata abu – abu itu bersinar begitu cemerlang penuh kebahagiaan. Nania membiarkan si gondrong itu meraih tangannya dan mengenggamnya erat – erat seolah dia tak ingin melepaskan tangan Nania untuk selamanya, seolah dia tak ingin kehilangan Nania walau sedetikpun juga.
“Ah...Fairro...Gue bersyukur gue bisa tau kalo lo memang bukan hantu Jelangkung itu...Heheheh...” batin Nania sambil tersipu malu. “Oh God, gue belum pernah merasakan saat yang seindah ini...”
Mereka berhenti bermain ombak dan saling bertatapan diantara deru nafas keduanya. Semburat kelabu langit sore yang mulai meredupkan cahaya seolah mejadi saksi bisu saat wajah Fairro berada dekat sekali di wajah Nania. Gadis SMU itu memejamkan matanya merasakan Fairro mencium lembut bibirnya dan kemudian memeluk dirinya.
Nania tidak peduli dengan sinar merah keemasan matahari yang berangsur – angsur terbenam membuat birunya laut bagaikan tertimpa kilauan cahaya ribuan lilin. Nania juga tidak peduli saat langit mencapai kegelapan di awal malam. Gadis manis berambut ikal itu membalas memeluk Fairro erat – erat.
“Ah...Mama...Ma...Lihat, Nania sekarang sudah punya kekasih...Kekasih yang begitu baik hati, begitu cakep...Mama pasti menyukainya juga...Nania merasa bahagia sekali hari ini, ma...” perasaan bahagia Nania membuat gadis itu seperti melihat sosok mamanya mengiringi mereka di pantai itu. Nania tersenyum pada bayangan mamanya, tapi aneh, kenapa wajah mama tampak sedih?
“Nania? Kenapa?” Fairro heran melihat Nania tiba – tiba melepaskan pelukannya dan terdiam. Nania terjengah menatap Fairro.
“Gue...Gue...Ah, nggak...Gue nggak apa – apa kok...Gue cuma tiba – tiba aja teringat dengan mama...” sahut Nania.
“Ibu lo?”
__ADS_1
“Iya...Tapi sudahlah, nggak usah dipikirkan deh...” Nania berusaha menepis sosok mamanya dari benaknya. “Eeh...Lihat! Ada penjual jagung bakar! Kita beli yuk?”
“Jagung bakar??”
“Ayo ah, jangan bengong gitu dong Fairro!” Nania mulai tertawa lagi, dan menarik tangan Fairro.
Angin laut berhembus menerpa tubuh – tubuh mereka. Nania, entah kenapa, tiba – tiba merasa merinding. Sosok mamanya melintas lagi diantara mereka.
“Oh!” Nania tersentak kaget.
“Kenapa?” tanya Fairro memandang Nania.
“Ah, nggak...Nggak...” Nania tidak mau membuat Fairro mengira dia sudah berhalusinasi yang tidak – tidak, bagaimana mungkin, kini dia melihat sosok mamanya tampak sedang menangis! Nania merasa degup jantungnya bagai berpacu cepat. Apa artinya ini? Apakah ada yang tidak beres dengan otaknya? Kenapa dia melihat mamanya? Apakah ini suatu pertanda?
Fairro tiba – tiba menoleh ke arah dimana sosok mama Nania berdiri, seolah si gondrong itu juga melihat sosok itu. Nania menggigit bibirnya, apakah...Apakah Fairro juga melihat mama? Tapi Fairro cuma diam saja, tanpa ada reaksi apa – apa diwajahnya. Apa ini suatu kebetulan?? bisik Nania bertanya – tanya di dalam hati.
Gadis itu melihat kalau sosok mamanya sudah menghilang. Tapi angin malam pantai seolah membawa suara isak tangis mama bersama hembusannya. Nania menggidik. Kenapa ma? Kenapa mama menangis?
“Eh, Fairro...Kita pulang saja yuk?” kata Nania tiba- tiba merasa ketakutan.
“Pulang? Nggak jadi beli jagung bakarnya?” tanya Fairro kebingungan melihat sikap Nania.
“Nggak jadi deh, gue tiba – tiba nggak mood makan jagung bakar lagi...” kata Nania seperti terburu – buru. “Lagian sudah malam...”
“Nania? Ada apa?” desak Fairro kuatir.
“Nggak kenapa – napa, pokoknya kita pulang saja yuk?” Nania risau mendengar isak mamanya masih terdengar. Fairro mengikuti langkah Nania keluar dari area pantai itu.
Lampu – lampu di rumah Nania sudah dinyalakan ketika mereka tiba di depan rumah itu. Fairro menangkap tangan Nania sebelum gadis itu beranjak masuk ke halaman rumahnya.
“Ada apa Fairro?” Nania terjengah saat Fairro menatapnya dengan mata abu – abunya yang jernih seperti kristal itu. Sorot mata Fairro tampak begitu serius.
“Nania...Jangan takut...Ibu lo pasti menyetujui hubungan kita, dia cuma...”
“Cuma apa Fairro? Lo...Lo melihat mama juga?” potong Nania cepat, berharap bukan cuma dia yang melihat mamanya tadi, berharap Fairro juga melihat, dan itu berarti tidak ada yang salah dengan dirinya. Tapi Fairro tampaknya tidak berniat meneruskan kata – katanya lagi. Si gondrong itu membelai rambut Nania dengan lembut seolah sedang mencoba menenangkan gadis itu.
“Gue pergi dulu...” kata Fairro sebelum dia berlalu dari hadapan Nania dengan Harley Davidsonnya.
Fairro tau ada yang mengikutinya di sepanjang perjalanan pulang dari rumah Nania. Sesuatu yang melayang samar – samar di sisinya.
“Jangan...Jangan dekati anakku...Jangan ganggu anakku...” desahan itu begitu lirih terdengar berulang – ulang mendirikan bulu kuduk.
Fairro mengerutkan keningnya. Awalnya si gondrong itu tak menghiraukan desahan itu – setidaknya mencoba untuk tidak mendengarkannya – tapi lama – kelamaan dia terganggu juga.
Fairro tau, itu roh mama Nania yang memang sudah mengiringi saat dirinya masih bersama Nania di pantai itu. Sebetulnya bukan cuma Nania yang melihat sosok roh mamanya, Fairro juga melihatnya, dengan sangat jelas, tapi Fairro tidak ingin Nania tau kalau dia bisa melihatnya.
“Tante...Saya mencintai Nania...Izinkan saya bersamanya...” Fairro akhirnya menjawab. “Saya tau tante bisa mendengar saya...”
“Kamu tidak boleh bersamanya...Kamu bukan manusia biasa...Kamu berdarah campuran...Kamu anak terkutuk!!” Roh mama Nania mengembangkan kedua tangannya dan melayang turun ke depan Harley Davidson Fairro yang tengah melaju itu. Rambutnya yang ikal seperti milik Nania dan gaunnya yang putih panjang berpendar – pendar seolah bercahaya tapi sangat lemah dan begitu samar – samar.
“Saya?? Berdarah campuran??” Fairro nyaris saja menabrak sesuatu yang melintas di depannya, bukan roh mama Nania tapi mobil yang berpapasan dengan Harley Davidsonnya di persimpangan jalan. “Apa maksud tante??!!”
“Heh, brengsek!! Kemana mata lo??!!” sumpah - serapah pengendara mobil pada Fairro seolah menjadi penyebab raibnya roh mama Nania dari depan motor besar Fairro.
Fairro tidak peduli berapa banyak yang membunyikan klakson, berapa banyak yang melemparkan sumpah – serapah kepada dirinya karena berhenti di tengah jalan. Si gondrong itu mencari – cari roh mama Nania yang sudah membuatnya gundah.
“Tante!!!!” teriak Fairro putus – asa, tapi roh mama Nania sudah menghilang tanpa bekas di antara keramaian lalu – lintas jalan malam itu.
__ADS_1