Close

Close
Bab : 8


__ADS_3

Nania sedang duduk – duduk di salah satu meja di Cafe bersama Abi malam itu. Tapi jelas – jelas gadis manis itu tidak mendengar apa yang sedang diocehkan Abi saat itu. Dia sibuk memperhatikan seseorang lain yang sedang duduk sendirian di meja tak jauh dari meja mereka...Fairro!



Jantung Nania berdegup kencang melihat si gondrong hantu Jelangkung itu juga ada di cafe. Ini suatu kebetulan atau bukan? Kenapa Fairro bisa ada juga disini sih? Batin Nania ketakutan, tanpa sadar dia meremas – remas kertas tissue yang dipegangnya sedari tadi, rasa dingin tiba – tiba menjalari seolah ingin membekukan tubuhnya. Nania menggidik, kenapa? Kenapa dia harus dihantui oleh Fairro? Nania terbayang dengan kiriman bunga – bunga mawar putih dari Fairro...Mau apa sih dia? Mau meneror Nania? Apa dia nggak sadar kalau perbuatannya itu sudah mengganggu? Sebetulnya sih tidak akan mengganggu kalau Fairro adalah seorang pemuda yang biasa – biasa saja, kalo Fairro tidak muncul dengan sosok yang mengerikan di permainan Jelangkung itu. Tapi faktanya berkata lain, Fairro muncul di pemainan Jelangkung, membuat siapapun pasti ketakutan padanya.



Dengan hati - hati Nania mengawasi si gondrong bermata abu – abu itu dari mejanya. Keliatannya malam ini Fairro sedang gusar dengan sesuatu entah apa, sudah sejak tadi Nania melihat si gondrong itu mempermainkan gelas Whiskey Cola-nya yang isinya tinggal sedikit itu dengan gelisah. Rambutnya yang selalu tergerai menutupi sebagian wajahnya itu, tak dapat menyembunyikan raut gusar itu.



Nafas Nania nyaris berhenti ketika dilihatnya Fairro menatap kearahnya. Nania hampir saja membuang muka, tapi...Eh...Mata itu...Kenapa mata itu? Ada sesuatu di mata abu – abu Fairro yang membuat Nania tak jadi membuang muka. Seolah ada luka di sorot mata abu – abu itu.......Ke....Kenapa si hantu Jelangkung itu tampak sedih seperti itu? Nania teringat dengan kata – kata Lusy tempo hari, ‘Kayaknya dia naksir elo deh, Nan....’ Nania menggigit bibirnya. Apakah dia cemburu melihat gue berdua dengan Abi? Oh Tuhan, apa mungkin hantu Jelangkung seperti dia bisa jatuh cinta?



“Hei...Lo nggak dengar pertanyaan gue ya?” tegur Abi tiba – tiba. Nania nyaris terlompat kaget dibuatnya.



“Eh? Lo bertanya apa tadi, Bi?” Nania tersipu malu karena ketauan tidak menyimak. “Maaf Bi...Ehm...Disini sesak sekali yah?”



“Lo baik – baik saja Nan? Sedari tadi gue liat lo diam saja?” tanya Abi sedikit kuatir.



“Gue nggak apa – apa, Bi. Eh gue ke toilet dulu ya?” kata Nania sambil bangkit dari kursinya.



“Ya deh...” sahut Abi, pemuda itu memandangi Nania yang menghilang di antara orang – orang yang menyesaki cafe malam itu.



Ada yang mencegat Nania ketika gadis berambut ikal itu keluar dari toilet.



“Maaf...Mbak bernama Nania?” tegur seorang Waitres Cafe pada Nania.



“Ya?? Ada apa?” tanya Nania heran.



“Ini...Mas yang tadi duduk disana itu menitipkan ini untuk mbak Nania...” kata waitres itu sambil menyodorkan setangkai mawar putih pada Nania, sembari menunjuk ke arah sebuah meja yang tak jauh dari meja Nania dan Abi. Deg! Jantung Nania serasa mau copot dibuatnya. Itu kan meja Fairro! Walau Nania tau betul kalo bunga itu pasti diambil Fairro dari vas yang ada di salah satu meja di cafe itu, tapi Fairro sudah memberinya bunga mawar putih lagi! Nania melirik ke arah meja Fairro, meja itu tampak kosong. Fairro sudah pergi.



“Oh ya mbak, ini ada suratnya” tambah waitres itu lagi sambil memberikan secarik kertas kecil yang dilipat rapi kepada Nania.



Nania mengambil kertas itu dan membaca isinya.



‘Untuk Nania, yang tak bisa ku raih...’



Sesaat Nania tertegun membacanya.



“Mau apa sih si hantu Jelangkung itu? Mungkin si Lusy benar...Dia...Dia sudah jatuh cinta...Tapi apa dia nggak sadar kalau dia itu menakutkan??” keluh Nania di dalam hati, pikirannya gundah tak menentu. “Oh Tuhan! Gue...Gue nggak mau dihantui sama dia seumur hidup gue! Gue sudah nggak sanggup lagi, Tuhan...Gue...Gue harus menyelesaikan masalah ini...Ta...Tapi gimana ya? Mungkin gue harus bicara dengannya?...Aduh, berbicara dengannya??...Hiiy....Gue...”



“Mbak?”



“Eh...Oh...Makasih ya? Hmmm... Sudah lama nggak dia perginya?!” tanya Nania segera menyadari waitres itu masih berdiri di dekatnya.



“Baru saja mbak!” sahut si waitres.



Nania segera kembali ke mejanya lagi.



“Ya Abi...Gue akan minta bantuan Abi untuk menghadapi Fairro! Lho, kemana si Abi ya??” Nania terjengah melihat Abi ternyata tidak ada di meja mereka. Kemana sih teman sekolahnya itu? Pada saat – saat dibutuhkan begini kok dia malah menghilang? Nania dengan gugup duduk di kursinya, mungkin...Mungkin Abi sedang ke toilet juga. Gadis itu merogoh tasnya mencari – cari HP – nya.



“Halo cantik...Sendirian nih?? Mau kita temani?” terdengar suara berat mengagetkan Nania. Tiba – tiba saja 3 orang pemuda berpakaian urakan muncul di depan Nania. Bau alkohol menguar dari mulut pemuda – pemuda itu.



“Terima kasih, tapi nggak perlu...Gue sedang menunggu teman gue!” Nania berusaha tak memperdulikan pemuda – pemuda itu. Tapi pemuda – pemuda berandalan itu malah duduk mengelilingi Nania, menggoda gadis itu dengan ocehan – ocehan yang lama - kelamaan mulai terdengar kurang ajar. Telinga Nania panas mendengarnya.



“Jangan ganggu gue! Atau gue panggil Satpam nanti!” ancam Nania sambil berusaha melepaskan tangannya yang ditarik salah satu pemuda yang setengah mabuk itu.



“Ayolah manis...Berapa sih harga lo untuk semalaman? Nanti gue bayar 2 x lipat deh!” kata pemuda itu dengan suara yang membuat Nania ingin menamparnya keras – keras. Nania melotot pada pemuda – pemuda itu, tapi mereka cuma tertawa terbahak – bahak melihat Nania mulai marah.



“Lepaskan dia!!” tiba – tiba terdengar suara keras.



Nania tersentak. Fairro!!! Entah dari mana munculnya, tau – tau Fairro sudah berdiri di belakang pemuda – pemuda itu. Wajah Fairro keliatan sangat gusar.



“Ah, minggir lo!! Jangan ikut campur!!” sergah salah satu pemuda berandalan itu tidak senang ulahnya terganggu karena kehadiran Fairro, dia mendorong Fairro supaya minggir. Tapi Fairro tidak bergeming.

__ADS_1



“Lepaskan dia!!” ulang Fairro datar tapi dengan nada penuh ancaman berbahaya.



“Nih anak memang cari gara – gara rupanya!!” gerung pemuda yang satunya lagi dengan kesal. Tanpa peringatan apa – apa pemuda berandalan itu berdiri dan melayangkan tinjunya ke wajah Fairro, tapi Fairro dengan gesit mengelak. Sehingga tinju itu hampa memukul udara. Tindakan itu membuat pemuda – pemuda berandal itu geram, mereka meninggalkan meja Nania dan mengepung Fairro. Para pengunjung lain mulai menjerit – jerit melihat gelagat yang tidak baik itu.



Nania mendekap mulutnya ngeri melihat lawan yang tidak seimbang untuk Fairro. Tapi dia lebih ngeri lagi melihat sorot mata abu – abu Fairro yang menatap tajam pada pemuda - pemuda yang mengepungnya, seolah Fairro ingin menembus jantung mereka hanya dengan pandangannya saja. Putihnya wajah Fairro yang pucat karena menahan kemarahan, rambut panjangnya yang acak – acakan, dan tatapan mata elangnya yang tajam itu membuat Fairro jadi tampak mengerikan sekali, membuat Nania teringat lagi dengan sosok Fairro pada saat kedatangannya di permainan Jelangkung tempo hari itu. Dan kiranya bukan Nania saja yang merasa ngeri melihat Fairro, ke tiga pemuda berandalan itu pun keliatannya begitu ngeri memandang Fairro.



“Heh, gue nggak suka dipandangi seperti itu! Mau melawan ya?!” salah seorang pemuda berandal itu membentak kasar, tapi ada nada gentar dalam suaranya, jelas – jelas bentakannya itu cuma untuk menutupi rasa ngerinya pada Fairro. Pemuda berandal itu memberi isyarat pada dua temannya untuk segera menyerang Fairro. Tapi dibawah pandangan tajam sepasang mata elang Fairro yang seolah begitu membara, Pemuda – Pemuda berandalan itu tiba – tiba saja terlihat jadi sangat aneh, ketiganya tampak seolah membeku bagai patung es, mereka melotot berusaha menyerang dan memukuli Fairro tapi gerakannya seolah tertahan di udara oleh sesuatu yang tak nampak, walau bagaimana kerasnya mereka berusaha tapi tetap saja mereka tidak bisa bergerak. Ketiganya tampak begitu tersiksa dengan tubuh mereka sendiri yang mendadak kaku bagai patung es.



Kedatangan Satpam Cafe membuat pandangan Fairro teralih. Pemuda gondrong itu seperti tersadar akan sesuatu, tiba – tiba aja memalingkan wajahnya dari ketiga pemuda berandalan itu.



“Ada apa ini?” tanya Satpam sambil memandang ketiga pemuda yang sedang terengah – engah mengatur nafasnya seolah baru saja terlepas dari cengkeraman sesuatu yang tidak nampak. “Ayo bubar!! Bubar!”



Tanpa disuruh 2 kali, pemuda – pemuda berandalan itu segera kabur dari tempat itu sambil memandang ngeri pada Fairro.



Setelah ketiga pemuda berandalan itu pergi, Fairro juga keliatannya memutuskan untuk pergi dari tempat itu, pemuda gondrong itu menyelinap pergi sebelum Satpam Cafe dan kerumunan para pengunjung yang menyaksikan keributan itu menyadari apa yang sebetulnya telah terjadi. Nania yang baru pulih dari rasa kaget dan takutnya atas keributan tadi, terjengah menyadari itu.



“Fairro...Tunggu!!” Nania spontan memanggil Fairro...Entah kenapa dia seperti memiliki keberanian memanggil Fairro. “Jangan pergi!!”



Nania mengejar Fairro yang sudah nyelonong keluar cafe dan pergi pelataran parkir cafe, menuju tempat dimana motor Harley Davidsonnya berada.



“Fairro!!” panggil Nania sekali lagi.



Fairro berhenti berjalan dan menoleh pada Nania. Dari raut wajahnya seolah dia menunggu Nania melanjutkan kata – katanya.



“Fairro...Kenapa...Kenapa lo menolong gue??” suara Nania bergetar ketika mengucapkan itu. “Dan bunga – bunga mawar itu?? A..Apa maksud lo?...Gue nggak bisa...Maksud gue...Please jangan ganggu gue lagi...”



Si gondrong itu tampak terjengah mendengar itu, tapi dia diam saja, sepasang mata elang abu – abunya mengawasi Nania dari balik geraian rambut panjang hitam lebatnya. Lama dia seperti itu, sampai – sampai Nania merinding dibuatnya.



“Please...Jangan memandangi gue seperti itu...” mau tak mau lutut Nania mulai gemetar juga menghadapi sorot mata abu – abu itu. Tapi Nania mencoba untuk tetap bertahan di tempatnya.




Nafas Nania serasa berhenti mendengar itu. Ya Tuhan...



“Nania?!...Akhirnya gue menemukan lo... Sorry... Sorry...Tadi gue ketemu sama temen lama...Nania...Gue dengar tadi ada keributan. Lo nggak apa – apa? Kenapa lo keluar cafe tanpa menunggu gue dulu?” terdengar suara Abi yang datang dari arah cafe, berlari – lari mendekati mereka dengan wajah cemas. “ Eh...Ada Fairro?”



Abi dan Fairro saling bertatapan sebentar, ada sorot saling curiga di dalam tatapan mereka.



“Mau apa lo disini? Jangan ganggu Nania!” kata Abi dengan nada tak bersahabat pada Fairro.



“Ya gue tau...Gue juga sudah mau pergi...Gue cuma...” si gondrong itu tiba – tiba berhenti bicara, dia menoleh ke arah deretan motor yang terparkir di sebelah mereka berdiri, sekilas Fairro tampak terkejut seperti sedang melihat sesuatu yang ganjil disitu.



“Kenapa dia??” tanya Nania di dalam hati.



“Cuma apa?? Ngomong jangan sepotong – potong...” sergah Abi tidak sabar.



“Forget it...” sahut Fairro sekenanya. Tapi Nania bisa melihat kalo Fairro menoleh sekali lagi ke deretan motor itu sebelum nyelonong pergi ke tempat motor Harley Davidsonnya yang terparkir tak jauh dari situ. Si gondrong itu menatap Nania sekilas sebelum menaiki Harley Davidsonnya. Tanpa berkata apa –apa lagi Fairro segera memacu motor besar itu meninggalkan area Cafe. Tidak ada apa – apa disana kecuali motor – motor, tapi kenapa Fairro selalu menoleh ke sana? Nania tiba- tiba merasa tengkuknya merinding. Ih, serem...Nania berusaha untuk tidak memikirkannya.



“Dasar orang aneh!!” kata Abi setelah Fairro pergi. “Lo nggak diapa-apain kan tadi??”



“Enggak...” jawab Nania.



“Eh...Itu bunga dari siapa, Nan??” tiba – tiba Abi melihat bunga mawar putih yang ada di tangan Nania. Gadis berambut ikal itu terjengah menyadari kalo dia masih memegang bunga pemberian Fairro.



“Ah nggak dari siapa – siapa kok...Sudahlah, yuk kita pulang saja...” kata Nania sambil buru – buru membuang bunga mawar putih itu ke tong sampah yang ada didekatnya, dan mempercepat langkahnya menuju ke tempat mobil mereka terparkir. Abi mengikuti dari belakang.



“Nan...Kok diam? Ada apa??” tanya Abi ketika mobil mereka mulai melaju menelusuri jalanan meninggalkan area cafe, pemuda itu heran melihat Nania cuma membisu. “Pasti Fairro tadi sudah mengganggu lo ya? Lo masih takut dengan dia??”



Nania menghela nafasnya dan memandang Abi yang sedang menyetir.

__ADS_1



“Gue...Tadi...Sebetulnya ingin minta bantuan lo...Untuk...” Nania tidak tau harus bagaimana menceritakan pada Abi, perasaannya saat itu sangat gundah.



“Ya? Lo kenapa? Kok nggak dilanjutin ngomongnya??”



“Abi...Ya Tuhan, gue nggak tau harus bagaimana...”



“Nania? Ada apa? Lo mau minta bantuan gue soal apa?”



“Nggak, tadinya gue...Gue...”



“Ya?”



“Ah nggak...Nggak...” Nania akhirnya tak tahan lagi. “Bi...Tadi Fairro bilang suka ama gue......”



“Apaa?!!” Abi menoleh ke arah Nania dengan expresi wajah kaget.



“Dia bilang suka sama gue...”



“Fairro bilang suka sama eloo??”



BRAAAK!!!



Mobil Abi menabrak sesuatu dengan keras. Sesosok tubuh terlempar jatuh ke jalanan aspal itu ketika motornya ditabrak dengan mobil Abi dari belakang. Nania terpekik kaget.



“Abi...Lo sudah menabrak orang!!”



Abi tak menjawab, pemuda itu langsung pucat pasi. Abi keluar dari mobil untuk melihat orang yang di tabraknya tadi.



“Oh God...” Abi langsung lemas ketika melihat sebuah motor Harley Davidson yang ringsek terguling di aspal jalanan, sementara di samping motor itu sesosok tubuh tergeletak kesakitan. Helm-nya terlepas dari kepalanya. Darah meleleh dari kepala dan mulut sosok itu. Begitu Abi mendekat, terlihat mata sosok itu mendelik ke arah Abi sebelum akhirnya sosok itu pingsan. Mata itu berwarna abu – abu...



“Fairro!!!” jeritan Nania yang ternyata sudah ikut keluar dari mobil itu membuat Abi bertambah lemas. Sementara orang – orang mulai berkerumun mengelilingi mereka.



“Tabrakan ya?”



“Aduh, ada tabrakan!!”



“Korbannya parah nggak??”



“Ayo...Bawa saja ke rumah sakit, mbak...Mas...”



“Apa Polisi sudah dipanggil??”



Orang – orang ribut berkasak – kusuk membuat Abi panik, takut masalah itu berbuntut panjang. Apalagi kalau sampai Polisi sudah turut campur.



“Jangan!...Eh, maksud saya...Sebaiknya biar saya bawa ke rumah sakit dulu orang ini...” kata Abi gugup.



Dengan dibantu orang - orang yang berkerumun itu, Abi memasukkan Fairro ke mobilnya dan membawa Fairro ke Rumah Sakit.



Mobil Abi melaju ke Rumah Sakit dalam kesunyian, Abi begitu tegang sehingga tak mampu bersuara. Sedangkan Nania yang duduk di jok belakang karena memegangi Fairro juga cuma membisu. Gadis itu memandangi wajah indah bagai wajah patung – patung legenda Dewa Yunani yang sangat tampan itu dengan perasaan tak keruan. Wajah Fairro tampak begitu pucat diantara lelehan darah yang mengalir dari kepala dan mulutnya. Nania mengusap lelehan darah itu perlahan. Jantungnya tiba – tiba berdegup kencang.



“Darah?” Nania tiba – tiba bersuara, menyadari sesuatu. “Ada darah? Ba...Bagaimana mungkin...Bukannya Fairro adalah...Kalau Fairro berdarah berarti Fairro bukan....Fairro bukan hantu...Hantu mana mungkin bisa ditabrak begini...”



Kering rasanya tenggorokan Nania ketika mengatakan itu.



“Apa?” Abi bertanya tidak mengerti.




__ADS_1


__ADS_2