Close

Close
Bab: 19


__ADS_3

Bell pulang sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu, satu demi satu siswa – siswi SMU itu meninggalkan area sekolah. Nania yang berdiri di depan gerbang sekolah menunggu jemputan Fairro, berkali – kali melirik jam tangannya dan menghela nafas.



“Apakah...Apakah Fairro tidak menjemput lagi?” Nania menggigit bibirnya.



Kemarin hampir sore Nania menunggu, Fairro cuma menelepon ke HP android-nya menyatakan permintaan maafnya tidak bisa menjemput Nania dengan alasan ada kegiatan Kampus yang tidak bisa ditinggalkannya. Hari ini sepertinya akan terulang lagi. Kenapa ya??



“Nania masih disini?? Gue kira lo udah dijemput Fairro?” tiba – tiba terdengar suara Winda. Nania menoleh dan melihat Winda, Lusy dan Abi sudah ada disampingnya. Ternyata teman – temannya juga belum pulang.



“Dooo...Yang lagi nunggu pacaaar...” goda Lusy sambil cekikikan. “Kok muram wajahnya? Fairro telat menjemput lagi yaaa??”



“Yang sirik boleh pulaang...” balas Nania sambil merengut. Winda dan Lusy cekikikan gila – gilaan, apalagi ketika Nania lalu menggelitiki mereka berdua dengan gemas.



“Gue rasa Fairro memang gak akan datang menjemput lagi...” kata Abi mengagetkan trio Nania – Winda – Lusy yang sedang asyik bercanda.



“Hee...Kenapa lo, Bi? Ngigau lo?” tanya Winda sambil mengusap air matanya yang keluar karena kebanyakan ketawa.



“Iya nih Abi...Kenapa lo ngomong begitu??” Nania mendelik pada Abi.



“Ya gue rasa sih begitu, soalnya...” Abi berbicara tanpa memandang teman – teman wanitanya yang sedang memandanginya dengan raut penasaran.



“Soalnya apa?” Nania tak sabar.



“Soalnya Fairro udah tidur sekamar dengan cewek lain...” Abi menjawab datar, tapi cukup membuat Nania nyaris pingsan mendengarnya.



“Apa?!...Apa lo bilang??” Nania merasa tubuhnya lemas, tak sanggup berkata – kata karena saking kagetnya.



“Abi, apa – apaan sih lo??” Winda melotot pada Abi. “Jangan mengarang cerita yang aneh - aneh deh...Apa lo gak kasihan dengan Nania??”



“Justru gue sedang menyelamatkan Nania dengan mengatakan yang sebenarnya...” bantah Abi.



“Menyelamatkan apa? Yang sebenarnya apa? Lo sudah menyakiti perasaan Nania, tolol!” Winda mulai naik darah. “Lagipula mana buktinya Fairro berbuat seperti itu??”



“Memangnya siapa sih ceweknya kalo Fairro memang benar begitu?? Jangan membuat fitnah ya?” tanya Lusy ikut emosi.



Abi terlihat enggan menjawab pertanyaan Lusy, pemuda tanggung itu mempermainkan topi petnya dengan gelisah.



“Kalian gak perlu tau siapa ceweknya! Pokoknya gue tau Fairro udah tidur dengan tuh cewek!” sahut Abi dengan nada menghindar.



“Alaaah...Itu karena lo gak bisa jawabkan? Karena lo memang mengada – ada...” kata Winda mencemooh. “Kenapa sih lo hari ini? Biasanya lo gak pernah begini?”



“Gue gak mengada – ada!” Abi mendelik pada Winda. “Gue punya bukti yang kuat Fairro mengkhianati Nania!”



“Kalo memang punya bukti...Ya buktikan! Jangan cuma ngomong doang!” kata Winda tak sabar.



Abi memandang Winda, memandang Lusy, lalu memandang Nania, dia tampak seperti sangat menderita, terjepit diantara 2 hal yang sangat bertentangan di hatinya. Pemuda siswa SMU itu mengumpat dan menendang kaleng kosong yang tergeletak tak berdosa di trotoar depan sekolah dengan sekuat tenaganya.



“Mbak Maya yang cerita sendiri dengan gue...Gimana Fairro...Di kamar hotel...” Abi tak dapat meneruskan kata-katanya karena tubuhnya bergetar menahan emosi.



“Apa?? Kakak lo?? Di kamar hotel??...Maksud lo?” Winda, Lusy dan Nania cuma bisa ternganga mendengarnya.



“Ya cewek itu kakak gue...Fairro tidur dengan kakak gue di kamar sebuah hotel...Puas lo??” Abi menatap teman – teman wanitanya dengan wajah kesal.



“Itu...Itu gak mungkin!! Fairro gak mungkin dengan Mbak Maya!” kata Nania dengan tampang mau menangis. “Lo pasti bohong!”



“Nania, ngapain gue bohong ama lo dengan ngejelek - jelekin kakak gue sendiri? Gue gak mungkin mempermalukan kakak gue di depan orang lain! Tadinya gue juga gak ingin membuka aib ini di depan kalian! Tapi gue melakukannya demi lo, Nania! Supaya lo tau kalo Fairro tidak sebaik yang lo kira...” kata Abi. “Lo pikir gue senang kakak gue dengan Fairro? Kakak gue juga salah satu korban Fairro...Dia pasti udah terkena kekuatan setan Fairro hingga terbujuk untuk melakukan itu! Fairro itu cowok bejat! Fairro itu anak setan! Sadarlah, Nan!”



“Sudah, diam!!” jerit Nania. “ Fairro bukan cowok bejat, Fairro bukan anak setan! Fairro adalah cowok paling baik, dia jauh lebih baik dari lo! Fairro tidak mungkin melakukan hal – hal seperti itu dibelakang gue!!”



“Nania...Please, percayalah, gue tidak ngomong sembarangan, jauhi Fairro!” kata Abi sambil mencengkram bahu Nania. “Lo masih ingat kan gimana Fairro membakar tangan gue dengan kekuatan setannya?? Itu bisa jadi satu bukti lagi kalo Fairro itu anak setan...”



“Abi, lepasin gue! Sakit tau!” Nania gusar. “Kan sudah beratus – ratus kali gue bilang, Fairro itu punya kekuatan supranatural, bukan kekuatan setan!”

__ADS_1



“Nania...Gue harus melakukan apa sehingga lo mau percaya ama gue??” balas Abi putus asa.



“Satu – satunya yang harus lo lakukan adalah berhenti berprasangka buruk dengan Fairro, dan jangan ngarang cerita – cerita gila tentang Fairro dengan Mbak Maya! Karena gue gak akan percaya!” kata Nania.



“Nania...Kenapa lo gak mau percaya dengan gue?...” kata – kata Abi terhenti ketika sebuah motor besar berhenti di dekat mereka.



“Fairro!!!” pekik Nania langsung ketika melihat Fairro datang. “Tuh kan gue benar?? Fairro pasti datang! Dia gak mungkin mengkhianati gue...”



Abi mendelik pada Fairro.



“Bagaimana mungkin? Setelah menodai kakak gue, lo masih berani datang pada Nania?? Dasar orang tak tau diri!!” suara Abi bergetar ketika mengatakan itu.



“Apa??!!” kedua alis mata Fairro terangkat mendengar itu.



“Fairro, jangan dengarkan Abi! Dia memang lagi kacau berat hari ini...Dari tadi ngomongnya melantur terus!” kata Nania yang sudah senewen dengan Abi. “Yuk kita pergi aja...”



“Nania, please?” Abi buru – buru menarik tangan Nania. “Jangan pergi dengan Fairro...Gue mohon...”



“Mbak Maya yang udah memanfaatin gue...” Fairro mengerutkan keningnya melihat Abi menggandeng Nania.



“Apa??!! Fairro, apa maksud lo??!!” Nania terbelalak memandang Fairro, kaget. “Fairro??”



Nania menggamit lengan Fairro, karena si gondrong itu seperti tidak mendengar kata – katanya. Fairro menoleh pada Nania.



“Maafkan gue...Tapi itu bukan kemauan gue...Sungguh...Mbak Maya udah memanfaatin gue...” kata Fairro.



“Ja...Jadi itu benar??!!” Nania mendekap mulutnya. “Itu...Itu gak mungkin! Gak mungkin!! Fairro, lo becanda kan?!”



“Gue tau lo pasti udah mendengar dari Abi...Gue gak ingin dianggap menutup – nutupi ini dari lo, karena gue tak pernah berniat untuk mengkhianati lo, mbak Maya yang...”




“Nania...” sia – sia tangan Fairro berusaha meraih Nania, karena gadis berambut ikal itu sudah berlari sambil menangis.



“Nania??” Sesaat Fairro tampak kebingungan melihat Nania meninggalkannya, tapi si gondrong itu kemudian mengejar Nania.



“Untuk apa lo mengejar gue??!!” Nania masih berlinangan air mata ketika akhirnya Fairro berhasil menangkap tangannya. “Lepasin gue, Fairro!! Lepasin!!”



Tapi Fairro malah memeluk Nania erat – erat, bagaimana pun Nania meronta tapi Fairro tidak mau melepaskan pelukan itu.



“Gue sayang ama lo...” Fairro hampir – hampir berbisik ketika mengatakan itu.



“Bohong!” tangis Nania didalam pelukan Fairro, tangannya memukuli tubuh Fairro. “Gak ada gunanya lo ngomong seperti itu! Lo jahat Fairro!! Lo jahat!!”



Si gondrong itu menangkap tangan Nania dan menatap gadis itu dengan mata abu – abu jernihnya.



“Kenapa lo memandangi gue seperti itu??” Nania risau dipandangi oleh Fairro. “Lepasin gue, Fairro!”



“Lo mau dengar gue sebentar saja??” tanya Fairro. “Nania, please??”



“Gue......”



“Please?”



“Oke, gue kasih lo waktu lima menit aja untuk menjelaskannya, setelah itu gue pergi...” kata Nania akhirnya. Fairro melepaskan pegangannya dari Nania.



“Terima kasih...”



Fairro dan Nania duduk di bangku panjang Taman yang berada tak jauh dari area Sekolah Nania. Tersembunyi dari pandangan Winda, Lusy dan Abi yang sedari tadi mengawasi mereka dari jauh.



Nania gak tau apakah dia bisa mempercayai cerita Fairro. Dipandanginya pemuda bermata abu – abu itu, wajah Fairro tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. Sepertinya Fairro sangat tersiksa menceritakan tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya dan Mbak Maya pada Nania. Apakah Fairro jujur? Apakah Fairro tidak sedang mempermainkannya? Nania meremas – remas sapu tangan yang sedang dipegangnya.

__ADS_1



“Gue harap lo mau percaya dengan gue...” kata Fairro karena melihat Nania diam saja setelah mendengarkan ceritanya. “I’ve told you the truth...”



“Jadi sewaktu lo mabuk, mbak Maya membawa lo ke kamar hotel dan dia memanfaatin lo untuk melakukan itu?” Nania akhirnya berbicara, mengulang cerita Fairro seolah minta ketegasan.



“Ya....”



“Tapi gimana? Cerita lo rada gak masuk akal, Fairro...Kalo lo mabuk gak sadarkan diri, gimana lo bisa meladeni mbak Maya??” tanya Nania.



“Gue gak ingat...Mungkin gue masih setengah sadar waktu itu...” sahut Fairro mencoba meyakinkan Nania.



Pemuda itu gelisah, dia tidak bisa menceritakan tentang Anggra, bagaimana Anggra lah yang sebenarnya menggantikan posisinya selagi dia mabuk. Karena itu lebih tidak masuk akal lagi. Nania tidak mungkin percaya, siapapun, tidak akan percaya kalo dia punya saudara kembar yang gaib seperti Anggra. Fairro mengeluh.



“Setengah sadar? Berarti lo tau dong lo melakukan itu dengan mbak Maya? Berarti lo gak masalah dong kalo mbak Maya ngajak gituan?” nada suara Nania mulai meninggi lagi. “Lo suka juga kan??”



“Nania...Bu...Bukan begitu...” Fairro terjengah melihat reaksi Nania.



“Sudahlah, Fairro! Waktu lima menit lo udah habis, gue mau pergi!” kata Nania bagaikan menjatuhkan vonis bagi Fairro. Gadis itu bangkit dari bangku taman, bersiap – siap hendak pergi, tapi Nania terperangah melihat Fairro juga ikut bangkit dan tiba – tiba saja berlutut di depannya.



“Gue...Gue tau mungkin lo benci ama gue karena kejadian itu...Tapi gue mohon, lo percaya gue...Gue...Gue cuma sayang ama lo...Semua rasa ini cuma buat lo...Gue gak mungkin mengkhianati lo...” mata abu – abu Fairro begitu jernih menatap Nania, ada kegundahan di mata itu.



“Fairro? Apa – apaan sih lo??” Nania risih melihat Fairro berlutut di hadapannya, gadis itu ikut berlutut. “Ayo berdiri!”



Tapi Fairro tidak berdiri, si gondrong itu masih menatap Nania, membuat Nania jadi serba salah.



“Fairro, berdiri! Ayo berdiri!! Kenapa sih lo??” Nania berusaha menarik Fairro supaya berdiri, tapi Fairro cuma menatapnya tanpa berniat sedikitpun untuk berdiri.



“Oke...Oke, gue percaya lo...Setidaknya gue berusaha untuk percaya...” kata Nania akhirnya, gadis itu tak tahan menentang mata abu – abu Fairro lama – lama. “Sekarang...Please...Berdiri dong?”



Nania lega ketika Fairro mengikutinya berdiri. Si gondrong itu mengulurkan tangannya seolah ingin menggandeng Nania. Raut wajah Fairro yang terlihat begitu lega mendengar kata – kata Nania tadi, membuat gadis berambut ikal itu tak dapat menahan diri untuk tidak menyambut uluran tangan Fairro, tapi kemudian Nania menarik tangannya kembali. Gadis itu menggeleng – gelengkan kepalanya.



“Tidak...Tidak, Fairro...Tetap tidak bisa...”



“Kenapa?”



“Gimana dengan Mbak Maya? Walau mungkin itu bukan kesalahan lo...Tapi semua sudah terjadi...Lo...Lo harus bertanggung – jawab dengan Mbak Maya...” suara Nania tersendat ketika mengatakan itu.



“Tapi gue cuma sayang ama lo...”



“Tapi sekarang sudah gak bisa...Kasihan Mbak Maya...Mungkin...Mungkin kita gak bisa bersama lagi...” Nania cepat – cepat memalingkan wajahnya karena air matanya jatuh satu – satu dipipinya, dia menangis memikirkan kenyataan pahit itu.



“Gue cuma sayang ama lo...” Fairro mengulang kata – katanya, pemuda itu memegang wajah Nania, menghapus air mata gadis berambut ikal itu.



“Fairro...Please?...Tapi kejadian itu gak mungkin bisa dihapus lagi...Kita gak bisa bersama lagi...Karena...Karena lo harus bertanggung jawab dengan Mbak Maya...” kata Nania terisak. “Semua...Semua sudah terlanjur...”



Angin yang mempermainkan daun – daun yang ada di taman seolah mengisi kesunyian yang menyelimuti sepasang kekasih itu. Yang terdengar cuma suara isak - tangis Nania. Gadis itu pasrah membiarkan Fairro memeluk tubuhnya. Ke...Kenapa semua itu harus terjadi? Padahal mereka baru saja mulai menjalin hubungan, padahal baru saja rasa cinta itu mulai bersemi di hati Nania.



Didengarnya Fairro mengeluh, Nania melepaskan pelukan Fairro dari tubuhnya dan baru menyadari betapa kusutnya penampilan Fairro saat itu seolah – olah Fairro belum berganti pakaian dari kemarin.



“Fairro, lo kenapa?” tanya Nania sambil menghapus air matanya. “Dari tadi lo keliatan pucat, lo...Lo sakit??”



Nania tidak pernah tau kalo Fairro tidak saja ruwet dengan masalah Mbak Maya, tapi juga sedang dihantui rasa ketakutan dikejar – kejar mahluk – mahluk misterius yang ingin menangkap dan menghabisi nyawanya dengan alasan – alasan yang tidak dimengerti oleh Fairro.



“Gue gak apa – apa...” sahut Fairro tak ingin Nania mengetahui masalahnya. “Udah siang, lo...Lo pasti belum makan, Lo mau gue antar pulang atau mau makan dulu?”



“Tapi...” Nania masih ingin bertanya ketika Fairro sudah menggandeng tangannya, mengajaknya menuju ke tempat Harley Davidson Fairro di parkir.



Dalam perjalanan pulang, Nania diam – diam menangis lagi, mengingat mungkin nanti dia tidak akan bisa lagi berboncengan dengan Fairro seperti ini. Nania memeluk punggung Fairro erat – erat seolah tak ingin melepaskannya untuk selama - lamanya. Fairro...Fairro...Gue sebetulnya sangat sayang ama lo...Melebihi apapun...Gue percaya Fairro...Gue percaya...Gue sebetulnya percaya lo tidak pernah mengkhianati hubungan kita...Gue percaya Mbak Maya yang sudah memaksa lo...Oh Tuhan...Kenapa? Kenapa ini harus terjadi??




__ADS_1


__ADS_2