
Daniel memberikan senyun kepada mawar dan erika
"Silahkan duduk." Diego mempersilahkan mawar dan erika untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya.
Mawar dan erika hanya terdiam, mereka tidak punya kata kata untuk di ucapkan tapi yang jelas mereka sangat kaget dengan kejadian ini.
Daniel ikut mendudukan dirinya di sofa dimana mawar dan erika sudah duduk disana "Daniel?" Mawar akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, apakah yang di lihatnya ini benar benar daniel.
"Iya ini aku." Jawab daniel, mawar semakin merasa Sangat bersalah terkadang dia berkata kata buruk pada daniel.
Terutama Erika, dia hanya terdiam dia teringat ucapannya tadi siang pada daniel, apakah daniel merasa sakit hati dengan ucapan erika, semoga saja tidak.
"Tapi—Bagaimana bisa? kau—" Mawar masih tidak menyangka bahwa daniel adalah diego natakusuma yang begitu keras kepala.
"Ya, Sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak awal. Tapi, Kau tahu bukan, dunia bisnis ini tidak selamanya bersih, saat ini perusahaan kami sedang berada puncak kejayaan bagi kami ini sangat membahagiakan tapi, mungkin tidak dengan orang lain. Banyak orang yang iri dengan pencapaian perusahaan kami, maka dari itu aku tidak pernah menunjukan wajah ku pada media massa. Takut-takut seseorang memliki niatan jahat, cukup ayahku saja yang mengalaminya." Jelas diego panjang lebar tentang segala alasannya mengapa dia tidak pernah ingin wajahnya di ekspos di media massa.
"Jika memang ada alasannya, aku tidak bisa memaksakan mu untuk mau di wawancarai oleh kami Jika memang resikonya sangat besar. " jelas Mawar, dia merasa jika memang di wawancara dapat membahayakan nyawa diego kenapa dia harus memaksanya.
"Tidak apa-apa, aku sekarang sudah mengambil keputusan, jika memang ada yang membenci ku, itu adalahs salah satu resiko." Jawab diego dia tidak ingin membuat mawar dan erika kecewa.
"Tapi— apa tidak apa-apa?" Tanya mawar lagi, dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Tentu." Jawab diego mantap dan yakin.
Erika, perempuan itu sedari tadi hanya diam sambil menundukan kepalanya, dia masih merasa bersalah dengan ucapannya pada diego, pikirannya terus berkata untuk meminta maaf pada diego, atas kejadian siang tadi yang memang sengaja ia lakukan.
"Diego, maaf atas perkataan ku tadi siang padamu. AKu harap kau tidak memasukannya kedalam hati." Erika meminta maaf dia takut diego tidak senang dengan perkataannya dan erika takut diego akan menuntutnya.
Ya, setidaknya hal itu yang erika pikirkan, lagi pula tak ada yang bisa erika lakukan keculali meminta maaf pada diego.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku paham posisimu saat siang tadi, kehilangan pekerjaan karena orang yang kita butuhkan untuk memperlancar pekerjaan adalah hal yang menjengkelkan, aku memaafkanmu." Diego sangatlah ramah bahkan untuk seorang CEO terkenal dia sama sekali tidak pernah menunjukan kekayaannya ataupun kesombongannya.
"Terimakasih, terimakasih." Erika tersenyum dia menundukan kepalanya. Merasa malu dengan dirinya sendiri, karena dengan begitu angkuhnya ia berbicara hal seperti itu pada diego siang tadi.
Mawar terkagum dalam hatinya, dia tidak menyangka diego adalah sosok lelaki yang ramah, walau tahu jabatannya sangat tinggi. Mawar pikir orang-orang seperti diego akan selalu menyombongkan diri, dan menganggap uang adalah segalanya.
"Oke, apakah kita bisa memulai wawancara nya?" Tanya diego sambil membenarkan jasnya. "Tentu, tapi aku harus memanggil mu apa? Masih daniel? Atau diego?" Mawar menanyakan hal yang sangat lucu jika di pikir-pikir.
"Cukup diego saja." Jawab diego, kemudian erika mengambil selembar kertas yang berisi banyak pertanyaan untuk di jawab oleh diego. Mawar mengeluarkan perekam suara dari tasnya, erika mulai menyebutkan pertanyaan yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Wawancara kali ini bukan untuk di masukan kedalam siaran tv, melainkan bahan untuk majalah mingguan yang biasa di terbitkan oleh HOT NEWS crop setiap minggunya.
Semua pertanyaan yang di berikan oleh mawar dan erika dapat di jawab dengan cepat dan lugas oleh diego, kadang diego hanya menjawab singkat, sesuai dengan apa yang diego ketahui.
Setelah melakukan wawancara, mawar dan erika membereskan segala barang barangnya dan hendak pamit pulang pada Diego.
"Terimakasih atas kerjasama mu, berkat mu kami dapat menyelesaikan pekerjaan ini, sekali lagi terimakasih." Mawar menjabat tangan diego, sembari tersenyum. Diego membalas senyuman mawar.
Erika yang muak, dengan segera berpura-pura terbatuk, agar mawar dan diego bisa melepaskan genggaman tangan mereka berdua.
"Kita harus segera pulang, iya kan mawar?" Erika melirik mawar memberikan isyarat agar mawar meng-iyakan.
"Ya, Aku harus segera pulang, sekali lagi terimaksih." Mawar berpamitan pada diego. "Iya sama sama" Jawab dieg, mawar dan erika berjalan pergi dari ruangan diego, tapi belum jauh melangkah diego memanggil mereka.
"Mawar, Erika, tunggu!" Teriak diego dari belakang, dia berlari ke arah mawar dan erika.
Mawar dan erika berhenti dari jalannya, mereka menatap diego, bingung.
"Ini sudah malam, apakah kalian mau aku antar pulang kerumah?" Tanya diego sambil menaikkan alisnya tanda menunggu jawaban.
"Ah, Tidak perlu rumahnku cukup dekat dari sini. Tapi, angkutan umum masih ada menuju rumahku, tapi tidak dengan mawar kau bisa mengantarnya saja." Jawab erika spontan, dia tersenyum usil dan mengedipkan sebelah matanya.
"Benarkah? Tapi benar mawar, angkutan umum menuju rumahmu sangat jarang, Kau mau aku antar?" Diego berusaha membujuk mawar, ini kesemapatannya untuk mendekati mawar.
__ADS_1
Tentu saja, siapa yang tidak ingin dekat dengan gadis seperti mawar. Cantik, berprestasi, dan lebih bagusnya mawar adalah perempuan yang sederhana.
"Apa tidak merepotkanmu? Ini sudah malam." Tolak mawar dengan halus, dia tidak ingin merepotkan diego untuk kedua kalinya.
"Tentu saja tidak, tak apa-apa."
"Baiklah"Jawab mawar dengan gugup, dia sangat canggung jika berurusan dengan lelaki.
"Oke, selamat bersenang senang." Erika melambaikan tangannya dan berjalan pergi dari ruangan diego meninggalkan mawar dan diego berdua.
Kantor mulai sepi hanya ada beberapa karyawan yang sedang bekerja lembur dan juga petugas kebersihan yang tengah membersihkan ruangan ruangan kantor.
"Sudah, Ayo mobilku ada di parkiran mari kita kesana." Daniel berjalan menuju tempat parkir di ikuti oleh mawar dari belakang.
Setelah sampai di parkiran, di sana telihat sangat sepi, hanya ada beberapa mobil dan sebuah mobil yang paling keren di antara mobil yang ada di sana.
Mobil sport berwarna merah menyala, sangat menonjol di antara mobil yang lain. Yang tak lain adalah mobil milik diego
Diego menghampiri mobil sport itu dan membuka pintunya. "Ayo masuk." Daniel membukakan pintu untuk mawar, mawar masuk kedalam mobil sport itu, mobil itu didesain tanpa atap sehingga terkesan begitu elegan dan keren.
Diego menajalankan mobilnya, perlahan mobilnya keluar dari tempat parkir dan berjalan di jalan raya yang begitu ramai, angin malam itu sangat kencang hingga rambut mawar kadang beterbangan dan berantakan.
"Kau kedinginan?" Tanya diego sambil terus fokus pada jalan.
"Iya, lumayan." Mawar menatap diego dari samping sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.
Tiba tiba diego memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu diego membuka jas yang di pakai olehnya, menatap mawar sebentar dan memakaikannya ke tubuh mawar.
"Jangan sampai kau sakit. " Diego tersenyum ke arah mawar dia memegang tangan mawar merasakan suhu tubuh mawar, pipi mawar seketika berubah menjadi merah.
Mawar tersenyum tipis, menahan rasa gejolak aneh dalam dirinya. Jantungnya, masalahnya jantung mawar yang sudah berdekat tak karuan, tak kala diego menatapnya dengan sebuah tatapan hangat yang menenangkan.
Menepis rasa aneh dalam dirinya sendiri, mawar menggeleng pelan. Tidak bisa, dia tidak mungkin menaruh rasa pada diego, disaat dirinya hanya orang biasa yang tak mungkin bisa sederajat dengan lelaki yang ada dihadapannya kini.
__ADS_1
***