
Pasrah sudah merupakan hal yang seharusnya mawar lakukan, jangan terlalu mengharapkan sesuatu hal yang tidak pasti dan belum tentu menjanjikan. Walau mawar harus rela dengan semua kenyataan ini, dia tidak akan pernah bisa bersanding dengan diego, sekalipun dia berusaha pasti akan selalu berakhir sia-sia.
Menyimpan perasaan juga tidak terlalu baik, mengungkapan perasaan juga tidak akan menghasilkan sebuah kebahagiaan, mawar akan selalu serba salah dalam hal ini, dia tidak akan pernah menang.
Mungkin hari ini dia butuh istirahat, semoga esok perasaannya dapat terlupakan sebelum semakin dalam juga luka yang ia dapatkan semakin menyakitkan.
***
Di kediaman diego. Lelaki berwajah tampan itu masih sibuk mengerjakan dokumen-dokumen perusahaan, dengan wajah lelahnya diego dipaksa untuk tetap terjaga dimana seharusnya semua orang beristirahat dengan tenang dari hiruk pikuk kehidupan.
Namun berbeda dengan diego, dia masih harus berurusan dengan tumpukan dokumen yang harus ia selasaikan, walau pikirannya tak fokus dengan apa yang ia kerjakan, sesekali diego mendengus, bergerak gusar tak nyaman dengan apa yang ia rasakan, bahkan diego sempat meleparkan dokumen yang sedang ia kerjakan karena ketidakfokusannya yang menguasai.
Bibi jeni, pembantu dirumah diego yang memperhatikan tingkah diego yang terlihat gusar, langsung tersenyum tipis, tak biasanya seorang diego yang terkenal fokus dengan pekerjaannya terganggu.
"Diego, bibi perhatikan, kau tidak fokus dengan pekerjaanmu? Ada masalah apa? Kemari, bibi dengarkan." Ucap jeni setelah meletakan teh manis diatas meja kerja tuannya itu.
Ketahuilah, jeni tak pernah di perbolehkan memanggil diego dengan sebutan 'Tuan' atau semacamnya, diego bilang dia tak ingin dianggap berbeda disini, dia sudah menganggap jeni sebagai ibunya sendiri, terutama dengan sikapnya yang lemah lembut, sangat ke ibuan.
"Tidak ada apa-apa bi, aku hanya merasa gundah, karena pikiranku terus berpacu pada seseorang, terkadang sekelebat bayangan melintas dimataku, bagaimana senyumannya juga tawanya." Jawab diego blak-blakan, untuk masalah apapun, diego akan selalu jujur pada jeni, diego tahu jeni adalah orang terbijak yang pernah dia temui, setiap perkataannya akan selalu membuahkan jawaban dari semua masalah diego.
"Apakah, kau sedang jatuh cinta?" Jeni menatap diego dengan sebuah senyuman tipis yang merekah.
"Jatuh cinta?" Diego malah kebingungan sendiri dengan pernyataan jeni, tentang cinta.
"Iya, jatuh cinta. Rasa sayang takut kehilangan dan juga selalu ingin merasa dekat, itu adalah jatuh cinta. Cinta sangatlah manis, bibi pernah merasakannya, rasanya makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Begitulah saat seseorang sedang jatuh cinta, saat-saat yang sangat indah jika bicara tentang cinta." Jelas bibi jeni dengan wajah berseri-seri, menggambarkan bagaimana indahnya cinta pada diego.
"Aku tidak tahu bibi, cinta dulu pernah hilang di hidupku dan sudah lama aku tidak merasakan cinta, sebuah kehangatan yang tak pernah aku dapatkan dahulu, sebuah perhatian yang amat sangat besar, aku merasakannya tadi bi, saat aku berada ditengah-tengah keluarga sederhana itu." Cerita diego dengan wajah sendu.
__ADS_1
Diego teringat akan masalalunya, masalalu di mana dia tidak pernah di inginkan oleh siapapun, dia tidak pernah di harapakan oleh siapapun.
Saat berumur 4 tahun, diego dibuang oleh ibunya di pinggir jalan. Diego di selamatkan oleh polisi setempat yang sedang berpatroli, dan dirinya dibawa ke panti asuhan dan tinggal disana selama 6 tahun.
Kemudian diego di adopsi oleh pasangan suami istri yang tidak bisa memiliki keturunan, dan sampai sekarang orang tua angkatnya lah yang telah membesarkannya, memberinya pendidikan dan kehidupan, walau kasih sayang dan cinta jarang diberikan oleh orang tua angkatnya tapi diego tetap bersyukur dia masih bisa merasakan indahnya memiliki sepasang orang tua.
Dan sampai kini pula, diego tidak bisa menemukan ibu dan ayah kandungnya yang dulu dengan tega membuangnya. Masalalu yang sangat kelam untuk seorang seperti diego, tapi sifatnya sangat berbeda dengan masalalunya, terkadang ada saja orang yang memiliki sifat jahat di karenakan dulu mereka di campkan atau di tinggalkan. Tapi berbeda dengan diego, dia sangat baik dan sopan untuk seseorang yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang.
"Siapakah gerangan wanita yang telah membuat mu merasakan indahnya jatuh cinta, bibi ingin tahu?" tanya jeni, mulai penasaran, apalagi ini pertama kalinya dia melihat diego menjadi sangat lemah dan tidak bisa menyelesaikan masalah yang kini dia rasakan.
"Namanya sofia rosalina, dia seorang gadis cantik dan sederhana yang memiliki sifat ramah dan ceria, ibunya juga dia sangat baik padaku bahkan dia sempat bercanda denganku, dengan mengatakan bahwa aku adalah Calon suami anaknya." Jelas diego, dengan sebuah kekehan kecil yang ia lontarkan,pertanda bahwa kisah tadi sangat lucu.
"Nama yang sangat indah, bibi jadi penasaran dengan sofia, kapan-kapan bawa gadis itu kerumah, kenalkan pada bibi." Jeni semakin penasaran dengan mawar yang di ceritakan oleh diego, apalagi ini pertama kalinya diego menceritakan dirinya sedang jatuh cinta pada seorang wanita, padahal sebelumnya diego sangat cuek dengan wanita, lebih tepatnya tidak pernah memikiran memiliki seorang kekasih atau apapun.
"Aku akan mengajaknya berkunjung ke rumah, bibi pasti akan senang bertemu dengan mawar." Jawab diego lalu tersenyum pada jeni.
Jeni dan diego sangatlag akrab, jeni sudah mengurus diego sejak dirinya dibawa kerumah ini oleh kedua orang tua angkatnya, jeni selalu dijadikan tempat berkeluh kesah oleh diego dan jeni juga selalu punya penyelesaian atas masalah yang dialami oleh diego.
Paginya mawar terbangun dengan rasa yang sedikit membaik, tubuhnya sangat bugar, berbeda dengan hari kemarin dimana otak dan hatinta tak selaras, dimana hati mengatakan ini dan otak mengatakan itu, semuanya bertolak belakang, hingga membuat mawar kebingungan sendiri, walau saat ini dia juga belum mendapatkan kepastian atas jawabannya.
Setelah mengumpulkan nyawa, mawar mengambil handphone miliknya yang tergeletak diatas nakas, melihat layar ponselnya dan tertera 20 panggilan tak terjawab dari stephanie erika. Sudah mawar duga, sahabatnya yang satu itu akan penasaran dengan hubungannya dengan diego, meminta mawar menjelaskan segalanya memuaskan rasa penasaran erika yang terlalu tinggi.
Mawar menghela nafas panjang, jika semalam erika tak berhasil memuaskan rasa penasarannya, maka hari ini erika harus mendapatkan jawabannya, dan mawar yakin harinya kali ini akan dipenuhi pertanyaan tidak masuk akal yang di lontarkan erika.
Pastinya.
Tapi, hari ini mawar tetap harus bekerja, dia penasaran apa reaksi susi begitu mengetahui mawar dan erika berhasil mewawancarai diego natakusuma.
__ADS_1
Ibu tua itu pasti akan terkejut.
***
Sesampainya ditempat kerja, mawar tidak melihat keberadaan erika, biasanya gadis itu sudah duduk manis di samping meja kerjanya tentunya dengan wajah manisnya. Tapi pagi ini, kursi itu kosong, dan sekarang waktu sudah menunjukan masuk kerja, sekitar 2 menit lagi sebelum bel berbunyi.
"Biasanya erika sudah datang, kemana anak itu?" Gumam mawar yang langsung duduk dikursi disamping meja kerja erika, mawar membuka laptop yang ia bawa, lalu meminum kopi gelas yang ia beli didepan kantor tadi.
Tak lama kemudian datang erika, dia terlihat tergesa-gesa seperti baru saja di kejar oleh hantu, wajahnya pucat juga keringat bercucuran diwajahnya.
Mawar menatap erika bingung, tak biasanya anak yang satu ini terlambat, apakah terjadi sesuatu.
"Selamat pagi ika, ada apa? Kenapa berlari-lari seperti baru saja dikejar setan." Tanya mawar.
Erika mendengus kesal, wajahnya masam masih berantakan dengan rambut yang tak tertata dengan rapih.
"Aku telat tadi, semalaman aku menunggu mu menjawab telefon ku, aku khawatir asal kau tahu itu." Ucap erika dengan nafas yang memburu, dia masih lelah karena berlarian mengejar bus.
Hanya karena mawar.
__ADS_1
***