
"sudah yah jangan menangis... " Tambah diego dia menggenggam erat tangan mawar, untuk berusaha menenangkan nya.
"Hikss hikss terimakasih....kamu masih percaya padaku... "
"Heheheh aku malah senang kamu mau terbuka padaku, itu membuktikan bahwa kamu memang menganggap ku sangat penting di hidupmu, dan juga karena kamu sudah menjelaskan masalalu mu tidak ada kesalahan pahaman yang akan terjadi kedepannya." perjelas diego.
Memang saat ini sebuah penyemangat sangat dibutuhkan mawar, dengan ketenangan dan kepercayaan diego padanya membuat mawar tidak takut jika dia mempunyai masalah diego tidak akan mempercayainya.
Saat itu juga vani keluar dari tempat bermain wajah lesu dan tidak bersemangat di tunjukan vani.
Membuat diego dan mawar merasa khawatir.
"Vani? Vani kenapa?" Dengan cepat diego menarik vani dalam pelukannya.
"Vani lapar paman... " Jawab vani polos, apalagi saat dia mengusap usap perutnya dengan tangan lalu menunjukan wajah yang tidak bertenaga membuat siapapun yang melihatnya tertawa.
"Ohhh jadi vani lapar? Ya sudah mari kita pergi makan.. " Diego berusaha menahan tawa, ingin rasanya dia mencubit pipi vani.
Mereka bertiga pergi dari taman bermain untuk menuju cafe terdekat, sepertinya vani sudah sangat kelaparan.
Saat ini memang menunjukan pukul 12.30 waktu yang sangat tepat untuk makan siang.
Sesampainya di depan sebuah cafe diego memarkirikan mobilnya, mereka bertiga turun dari mobil menuju cafe.
Setelah memesan tempat, dan juga makanan kini diego, mawar dan vani sedang menikmati waktu makan siang mereka.
"Kakak..! Vani ingin makan itu... " Vani menunjuk sebuah piring berisikan cake chocolat yang sengaja di pesan diego untuk mawar.
"Sini... " Mawar mengambil salah satu piring dan memotong kuenya dan memberikan pada vani.
"Makan yang banyak...Jangan sampai vani kurus... " Mawar memberikan piring berisikan kue pada vani agar vani memakannya.
"Dan jangan lupa, kamu sendiri jaga kesehatan makan yang banyak jangan sampai kurus." Diego malah menasihati mawar untuk menjaga kesehatan sambil memberikan sepiring kue padanya.
"Aishhhh apakah begitu kurusnya diriku?"
Mawar mengambil kue itu dan memakannya sampai habis.
"Bapak senang saya sudah menghabiskan kuenya." Mawar menggoda diego yang sedang sangat fokus memperhatikan nya.
"Hahahahah iya... Makan yang banyak yahhhh... " Diego malah menambah kue lagi di piring mawar supaya mawar menghabiskan seluruh kuenya.
"Aku sudah tidak kuat... Aku kekenyangan." Mawar menyerah, perutnya sudah sangat penuh oleh makanan.
Vani yang memperhatikan perdebatan itu, hanya terdiam dia tidak ingin ikut merusak suasana apalagi dia hanya anak kecil yang tidak paham apa apa.
__ADS_1
Vani yang sedari tadi diam ternyata sudah di perhatikan oleh mawar dan diego, mereka tertawa kecil melihat sikap vani yang tiba tiba diam dan tidak mengucapkan satu patah kata pun.
"Vani kenapa?" Tanya mawar mendekati vani.
"Tidak apa apa vani baik, teruskan saja mengobrol nya." Jawab vani, sambil menunjukan ekspresi cemberut.
"Ya sudah, kalau memang sudah selesai makannya mari kita pulang.." Saran diego, lalu vani mengangguk setuju dia tidak mau menjadi orang ketiga dari indahnya suasana yang sedang di rasakan oleh kakaknya.
Diego mengantar mawar dan vani pulang kerumahnya, dia mendapat telepon bahwa ada urusan mendadak dari kantor.
...
Ke esokan paginya, mawar sudah berada di kantor dia sedang mengerjakan beberapa berkas yang harus ia berikan pada bu susi.
Dan seperti biasa erika adalah sahabat setia mawar yang selalu menggangu mawar di saat mawar sedang bekerja dengan seribu pertanyaan tidak pentingnya.
"Jadi kemarin kalian bertiga pergi ke taman bermain bersama?"
"Bagaimana apakah vani menyukai diego?"
"Apa ibumu menyetujui hubungan kalian berdua?"
"Aku penarasan dengan diego? Apakah dia benar benar sangat baik?"
"Kamu kemarin pergi naik apa?"
"Apakah kemarin diego membayar seluruh biaya jalan jalan? Jangan sampai di meminta bayar padamu!?"
Seluruh pertanyaan itu terus terlontar dari mulut erika, tidak ada berhentinya erika bertanya tanya pada mawar tentang perjalanan mereka kemarin.
"Erika.... Aku tidak bisa menjawab itu sekaligus, dan saat ini aku sedang sibuk bekerja sudah yah... nanti aku akan jawab satu persatu pertanyaanmu.. "
Mawar mulai tidak fokus mendengar seluruh pertanyaan erika yang begitu banyak dan membuat kepalanya pusing.
"Iya... Iya... aku minta maaf..." Jawan erika dia kembali duduk tenang di kursinya.
Tak lama seorang karyawan mendatangi mawar, dan berbicara bahwa mawar di tunggu oleh direktur herman di kantornya.
"Mawar kamu di panggil direktur di ruangannya."
Mawar hanya mengangguk lalu pergi menuju ruangan direktur herman.
Sesampainya di ruangan direktur herman, yang di lihatnya bukan pak herman melainkan vino.
__ADS_1
Mawar yang melihat itu, membalikan tubuhnya berjalan pergi untuk tidak menemui vino.
Namun dari arah belakang tangan mawar di tarik oleh vino sehingga dia tidak bisa pergi dari sana.
"Tunggu mawar... " Vino menatap punggung mawar sambil menahan tangannya agar tidak pergi.
"Ada apa?" Mawar membalikan tubuhnya, menatap vino dia menyakinkan hatinya agar tidak lagi jatuh cinta pada orang yang telah membuatnya terluka.
"Sudah ku bilang bukan? Kita sudah tidak memiliki hubungan apa apa!" Mawar membentak vino, mawar berfikir vino memanggilnya hanya karena hubungan mereka kemarin.
"Tidak... Aku tidak akan mebahas hubungan kita, aku hanya ingin menberi tahumu tentang pekerjaan, mari... " Jelas vino, saat ini sepertinya dia tidak begitu ingin membahas hubungan mereka yang tidak akan pernah selesai.
"Baiklah... " Mawar menurut jika memang soal pekerjaan bersama vino bukanlah hal yang buruk.
Di dalam ruangan direktur herman, vino tengah menjelaskan apa alasannya memanggil mawar kesini.
"Ohh yah mawar aku melihat hasil wawancara kemarin dengan diego, berita itu sudah membuat nama perusahaan kita bersaing dengan beberapa perusahan terkenal lainnya, aku turut senang dan karena itu aku disini akan memberi mu beberapa tugas penting wawancara lainnya." Jelas vino, mawar hanya terdiam dia ingat bahwa dia belum menyelesaikan tugasnya untuk mewawancarai fredrick micejoules.
"Tapi... Aku belum selesai menyelesaikan tugas untuk mewawancarai fredrick micejoules."
"Fredrick micejoules? Siapa yang menyuruh mu untuk mewawancarai fredrick?" Vino bingung mungkin karena di dalam catatan yang di tinggalkan ayahnya tidak pernah menyuruh mawar untuk mewawancarai fredrick micejoules.
Jadi sementara ini vino menggantikan posisi ayahnya sebagai direktur di perusahaan ini.
Karena beberapa hari ini ayah vino pergi keluar negeri untuk sebuah pekerjaan.
"Iya... Bu susi menyuruh aku dan erika untuk mewawancarai fredrick micejoules.." Yakin mawar bahwa waktu itu bu susi menyuruhnya untuk mewawancarai fredrick micejoules.
"Oke baiklah... Aku akan tanyakan langsung pada bu susi, jadi tugas mu kali ini untuk mewawancarai Pamela Anderson, kuharap itu tidak terlalu sulit.. "
"Mmm oke aku akan berusaha, terimakasih jika hanya itu aku akan segera pergi." Mawar berdiri dari duduknya, memabilkan badan untuk pergi dari ruangan direktur herman.
"Tunggu!" Teriak vino memberhentikan langkah kaki mawar.
"Apakah ada tambahan lagi?" Tanya mawar tanpa membalikan tubuhnya.
Menjadi seseorang yang cuek sekarang sedang di usahakannya pada vino.
"Ini mengenai hubungan kita, aku ingin kita menyelesaikan hubungan kita yang tidak ada ujungnya, aku ingin hubungan kita menemukan titik akhir yang jelas."
Vino menjelaskan keinginan pada mawar, untuk segera menyelesaikan hubungannya.
"Jadi mau mu apa?" jawab mawar masih dengan posisi membelakangi vino.
"Aku ingin siang ini kita bertemu di taman kota, kita selesaikan disana masalah kita dengan tenang." Pinta vino.
__ADS_1
"Oke, istirahat makan siang aku akan menunggu mu disana, kuharap kamu menepati janji mu untuk menyelesaikan hubungan ini bukan menambah rumit hubungan kita." Mawar berjalan pergi meninggalkan vino, dia tidak ingin menatap wajah vino saat dirinya sedang benar benar berusaha melupakannya.
'Kamu berusaha merubah dirimu sendiri di depan ku, hanya untuk menjauhiku? Jika memang inginmu seperti itu aku rela.'