
Tuhan egois kah diriku? Jika aku meminta bagian dari kebahagiaan ku?
-Sofia rosalina
"Tidak! Jangan diego... Aku tidak mau... Hikss... jangan korbankan segalanya hanya demi wanita miskin seperti ku.. Hikss." Akhirnya aliran air mata yang sudah di tahan oleh mawar pun mengalir, mawar hanya bisa menundukan kepala meremas rok yang di gunakan oleh nya, sesungguhnya mawar melakukan itu untuk melampiaskan segala amarahnya karena semua kesialan selalu menimpa kehidupan nya.
"Tidak mawar, aku tidak peduli dengan status mu, tatap aku, lihat aku baik baik!" Diego mengenggam kedua bahu mawar, menggoyang kan nya pelan agar mawar mau menatap matanya.
Mawar mendongak pelan, air matanya masih mengalir jelas, dia gagal, gagal untuk menjadi wanita yang kuat di hadapan dunia, terutama di hadapan diego, dia gagal, tapi dia lelah, lelah menahan dan menanggung semuanya sendirian, dia butuh seseorang yang benar benar mengerti keadaan nya saat ini.
Mawar pada akhirnya memberanikan diri untuk menatap kedua manik mata diego, isakan kecil masih bisa di dengar oleh diego.
"Aku tidak takut jika harus kehilangan segalanya, kau berbeda mawar, kau berharga mawar, aku lebih baik memilih kehilangan harta ku dari pada kehilangan dirimu,
Diego menjeda sedikit ucapan nya untuk menarik nafas pelan
....aku tidak akan menyesal kehilangan segalanya untuk memilih mu mawar, percaya lah... Jangan menangis, aku tidak akan meninggalkan mu..." Diego memeluk mawar, mawar merasa hatinya tersentuh tidak ada yang pernah menganggap nya berharga di dunia ini, kecuali keluarga nya.
Sambil terisak pelan, mawar membalas pelukan diego, mawar menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik diego, merasakan begitu kencangnya detak jantung diego yang dapat dia dengar secara langsung, satu kesimpulan yang di dapatkan oleh mawar, diego ketakutan, diego gugup, diego khawatir.
__ADS_1
"Hiks... Diego aku takut benar benar takut.... Hikss" Suara mawar serak, suaranya tak sehalus biasanya, mawar kehilangan begitu banyak sebuah kebahagiaan dalam hidupnya saat ini, begitu kejamnya hidup membuat nya selalu terluka dan menangis.
Kapan dia bisa bahagia? Dia menginginkan nya, dia ingin merasakan kebahagiaan lebih lama dari pada sebelumnya.
Tapi ini adalah kehidupan, tak selamanya kebahagiaan dapat di rasakan setiap harinya, harus ada konsekuensi yang di alami setelah merasakan kebahagiaan atau sebaliknya.
Tidak salah jika mawar meminta sebuah kebahagiaan karena selama ini baginya hidupnya penuh dengan kekecewaan.
Bisa kah tuhan mengabulkan nya?
"Jangan takut, aku di sini, aku akan selalu melindungi mu... Aku mohon jangan pergi meninggalkan ku, berikan aku sebuah kesempatan agar aku bisa mempertahankan hubungan ini... " Pinta diego yang masih setia mendekap mawar dalam pelukannya, suara tangisan pelan masih terdengar jelas di telinga diego, walau suaranya hampir habis, mawar benar benar tidak bisa menahan nya.
Ini adalah kesekian kalinya mawar berada di titk paling rendah nya, dia takut, takut kehilangan seseorang yang benar benar dia sayang, tapi mawar tidak bisa melakukan apa pun, dia lemah, sangat bahkan, dia tidak bisa melakukan apa pun termasuk membela dirinya sendiri dalam keadaan seperti ini.
Untunglah suasana cafe sudah muali sepi oleh pengunjung karena sekarang jam sudah menunjukkan waktu untuk para karyawan untuk kembali meneruskan pekerjaannya.
Jadi lah hanya ada beberapa lansia dan anak anak sekolah yang sedang menikmati waktu pulang sekolah mereka.
Mawar diam dia ingin bersuara tapi rasanya pita suara nya hilang, ini berat baginya, ini berat bagi diego. Mereka harus sama sama mengerti dan mendukung jika ingin ini terus berlangsung.
"Bagaimana dengan perjodohan mu? Hum? Hiks aku tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga ku.... hiks
...Kau tahu bukan betapa nekatnya wanita itu? Hiks" Mawar masih tidak bisa mengendalikan air matanya yang begitu mengalir dengan begitu deras, sesekali mawar menghapus cairan bening ini dengan kasar, menolak kehadiran air mata ini.
"Aku akan memikirkan nya, kamu hanya perlu memberikan kepercayaan padaku, bagaimana pun hasilnya aku yakin tidak akan pernah mengecewakan mu... Percaya lah" Diego dengan halus berusaha meyakinkan mawar bahwa dengannya mawar tidak akan pernah menyesal, karena cinta tidak akan pernah meninggalkan seseorang yang benar benar membuat nya nyaman.
"Baik... Aku akan memberikan mu kesempatan, ta-tapi aku tidak ingin selalu di kecewa kan, hiks kau boleh mengatakan aku egois tapi aku sudah cukup muak dengan ini... Hikss" Pinta mawar dengan suara yang tergagap, mawar masih menundukan kepalanya.
"Tidak apa, kau tidak egois aku tahu apa yang menyebabkan mu menjadi seperti ini... Oke?" Diego mengusap pelan pucuk kepala mawar.
__ADS_1
"Jadi kau memberi kan ku kesempatan bukan?" Tanya diego lagi, yang hanya dia jawab dengan sebuah anggukan oleh mawar.
"Berhenti lah menangis, karena saat melihat mu menangis di situ aku merasa gagal untuk membahagiakan mu... " Diego mengusap air mata mawar dengan ibu jarinya, tangannya dengan sengaja menyentuh hidung mawar untuk sekedar menggoda nya.
"Lepaskan!" Mawar menepis tangan diego dengan kesal, sementara yang menjadi objek ke kesalan itu hanya bisa tertawa senang, karena apa yang di lihat oleh diego berbeda dari kekasihnya yang sebelumnya.
Walau terkadang mawar selalu bersikap dewasa tapi pada akhirnya diego berhasil membuat mawar menunjukan sisi lainnya. Yaitu ketika mawar mengembungkan pipi nya dan juga mengerucut kan beberapa senti bibirnya. Bagi diego itu adalah hal yang lucu.
"Aku tidak tahu kau bisa selucu ini saat kesal, lihat lihat pipi mu merah... " Diego dengan sengaja menusuk nusuk pelan pipi mawar, yang hanya di balas dengan hembusan nafas kasar dari mawar.
"Tidak lucu diego, sudahlah! Aku ingin kembali ke kantor." Mawar mengambil tas selempang miliknya, hendak pergi dari cafe meninggal kan diego.
"Jangan marah...Aku hanya bercanda... Kau imut saat seperti itu." Diego menahan tangan marah saat mawar sudah mengambil ancang ancang untuk berjalan pergi.
"Aku antarkan yah?" Tawar diego "Iya...Ayo!" Jawab mawar pasrah dia yakin jika mawar menolak nya akan banyak perdebatan sia sia yang terjadi.
"Pulang nanti aku akan menjemputmu di kantor, kita pergi terlebih dahulu..." Diego menyelipkan jari jarinya di sela jari mawar, menggenggam nya erat seakan benar benar akan hilang.
"Memang kita akan kemana?" Tanya mawar, dia menerima dengan pasrah genggaman tangan diego.
Sebenarnya mawar tidak marah pada diego, itu tidak sepenuhnya salah diego hanya saja mawar sedang berada di ambang keputusan asa an yang sangat dia takutkan akan benar benar terwujud dan menjadi kenyataan.
Yaitu harus melihat diego bahagia tanpa dirinya, karena jika saat itu terjadi akan ada banyak hal yang sangat di sesali oleh mawar.
"Kau lupa dengan janji mu? Kau harus menemaniku selama 1 bukan?" Diego membawa mawar keluar dari cafe, menggandeng tangan mawar dan berjalan menuju parkiran di mana diego meletakan mobil mewah nya.
"Tapi bukan hari ini juga!?" Bantah mawar, diego hanya tersenyum menatap mawar yang masih kesal dengan tingkah kekanakannya tadi di dalam cafe.
"Iya aku tahu... Aku hanya ingin mempersiapkan nya dari sekarang." Diego membuka pintu mobil Lamborghini aventador 1 miliknya, mempersilakan mawar untuk beristirahat di dalamnya.
__ADS_1
'Jangan khawatir mawar, jika bagi orang lain harta adalah kekayaan tapi bagiku kau adalah ke istimewa An' Batin diego menatap mawar sekilas.