Crazy Ceo: Make Me Happy!

Crazy Ceo: Make Me Happy!
kejelasan dan kepercayaan


__ADS_3

Mawar membalikan tubuhnya, di tatapnya seorang lelaki dengan postur tinggi kekar menatapnya tajam tajam.


Mawar terdiam, lalu menundukan kepalanya dia berusaha untuk tidak menatap wajah yang selama ini dia rindukan.


Yaitu vino, tanpa basa basi vino mencengkram tangan mawar lalu membawanya pergi menjauh dari keramaian taman bermain.


"Awwww sakit... Pelan pelan... " Mawar kesakitan karena genggaman vino begitu kuat.


Namun vino tidak peduli, dia membawa lia kedalam toilet pria dan mengunci pintu toilet.


"Lepaskan! Kenapa kamu membawa ku kesini! Aku ingin pergi!" Mawar berteriak di depan vino, tapi vino seakan tidak peduli dia hanya diam menatap wajah mawar yang sedang marah.


"Aku akan berteriak!" Ancam mawar melihat tidak ada reaksi apa pun dari vino tentang ucapannya.


"Silahkan berteriak tidak akan ada yang mendengarkan!" Jawab vino dingin, dia tidak peduli dengan perasaan vino.


"Kamu... Apa yang kamu inginkan! Katakan!" Tanya mawar dia mulai kesal dengan vino.


"Aku ingin kamu! Aku ingin kamu yang seperti dulu! kembali menjadi dirimu yang selalu mencintai ku dan aku yang juga takut kehilanganmu!" Vino memojokan mawar di tembok tak ada lagi ruang untuk mawar menjauh dan kabur.


"Apa kamu gila! Kamu mengatakan hal yang tidak mungkin akan terjadi, apa kamu berfikir itu semua mudah? Hah?! Kamu tak tahu betapa sakitnya menjadi diriku! Saat sedang sangat mencintai mu kamu pergi meninggalkan ku tanpa kabar dan kejelasan! Kamu tidak merasakan rasanya kehilangan dan kesepian! Kamu juga tidak akan tahu betapa sulitnya aku untuk melupakan mu! Mengorbankan segala masa remaja ku dengan mengurung diri dan menutup diriku untuk semua orang hanya karena aku takut hal yang sama akan terjadi lagi padaku!" Mawar mendongakan wajahnya menatap vino tajam tajam, ekspresi mawar menunjukkan kekecewaan dan kemarahan.


"Dan kamu meminta aku untuk kembali seperti dulu? Apakah aku yang terlalu egois atau kamu yang terlalu jahat! Kamu dengan mudahnya berkata seperti itu tanpa tahu sesakit apa saat aku mencintaimu!?" Mawar tersenyum kecut, wajahnya menunjukan kesedihan yang mendalam.


Vino hanya diam, dia memang tidak memikirkan sebelumnya hal yang membuat mawar berubah, dia hanya beranggapan bahwa mawar masih menunggunya.


"Dan sekarang aku sudah bahagia... Apa kamu ingin menggangu kebahagian ku? Hanya demi ego mu untuk sekedar memiliki dan bukan mencintai setulus hatimu? Tapi maaf hal itu tidak semudah kamu mengucapkan janji manis mu yang hanya berujung luka." Mawar pergi dia berhasil melepaskan diri dari vino, mawar keluar dari toilet laki laki saat dia keluar mawar melihat tulisan •Toilet rusak•


Segera mawar befikir itu pasti sudah di rencanakan sebelumnya oleh vino.


Vino yang berada di kamar mandi, hanya bisa menundukan kepalanya menyesali segala sesuatu yang telah dia perbuat pada mawar dulu.

__ADS_1


"Ternyata selama ini aku yang telah membuatnya seperti ini? Aku yang telah membuatnya tersiksa dan menanggung segala penderitaan karena diriku. Aku begitu bodoh... Diriku sangat bodoh!! Aku bodoh karena diriku sendiri tidak bisa menepati janji ku sendiri pada dirinya."


Ucap vino lirih, dia sadar akan seluruh kesalahannya pada mawar, dan hal tersebutlah yang telah membuat mawar tersiksa.


"Aaaaahhhhhhh!!!!" Vino berteriak dia memukul cermin yang ada didepannya hingga retak dan pecah.


Darah bercucuran dari tangan vino, namun dia tidak peduli hatinya begitu sakit saat mendnegar bahwa dirinya adalah alasan mawar tidak bahagia.


Alfie yang berdiri di samping toilet itu ternyata mendengar teriakan vino, dengan cepat vino masuk kedalam kamar mandi dan menemukan tangan vino sudah penuh bercucuran dengan darah.


"Kamu kenapa!?" Alfie langsung menghampiri vino, dan memegang tangan vino.


Alfie melihat cermin yang berada di hadaapnnya retak dan juga pecah, alfie menebak vino lah yang telah memukul kaca dan membuat tangannya terluka.


"Mari kita obati luka mu... " Alfie membawa vino pergi dari toilet itu dan menuju rumah sakit.


"Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit!" Vino menolak permintaan alfie, justru vino pergi menuju mobilnya dan pergi meninggalkan alfie di taman bermain.


Mawar kembali ke tempat permainan bianglala, di sana diego dan vani tengah menunggunya duduk di sebuah kursi.


"Ahhh maaf apa kalian menunggu lama?" Mawar berlari mendekati diego dan vani.


"Kakak dari mana?" Tanya vani yang masih berada dalam gendongan diego.


"Kakak habis dari toilet... " Jawab mawar, memang benar dia habis dari toilet tapi bukan akan kemauannya melainkan paksaan dari vino.


"Ya sudah...Sekarang vani ingin main apa lagi?" Tanya diego, dia seperti seorang ayah yang perhatian pada anaknya.


"Vani ingin bermain itu.... " Vani menunjuk ke arah tempat bermain yang di khususkan untuk anak anak.


Di sana ada banyak anak anak kecil seumuran dengan vani yang sedang bermain bersama.

__ADS_1


"Jadi vani ingin bermain itu, iya?" Diego menyakinkan.


"He eh" Jawab vani, lalu diego membeli tiket untuk vani bisa masuk ke tempat permainan itu.


Diego dan mawar tidak bisa masuk kedalam tempat itu, karena tempat itu hanya di khususkan untuk anak anak.


Akhirnya diego dan mawar menunggu di luar, mereka duduk di tempat yang telah di sediakan.


"Mawar? Apakah benar tadi kamu pergi ke toilet?" Tanya diego dia menatap mawar, mawar terkejut apakah diego melihatnya bersama vino.


"Iii ya... Tadi aku pergi ke toilet..." Jawab mawar pelan perasaannya bercampur aduk apakah diego akan marah mengetahui bahwa dirinya telah berbohong.


"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu... " Mawar menambahkan suaranya masih pelan dan semakin lirih.


"Apa? Ceritakan saja" Diego semakin menatap mawar serius, mungkinkah suatu kenyataan pahit harus di dengar oleh diego?


"Jadi... Begini dulu aku punya seorang kekasih dia adalah cinta pertama ku, singkatnya dia meninggalkan ku saat masih berpacaran dengan ku masih belum ada kejelasan dalam hubungan kami, dan setelah lama dia pergi dia kembali dia ingin aku dan dia memulai semuanya dari awal. Tapi aku menolaknya! Aku bilang aku sudah bahagia bersamamu....Tapi dia terus memaksa ku, sudah ku jelaskan segalanya tapi dia terus memaksa ku. Kamu harus percaya padaku! Aku sudah tidak mencintainya lagi.... Aku mohon... Percayalah!"


Jelas mawar panjang lebar, tak ada reaksi dari diego dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


'Aku yakin setelah ini dia pasti akan pergi dari hidupku... Tak seharusnya aku menjelaskan hal ini pada diego, aku tak sanggup jika harus kehilangannya.'


Mawar mulai menangis dia takut diego akan meninggalkannya dan akan membencinya.


"Tak apa aku percaya padamu... Lagi pula itu hanya masalalu bukan? Kamu pun sudha tidak mencintainya lagi jangan di pikiran.." Diego memeluk mawar, terkejut di rasakan mawar dia tidak menyangka diego ternyata sangat percaya padanya.


"Hikss hiksss" Mawar terus menangis dalam pelukan diego.


"Jangan menangis... Lihat aku, apa pun yang terjadi aku percaya padamu... Kamu adalah wanita yang baik aku tahu kamu tidak mengkhianati ku... " Diego melepasakan pelukannya dan menghapus air mata mawar.


Di saat seperti inilah sebuah kepercayaan sangat di butuhkan dalam sebuah hubungan, ke jujuran sangat menjadi penentu utuhnya sebuah hubungan.

__ADS_1


__ADS_2