Crazy Ceo: Make Me Happy!

Crazy Ceo: Make Me Happy!
we win


__ADS_3

"Maafkan aku erika, aku semalam ketiduran, aku lelah sehingga lupa untuk mengabarimu." Jawab mawar dengan nada menyesal, dia tahu sahabatnya ini adalah orang yang paling khawatir dengan kondisinya.


   "Aku mohon, jangan marah padaku." Mawar menatap sendu erika, semalaman dia sendiri terlalu larut dengan rasa sedihnya tentang perasaan yang tidak tersampaikan, hingga lupa dengan erika.


 


   "Ya, aku tidak marah, hanya saja diego mengantarmu dengan selamatkan? Dia tidak melakukan sesuatu hal yang aneh bukan?" Tanya erika bertubi-tubi, entah kenapa erika memang seperti itu, aku terlalu mengkhawatirkan mawar, karena memang hanya mawar sahabat satu-satunya yang ia miliki.


  "Tentu saja, kau jangan khawatir, diego mengantarkan ku sampai dirumah dengan selamat, lihatlah, aku masih utuh sampai sekarang." Mawar merentangkan kedua tangannya, menunjukan tak ada yang cacat dari tubuhnya.


   "Baiklah, aku senang kau baik-baik saja." Jawab erika sambil mengibaskan tangannya didepan wajah mawar, meminta mawar untuk kembali pada posisi sebelumnya.


  "Sudahlah, mari kita antarkan hasil wawancara ini pada bu susi. Wanita tua bangka yang menyebalkan itu pasti kaget melihat keberhasilan kita." Erika mengambil sebuah berkas dari dalam tasnya, lalu mengulurkan tangannya mengajak mawar untuk bangkit dan menemui susi.


  


  Mawar tersenyum tipis, pikiran negatifnya tentang erika yang akan mewawancarai dirinya menguap seketika, begitu melihat erika tak banyak bertanya dan lebih mengkhawatirkan kondisinya.


  Mereka berdua berjalan menuju ruangan bu susi dengan perasaan senang, karena selama ini perjuangan mereka tak berakhir sia-sia. Susi dengan keteguhannya akan luntur seketika begitu melihat keberhasilan mawar dan erika.


  


Sesampainya diruangan susi, mawar mengetuk pintu itu sekitar tiga kali, sampai terdengae jawaban dari dalam sana yang memerintahkan mawar dan erika untuk masuk.


 


   "Selamat pagi bu" Sapa mawar sambil mendekati meja bu susi bersama dengan erika yang mengekori dari belakang.


   "Pagi, Silahkan duduk, ada yang ingin kalian bicarakan? Atau kalian ingin memberikan surat pengunduran diri?" Tanya susi dengan wajah meremehkan, melepas kacamata bacanya.

__ADS_1


   "Ini, kami hanya ingin memberikan hasil wawancara kami dengan diego kemarin." Malas berbasa-basi, mawar langsung menaruh berkas itu diatas meja susi.


  Susi sempat menatap berkas itu tak percaya, tertawa jengkel karena merasa mawar dan erika tengah mempermainkannya, dia tidak percaya dengan berkas yang ada dihadapannya.


   "Jangan mencoba memalsukan datanya, aku tahu diego tidak akan mau diwawancarai oleh kalian." Ucap susi menyombongkan diri.


   "Ketibang ibu banyak berbicara, silahkan lihat saja berkasnya, disana terdapat rekaman suara diego juga foto kami bersama diego." Tambah erika yang sudah terlanjur geram dengan ucapan susi yang menyakitkan.


  "Jika tidak percaya juga, silahkan telefon sekertaris diego dan tanyakan langsung padanya." Erika menambahi, wajahnya sendari tadi menahan amarah.


  Susi diam, dia dengan segera membuka berkas itu, menyibak setiap lembar kertas yang berisi hasil wawancara mawar dengan erika, juga melihat foto mawar, erika juga diego yang berfoto bersama.


  Susi mengepalkan tangannya kesal, dia tak menyangka niatnya untuk menjatuhkan mawar dan erika harus gagal karena mereka berdua kembali berhasil mewawancarai seseorang yang dianggap sangat anti dengan paparazzi.


   "Kami tunggu beritanya bu, kami pamit." Ucap mawar yang sudah berdiri dari duduknya, berjalan keluar dari ruangan susi di ikuti oleh erika.


   Setelah keluar dari ruangan susi, baik mawar maupun erika sudah tersenyum senang, sudah di pastikan bahwa susi syok dengan apa yang ia dapatkan, mawar dan erika sudah berhasil membuktikan bahwa mereka pantas mendapatkan gelar the best group karena kerja keras mereka.


  Mereka berdua kembali menuju ruangan kerja, setelah melakukan high five atas kemenangan mereka berdua.


  Namun mawar teringat akan diego, lelaki itulah yang telah membantunya, entah bagaimana jadinya jika diego tak ingin mawar wawancarai, mungkin mawar akan benar-benar di keluarkan dari perusahan ini.


  Terbesit di dalam pikiran mawar untuk mengucapkan terimakasih pada diego, ya, sepertinya mawar berniat menelfon lelaki satu itu. Mawar berjalan menuju sudut ruangan kantor, untuk menelfon diego agar tak di dengar oleh banyak orang, termasuk erika sendiri.


   Mawar mulai mencari nama diego pada pencarian kontak telefon, mereka sempat bertukar nomor ponsel waktu itu, bukan bertukar, lebih tepatnya diego yang memberika nomornya untuk mawar.


  Suara dering telefon itu menandakan telefon disana sudah berbunyi, hanya saja panggilan dari mawar belum di angkat, hingga beberapa menit kemudian suara getar itu hilang dan berubah menjadi suara serak seorang lelaki.


 

__ADS_1


    "Hallo!" Suara diego terdengar sedikit membentak, mawar sampai menjauhkan handphonenya dari telinga, karena bentakan diego yang sangat tinggi.


   "Hallo—Diego ini aku mawar, apakah aku mengganggu?" Ucap mawar sedikit berbisik dia takut karyawan yang lain mendengar pembicaraannya dengan diego, jika itu terjadi akan terjadi kehebohan di kantor.


   "Mawar? Oh tentu saja tidak." Diego sedikit tersentak saat mengetahui yang menelofonnya adalah mawar, menyesal sudah dirinya tadi membentak mawar yang ia pikirkan seseorang yang iseng.


   "Benarkah aku tidak menganggu? Pasalnya aku hanya ingin mengatakan terimakasih padamu, berkat bantuan darimu, aku dan erika tidak jadi di keluarkan. " Jelas mawar berusaha menetralkan suara gugupnya yang begitu kentara.


    "Tidak tenang saja, selamat yah, aku turut senang dengan kabar baik ini." Jawab suara lembut nan jauh dari disana, diego bahkan tidak bisa mengatur perasaannya sendiri yang sangat menggebu-gebu, jantungnya berdetak kencang, begitu mendengar suara mawar yang halus dan penuh perasaan.


    "Ya, aku tidak bisa membalas perbuatan mu padaku, jadi mungkin aku hanya bisa mengucapkan terimakasih." tambah mawar lagi.


   "Sama sama, jangan sungkn untuk meminta bantuanku."


  "Baiklah."


    "Mm, apa malam ini kau ada acara?" Tanya diego, apa yang hendak dia katakan membuat hatinya semakin berdebar tak karuan.


  "Aku? Aku tidak ada acara, memang ada apa?" Mawar salah tingkah, dia tidak bisa berhenti membenarkan rambutnya, seperti ingin selalu terlihat cantik walau diego tidak melihatnya.


   "Baguslah, setelah pulang kerja aku akan menjemput ketempat kerjamu, aku akan mengajak mu makan malam."


   "Makan malam? Apakah tidak merepotkan?" Tanya mawar, masalahnya yang seharusnya mengajak makan malam adalah mawar, sebagai ucapan terimakasih karena telag mau membantunya, namun kenapa malah diego yang mengajak mawar untuk makan malam bersama.


  "Tentu saja tidak, sampai bertemu sore nanti. Mawar." Jawab diego menyudahi panggilan telefon mereka berdua.


   Mawar tersenyum bahagia, dia tidak akan pernah mengira bahwa diego mengajaknya untuk makan malam. Pupus sudah niatnya untuk melupakan diego jika nyatanya lelaki itu selalu menerima keadaan mawar.


  

__ADS_1


  ***


__ADS_2