
Cinta indah sebagai fiksi tapi ngeri sebagai fakta.
-Rocky gerung
Jenifer yang melihat penolakan dari mawar membuatnya geram, kini dia sedang mengepalkan kedua lengannya berusaha untuk tetap berfikir jernih, karena untuk pertama kalinya seseorang berani menghina jenifer.
Dan orang yang menghina nya itu adalah musuhnya sendiri, dan juga baru kali ini jenifer kalah dalam beradu debat. Tidak biasanya dia diam saat seseorang menghinanya, tapi yang di katakan oleh mawar membuatnya sedikit berfikir, bahwa dengan dia melakukan cara ini semakin menunjukan bahwa dia takut kalah dari mawar.
'Apa istimewanya gadis miskin seperti dia?' Runtuk jenifer pada dirinya sendiri jika mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
'Jika dengan Cara baik baik kamu tidak mau, maka aku akan menggunakan cara kasar!'
***
Mawar memberhentikan sebuah taxi yang melintas di pinggir jalan, dengan langkah gontai mawar masih berusaha untuk mempertahankan posisinya, merebahkan tubuhnya ke atas kursi taxi dan membiarkan mobil ini membawanya.
Setelah keluar dari rumah jenifer mawar harus berjalan beberapa meter untuk mendapatkan sebuah jalanan yang ramai, karena rumah jenifer, ralat! Rumah orang tuanya terletak cukup jauh dari ramainya kota.
Dengan wajah yang pucat serta mata sembap meyakinkan supir taxi untuk tidak banyak bertanya tentang kondisi mawar, yang sudah jelas tidak baik baik saja, bukan bermaksud untuk ikut campur tapi pria paruh baya ini khawatir dengan kondisi penumpang nya, dan jika sampai terjadi apa apa dengan mawar supir taxi ini lah yang akan di salahkan, ia tidak ingin itu terjadi tapi sekali lagi supir paruh baya itu tidak bisa membuka mulutnya hanya untuk bertegur sapa dengan mawar, jadi supir itu kini memilih diam.
__ADS_1
Saat ini yang di rasakan oleh mawar adalah kepalanya yang berat dan terasa pusing, di tambah sebuah rasa sakit yang untuk kedua kalinya pernah ia rasakan, tepat menikam di hatinya.
Sakit tapi tidak berdarah!
Itu yang bisa di gambarkan dari kondisi mawar sekarang, pikirannya kalang kabut mencari sebuah kepastian tentang segala yang perlu ia ketahui dan apa yang baru saja ia dengar.
Seharusnya tadi mawar menggunakan penutup telinga agar tidak mendengar seluruh ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut penuh jenifer.
Bibir yang indah itu tidak di jadikan nya sebuah perantara untuk menyumbang kebaikan, namun di gunakan untuk mengkritik seseorang yang hidupnya lebih buruk darinya, bukan buruk! Buruk dari sudut pandang seorang jenifer thomson, tanpa bisa melihat dirinya sendiri? Apakah lebih baik dari orang yang dia hina?
Tapi jika dia tidak mendengar seluruh ucapan jenifer sampai kapan dia akan bersembunyi untuk pura pura tidak mengetahui tentang semua ini? jika di biarkan perasaan ini bisa lebih jauh membawa dirinya pergi tanpa lupa sesuatu yang pasti akan menghadangnya ketika hendak mencapai sebuah tujuan.
Alasan yang logis baginya untuk mengetahui bahwa semua ini telah di gariskan oleh tuhan, tidak bisa ada yang menentang apa yang telah tuhan gariskan, baginya di hina dan di pandang sebelah mata adalah takdirnya, hendak protes pada tuhan pun ia tidak bisa? Kurang baik apa tuhan? Tuhan sudah memberikan nya kehidupan, baginya itu sudah cukup walau hidupnya tidak selalu di penuhi kebahagiaan.
Setelah beberapa menit berputar putar tidak jelas, akhirnya supir itu memberanikan diri untuk bertanya pada penumpangnya tujuan yang hendak dia datangi.
"Mba.. Maaf sebenarnya kita akan kemana? Kita sudah berputar putar tidak jelas?" Sang supir mencoba menenangkan ucapan nya agar penumpangnya ini tidak tersinggung atau marah.
"Ahhh maaf kita ke taman kota saja.. " Jawab mawar dia sedikit terkejut karena ucapan supir tadi, yang ia rasa tadi dia sudah mengatakan tujuan mereka.
Dan mawar hanya bisa menghela nafas panjang, dia sekarang tidak lagi menangis hanya saja hatinya masih begitu sakit dan terluka, salah apakah dirinya hingga mendapat cobaan besar seperti ini?
Bisakah dia hidup bahagia tanpa sebuah masalah?
Bagi nya itu adalah sebuah ketidakmungkinan yang dia harapkan bisa terjadi, tapi entah kapan bisa ia rasakan? Ayolah pliss hidup ini seperti sebuah bumi, kadang berada di sisi yang gelap dan kadang berada di sisi yang terang, tapi matahari dan bulan akan selalu bergantian memberikan cahayanya pada bumi.
Mawar turun dari taxi sambil memberikan selembar uang pada supir, tanpa berkata apa apa lagi mawar meninggalkan supir taksi dengan keadaan lemah, jika ada tempat untuk dia meluapkan seluruh kekesalan ini saat ini juga dia akan berteriak sekeras kerasnya.
Mawar duduk di bangku taman yang di hiasi dengan bunga rambat yang melilit di kaki kaki bangku yang ia duduki, tempat ini pernah menjadi saksi sebuah penyesalan atas apa yang ia katakan sehingga seseorang hampir saja merengang nyawa.
Berusaha kuat itu tak bisa di lakukan oleh mawar, menangis hanya satu satunya jalan baginya untuk melepaskan seluruh beban di pundaknya.
Setetes air mata berhasil lolos dari kedua kelopak indah mata mawar, apalagi yang perlu ia harapkan? Berharap diego akan membela nya? Berharap diego akan mempertahankan dirinya? Sadarlah! Apa yang pantas untuk diego pertahankan darinya?
"Hiks... Bodohnya aku percaya akan semua cinta ini... Kenapa harus selalu aku yang tersiksa?" Tak tahan memendam semua ini sendirian akhirnya mawar menumpahkan seluruh kesedihan nya.
Berusaha menutupi juga tidak bisa, dia bukan seorang super hero yang kuat, dia hanya seorang manusia biasa yang berpura pura kuat agar tidak di anggap lemah.
Mawar hanya bisa menyumpahi diri sendiri karena percaya akan sebuah hal fana yang di anggap semua orang indah namun untuknya sangat menyiksa.
Dengan sarkas mawar menutup kedua wajahnya yang tidak ia ketahui lagi bagaimana bentuknya, mungkin sebagian orang yang melihat dirinya akan menganggap dia gila, dengan tampilan yang seperti ini? Heh menjadi cantik juga percuma dia hanya orang biasa yang aka selau di hina.
"Hiks.. Aku tidak tahu ternyata rasa sakit seperti ini, akan kurasakan untuk kedua kalinya...Hikss jika bertahan hanya akan membuat luka maka pergi akan mengakhiri ini semua." suara mawar begitu pelan, bahkan orang orang yang ada di sekitar nya tidak akan mendengar suara keluhan hatinya yang sudah cukup lelah.
*Guk guk guk guk!*
Suara anjing kecil membuyarkan seluruh kesedihan mawar, seorang anak anjing berjenis siberian husky mendatangi mawar sambil menjulurkan lidahnya, mawar kebingungan dengan kedatangan anak anjing yang sekarang sedang duduk di pangkuannya, mawar tersenyum kecil sambil mengusap usap bulu halus anjing manis itu.
__ADS_1
Tuhan masih bisa memberikan mawar kebahagian melalui sebuah hal yang di anggap kecil oleh semua orang.
"Siapa namamu anjing kecil...hmm?" Mawar mengusap usap bulu halus anjing itu, dan hanya di balas sebuah juluran lidah dari anjing menggemaskan itu.
"Ohh namamu emly yah, hmmm sedang apa kamu sendiri di sini?" Mawar melihat sebuah kalung yang terpasang di leher anjing itu dan tertulis nama emly.
"Emly.. " Seorang anak laki laki berlari menuju mawar sambil membawa sebuah balon di tangannya, mawar menebak usianya baru berumur 6 tahun, dengan napas tersenggal segal anak lelaki itu mendapatkan sambutan hangat dari emly.
"Aishhh sukulah emly...Kamu tidak tahu betapa kawatil nya aku padamu..." Ucap anak kecil itu sambil menggendong emly yang sebelumnya sudah loncat dari pangkuan mawar, mawar hanya tertawa renyah saat mendengar ucapan anak laki laki itu, dengan suara anak kecil yang khas di tambah pengucapan kata R yang tidak sempurna membuat mawar tambah gemas melihat anak laki laki ini.
"Telimakasih bibi, telah menjaga anjing ku...Pekenalkan namaku nicky.." Anak lekaki itu mengulurkan tangannya pada mawar yang di sambut senyuman manis dari bibir mawar.
"Hai nicky nama bibi mawar, anak anjing mu sangat lucu, sama dengan dirimu.. " Mawar mengulurkan tangan nya membalas uluran tangan nicky, lalu tangan mawar berpindah pada pucuk rambut nicky lalu mengacak acaknya gemas.
"Nicky!!!" Seorang pria dengan kaos berwarna hitam dengan celana jeans, memanggil nama nicky, lalu berlari menghampiri mereka berdua.
"Daddy.. Aku tadi mencali emly... " Suara nicky terdengar sangat menggemaskan, ingin sekali mawar mencubit kedua pipi nicky yang merah merona, warna alami dari seorang anak kecil.
"Lain kali tidak boleh pergi sendirian yah.." Pria tadi mengusap usap pucuk rambut nicky dan di balas sebuah senyuman dari bibir mungil nicky.
"Bibi ini tadi menemukan emly daddy... " Ucapan nicky membuat pria tadi menatap mawar yang masih duduk di kursi taman.
"Hai... Terimakasih sudah menemukan emly.. " Ucap pria itu sopan dan di hadiahi anggukan juga senyuman ramah dari mawar.
"Namaku albert ini anakku nicky... " Pria tadi menunjuk nicky yang masih sibuk dengan anjingnya.
"aku sofia rosalina panggil saja mawar.. " Jawab mawar, dia tidak berhenti tersenyum kepada pria itu, walau sesungguhnya dia tidak ingin bertemu dengan seseorang dalam keadaan seperti ini, dia yakin bahwa pria ini akan menganggap nya gila dengan wajah berantakan yang melekat di dirinya saat ini.
"Boleh berbagi tempat duduk?" Tanya albert, lalu mawar menggeser tubuhnya untuk duduk di bagian lain dari bangku itu.
Albert duduk pelan di samping mawar sambil tetap fokus menatap nicky yang sedang bermain.
"Sedang apa di sini?" Tanya albert
"Hanya sedang beristirahat sebentar..." Jawab mawar sambil menguatkan hatinya untuk tidak menangis.
"Begitukah? Hanya sendirian?" tanya albert. "Iya sendirian!" Tegas mawar, sejujurnya saat ini dia sedang tidak ingin membicarakan tentang dirinya karena dirinya sedang berada dalam fase keterburukan dan membutuhkan ketenangan.
"Apa aku mengganggu?" Seolah tahu akan apa yang di rasakan oleh mawar albert membuat sebuah pertanyaan yang membuat mawar gelagapan.
"Ahh tidak tidak... Aku bahkan butuh teman untuk menemani ku...Heheh." Mawar tersenyum canggung menatap albert yang hanya tertawa pelan.
"Sudah makan siang?" Tanya albert lagi, yang di jawab dengan gelengan kepala oleh mawar. "Ya sudah mari makan siang bersama dengan ku juga nicky... " Ajak albert pada mawar.
"Tap-tapi bagaimana istri mu? Aku tidak enak jika mengganggu waktu kalian sekeluarga." Tolak mawar, tapi saat itu mawar melihat perubahan raut wajah albert yang sekarang terlihat sendu dan mengguratkan sebuah kesedihan.
"Istri ku sudah meninggal saat melahirkan nicky, aku yang membesar kannya sendiri hingga sampai kini... " Ucap albert lirih, yang membuat perasaan mawar tiba tiba tersayat, bodohnya dia mempertanyakan sebuah hal yang membuat seseorang bersedih.
__ADS_1