Crazy Ceo: Make Me Happy!

Crazy Ceo: Make Me Happy!
kisah yang terbongkar


__ADS_3

Mawar tersenyum saat meletakan satu cangkir americano dan juga sepiring pancakes di atas meja, dia nenarik kedua sudut bibir menampilkan sebuah senyum yang wajib dia lakukan.


"Selamat menikmati..." Ucap mawar menatap sang pembeli yang umurnya sedikit lebih tua dari nya.


Mawar berjalan pelan meninggalkan meja pelanggan dan memutuskan kembali ke meja kasir untuk membantu temannya.


Semenjak kejadian di acara pesta pernikahan itu diego tidak pernah menghubungi mawar, menanyakan kabarnya bahkan mawar tidak pernah melihat batang hidung diego.


Mawar terlalu banyak berharap dia pikir diego akan mencari nya dan menepati janjinya, namun hingga 2 hari ini diego tidak pernah menemui mawar.


Mawar tersenyum getir saat mengetahui fakta bahwa diego lebih mementingkan harta dan kekuasaan dari pada dirinya.


Mawar berdecih jijik saat mengingat hal itu, kadang mawar sendiri menganggap dirinya yang terlalu bodoh dengan mempercayai diego.


Mawar sempat merasa senang ketika tahu bahwa diego lebih memilih kekuasaan dari dirinya, apa yang akan diego dapatkan dengan memilih mawar? Apakah diego akan menjadi kaya saat bersama dengan mawar? Jawabannya tidak! Dia tidak punya hal hal yang dapat di istimewa kan atau pun di banggakan, dirinya hanya seorang gadis biasa dengan sejuta mimpi yang belum bisa terlaksana.


Mawar tertawa pelan biarkan orang orang mengatakan dia gila, kenyataan memang hampir mendekati, mawar gila karena memikirkan diego yang tak lagi mengabari nya dan di satu sisi mawar senang karena diego tidak lagi menganggunya.


Entahlah mawar bingung, dia tak bisa dengan mudah melupakan seseorang yang benar benar dia sayang, itu tak semudah yang di pikirkan.


Semenjak kejadian itu mawar memutuskan untuk mengambil kerja sambilan di sebuah cafe setelah pulang bekerja, agar fikirannya tidak terlalu terpacu pada diego natakusuma, yang sudah pergi dengan sejuta pertanyaan yang memutar di dalam hati dan pikiran.


Well berbahagialah jenifer mendapatkan apa yang dia mau, terkutuklah mawar yang belum mengikhlaskan perginya diego dari dalam hidupnya.


Walau belum tentu benar tapi ada berbagi kemungkinan yang cukup meyakinkan untuk mawar mempercayainya.


"rosa tolong antar pesanan ini pada kakek kakek yang ada di sana, aku harus menemui manajer." Mawar menangguk menanggapi ucapan temannya yang sudah cukup akrab dan dapat membantu mawar tertawa selama 2 hari ini, namanya delyn gadis itu sudah dengan senang hati menemani mawar selama bekerja di cafe ini.


Mawar mengambil nampan berisi coffie latte dan juga sepotong soft cake dengan taburan kacang almond di atasnya.


Mawar membawanya ketempat yang sudah di beritahukan delyn sebelumnya, menjadi seorang pelayan bukan lah hal yang sulit ini sudah biasa mawar lakukan.


Mawar tersenyum tipis sambil meletakan pesanan lelaki paruh baya dengan rambut yang sudah memutih itu, namun penampilan nya sungguh menunjang dengan balutan suit berwarna cream soft membuatnya terlihat elegan walau tak lagi muda.

__ADS_1


"Selamat menikmati." Ucap mawar di akhie kalimat sebelum benar benar pergi dari tempat duduk yang bisa di sebut kakek itu.


Namun sebelum itu terjadi mawar mendengar suara serak yang menyebut namanya. "Sofia rosalina" Mawar melirik laki laki tua itu sambil mendekatinya kembali, mungkin ada yang dia butuhkan sehingga memerlukan bantuan mawar.


Mawar kembali tersenyum ramah, tubuhnya sengaja di bungkukan menunjukan bahwa dia penasaran dengan apa yang di butuhkan kakek itu sehingga memanggil dirinya kembali.


"Kau benar sofia rosalina?" Tanya kakek itu sambil menatap tajam setiap inci wajah mawar, memperhatikan nya dari atas hingga ke bawah.


Mawar mengangguk lalu tersenyum canggung sambil menyelipkan sehelai rambut kebelakang telinganya.


"Kau masih memiliki orang tua?" Kata kakek itu kembali sambil menatap mawar, mawar menaikkan sebelah alisnya bingung.


Pikirannya menerka nerka apa yang di rencanakan oleh kakek tua ini. Mawar kembali tersenyum membalas tatapan mata sang kakek.


"Maaf kek, tapi kami tidak di wajibkan untuk membeberkan privasi kami pada pelanggan, maafkan saya." Jawab mawar sopan, walau pun mawar tidak suka dengan perlakuan kakek itu, namun dia paham cafe ini butuh pelanggan, sepi dan ramainya cafe tergantung pada rasa masakan dan keramahan pelayan. Maka dari itu mawar sangat menjunjung tinggi bahasa sopan santun.


Yang dia saring agar tidak terlalu menohok, karena jujur, di hina seseorang itu tidak lah menyenangkan, sebagai dia yang selalu mersakan penghinaan.


"Aku tidak menyangka kau akan menolak ku." Jawab kakek itu menyuapkan sesendok kue kedalam mulutnya.


Mawar terdiam menatap lelaki itu heran, adakah yang salah dengan ucapan nya?


"Jika kau tidak mau, aku akan mengadukan ini pada atasan mu, agar kau segera di pecat dari cafe ini."Ancam sang kakek yang sudah sangat membuat mawar naik darah.


Mawar mengepalkan tangannya, dia berfikir kenapa ada orang sekeras kepala sepertinya. Mawar tersenyum dia mengerti lelaki ini adalah orang kaya, di lihat dari merek baju yang dia gunakan mawar tahu bahwa dia bukan lah orang sembarangan.


Hal itu kembali membuat mawar menyimpulkan bahwa orang kaya memang hanya bisa mengancam dan perkataannya tak pernah memakai etika.


'Apakah orang kaya kekurangan guru etika sehingga perkataannya selalu menohok dan menyakiti hati?'


"Baiklah ternyata orang kaya memang hanya bisa mengancam." Ucap mawar sambil tersenyum getir.


"Ayah ku sudah meninggal 4 tahun yang lalu dan aku hanya memiliki ibu dan adik ku. Puas? Apakah kakek ingin bertanya kenapa ayahku meninggal, kapan tanggal nya dan apa yang membuatnya meninggal?

__ADS_1


...Namanya jofan majashon ayahku meninggal karena kecelakaan mobil, terimakasih dan aku pergi." Mawar menutup ucapannya dengan membungkukan tubuhnya.


Biarlah dia di cap tidak sopan pada seseorang kakek tua, tapi jujur kakek tua itu sangat mengesalkan ucapannya dan ancamannya membuat mawar jijik.


"Tunggu kau anak dari jofan majashon?" Tanya kakek itu lagi membuat mawar membalikan tubuhnya menatap bingung kakek itu.


"Iya memang kenapa?" tanya mawar sambil menaikan kedua alisnya.


Kakek itu berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati mawar dengan tangan yang dia biarkan hilang kedalam saku celana yang dia gunakan.


"Kau mau tahu sesuatu? Ikut aku.. " Kakek itu menarik tangan mawar pelan, walau sudah cukup berumur tapi kakek itu dengan mudahnya membawa mawar pergi dari tempat kerjanya.


Mawar hanya diam sesuatu hal yang aneh telah membuat dirinya berfikir bingung dengan sejuta pertanyaan.



***



Mawar tersenyum getir saat melihat sebuah foto yang tengah dia pandangi sedari tadi, tangannya tak henti henti mengelus foto yang masih cerah karena di jaga dengan rapih di balut dengan bingkai berwarna gold yang cukup mendominasi.


Kadang dia menggumam pelan, kadang mawar terkekeh pelan melihat deretan foto itu, dan juga mawar menangis saat melihat beberapa foto yang cukup menyentuh hatinya dan menusuk jantungnya secara bersamaan.


"Aku tidak menyangka dia... " Mawar menyeka air matanya yang sudah membasahi pipi mawar.


"Maafkan aku... " Ucap kakek yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mawar, sambil menyesap secangkir teh hangat yang dia racik sendiri.


"Tapi bagaimana bisa?" Mawar menangis kembali rasa sakit begitu besar telah menghujam kedalam hatinya.


"Ceritanya panjang yang jelas kau adalah cucu ku sofia rosalina." Kakek yang bernama zeden majashon itu sambik menepuk kedua bahu cucunya yang sudah lama tak pernah dia ketahui keberadaannya.


'Waktu kau kembali jahat padaku, kau mempertemukan ku dengan keluarga ku di saat aku sedang membenci diriku sendiri!?'

__ADS_1


__ADS_2