
Mawar tersenyum menatap daniel tak percaya, pasalnya mereka bertemu lagi setelah kejadian dimana daniel mengantarkan mawar pulang.
"daniel.. kau daniel kan?" tanya mawar, yang sudah sangat antusias, dengan adanya daniel mungkin bisa membantu mawar agar keluar dari bar ini.
Daniel juga terlihat begitu terkejut, mereka kembali dipertemukan kembali, walau dengan kondisi yang tidak baik, berada di tempat penuh dengan kejahatan ini.
"Iya ini aku mawar, senang bisa bertemu denganmu lagi." Daniel tersenyum sambil menarik kedua tangan mawar, membawanya dalam genggaman yang sangat hangat.
"Aku sedang menghadiri acara pesta ulang tahun pemimpin perusahaan ku, dan aku merasa tidak nyaman berada disini, jadi aku ingin mencari udara." Jelas mawar, menarik pelan kedua tangannya, masih dengan senyum manis walau daniel tahu bahwa mawar sedang mawas diri
Daniel mengangguk paham, sambil membenarkan jas yang digunakan olehnya daniel kembali menatap mawar lembut. "Kalau begitu kita mencari udara bersama, mau?" Tawar daniel, mawar diam, tentunya sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan daniel, haruskah dia ikut dengan daniel, atau pergi berjalan sendirian di tengah malam.
"Baiklah..." Jawab mawar, tentu saja dia memilih agar bersama dengan daniel, setidaknya dengan adanya daniel dia tak perlu khawatir jika ada yang ingin melukainya.
Akhirnya daniel bersama dengan mawar memutuskan untuk pergi dari bar itu, dengan sedikit rasa canggung juga dengan terpaan angin malam yang begitu menusuk ke lapisan kulit terdalam, mawar membuang nafas ke udara, menghasilkan sebuah uap, menandakan betapa dinginya suhu saat ini.
Mereka berdua menyusuri jalanan kota di malam hari yang cukup sepi, walau di lihat masih ada beberapa aktivitas yang dapat terlihat walau tak seintens biasanya.
"Aku ingin bertanya padamu mawar?" Daniel memberhentikan langkahnya, langsung mengubah posisi menatap mawar yang juga ikut berhenti karena seruan daniel untuknya.
"Bertanya apa?" Mawar menatap daniel dengan kedua alis yang bertautan, "Kau tahu? Saat tadi berada di bar, aku melihatmu berjalan dengan normal, sementara yang lain tidak, kau sama sekali tidak minum?" Daniel bertanya dengan tatapan serius, yang lebih mengintimidasi, mawar tertawa geli, memperlihatkan gigi rapihnya.
"Tentu saja tidak, kau bercanda? Aku lebih menyukai jus orange daripada minuman beralkohol." Jawab mawar sambil terkekeh, menjawab pertanyaan daniel dengan gelakan tawa.
"Lalu kau sendiri sedang apa berada ditempat itu? Menggunakan setelan jas pula." Mawar berbalik bertanya pada daniel, karena jujur saja sedari awal dia merasa aneh dengan pakaian daniel.
"Aku sedang menjalankan tugas, kebetulan betempat di bar tadi." Jawab daniel, mawar hanya mengangguk lalu kembali meneruskan jalannya.
Mawar menghentikan laju langkahnya ketika merasa sesuatu bergetar didalam tas nya, dengan pelan mawar mengambil benda pipih itu, mengerutkan kening ketika melihat nama di panggilan telefonnya.
Membuat mawar menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa?" Daniel ikut berhenti melihat mawar sedang sedikit kebingungan.
"Ini sudah malam, aku harus segera kembali ke rumah." Jawab mawar, sambil melirik kondisi jalanan yang sangat sepi, sebenarnya tengah mencari kendaraan umum untuk ia tumpangi.
"Ini sudah malam, tidak akan ada angkutan umum, apalagi menuju rumah mu." Jelas daniel, mawar menyetujui ucapan daniel, karena memang benar tak akan ada kendaraan umum yang datang.
"Bagaimana ini? Aku juga tak membawa motorku." Ucap daniel sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Mawar berfikir sebentar, dia tak mungkin kembali ke bar sementara keadaan teman temannya sedang dalam kondisi yang tidak baik, dia juga tak ingin merepotkan shina yang masih dalam keadaan sadar disana.
Dengan cepat akhirnya mawar menyalakan layar ponsel yang tengah digenggam olehnya, menuliskan pesan untuk sang ibu yang mungkin sedang menunggu di rumah.
Sofia rosalina
[bu, aku tak bisa pulang malam ini, tak ada kendaraan umum yang mengantarkan ku pulang]
Sofia rosalina
Tak lama handphone mawar kembali berbunyi, dengan segera mawar membukanya.
Ibu
[ya sudah hati hati jangan merepotkan temanmu jika menginap dirumahnya]
Mawar menutup ruang chat setelah mendapatkan izin dari sang ibu, mawar melirik daniel yang ternyata sedari tadi hanya diam sambil menatapnya dengan kebingungan.
"Kenapa?" Tanya daniel pada mawar, mawar hanya menggeleng sambil membuang nafas panjang. "Aku akan tidur dihotel malam ini." Tambah mawar lalu kembali berjalan diikuti oleh daniel disampingnya.
"Oke itu lebih bagus, mari kita cari hotel yang masih buka." Ajak daniel antusias, dia juga tak segan untuk menggenggam tangan mawar, mawar yang melihat itu merasa aneh karena tiba tiba jantungnya berdegup tak menentu, rasanya ada sesuatu hal yang tiba tiba membuat sebuah guratan senyum diwajahnya terpancar, apapun itu telah membuat mawar salah tingkah.
__ADS_1
Setelah sekitar 20 menit berjalan, mereka berdua menemukan sebuah hotel yang berada ditengah kota, hotel itu sangat ramai dan cukup besar, langsung mawar dan daniel memutuskan untuk masuk kedalam hotel itu bersama.
"Oh ya, kau mau ikut tidur dihotel daniel?" Tanya mawar yang menyadari daniel terus mengikutinya. "Sepertinya iya, rumahku juga cukup jauh dari sini." Jawab daniel yang hanya dihadiahi anggukan kecil oleh mawar.
Mereka berdua mendatangi meja resepsionis untuk memesan kamar hotel.
"Selamat datang pak, bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis itu ketika melihat mawar dan daniel datang, "Saya ingin memesan 2 kamar hotel." Jawab mawar menatap sang resepsionis dengan wajah yang sangat cantik itu.
"Untuk berapa malam?" Tanya resepsionis itu tanpa menghilangkan senyum yang ada di wajahnya. "Satu malam." Jawab mawar, dia sempat melirik daniel yang berada dibelakangnya, yang ternyata masih teridam sambil menatap resepsionis dengan intens.
"Baiklah, saya akan memeriksanya sebentar." ujar resepsionis itu lalu fokusnya kembali pada komputer yang berada dihadapannya.
Sekitar 2 menit mawar dan daniel terdiam menunggu apa yang dikatakan oleh resepsionis tentang pemesanan kamar mereka. "Maaf pak bu kami hanya memiliki satu kamar yang tersisa, sisa dari kamar kami telah dibooking oleh para turis." Sang resepsionis menunduk tak berani menatap mawar dan daniel.
Mawar langsung melirik daniel sambil menaikan kedua alisnya bertanya dalam isyarat apa yang harus dilakukan.
Daniel hanya diam menjawab dengan mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu apa yang bisa ia lakukan.
"Apa memang tidak ada lagi? Pasalnya aku dan dia butuh 2 kamar." Jelas mawar dengan raut wajah kecewa, matanya lelah dia ingin beristirahat dengan segera.
"Maaf bu, tapi kamar yang tersedia memang hanya satu." Jawab sang resepsionis dengan nada menyesal, mawar membuang nafas kasar lebih tepatnya lelah kenapa harus terus mengalami masalah sementara tubuhnya mengakatan bahwa dia sudah lelah.
"Bagaimana daniel? Kamar yang terisa hanya satu." Ucap mawar pada daniel yang masih diam tak bergeming dengan ucapan mawar.
"Ya sudah kalau memang hanya ada satu kamar, aku akan pergi untuk mencari hotel lain, ini juga sudah malam." Jawab daniel setelah diam beberapa menit, mawar menggeleng tak setuju dengan saran yang diberikan daniel.
"Tidak, aku tidak setuju! Kita datang bersama kemari, kau tak bisa pergi begitu saja." Tegas mawar dengan suara yang sedikit ditinggikan.
"Pak bu saya ingin memberi saran, bagaimana jika ibu dan bapak tidur satu kamar bersama? Lagi pula kamar yang tersisa adalah kamar dengan 2 tempat tidur, anda berdua bisa berbagi tempat tidur dikamar itu." Saran resepsionis itu membuat mawar dan daniel saling menatap dengan wajah kebingungan.
__ADS_1