Crazy Ceo: Make Me Happy!

Crazy Ceo: Make Me Happy!
trheat


__ADS_3

  "Kau sangat cantik." Puji diego lagi, yang memandang penampilan mawar, sangat sederhana tapi tetap terlihat menawan.


   Mawar terkekeh pelan, menahan gugup tepatnya dengan sedikit meremas rok yang ia gunakan. "Mm, terimakasih." Jawab mawar, merasa sangat aneh, karena sudah lama sekali dirinya tak merasakan cinta seperti ini.


   "Ayo kita berangkat." Ajak diego yang dengan tanggap, membuka pintu mobil untuk mawar masuki.


Hingga keduanya mulai meninggalkan rumah milik mawar dengan mobil mewah diego, membicarakan banyak hal didalam mobil karena sekarang diego tidak terlalu kaku untuk berbicara dan memberikan candaan.


     ***


  Kini kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu tengah saling menatap, walau terhalang jendela mobil diantara mereka berdua, tidak menghalangi mereka untuk berbicara.


   "Terimakasih atas tumpangannya." Ucap mawar, dengan wajah berseri, karena sepanjang perjalanan diego terus membuatnya tertawa, diego tidak terlalu buruk, setidaknya dia mencoba menguasai keadaan.


    "Sama-sama, setelah pulang bekerja aku akan menjemputmu lagi." Jawab diego.


"Tidak usah, sore ini aku akan pulang menaiki bus saja." Tolak mawar halus, dia tak ingin terus merepotkan lelaki itu untuk menjemput dirinya.


 


  "Tidak apa-apa, itu adalah pengorbanan kecil seorang kekasih pada orang yang dia cintai." Jawab diego yang langsung menaikan senyumnya begitu mengucapkan hal itu, sepertinya diego bangga dengan kata-kata yang ia lontarkan.


  "Jika tugas seoarang kekasih adalah mengantar jemput, maka tidak perlu susah payah mengorbankan perasaan, taksi dan kendaraan umum lainnya juga ada." Jawab mawar menyatakan pendapatnya tentang seorang kekasih.


   Diego terkekeh, dia merasa malu karena seroang sofia rosalina sangatlah pandai, pintar bermain kata juga berpandangan luas, jarang sekali menemukan wanita seperti mawar.


  "Iya aku paham. Tapi tetap sore ini aku akan menjemput mu, semoga hari mu menyenangkan." setelah mengucapkan beberapa kata tadi diego pergi dengan mobilnya meninggalkan mawar, melambaikan tangan pada mawar sebelum benar-benar pergi menjauh dari keberadaan mawar.


  Mawar memasuki kantornya yang terlihat begitu sederhana, tidak mewah seperti gedung kantor diego, tapi mawar senang bisa memiliki pekerjaan yang selama ini ia impikan.


  Ketika memasuki area ruangan karyawan wartawan juga cameraman, bisik-bisik terdengar, gunjingan dibicarakan oleh para karyawan terutama para perempuan, mengkritik hingga menjudge mawar seperti apa yang mereka pikirkan, menatapkan mawar sebagai bahan perbincangan yang sedikit membuat sakit hati.


 


   Sedari awal, para perempuan di bagian wartawan memang tak menyukai mawar, mereka semua iri dan takut terkalahkan oleh sosok mawar yang di gadang-gadang sebagai wartawan terbaik perusahan hot news corp, apalagi kecantikan yang dimiliki oleh mawar, semakin membuat para wanita membenci dirinya.


   Mawarpun tak memiliki teman kerja selain erika disini, semua karyawan wanita bersekongkol untuk menjauhinya hanya karena alasan tak logis seperti itu, dan mawar sudah kebal dengan hinaan juga cacian yang mereka utarakan.


  Bagi mawar it's none of your bussines, i do my own business


  Orang lain tidak akan menjadi penghambat dirinya untuk menggapai cita-cita.


  Mawar mendudukan tubuhnya begitu sampai di meja kerjanya, dia melirik meja disampingnya yang masih kosong dan sepertinya erika belum datang, mawar memutuskan untuk sibuk melihat jadwalnya pagi ini, adakah yang mungkin harus ia kerjakan.

__ADS_1


   Tak lama, dirinya dikejutkan oleh sebuah pelukan hangat yang tiba-tiba, hampir saja membuat mawar meloncat dari duduknya saking erat dan kencangnya pelukan itu. Mawar tidak mengelak maupun menolak pelukan itu, karena dia tahu sahabatnya stephanie erika lah yang melalukannya.


 


   "Congratulations for your relationship." Kata erika tepat di telinga mawar, mawar yang mendengarnya hanya bisa terkekeh pelan, sepintar apapun dirinya menyembunyikan sesuatu dari erika akan selalu berujung ketahuan.


   "Terimakasih, ini semua berkat doa mu." Jawab mawar yang sama pelannya seperti suara erika.


   "Bagaimana kejadiannya? Ceritakan?" Erika penasaran dia mendekat ke arah mawar meletakan kedua tangannya di pipinya.


  "Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, kau tahu sekarang masih jam kerja." Jawab mawar mencari alasan, mawat paham seperti apa itu seorang stephanie erika, perempuan berisik itu akan terus menganggunya jika sampai apa yang ia ceritakan tidak selesai.


  "Ya, baiklah." Jawab erika tanpa berkomentar, perempuan dengan balutan jas kerja itu duduk dikursi kerjanya, meletakan tas yang ia bawa.


   "Oh iya, berita kita sudah rilis, dan sedang menjadi trending pencarian utama dimedia sosial, selain itu majalah yang berisi wawancara diego sudah terjual lebih dari 1000 eksemplar sejak jam pertama penerbitannya." Jelas erika.


   Mawar terperangah, dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun iya juga sangat bersyukur karena feedback yang masyarakat berikan terhadap wawancara yang mawar dan erika lakukan.


   "Syukurlah, aku sangat senang dengan berita ini." Jawab mawar.


   Mereka berdua tertawa senang, merasa segala perjuangan yang mereka lakukan dulu tidak berakhir sia-sia, setidaknya dengan ini dapat membuktikan bahwa erika dan mawar merupakan karyawan yang kompeten.


   "Mawar, erika, kalian berdua di panggil ke ruangan bu susi."


  "Ah, ya baiklah."


  Jawab mawar, setelahnya karyawan yang tak dikenali oleh mawar dan erika itu pergi meninggalkan mereka berdua.


  ***


  "Ada apa ibu memanggil kami?" Tanya mawar to the point pasalnya mawar malas berurusan dengan susi, wanita licik itu akan selalu mencari cara untuk menjatuhkan mawar juga erika.


   "Saya senang dengan kerja keras kalian berdua, berkat kalian perusahan kita semakin dikenal banyak orang. Tapi, karena kalian sudah sangat hebat hingga berhasil mewawancarai diego natakusuma, saya akan memberikan tugas lain kepada kalian, yaitu mewawancarai aktor papan atas fredrick micejoules." Jelas bu susi, menyatakan maksud menyuruh mawar dan erika datang ke ruangannya.


   Mawar dan erika terkejut, sampai tak sadar erika sudah menggebrak meja kerja susi dengan sangat keras. "BU! Ini sangat tidak mungkin! Fredrick micejoules sangat sibuk, dan juga, arghhh." Erika menggeram kesal, sungguh ia merasa sangat dipermainkan oleh susi, jangankan diwawancarai oleh perusahaan mereka yang masih baru, oleh perusahaan majalah besar fredrick micejoules tak pernah sempat.


  Susi tertawa sarkastik, wajahnya terlihat sangat licik terutama dengan matanya yang sangat tajam. "Aku sudah mempertimbangkan tugas ini, jika kalian bisa mewawancarai diego natakusuma, bukan tidak mungkin kalian tidak bisa mewawancarai fredrick micejoules." Jawab susi, santai.


   Mawar hanya bisa mengepalkan tangannya kesal, sekeras apapun dirinya mencoba mempertahankan posisi ini, sekeras itu pula seorang susi membuat dirinya hancur. Tapi mawar tidak akan mudah menyerah, jika hal itu terjadi susi akan merasa menang dan bangga karena berhasil menyingkirkan mawar, maka dari itu mawar harus menerima tugas ini.


   "Saya ambil tugas ini." Ucap mawar sambil mengambil berkas berisi penjelasan tentang fredrick micejoules.


   Setelahnya mereka berdua pergi meninggalkan ruangan bu susi dengan perasaan jengkel, terutama erika yang sudah mendengus kesal. "Mawar kenapa, kau mengambil tugasnya? Itu sangat tidak mungkin." Ucap erika sambil berjalan pergi menuju ruangan kerjanya.

__ADS_1


   "Jangan patah semangat rika, jika kemarin kita saja bisa mewawancarai diego, pasti kita juga bisa mewawancarai fredrick, selama kita mau berusaha tidak ada yang tidak mungkin." Jelas mawar berusaha memberikan semangat kepada partner kerjanya itu.


  "Ya, semoga saja."


  Mereka berdua kembali duduk dikursi masing-masing, dengan mawar yang sibuk mencari cara untuk bisa mewawancarai fredrick micejoules.


  Brraak


  Mawar terkejut, karena sebuah majalah terlempar didepan mejanya. Mawar langsung mencari siapa orang yang telah melemparkan majalah itu dengan sangat kasar ke hadapannya. Dilihatnya seorang wanita dengan kemeja berwarna putih, juga rok mini yang sangat pendek menatapnya tajam.


   "Oh, jadi demi mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai diego natakusuma, kau sampai rela menjual dirimu sendiri." Teriak wanita ber nametag niken.


  Mawar menyerngit bingung, pasalnya dirinya dia tak paham dengan apa yang dikatakan oleh saingan kerjanya ini. "Apa yang kau katakan?" Tanya mawar bingung.


   "Jangan berpura-pura bodoh mawar, kami semua melihat kemarin kau dijemput oleh diego? Apalagi kalau bukan kau menjual dirimu sendiri pada diego." Kata niken dengan sangat keras, sudah banyak karyawan yang ikut melihat perdebatan itu, termasuk erika yang terdiam tak bisa berbuat apa-apa.


   Mawar menggeram kesal, merasa ini sudah dilewat batas, ucapan niken sungguh keterlaluan.


 


  "Oh, hanya itu? Kalian semua mendengarnya bukan? Kalian adalah saksi, aku akan melaporkan ini pada diego natakusuma sebagai kasus pencemaran nama baik, bagaimana kau bisa menuduh tanpa ada bukti, sungguh bodoh." Jawab mawar santai.


   "Buktinya, kemarin kau pergi bersama dengan diego!" Yakin niken dengan suara yang sangat tinggi.


  "Ya, aku kemarin pergi bersama dengan diego, tapi kau tak tahu apa yang kami lakukan, semua orang bisa melakukan itu, termasuk ketika dirimu berusaha merayu direktur herman sewaktu diclub malam." Ucap mawar, tak menujukan ketakutan sedikitpun.


  Semua orang yang ada diruangan itu terkejut, mereka tak menyangka dengan pernyataan yang dikatakan oleh mawar, tapi semua itu terbukti terutama saat karyawan digrup satu mulai mengutarakan pendapatnya juga kejelasan tentang kejadian dibar waktu itu.


   "Dasar kau wanita jalang!"


  Niken mengayunkan tangannya siap menampar mawar karena ucapannya yang memang benar dan sudah membuat dirinya malu. Mawar sudah bersiap menahan rasa nyeri akibat tamparan yang dilakukan oleh niken, namun tamparan itu tak berhasil mengenai wajah, tangan niken melayang diudara karena sesuatu menahan agar tangan panjang itu menyentuh pipi mawar.


   "tidak kusangka, pekerjaan kalian hanya bisa menghina dan menjatuhkan seseorang." Suara dingin nan tajam itu membuat semua karyawan yang disana bergidik ngeri, termasuk mawar yang langsung menatap pemilik suara itu.


  Lelaki itu menghempaskan lengan niken, dan langsung mengedarkan pandangan dinginnya, memerintah dengan sekali tatapan tajam agar semua karyawan yang berkumpul bubar. Setelah, lelaki bernama vino itu menatap mawar sendu, terlihat jelas dari obsidiannya yang berwarna amber memberikan sekilas rindu dalam sebuah tatapan semu.


  'Akhirnya aku menemukan mu, kau tidak bisa lagi lari dariku, mawar'


 


  ***


Diego ganti visual euy, liat nih. Makin handsome wkwkwkw😂 jangan ditikung yahhh

__ADS_1



__ADS_2