
Mawar merasa sangat geram dengan lelaki bernama diego natakusuma ini, kenapa ada seseorang yang sangat sulit untuk di ajak bekerjasama. Lagi pula ini semua untuk kemajuan perusahaan miliknya.
"Bagaimana mawar? Apakah sekertaris diego setuju?" Tanya erika penasaraan, perempuan ini sebenarnya sudah mendengarkan percakapan mawar dengan sekertaris diego. Dan erika yakin pekerjaan mereka tidak akan sia-sia.
"Masih belum, tapi sekertaris diego akan berusaha untuk membantu kita" Jelas mawar erika, membuang nafas lelah karena hasilnya tidak sesuai apa yang di bayangkan oleh erika.
"Kita sudah berusaha sebaik mungkin erika, jika memang kita gagal, kita bisa menyerahkan tugas ini pada grup lain." mawar sepertinya sudah pasrah dengan tugasnya kali ini, akan sangat sulit bagi mawar untuk mendapatkan sebuah persetujuan dari orang yang sangat sulit bekerja sama seperti diego.
Erika hanya mengangguk pasrah, yang dikatakan mawar memang benar. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, dan mungkin ini bukan keberuntungan mereka.
***
Sementara di perusahaan KLP GRUP di sebuah ruangan mewah, sekertaris diego natakusuma atau dengan nama lengkap bianca sedang berdiri di hadapan bosnya yang selama ini sangat sulit untuk di temui oleh awak media.
"Pak, pagi ini saya kembali mendapat telepon dari perusahan NEWS HOT CORP. Mereka ingin mewawancarai bapak, saya sudah menolak beberapa kali tapi mereka terus bersikeras dan terus menelfon pada saya."
Lapor bianca pada bosnya yang tidak lain adalah diego natakusuma, lelaki dingin yang sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya.
"Siapa nama orang yang menelfon mu?katakan? Jika dia menganggu akan ku laporkan." Diego menatap bianca tajam, aura di sekitar ruangan berubah menjadi hening, karena perubahan raut wajah diego.
Bianca menelan salivanya, sedikit ketakutan karena ekspresi digeo.
"Nama—nya sofia rosalina, partnernya bernama Stephanie erika. Mereka biasa di panggil mawar dan erika."
Diego terdiam merasa tidak asing dengan nama sofia rosalina dan erika. "Tolong carikan aku informasi tentang sofia rosalina dan stephanie erika. Sekarang!" Tegas diego, bianca hanya mengangguk kecil lalu memutuskan untuk keluar dari ruangan diego.
Mengerjakan tugas yang sudah di perintahkan oleh diego. Diego tersenyum kecil berharap jika mawar dan erika yang bianca maksud adalah mawar yang beberapa hari ini telah membuat dirinya sulit berpikir dengan benar.
***
Di HOT NEWS CORP, mawar dan erika sedang bersiap siap untuk istirahat siang. Hari ini cukup melelahkan apalagi dengan segala masalah yang banyak di hadapi oleh para karyawan tentang keras kepalanya seseorang yang menjadi target untuk di wawancarai.
Berusaha, mencoba, dan terus memaksa adalah cara cara terakhir yang bisa di lakukan seorang wartawan berita dan majalah, cukup sulit dan sangat melelahkan.
"Mawar, aku tidak ingin makan di kantin kantor. Ayo kita pergi makan ke luar." Ajak erika yang baru saja selesai membersihkan barang-barangnya yang berada di atas meja.
__ADS_1
"Mm baiklah, aku juga bosan dengan makanan di kantin, mari kita pergi ke cafe yang dekat dari sini." Mawar berdiri dari duduknya, lalu menarik pelan tangan erika.
Suntuk dan lemas di rasakan oleh mereka berdua, akhir-akhir ini banyak sekali berita berita terbaru tentang kehidupan selebriti, politikus maupun kejadian kejadian alam atau sosial yang menggemparkan sehingga harus dengan sigap erika dan mawar mendapatkan sumber tepercaya sebelum di dahului oleh perusahaan lain.
Yang membuat mawar dan erika harus bekerja extra dari sebelumnya, tapi mawar dan erika berusaha menjalaninya dengan sepenuh hati.
Mawar dan erika berjalan kaki menuju cafe yang tidak jauh dari kantor. Di sepanjang perjalanan erika begitu tak bersemangat sepertinya erika sangat memikirkan bagaimana nasibnya jika bu susi tahu mereka tidak berhasil mewawancarai diego natakusuma.
"Sudahlah jangan terlalu di pikiran." Mawar mengusap bahu sahabatnya itu, mencoba meringankan beban erika.
"Aku takut kita akan di keluarkan dari pekerjaan mawar, apa yang bisa kita lakukan?" Erika menatap mawar dengan tatapan sendu, dia hanya takut semua yang telah ia rencanakan gagal.
"Tidak boleh berpikiran seperti itu, kau harus optimis. Jika kita saja yang merupakan grup satu tidak bisa mewawancarai diego, apalagi grup yang lain?" Mawar menatap erika dengan sebuah senyuman kecil, jika mereka saja yang sudah terkenal hebat masih tidak sanggup untuk mewawancarai diego natakusuma apalagi junior mereka.
Saat mereka berdua berjalan di atas trotoar, pandangan mawar bertemu dengan daniel yang tengah berdiri di depan sebuah mobil. Daniel begitu tampan dengan menggunakan setelan tuxedo berwarna hitam.
Melihat keberadaan diego, mawar dengan segera mendatanginya. Mawar harus menyelesaikan masalah yang terjadi pada malam di hotel waktu itu.
"Daniel" Sapa mawar ketika sudah berada di hadapan daniel.
"Hai mawar." Sapa daniel dengan sebuah senyuman yang sangat manis.
Mawar membalas senyuman daniel. "Daniel, aku ingin membayar biaya hotel pada malam itu, kita tidur bersama malam itu jadi aku ingin kita membagi dua biayanya." Jelas mawar dengan wajah yang cukup serius.
Sebenarnya mawar merasa sangat sering merepotkan daniel, dan mawar tidak ingin memiliki hutang apapun pada orang lain. Erika yang kini tengah berada di belakang mawar hanya mendengarkan percakapan kedua orang ini, mencoba mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dengan mawar dan juga daniel.
"Kau baru saja bertemu denganku dan membahas hal seperti itu? Sudahlah aku sudah merelakannya." jawaban daniel malah membuat hati mawar semakin bimbang.
"Tidak, aku tidak mau merepotkan siapapun. Dan juga baju pemberian mu akan ku ganti dengan uang." Mawar dengan sigap langsung membuka tas yang dia bawa untuk mengambil uang miliknya.
"Aku katakan itu tidaklah perlu mawar. Kau tahu? Aku tidak menerima penolakan." Daniel mendorong tangan mawar yang tengah merogoh dompet yang mawar pegang.
"Aku merelakannya untuk mu. Oke?" Daniel memegang kedua bahu mawar dan menatapnya lembut.
Mawar tersipu malu langsung membuang mukanya agar daniel tidak melihat wajah memerahnya yang jelas sangat menjjijikan.
__ADS_1
Erika mulai bosan mendengar percakapan kedua orang ini, karena merasa dirinya terus saja di acuhkan. "Apakah aku menjadi obat nyamuk di sini?" Erika sedikit mengeraskan suaranya, takutnya dua insan ini akan mengacuhkan erika bahkan erika saja seperti tidak di anggap.
Seketika daniel dan mawar tersadar dengan kehadiran erika, mawar tersenyum tipis kemudian memperkenalkan daniel pada erika.
"Perkenalkan ini adalah daniel. Dan daniel kenalkan dia adalah temanku stephanie erika." Jelas mawar sambil menahan tawa, salahnya memang lupa dengan kehadiran erika.
"Aku erika, sahabat baik mawar." Erika mengangkat tangannya ke udara untuk mengajak daniel berjabat tangan.
"Aku daniel." Daniel membalas jabatan tangan erika sambil memperkenalkan dirinya.
Erika melepaskan jabatan tangannya dari tangan daniel, menatap tajam pada mawar meminta penjelasan tentang apa yang baru saja mereka bicarakan tadi.
"Ah ya. Kami akan makan siang, apa kau mau ikut bersama dengan kami?" Tanya mawar berusaha mengalihkan pembicaraan, bisa habis dirinya jika erika banyak bertanya tentang daniel.
"Boleh. Kebetulan aku belum makan siang." Jawab daniel dengan antusias.
Lalu mawar, erika dan daniel berjalan bersama menuju restoran yang memang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Sesampainya di restoran yang menjadi tujuan mawar dan erika. Mereka memilih meja yang tidak terlalu jauh dari dinding kaca yang menjadi sekat antara ruangan dan halaman restoran itu.
Erika sedari tadi terus memperhatikan tingkah daniel, dia teringat dengan pembicaraan daniel dan mawar tentang kamar hotel dan baju. Dan erika masih bingung dengan itu semua, apa yang terjadi antara mawar dan daniel dan erika akan segera menanyakannya pada mawar.
Mawar mengambil kursi bersebelahan dengan erika, sementara daniel berhadapan dengan mawar. Sambil menunggu makanan yang telah mereka pesan datang, erika dan mawar berbicara mengenai hal random.
"Mawar, bolehkan aku meminjam handphone milikmu?" Tanya daniel, mawar menatap daniel sebentar lalu memberikan handphonenya pada daniel.
Daniel mengetikan nomor telefonnga pada handphone milik mawar, mungkin saja gadis itu membutuhkan bantuannya dan juga daniel menulis nomor mawar pada handphone miliknya.
"Hubungi aku jika kau dalam masalah, aku akan membantu mu." Daniel mengembalikan handphone milik mawar, sambil memberikan sebuah senyuman manis pada mawar.
Jika wanita lain melihat senyuman daniel mungkin mereka akan mengalami kesulitan bernafas karena senyuman daniel yang sangat manis.
Erika memutarkan bola matanya jengah, pada akhirnya dirinya hanya menjadi orang ketiga di antara orang yang tengah berpacaran. Sungguh erika menyesal mengajak mawar untuk makan siang di luar kantor jika pada akhirnya seperti ini.
***
versi revisi
__ADS_1