Crazy Ceo: Make Me Happy!

Crazy Ceo: Make Me Happy!
agreement


__ADS_3

Mawar mengalihkan pandangannya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang terus berdebar karena perlakuan diego pada dirinya yang telah berhasil membuat perasaan mawar berkecamuk.


Mobil diego kembali berjalan, bersama dengan suasana yang kembali hening tanpa ada suara diantara mereka berdua. Atmosfer seperti ini pernah mereka berdua rasakan beberapa hari yang lalu, dengan kondisi yang sama, hanya berbeda kendaraan saja.


Entah kenapa beberapa hari ini, mawar dan diego selalu di pertemukan, entah sengaja maupun tidak, sepertinya takdir berniat mempertemukan mereka berdua, atau mungkin hanya sebuah kebetulan saja.


Sampai tiba, rasanya ada yang berubah diantara mereka berdua, sebuah perasaan yang tak pernah mereka sadari yang akan menjadi sebuah awal rumitnya sebuah cerita cinta yang entah bagaimana akhirnya.


***


Mobil diego berhenti tepat didepan rumah mawar, diego turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil agar mawar bisa keluar, sebagaimana yang sering lelaki lakukan pada lawan jenis.


Mawar tersenyum tipis ketika melihat diego membukakan pintu mobil untuknya, tubuh lelaki itu bahkan sedikit di bungkukan sesaat mawar hendak turun dari mobil, hal itu sontak membuat mawar terkekeh pelan.


"Jangan berlebihan." Ujar mawar kini berdiri saling berhadapan dengan diego.


"Perempuan memang sewajarnya di perlakukan seperti itu." Jawab diego dengan sebuah senyum manis pada wajanya.


Mawar memberikan senyum menanggapi ucapan diego sungguh membuat hatinya menghangat, cara yang dilakukan oleh diego untuk menghormati seorang wanita memang patut di acungi jempol.


"Bagaimana dengan jas mu?" Tanya mawar ketika menyadari jas milik diego masih tersampir di tubuhnya.


"Pakai saja." Jawab diego.


Suasana kembali hening, mawar sendiri juga bingung dengan pembicaraan ini, dia tak pandai berbasa-basi.


"Mau mampir?" Tanya mawar ketika mendapatkan sebuah bahan obrolan ringan.


"Tidak perlu, kau tahu bukan?" Jawabnya dengan mantap.


"Tak apa, sepertinya ibu ku juga belum tidur. Mampir yah?"


"Mm, baiklah." Diego meng-iyakan ajakan mawar.


Mawar mengutuk dirinya sendiri karena malah mengajak diego untuk masuk kedalam rumahnya, bukan menyesal hanya saja itu pertanyaan spontan yang di lontarkan mawar agar suasana tak canggung.


Tapi itu sudah terlanjur terjadi, mawar akhirnya berjalan mendahului diego untuk mengajak lelaki itu masuk kedalam rumah sederhananya.


Mawar mengetuk pintu rumah, lalu memutar kenop untuk membuka pintu. Hal yang pertama mawar pikirkan adalah vanya, gadis kecil itu biasanya akan selalu menyambut kedatangan mawar dengan berlari menuju pelukan mawar saat mawar datang. Namun kali ini, mawar tidak menemukan sosok adiknya, bahkan rumah terkesan sepi.


"Ayo masuk." Titah mawar mempersilakan diego untuk memasuki rumahnya.


"Duduklah, maaf rumahku berantakan. Aku akan pergi ke dapur untuk membuatkan minum." Jelas mawar.


Diego hanya mengangguk kemudian duduk disalah satu sofa dengan nuansa klasik. Sementara mawar pergi menuju dapur untuk menyiapkan minum.

__ADS_1


"Bu, aku pulang." Ucap mawar, gadis itu dengan cepat mengambil teko kaca dan gelas. Lalu membuat sebuah teh panas, untuk menghilangkan rasa dingin pada tubuhnya dan juga diego.


"tumben terlambat." Ucap sang ibu yang tengah menggoreng ikan untuk makan malam, pastinya.


"Ada beberapa urusan tadi. Oh yah, vani dimana bu?" Tanya mawar, tapi tangannya tak berhenti bekerja dia dengan telaten menuangkan air panas kedalam teko.


"Dia tertidur karena menunggu mu." Jawab ibunya.


Mawar mengangguk samar, setelah selesai menyusun dua gelas dan satu teko kaca diatas nampan, mawar segera mebawanya untuk ia berikan pada diego.


"Tunggu. Itu teh untuk siapa?" Tanya dian, ibu mawar. Ketika melihat anaknya membawa nampan dengan teko yang terisi oleh teh hangat.


"Ada temanku bu, ini untuknya." Jawab mawar.


Mawar berjalan meninggalkan ibunya, yang tentu saja untuk menemui diego diruang tamu. Saat sampai di ruang tamu, mawar menemukan diego sedang asik memegang handphonenya, mawar berusaha maklum, diego adalah pemilik perusahaan besar, pasti lelaki itu akan selalu sibuk.


Mawar mendekat, ikut mendudukan tubuhnya di sofa bersebelahan dengan diego. Lalu meletakan nampan itu diatas sebuah meja kayu yang semotif dengan sofa yang mereka berdua duduki.


"Ayo minum, kau pasti kedinginan." Mawar mempersilakan diego untuk meminum teh yang telah ia buat.


Diego tersenyum kemudian menaruh ponselnya di atas meja, mengambil segelas teh yang telah disiapkan oleh mawar. Mawar juga membuat segelas teh untuk dirinya sendiri, dia juga kedinginan sama seperti diego.


"Ibu mu dimana?" Tanya diego yang menyadari suasana sepi di rumah mawar.


"Ibuku sedang memasak." Jawab mawar.


Tak lama, dari arah dapur datang dian ibu mawar, yang masih lengkap dengan apronnya. Dian yang melihat mawar dan diego tengah berbincang-bincang hanya tersenyum tipis, mengharapkan sesuatu hal, dan berdoa dalam hatinya.


"Mawar, ajak temanmu untuk ikut makan malam."


Suara dian membuyarkan perbincangan antara mawar dan diego. Baik mawar ataupun diego kini saling memberikan pandang pada dian yang masih berdiri di antara batas ruang tamu juga ruang makan.


"Selamat malam tante." Sapa diego dengan suara gugup, jelas. Baru pertama kali ini diego bertemu dengan ibu dari mawar, dan dia cukup terkejut karena kecantikan mawar memang di turunkan dari sang ibu.


"Malam juga, ayo ikut makan malam bersama dengan tante dan mawar, tante sudah membuatkan banyak makanan." Ajak dian.


"Tidak perlu tante, sepertinya merepotkan." Tolak diego dengan halus.


"Oh, ayolah, tante sudah memasak banyak makanan, jika tidak dimakan nanti sia-sia." Paksa dian dengan berbagai alasan.


Diego tersenyum canggung, lalu memberikan tatapan pada mawar, meminta persetujuan dari gadis itu. Mawar yang mendapatkan kode dari diego, hanya mengangguk.


"baiklah tante."Jawab diego.


"Kalau begitu ayo ke ruang makan." Titah sang ibu, mawar dan diego hanya menurut dan kini mereka bertiga berjalan bersama menuju meja makan.

__ADS_1


Diego sudah mengambil salah satu tempat duduk didekat mawar, sedangkan dian berada disebrang mereka berdua. Mawar dengan cekatan mengambilkan nasi untuk sang ibu dan juga diego, hal seperti itu biasa mawar lakukan.


"Ikannya kau pilih sendiri." Mawar memberikan sepiring nasi pada diego, yang diterima lelaki itu dengan senang hati.


"Aku semakin merasa tidak enak." Ucap diego.


"Tidak usah merasa tidak enak, lagi pula kau calon suami anak tante bukan?" Ucapan sang ibu, mawar langsung melotot mendengarnya bagaimana sang ibu bisa mempunyai perspektif seperti itu, apakah perubahan perasaan mawar terlalu kentara, atau memang ibunya sangat peka.


"Tidak, tidak bu aku dan diego hanya berteman." Jawab mawar tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka berdua dan memang kenyataannya seperti itu mawar dan diego hanya berteman.


"Hanya berteman? Ahh ibu kecewa, padahal ini pertama kalinya kau membawa seorang anak lelaki ke rumah." Keluh dian yang di tambah dengan ekspresi sedih pada wajahnya.


"Benarkah tante? Sebelumnya mawar tidak pernah membawa laki-laki kerumah?" Tanya diego penasaraan.


"Ya, ini pertama kalinya dan kau sangat beruntung diego." Jawab sang ibu dengan wajah berbinar.


"Beruntungnya diriku bisa menjadi yang pertama."


Mawar yang mendengar permbicaraan dian dan diego hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dia kesal pada diego kenapa lelaki itu malah menanggapi ucapan dian yang menurutnya tidak penting itu.


"Ayo dimakan." Mawar lagi-lagi berusaha mengalihkan pembicaraan kedua orang itu, dia tak ingin dian terus membicarakan hubungan pertemanannya dengan diego.


Mereka berdua mengangguk, kemudian menyantap makanan yang telah tersedia dalam piring masing-masing. Rasa masakan dian sangatlah nikmat ditambah dengan kehadiran diego yang membuat suasana terasa hangat .


Setelah menyelesaikan mengisi perut mereka, mawar mengantarkan diego ke depan rumah. Lelaki itu bilang dia harus segera pergi karena tiba-tiba ada urusan mendadak yang perlu ia selesaikan.


"Sering-sering main kerumah, jangan kapok. Maaf juga, ibuku berkata hal yang tidak penting." Ucap mawar.


Diego tersenyum, dia tahu kekhawatiran apa yang dirasakan oleh mawar ketika dian berkata hal seperti itu. Padahal diego merasa biasa saja, tidak tersinggung ataupun terhina, malah menurutnya ibu mawar sangatlah baik.


"Tidak apa, ibu mu sangat ramah, terimakasih untuk makan malamnya aku senang bisa berada ditengah-tengah keluarga kalian." Jawab diego.


"Sama-sama"


"Kalau begitu, aku pergi." Diego berjalan menuju mobilnya, masih dengan mawar yang menatapnya dari ambang pintu.


Setelahnya mobil diego melaju cukup kencang meninggalkan pekarangan rumah mawar, mawar yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum, rasanya bahagia sekali.


Mawar masuk kedalam rumahnya,di lihatnya sang yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv. "Ibu setuju jika kau berpacaran dengan diego, dia sangat baik." Sebuah ucapan yang paling mawar tidak ingin didengar terucap dari mulut dian.


"Ibu, aku tegaskan. Aku dengan diego tidak memiliki hubungan apapun, aku dan diego tak akan pernah bisa bersama bu, diego adalag seorang CEO perusahaan terkenal, sedangkan aku? Aku hanya wanita biasa yang tidak punya apa-apa. Jelas derajatku sangat jauh dengan diego." Jelas mawar dengan nada sedih dan wajah murung.


Ada banyak kekecewaan, kesedihan dan rasa tidak percaya diri dalam ucapannya. Mawar meninggalkan sang ibu pergi kedalam kamarnya, setelahnya mawar menghempaskan tubuhnya di atas kasur, dia ingin menangis, tentang semua ini. Dia tahu ada yang berubah dalam hatinya, hanya saja dia berusaha menolaknya.


Dia ingin marah, tapi apa gunanya? Dia bukan siapa-siapa dikehidupan diego, dia hanya gadis biasa yang beruntung bisa masuk kedalam kehidupan diego. Dan mawar yakin tidak ada tujuan lain dari pertemuan mereka, kecuali tentang pekerjaan.

__ADS_1


***


__ADS_2