
Mawar berjalan menuju pintu rumahnya yang masih tertutup rapat. Saat membuka pintu kayu, mawar di sambut dengan ruang tamu, yang begitu sederhana, kursi kayu, lantai kayu dan juga dekorasi klasik yang terpajang dengan sangat tepat, berada di tempat yang menunjukan kelebihan dari rumah mawar.
Di ruang tamu juga, mawar melihat ibunya sedang duduk di sofa panjang, dengan adik mawar yaitu vani yang sedang tertidur pulas di pangkuan ibunya.
"Bu... Kenapa belum tidur?" Tanya mawar pada ibunya sambil ikut duduk disamping ibunya yang terlihat sangat lelah.
"Adikmu.. sangat khawatir padamu... Dari tadi dia terus menunggumu." Ibunya menatap mawar sambil mengelus ngelus kepala vani yang berada diatas pangkuannya.
"Kalau begitu, mawar membawa vani kekamar dulu bu." Ucap mawar sambil menatap adik satu satunya itu, namanya sofia kevani delifa, vani baru berumur 6 dan gadis kecil itu sangat menyayangi mawar melebihi apapun.
"Istirahat saja mungkin hari ini adalah hari yang melelahkan bagimu." Ibu mawar membawa vani menuju kamar, senyum mawar menggantung antara senang dan dan tak senang dengan ibunya karena sangat mengkhawatirkannya.Memang tidak ada yang salah dari sikap ibunya, tapi mawar adalah anak yang mandiri dan tak mau terus menyusahakn ibunya. Setelah itu mawar pergi ke kamarnya.
Ayah mawar sudah meninggal 4 tahun yang lalu akibat kecelakaan kerja, karena tidak ada yang membiayai kebutuhan hidup keluarga mawar,akhirnya ibu mawar bekerja keras banting tulang untuk menafkahi kedua anaknya. Sebenarnya bisa saja ibu mawar menikah lagi dengan orang yang lebih kaya, karena ibu mawar sangatlah cantik. Namun karena sangat sayang pada anaknya dan Alm suaminya, ibu mawar memutuskan untuk meneruskan hidup tanpa sosok suami yang menemaninya.
Karena merasa pengorbanan ibunya sangat besar untuk mawar, mawar pun berusaha untuk bekerja dan membantu ibunya. Dan kini mawar lah yang menjadi tulang punggung keluarga, mejalani kehidupan yang kejam dengan segala rasa kesabaran, karena baginya semangat hidupnya hanya ibu dan adiknya.
...
Pagi ini mawar dan erika tengah berada diruangan bu susi, untuk melihat komentar bu susi tentang wawancara mereka kemarin.
Dengan serius bu susi membaca hasil akhir bahan mentah dari berita yang akan diterbitkan, bu susi menaikkan kacamata bacanya yang sedikit menurun dari tulang hidungnya, meletakan kertas itu diatas mejanya.
"Tidak buruk, hanya saja aku ingin kinerja kalian berdua lebih ditingkatkan, kalian berada di grup teratas, harusnya kalian lebih bisa mendapatkan berita lebih baik dari pada ini." Tukas bu susi yang hanya dibalasi anggukan oleh mawar dan erika.
"Dan saya masih ingin kalian untuk bisa mewawancarai ceo klp grup, tak terkecuali, berusahalah lebih keras lagi." Perintah bu susi, mawar membuang mafas panjang, kenapa masalah tak pernah selesai dengan klp grup, sepenting itukah diego natakusuma? sang ceo yang sangat tekenal itu?
"Baik bu, kami berdua akan berusaha lebih keras lagi." Jawab mawar, walau sesungguhnya dia sudah merasa lelah dengan segala penolakan dari perusahaan klp grup.
"Dan satu lagi, malam ini akan diadakan pesta perayaan ulang tahun direktur herman, diadakan disalah satu bar yang cukup terkenal dikota ini, aku harap kalian berdua datang, karena yang mendapatkan undangan ini hanya grup tertentu." Pinta bu susi, mawar hendak menolak ajakan itu karena sesungguhnya dia tak ingin pergi ketempat seperti itu.
__ADS_1
"Saya ti—"
"Kami berdua akan datang bu, terimakasih kami merasa sangat terhormat" Belum selesai mawar menjawab, ucapannya sudah dipotong oleh erika.
Dan setelahnya erika menarik tangan mawar untuk segera pergi dari ruangan bu susi.
"Kami berdua pamit bu" Erika dengan pada akhirnya terpaksa menarik paksa mawar yang sebenarnya ingin menolak ajakan itu.
"Erika! Aku tak ingin pergi kesana." Protes mawar pada erika yang seenaknya mengambil keputusan tanpa persetujuan darinya.
"Oh ayolah mawar! Jangan kuno! Masuk kedalam bar tidak akan membuatmu mati, lagipula ini kesempatan kita untuk berkumpul bersama dengan atasan mawar." Jelas erika, mawar diam memikirkan apa yang diucapkan oleh erika barusan, tidak ada salahnya memang mencoba.
"Baiklah, hanya kali ini lain kali aku tidak akan mau menuruti apa kemauan mu." Tegas mawar lalu meninggalkan erika yang masih berada diruangan bu susi
...
Jadi mawar memutuskan untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh erika, karena mawar yakin erika pasti tidak akan membuatnya terluka.
Tapi yang membuat mawar terkejut adalah tempat yang mereka berdua datangi bukan sebuah villa atau rumah seperti apa yang mawar bayangkan, melainkan sebuah bar yang ramai dengan orang yang berpakaian sedikit aneh bagi mawar.
"Erika!" Mawar setengah berteriak pada erika karena dentuman suara musik yang begitu menggema.
"Iya?" Erika memberhentikan langkahnya ketika sayup sayup mendengar suara mawar memanggilnya. "Kenapa tempat pestanya ada disini?" Tanya mawar kebingungan, erika hanya terdiam sambil merotasikan bola matanya.
"Memang disini tempatnya, sudahlah ayo!" Erika menarik tangan mawar agar tidak pergi kemanapun, karena sejujurnya dia juga takut dengan mawar yang mungkin ini adalah pertama kalinya mawar datang ke sebuah bar.
Mawar merasa risih karena ada beberapa orang terang terangan menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk mawar artikan, sungguh bulu kuduk mawar berdiri karena melihat suasana bar yang sebelumnya belum pernah dia kunjungi.
Tak lama erika menemukan tempat dimana pesta itu diadakan, disebuah ruangan vvip yang sudah disewa oleh herman untuk merayakan pesta ulang tahunnya.
__ADS_1
"Maaf kami berdua terlambat." Sesal mawar dan erika sambil menunduk pada seluruh karyawan yang hadir, karyawan yang hadir terdiri dari jajaran divisi divisi terpenting diperusahaan news hot corp.
"Tidak apa apa, Ayo duduk Nikmati pestanya dan bersenag senanglah." Jawab pak herman selaku sang pemilik acara, yah beruntungnya mawar memiliki direktur seperti pak herman yang bisa berbaur dengan para bahawannya.
Tak terkecuali dengan bu susi yang sudah menatap jengah kearah mawar dan erika, bagi susi mawar dan erika adalah seorang penggoda yang menyamar menjadi wanita polos, seperti itulah asumsi yang dipikirkan oleh susi pada mereka berdua.
Erika dan mawar mengangguk dan duduk di tempat yang tersedia, dengan sangat gugup mawar terlihat canggung entah bagaimana dia harus memulai pesta ini, sedangkan mawar melihat di sekeliling, teman temannya sedang asik memainkan gelas dan tertawa bahagia, erika juga dia terlihat santai menuangkan segelas vodka dan memberikannya pada mawar.
"Cobalah rasanya sangat enak." Tawar erika sambil memberikan segelas vodka pada mawar.
"Aku tidak mau... rasanya pasti tidak enak, dan itu adalah minuman beralkohol." tolak mawar sambil menggeleng, berkelit mencari alasan agar supaya dia tidak meminum wine yang di berikan oleh erika
"Baiklah kau akan menyesal karena tidak mencoba bagaimana rasanya." Goda erika langsung menenggak segelas vodka yang dia tuangkan.
Mawar terlihat ngilu saat melihat erika mulai berbicara hal aneh dan tak menentu, mawar yakin erika sudah terpengaruh oleh alkohol, erika gila padahal dirinya jelas jelas tahu bahwa toleransinya pada alkohol sangatlah rendah.
Mawar sudah tak tahan dengan segera mencari cara agar bisa pergi dari tempat ini, rasanya dia ingin muntah.
"A—ku ingin pergi ke toilet terlebih dahulu, perutku sakit, sepertinya tamu bulananku datang." Bohong mawar dengan segera bisa meninggalkan tempat ini, bukannya tega pada erika atau tak peduli, mawar tahu disini ada beberapa temannya yang bisa membantu erika, karena ada beberapa dari mereka sama sekali tidak mengkonsumsi alkohol.
Namun dengan keadaan ini membuat mawar tak nyaman dan rasanya benar ingin memuntahkan apa yang ia makan.
Setelah mencari cari toilet, mawar menemukannya dan berjalan pelan menghindari orang orang yang mulai kehilangan kendali akan dirinya, berjalan tanpa arah dengan tidak stabil, menabrak orang orang yang menghalangi jalannya.
"Maaf aku tidak sengaja, maafkan aku." Karena terlalu terburu-buru mawar tak sengaja menabrak seseorang yang jelas dia adalah seorang laki laki, laki laki yang menabrak mawar membantu mawar untuk berdiri, mawar membersihkan bajunya dan berkata.
"Tak apa.. salahku juga, aku tidak memperhatikan jalan." Mawar menjawab dengan ramah, sampai mawar menyadari lelaki yang menabraknya tadi adalah daniel
__ADS_1