
Jika di bandingkan dengan mawar, pasti akan banyak wanita yang lebih pantas bersama dengan diego. Tapi diego lah yang akan menentukan bagaimana jalur kehidupannya, semuanya tergantung pada diego sendiri.
Masih dengan genggaman erat pada tangannya, diego mengajak mawar untuk berjalan masuk kedalam ruangan makan, begitu mereka bertiga memasuki ruangan bernuansa modern minimalis dengan sentuhan banyak kaca itu, mereka langsung disabut oleh meja makan yang sudah dipenuhi oleh makanan lezat, yang dari aromanya saja sudah sangat menggugah selera.
"Aku sudah tak sabar untuk mencicipinya." Ucap diego memuji jeni yang ikut berjalan disampingnya.
"Ayo, cobalah bibi membuatnya dengan bumbu rahasia." Jawab jeni sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda keduanya.
Baik mawar maupun diego tertawa renyah karena melihat wink yang diberikan oleh jeni kepada mereka berdua, sejujurnya hal itu sangat lucu.
Diego dengan cekatan langsung menarikan sebuah kursi untuk diduduki oleh mawar, jika dia buruk dalam mencari pembicaraan setidaknya dia pandai dalam menghargai seorang wanita.
"Silahkan duduk." Perintah diego pada mawar.
Lagi dan lagi mawar blushing dengan perlakuan diego padanya, ah, dia tak tahu bagaimana dengan kondisi pipinya yang sedari tadi terus bersemu merah.
Setelah menduduki kursi yang dipilihkan diego untuknya, kini giliran lelaki itu yang ikut duduk bersebelahan dengan mawar. "Bi, ayo ikut makan malam bersama kami." Tawar diego, pada jeni yang masih sibuk menuangkan minuman kedalam teko.
"Tidak perlu, bibi ada urusan, nikmati saja acara makan malam kalian." Tolak jeni, lalu meletakan sebuah teko kaca berisi jus mangga diatas meja, kemudian pergi meninggalkan ruang makan.
"Ayo mari makan, aku sudah meminta bibi jeni untuk membuatkan Spaghetti tomatoes sauce, juga beef steak, yang aku tahu itu adalah makanan kesukaan mu bukan?" Tanya diego sambil meletakan sepiring spaghetti didepan meja mawar.
"Ah, merepotkan. Ya, spaghetti dan beef steak adalah makanan kesukaan ku, bagaimana kau tahu?" Tanya mawar.
"Aku melihatmu memesan spaghetti saat makan siang waktu itu, aku beranggapan mungkin spaghetti adalah makanan kesukaan mu." Jawab diego yang sudah mengambil makanan lain kedalam piringnya.
Sejujurnya itu adalah sebuah kebohongan, sebenarnya diego bertanya pada erika tentang makanan yang disukai oleh mawar dan ternyata rencananya berjalan lancar, berbohong untuk kebaikan tidak ada salahnya kan?
Mawar yang dijawab seperti itu tak bisa menahan rasa aneh dalam hatinya, merasa bahwa diego memperhatikannya, bahkan untuk makanan kesukaannya saja diego tahu.
Setelahnya mereka berdua sibuk dengan ungkapan pujian didalam hati masing-masing tentang rasa makanan yang tengah mereka cicipi kini. Jeni benar, rasanya sangat nikmat seperti diberi sebuah bumbu rahasia, walau mereka tahu bahwa itu hanya sebuah candaan belaka.
Walau tengah makan, pandangan diego tak bisa lepas dari mawar, yang sangat anggun dan tetap cantik walau tengah makan, sesekali mawar membasahi bibir bawahnya ketika dirasa saus tomat itu tertinggal dibibirnya.
Diego yang memperhatikan gerak-gerik mawar cukup terpesona, terhipnotis hanya karena gerakan bibir mawar yang sangat erotis untuk dipandang, membuat pikiran diego berkelana melayang pada hal yang jauh di bayangkan.
__ADS_1
Diego langsung menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran jahat yang terlintas begitu saja dalam otaknya, dan kembali fokus pada sajian yang ada di hadapannya.
Beberapa menit dihabiskan untuk saling berdiam diri, sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Akhirnya makan malam utama telah selesai, mawar yang sudah menghabiskan sepiring spaghetti juga beaf steak tadi, sementara diego dengan makan malam pilihannya sendiri pun sudah selesai.
Kini mereka berdua tengah bercakap-cakap santai, sebelum menikamati makanan penutup. "Diego, apakah bibi tadi adalah bibi kandungmu?" Tanya mawar sambil mengusap pada bagian bibirnya dengan tisu, membersihkan sisa-sisa saus yang tersisa disana.
"Bukan, bibi jeni adalah pembantu rumahku, tapi aku sudah menganggap bibi jeni seperti ibu kandungku, karena bibi jenilah yang selalu mengurusku." Jawab diego, menatap lekat kedua mata mawar dari dekat.
Mawar mengulum senyum, tak berniat bertanya mengenai kehidupan diego lagi, biarkan itu menjadi privasi seorang diego natakusuma dirinya tak boleh melampaui lebih dari ini.
Karena setelahnya suasana kembali hening, diego memutuskan untuk pergi ke lemari pendingin, mengeluarkan sebuah dessert yang semoga saja mawar menyukainya. Ketika diego menaruh semangkuk dessert itu diatas meja, mawar sudah menatapnya dengan sangat antusias, sepertinya mawar akan menyukai dessertnya.
"Wah, ice cream cake chocolate." Ucap mawar girang.
Diego terkekeh, kemudian mendorong mangkuk yang berukuran sedang itu menuju hadapan mawar. "Makanlah, jika kau memang suka." Titah diego yang membuat mawar melotot, semangkuk dessert ini untuk dirinya?
"Kau tidak mau memakan ini?" Tanya mawar yang masih keheranan.
"Tidak, aku dilarang memakan sesuatu yang manis terlalu berlebihan." Jawab diego beralasan paslu, sebuah kilahan klise yang biasanya lelaki lain lakukan.
Mawar mulai menyuapkan dessert yang penuh dengan cokelat itu kedalam mulutnya, untuk kali ini mawar tak dapat bersikap anggun karena ice crem dan lelehan cokelat yang sudah memenuhi area bibirnya, bahkan hendak menuju bagian hidung, membuat diego yang sedari memperhatikan hanya tertawa dalam hati, dia sangat suka ketika mawar seperti ini, sangat menggemaskan dimatanya.
Diego yang tak tahan melihat betapa imutnya mawar, akhirnga mengambil tisu mendekatakan wajahnya pada mawar lalu mengusap bagian bibir mawar yang berantakan karena cream juga cokelat.
Mawar terkejut, hanya bisa diam, dia tak pernah bertatapan sedekat ini dengan diego bahkan sekarang dia dapat melihat jelas warna bola mata diego, mawar terhipnotis selama beberapa detik karena perlakukan manis diego padanya.
"Pelan-pelan makannya, lihatlah berantakan." Ucap diego masih sibuk membersihkan sisa-sisa di sekitar mulut mawar.
Mawar bahkan merasa jantungnya hampir copot dari tempatnya, begitu mecium wangi green tea yang menyeruak ketika diego berbicara, sangat harum, semakin membuat mawar salah tingkah tak karuan.
Seketika sadar dengan apa yang telah terjadi, mawar segera mengalihkan pandangannya dari diego, mengambil tisu miliknya sendiri untuk kembali membersihkan sisa-sisa makanan di bibirnya tanpa bantuan diego.
Diego hanya berdehem canggung, jujur tadi hanya gerakan reflek karena tak tahan melihat kelucuan seorang mawar dalam hal sederhana seperti itu, tapi nyatanya dia kecanduan menatap manik mata indah nan dalam itu.
"Jika sudah, aku akan mengajak mu untuk berkeliling rumah ini." Ucap diego yang tengah berusaha mengalihkan suasana yang sedikit canggung.
__ADS_1
"Aku sudah selesai." Mawar membuang tisu yang ia gunakan tadi kedalam tempat sampah yang tak jauh dari meja makan.
"Baiklah, ayo."
Diego berjalan mendahului mawar yang mengekori dari belakang, tak ada lagi genggaman tangan seperti tadi, sepertinya diego masih gugup karena kejadian membersihkan 'bibir' dengan tisu.
"Jangan berjalan dibelakang." Diego yang tadi sedang berjalan langsung menghentikan langkahnya, begitu melihat mawar mengekor layaknya seorang pelayan.
Mawar menuruti apa yang dikatakan oleh diego untuk berjalan beriringan dengannya. Berjalan dalam diam, karena sekarang diego berniat membawa mawar ke lantai dua balkon rumahnya, disana adalah spot paling indah pada rumahnya.
Begitu sampai dibalkon lantai 2, diego bersama mawar berdiri disana, mendekat ke arah pembatas besi yang membatasi lantai balkon dengan lantai kosong.
"Aku sangat menyukai tempat ini." Diego membuka suara.
"Indah sekali." Puji mawar kagum dengan apa yang ia lihat, sebuah taman dengan hamparan bunga mawar yang sangat luas, kebetulan sekali hari ini bunga mawar bermekaran, sehingga tercium sangat jelas dari atas balkon wangi bunga mawar yang terbang tertiup angin malam.
"Iya, tempat ini adalah tempat ku untuk menenangkan pikiran dari segala aktivitas ku yang padat, dan saat aku sedang lelah tempat ini lah yang membuatku tenang." Jelas diego, dia menikmati rasa ketenangan dari atas balkon bersama mawar, terutama dengan angin yang semilir seperti ini.
"Tempat yang sangat sempurna." Mawar menatap diego dia memberikan sebuah senyuman yang sangat manis pada diego.
"Dan tempat ini adalah tempat untuk mengukir kisah cinta ku, kau tahu mawar? Akhir-akhir ini ada banyak yang berubah di hatiku.Perasaan ku tidak lagi sama seperti dulu, entah kenapa sepertinya aku sedang jatuh cinta." Jelas diego tak memandang mawar, diego masih fokus pada hamparan bunga dibawah sana.
"Hari-hariku sekarang selalu di buat rindu olehnya, saat tidak bertemu untuk beberapa hari rasanya hidupku hampa, dialah yang membuatku semangat untuk menjalani hidup. Dia juga yang membuat ku tidak nyenyak tidur, dia yang selalu membuatku tidak enak makan." Diego menjelaskan perasaannya saat ini, sebuah rasa sedang jatuh cinta, dan tentang bagaimana hidupnya berubah setelah bertemu gadis ini.
Mawar masih menyimak apa yang dikatakan oleh diego, walau sejujurnya ada sedikit sakit yang ia rasa begitu diego menceritakan perasaannya bahwa dia sedang jatuh cinta.
"Dan gadis yang membuat hidupku berubah sekarang berada di hadapanku, aku ingin mengatakan padanya bahwa aku sudah sangat jatuh cinta padanya, dan aku ingin mengutarakan padanya bahwa aku takut kehilangan dia."
Detik itu mawar tertegun, pandangan diego yang kini berpusat padanya membuat dunianya serasa berhenti.
"Mawar aku menyukai mu sejak pertama kali bertemu dengan mu, Saat melihat sikap dan kebaikanmu aku merasa kau sangat berbeda dengan wanita yang lain.Dan saat itu pula aku sangat penasaran dengan kehidupan mu, aku berusaha mendekati mu, berpura-pura menjadi orang lain agar kau mau menerima kehadiranku. Tapi ternyata takdir sudah memutuskan untuk mempertemukan kita selalu dalam suasana yang terkadang menjengkelkan, semakin menambah kedekatan kita berdua." Diego meraih kedua tangan mawar, digenggamnya tangan putih dan halus itu dengan sangat lembut.
"Aku pikir itu hanya kebetulan tapi ternyata tidak, sampai aku mulai menyadarinya bahwa aku memang benar-benar jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, lalu? Apakah kau mau, membalas perasaan ini? Dan menjadi bagian dari kehidupanku?"
Pengutaraan cinta yang dikatakan oleh diego telah berhasil membuat sesuatu yang selama ini mawar harapkan terwujud, setidaknya cintanya benar-benar tak bertepuk sebelah tangan pada diego.
__ADS_1