
"Tinggal bersama?" Mawar dan daniel bertanya secara serempak, Tidak setuju dengan saran yang di berikan oleh resepsionis.
"Aku tidak setuju!" Mawar menjawab dengan tegas, menatap sang resepsionis dengan tatapan jengah dan kesal, bisa bisanya memberikan saran seperti itu.
"Aku juga, itu adalah hal yang tak pantas!" Daniel mengangguk menambahkan alasan ketidaksetujuan akan saran yang diberikan oleh resepsionis itu.
"Maaf... Tapi saya tidak bisa membantu anda." Sesal resepsionis itu dengan nada serendah-rendahnya, agar mawar dan daniel dapat memaklumi apa yang dia sarankan.
"Sudahlah." Daniel mengela nafas panjang, jika diteruskan masalah ini tidak akan pernah selesai, daniel pun khawatir pada mawar yang sepertinya sudah sangat kelelahan.
"Aku akan mencari hotel lain." Tegas daniel, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku yakin kau juga tidak akan setuju dengan saran resepsionis tadi." Ucap daniel dengan suara parau, berjalan pergi dari meja resepsionis.
"Tunggu!" Panggil mawar yang melihat daniel pergi "Ak-aku setuju!" Mawar berkata dengan sedikit canggung, harapnya daniel tidak menganggap mawar murahan sehingga mau tidur bersama dengan dirinya, namun mawar juga merasa tidak enak hati pada daniel.
Daniel menoleh menatap mawar kebingungan, pasalnya gadis dihadapannya ini baru saja memberhentikan langkahnya.
"Setelah aku pikir pikir, Aku percaya padamu aku tak perlu khawatir tentang apa pun, lagi pula kita tidur dikasur yang berbeda bukan? Jadi aku setuju untuk kita satu kamar bersama." Mawar menjelaskan tentang kenapa dia setuju untuk daniel tinggal bersamanya, agar tidak ada kesalahpahaman diantara daniel dengan mawar.
Daniel mengangguk yakin sambil memberikan sebuah senyuman pada mawar, karena telah sangat yakin untuk memberikan kepercayaan untuknya.
Karena sudah sepakat mereka berdua memesan kamar itu, setelah itu mereka berdua pergi menuju kamar mereka, saat berada didalam lift suasana cukup canggung karena hanya ada mawar dan daniel berdua didalam lift itu.
Daniel berdehem agar atmosfer didalam sini tidak terlalu dingin.
"Terimakasih sudah mempercayaiku." Ucap daniel yang membuat mawar tersenyum tipis pada daniel.
Sesampainya dikamar mawar terkesan karena kamar ini sangat luas, didalam tersedia 2 ranjang yang dapat digunakan oleh mereka berdua.
Mawar merasa sangat gerah karena memang sedari sore dibelum merendam dirinya dalam air.
"Aku akan mandi dulu sebentar." Mawar membuka lemari yang berada dihotel, didalamnya tersedia sebuah piyama tidur untuk digunakan sebagai pengganti bajunya.
Setelah selesai mandi mawar keluar kamar mandi dengan menggunakan piyama itu, bola matanya menemukan daniel yang sedang sibuk seseorang, entahlah siapa mawar tidak ingin mengetahui hal itu.
Mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk mawar masih tak melepaskan pandangannya dari daniel yang memunggungi dirinya.
Tak lama daniel menyelesaikan panggilan telefonnya, lalu menatap mawar yang masih memegang sebuah handuk.
__ADS_1
Mereka berdua hanya saling menatap tak membicarakan apapun, sampai daniel tersadar dan mengakhiri kontak mata mereka.
"Aku akan mandi..." Daniel segera berjalan menuju kamar mandi dengan rasa gugup yang tiba tiba saja menyapa dirinya.
Mawar pura pura tak memperdulikan rasa canggung pada dirinya berusaha terlihat biasa saja, memutuskan untuk berbaring ditempat tidur, jadi posisi tempat tidur mereka bersebelahan hanya saja berbeda ranjang.
Mawar berusaha memejamkan matanya walau sedikit rasa takut masih terpikir didalam otaknya, tapi sekali lagi mawar sudah memberikan kepercayaan pada daniel dan dia yakin daniel tidak akan mengkhianatinya.
***
Keesokan paginya, sinar matahari menyorot wajah mawar yang sedang pulas tertidur, mengingat hal semalam membuatnya kepala mawar terasa pening.
Mawar membangunkan tubuhnya duduk di tempat tidur, sambil melirik ke samping tempat daniel tidur mawar tak menemukan daniel, entah kemana daniel, apakah dia sudah pergi.
Mawar bergegas bangun dari duduknya, segera mencari cari daniel, mungkin dia sedang mandi, namun di kamar mandi tak di temukan daniel, dia sangat khawatir apakah daniel semalam pergi saat mawar tertidur.
Suara dering telefon membuat mawar berlari menuju telefon yang tersedia di hotel tersebut.
"Iya dengan saya sendiri." Jawab mawar dengan wajah yang cukup khawatir, dia takut daniel pergi setelah mandi dan memutuskan untuk pergi malam itu juga.
"Saya mendapatkan pesan dari pak daniel dan meminta untuk menyampaikan pada mba, jadi pak daniel sudah pergi tadi pagi dan juga dia memberitahukan saya untuk memberikan baju yang disiapkan pak daniel untuk mba, nanti pegawai hotel akan mengantarkan pakaian mba." Jelas suara disebrang sana yang mawar ketahui jelas bahwa itu adalah resepsionis hotel ini.
"Baiklah terimakasih, saya akan menunggu." Jawab mawar lalu menutup teleponnya.
Mawar menghembuskan nafas lega yang ia takutkan tak terjadi, karena jika memang benar-benar terjadi mawar akan sangat merasa bersalah pada daniel.
Tak lama lamunan mawar buyar karena bel kamarnya yang berbunyi, mawar dengan segera membuka pintu kamarnya dan melihat seorang petugas membawa sebuah pakaian lengkap yang dibungkus dengan plastik.
Pegawai itu memberikan pakaian tersebut pada mawar, "Terimakasih." Jawab mawar kembali memasuki kamar untuk mencoba pakaian yang diberikan oleh daniel.
Mawar tersenyum setelahnya membuka plastik yang membungkus baju itu, mulut mawar menganga ketika matanya melihat sebuah baju berwarna putih, baju dengan lengan panjang itu semakin dipercantik dengan renda berwarna senada dibagian tangannya.
Mawar juga melihat sebuah rok mini berwarna pink yang berada didalam plastik yang sama, semakin membuat mawar kegirangan.
__ADS_1
Bergegas dengan cepat mawar menuju kamar mandi, menaruh pakaian pemberian daniel diatas tempat tidur.
Setelah selesai dengan kegiatan rutinnya setiap pagi, mawar mencoba baju itu pada tubuhnya dan ternyata hasilnya baju itu sangat pas pada tubuhnya.
Menatap tubuhnya pada pantulan kaca yang tersedia membuat mawar sedikit terheran, karena dirinya sangat berbeda dengan menggunakan baju ini, atau hanya pakaian mawar saja.
Mawar menyisir rambutnya membuka tas miliknya untuk melihat adakah alat make up yang ia bawa, biasanya mawar selalu membawa bedak dan liptint matte didalam tasnya.
Dan benar saja mawar menemukan bedak dan liptint matte miliknya dengan segera mawar memoleskan alat make up sederhana itu pada wajahnya, sejujurnya mawar memang tak suka make up berlebihan, baginya ini sudah dari cukup.
Setelah selesai dengan make up, mawar keluar kamar dengan menggandeng tas tangan miliknya yang berwarna putih, juga sepatu hell's yang ia gunakan semalam kebetulan berwarna putih.
Sepanjang jalan mawar merasa semua orang memperhatikan dirinya, bahkan ada yang terang-terangan mengatakan bahwa mawar adalah seorang model.
Namun mereka salah mawar hanyalah seorang karyawan biasa yang bahkan tak menyadari dengan potensi yang ia milikki sebagai seorang model.
Memang benar mawar memiliki banyak kesempatan untuk menjadi model, karena kaki jenjang dan juga wajah cantik sudah mawar miliki sedari lahir, tak lupa bahwa mawar juga adalah seorang wanita yang cerdas.
Hanya saja mawar tak pernah tertarik dengan itu semua, karena sedari awal dirinya tak ingin memanfaatkan kecantikan dirinya sebagai sebuah pekerjaan.
Mawar pergi dari hotel itu, masih dengan pandangan kagum dan terpesona dari banyak orang entah itu lelaki ataupun perempuan.
Mawar berjalan menuju halte bus yang tidak terlalu jauh dari hotel ini, hari ini adalah hari minggu dan dia tidak bekerja membuat rasa khawatir mawar sedikit berkurang.
sesampainya di halte bus mawar duduk sendirian, wajahnya terlihat sangat cerah saat tersorot sinar mentari pagi sinar di wajahnya seakan menyejukan hati. Memang di lihat dari segalanya mawar sangatlah sempurna hanya saja nasibnya kurang beruntung, hidup nya penuh akan perjuangan menjadi tulang punggung keluarga bukanlah sesuatu hal yang mudah tapi hal itu terus di jalani oleh mawar, karena sebagai kakak tertua cita cita nya adalah membahagiakan ibu dan adiknya.
***
Sementara di rumah mawar, adik mawar yaitu vani sangat sangat marah mengetahui kakanya tidak pulang kerumah vani sangat takut terjadi sesuatu terhadap kakak tersayangnya, ibu mawar sudah menjelaskan segalanya untuk sedikit menenangkan emosi vani yang begitu besar.
Tak lama kemudian mawar datang, dia mengetuk pintu rumahnya, ibunya mengisyaratkan vani untuk membuka pintu dan menyapa kakaknya, vani kemudian tersenyum dan berlari kencang ke arah pintu dan berteriak "Kakak!"
***
__ADS_1