Crazy Ceo: Make Me Happy!

Crazy Ceo: Make Me Happy!
you are?


__ADS_3

Erika merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini, mawar terlalu sibuk dengan daniel sampai lupa bahwa diantara mereka ada erika yang sudah menunjukan raut wajah tidak senang.


"Terimakasih, aku pasti akan sangat merepotkan." Mawar tersenyum kikuk tak tahu apa yang harus ia katakan pada daniel karena melakukan hal baik seperti ini padanya.


"Jika kau bisa membantu, kami sedang ada masalah. Bisa kau membuat kami mewawancarai diego natakusuma ceo klp grup yang keras kepala?" Tanya erika dengan wajah sinis, pertanyaan itu sepertinya di tunjukan untuk mengejek daniel.


"Ceo klp grup?" Tanya daniel dengan sedikit kebingungan, lebih tepatnya wajah bingung yang di buat-buat.


"Ya. Mungkin saja kau tidak tahu siapa dia. Dasar." Erika tertawa sinis merasa senang daniel kebingungan dengan apa yang erika tanyakan.


"Erika, jangan bawa masalah ini dengan orang lain. Kita harus terus berusaha sekertaris juga tengah membantu kita untuk membujuk diego, jika memang tidak berhasil kita terima saja nasib kita." Lirih mawar yang sudah sangat muak dengan lelaki bernama diego natakusuma.


"Maaf, aku tidak bisa membantu kalian." Ucap daniel dengan nada sedikit rendah.


"Tidak perlu meminta maaf, aku dan erika hanya takut terjadi hal buruk dengan karir kami." Mawar tersenyum canggung, merasa tidak enak hati pada daniel yang sampai meminta maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya.


"Tidak apa, Aku paham." Daniel mengerti apa yang dirasakan oleh erika ketika harus kehilangan pekerjaannya.


"Ah, ayo pesan makanan." Mawar berusaha mencairkan suasana agar tidak secanggung ini.


Mereka memesan makanan saat pelayan datang menuju meja mereka, dan kini makanan telah tersaji diatas meja mereka.


"Selamat makan."


Mawar makan seperti biasanya tanpa peduli dengan siapapun, dia mengunyah makanan pelan, pipinya menggembung karena penuhnya mulut oleh daging yang ia pesan.


Daniel yang sedari tadi terus memperhatikan mawar hanya tersenyum tipis, gadis itu memang akan selalu cantik apapun kondisinya. Kecantikan memang sudah melekat natural pada diri mawar.


Mawar mencoba tidak peduli dengan tatapan yang diberikan oleh daniel, walau dirinya tahu bahwa daniel menatap terang-terangan.


Daniel memgambil minuman miliknya meminumnya pelan, membiarkan makanan yang dia kunyah masuk kedalam kerongkongannya dengan lancar. Daniel meletakan gelas minumannya diatas meja, kemudian menatap kedua manik mata mawar.


"Mm, mawar? Bolehkan aku bertanya?" Tanya daniel, dia memberikan sebuah tatapan sangat serius pada mawar.


"Kenapa?" Tanya mawar, menghentikan aktivitasnya makan.


"Nama lengkapmu-maksud ku nama panjang mu." Tanya daniel.


Mawar tersenyum tipis, mengerti dengan pertanyaan yang diberikan oleh daniel. "Nama lengkapku sebenarnya adalah sofia rosalina." Jawab mawar.


Daniel terkejut hingga membuatnya terbatuk pelan. "uhukk!"


"Pelan-pelan." Mawar memberikan minuman milik daniel untuk dia minum, saking terkejutnya daniel sampai tidak bisa menahan diri.


"Namamu sofia rosalina?" Tanya daniel lagi memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya, namaku adalah sofia rosalina. Ayahku memanggil ku dengan sebutan mawar, hingga aku sendiri terbiasa memakai nama itu. Memang ada apa dengan itu?" Jelas mawar, dia juga sedikit bingung kenapa daniel menayakan hal yang sedikit aneh.


"Aku hanya penasaran, tidak mungkin bukan namamu hanya mawar saja?" Daniel tertawa garing, terlihat menyembunyikan sesuatu.


Brakk


Suara gebrakan meja membuat percakapan antara mawar dan daniel berhenti, mawar dan daniel saling bertatap dengan bingung melihat tiba-tiba erika memukul meja dengan cukup keras.


"Apa kalian tidak menganggap keberadaanku?" Tanyanya dengan wajah yang seperti menahan emosi.


Mawar gelagapan, dirinya juga lupa bahwa ada erika disini, karena terlalu asik berbincang dengan daniel.


"Bu-kan seperti itu erika." Ucap mawar dengan terbata, dia tidak ingin erika merasa tidak di anggap disini.


"Ah, aku harus segera pergi. Waktu istirahat ku sebentar lagi habis." Daniel yang sudah membersihkan bibirnya dengan tisu, berpamitan pada mawar dan erika.

__ADS_1


"Tapi, harus secepat itu?" Tanya mawar tampak tak rela dengan kepergian daniel yang terburu-buru.


"Ya, waktu kerjaku sebentar lagi di mulai. Sampai bertemu lain waktu, terimakasih atas makan siangnya." Pamit daniel pada mawar dan erika, mawar hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis yang sangat manis.


"Bagus, pergi sejauh mungkin." Gumam erika setelah diego meninggalkan meja mereka.


"Erika, tidak sopan berkata seperti itu." Omel mawar pada erika, karena berkata dan bertingkah seperti anak kecil.


"Kenapa memangnya? Kau tidak rela jika dia pergi? Huh!" Erika mendengus kesal pada mawar, baginya daniel adalah orang yang paling mengesalkan didunia ini.


"Sudahlah, habiskan makanan mu. Sebentar lagi waktu istirahat kita habis." Perintah mawar tak ingin melanjutkan perdebatan sia-sia ini.


Setelah selesai makan siang, mawar dan erika hendak membayar makanan yang mereka pesan. Saat sampai didepan kasir, mawar bertanya pada seorang pelayan dengan seragam.


"Mba, saya ingin membayar makanan meja nomor 12" Jelas mawar yang sudah mengambil sebuah dompet dari dalam tas jinjing yang dia bawa.


"Sebentar yah." Jawab pelayan itu, lalu membuka sebuah lembaran yang entah itu catatan atau laporan.


"Meja nomor 12 sudah dibayar oleh seseorang atas nama daniel." Ucap pelayan itu membuat erika sedikit terkejut sekaligus kesal.


"Baik mba, terimakasih." Ucap mawar lalu berjalan keluar dari dalam restoran, kembali menuju kantor tempat ia bekerja, di ikuti oleh erika yang berjalan disampingnya.


"Kenapa harus daniel membayar makanan kita, padahal aku dan mawar yang memakannya." Gerutu erika sendiri merasa tidak senang karena perbuatan daniel pada mereka berdua.


"Jangan seperti itu, daniel sudah berniat baik mau membayar makanan kita." Ucap mawar yang kini tengah menatap jalanan yang cukup ramai.


"Aku tidak butuh bantuannya, hanya untuk membayar makanan seperti itupun aku bisa." Bela erika dengan nada yang masih emosi.


Mawar tidak menanggapi ucapan erika, dia hanya menggelengkan kepala tak paham dengan pemikiran erika yang sedikit kekanak-kanakan.


***


Tok tok tok


"Masuk." Suara berat diego bergema di seluruh ruangan kerjanya yang sangat rapih dengan furniture pilihan terbaik.


"Bapak memanggil saya?" Tanya seorang wanita dengan kemeja kerja yang tak lain adalah sekertaris diego yaitu bianca.


Diego memutar kursi kerjanya hingga bertatapan langsung dengan bianca. "Bianca, aku ingin kau menelefon perusahaan HOT NEWS CORP, aku akan menerima undangan wawancara mereka." Jelas diego dengan santai.


Bianca terbelalak kaget, setahunya kemarin-kemarin diego bersikeras untuk menolak undangan wawancara ini. Dia bahkan mengatakan akan melaporkan perusahaan HOT NEWS CORP atas tuduhan pemaksaan, tapi kenapa sekarang diego merubah pikirannya.


"Apa bapak yakin?" Tanya bianca lagi meyakinkan apa yang dibicarakan oleh diego.


"Ya, saya yakin. Saya tunggu mereka disini pukul lima sore dan untukmu jangan dulu pulang." Jelas diego lagi, bianca mengangguk mengerti kemudian izin pamit pada diego untuk melakukan perintahnya.


***


Mawar masih berkutat dengan barang-barangnya sebelum pulang, hari ini tugasnya selesai lebih awal, sehingga dirinya dapat segera pulang.


Saat sedang bersantai dengan menyadarkan kepalanya pada sandaran kursi kerja, mawar di kejutkan dengan dering telefon kabel yang berada dimejanya. Dengan sedikit malas, mawar mengangkat telefon itu berharap ini bukanlah tugas baru yang harus ia kerjakan di penghujung waktu pulangnya.


"Hallo." Sapa mawar dengan suara pelan.


"Hallo, apa benar ini dengan mba sofia rosalina?"


Mawar terkejut karena mendapati suara seorang wanita di ujung sana.


"Ya, dengan saya sendiri." Jawab mawar yang sebelumnya bermalasan kini sudah duduk dengan tegap.


"Saya bianca, sekertaris diego natakusuma. Saya disini ingin menyampaikan pesan dari pak diego, bahwa dirinya bersedia untuk di wawancarai." Jelas bianca, membuat mawar melotot seketika berharap bahwa ini bukan mimpi.

__ADS_1


"Benarkah?! Kapan?" Tanya mawar kegirangan.


"Hari ini, pukul lima sore. Saya menunggu anda di perusahaan kami." ucap bianca lagi.


"Baik saya akan kesana, Terimaksih." Ucap mawar setelahnya menutup telefon. Dia harus memberitahukan berita bahagia ini pada erika.


Baru saja mawar ingin memberitahu erika, ternyata sedari tadi erika sudah memperhatikan percakapan antara mawar dan erika, walau belum mengetahui secara detail apa yang di bicarakan.


"Diego natakusuma menerima wawancara kita!!" Pekik mawar girang.


Erika yang mendengar penjelasan itu menatap tak percaya pada mawar.


"Kau tidak berbohong bukan?" Tanya erika lagi masih tak percaya dengan ucapan mawar.


"Serius." Jawab mawar.


Erika langsung memekik kegirangan, tak menyangka dia akan mendapatkan berita baik ini.


"Diego ingin kita wawancarai sore ini di perusahaannya, kita harus bersiap-siap"


***


Mawar dan erika menatap kagum bangunan yang kini berdiri kokoh do hadapan mereka, gedung dengan nuansa modern iti terlihat begitu gagah dari dekat. Bangunannya bahkan 5 kali lebih besar dari gedung kantor mereka.


Mawar dan erika melangkahkan kakinya, memasuki gedung itu saat pertama masuk mereka berdua di sambut oleh seorang resepsionis dan juga ruangan lobi yang sangat luas.


Mereka berdua menganga tak percaya, pantas saja KLP GRUP di sebut-sebut sebagai perusahaan yang cukup sukses di usia perusahan mereka yang masih muda.


"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis itu dengan senyuman yang ramah.


"Saya ingin bertemu dengan pak diego natakusuma." Jawab mawar.


Resepsionis itu mengangguk, lalu melihat buku catatan tamu yang memiliki janji dengan diego.


"Mba sofia rosalina dan stephanie erika?" Tanya resepsionis itu.


Mawar mengangguk meng-iyakan pertanyaan resepsionis itu. "Kalian sudah di tunggu oleh pak diego, silahkan duduk terlebih dahulu saya akan menelfon sekertaris pak diego." Jelas resepsionis itu, mawar dan erika mengangguk lalu duduk di sofa yang di sediakan.


Tak lama, seorang wanita dengan pakaian kerja datang menghampiri mawar dan erika. "Mba, sofia rosalina dan stephanie erika?" Ucap wanita itu.


Mawar dengan segera berdiri dari duduknya. "Dengan saya sendiri." Jawab mawar pelan.


Perempuan itu mengangguk paham, "Saya sekertaris diego, nama saya bianca. Pak diego sudah menunggu kalian. Mari ikut saya." Perintah bianca, lalu berjalan mendahului mawar dan erika.


Mawar dan erika mengikuti langkah bianca dari belakang, tak banyak berbicara karena mawar tidak ingin terlalu lancang saat menjadi tamu.


Mereka bertiga menaiki lift yang membawa mereka pada lantai teratas, mawar dan erika tidak menemukan aktivitas yang biasanya terjadi di perusahaan lain. Mungkin para karyawan telah pulang.


Saat lift berhenti, mereka bertiga keluar dari dalam lift. Pemandangan pertama yang di lihat oleh mawar adalah sebuah lorong panjang yang di setiap dindingnya di penuhi oleh berbagai macam piagam.


"Kita sudah sampai, kalian bisa masuk. Pak diego ada didalam." Bianca berdiri disamping sebuh pintu bernuansa klasik.


Bianca membukakan pintu kayu itu, mempersilakan mawar dan erika memasuki ruangan itu. Mawar tersenyum tipis lalu masuk kedalam ruangan di ikuti oleh erika di belakangnya.


Mawar hanya melihat sebuah kursi kerja yang di biarkan membelakangi tubuhnya, sementara sisanya tidak terlihat tanda-tanda adanya manusia disini selain mereka berdua.


"Kalian berdua sudah datang?" Kursi yang sebelumnya membelakangi tubuh mawar berputar hingga menampakan sosok yang tak asing untuk mawar dan erika.


Dan hal itu sukes membuat mawar dan erika terkejut setengah mati, bahkan erika hampir berteriak karena tak menyangka dengan apa yang dia lihat sekarang.


***

__ADS_1


__ADS_2