
"Hei, ada apa denganmu?" Tanya Hoseok.
"Aniya" ucap Yoon-gi datar.
"Ehh, bukankah itu karyawan yang menabrakku tadi?? Dia disini juga dan apakah pria itu kekasihnya?? Tunggu, bukankah itu manager Jungkook?? Aih sayang sekali ternyata kekasihnya adalah manager ya" ucap Hoseok.
"Diamlah" ucap Yoon-gi kesal.
Hoseok yang mengikuti arah tatapan Yoon-gi menyadari bahwa Yoon-gi sedang menatap Ana dan Jungkook.
"Apa kau mengenal karyawan itu? Tatapanmu itu tampak berbeda Hyung" Tanya Hoseok.
"Aku tidak mengenalnya, apa salah jika aku menatapnya?" Tanya Yoon-gi tatapan datar.
"Tidak juga" ucap Hoseok.
Beberapa menit saat makanan yang dipesan datang Yoon-gi memakannya namun tatapannya masih tertuju pada Ana.
•Tunggu jika Sampai dirumah, kau akan mendapat hukumanku sendiri• batin Yoon-gi menggebrak meja.
"Omoo" ucap Hoseok yang terkejut karena Yoon-gi menggebrak meja.
"Pffftt, ada apa ini??" semburan dari Mulu Hoseok yang tersedak dengan minumannya.
"Ayo pergi" ucap Yoon-gi tanpa memperdulikan Hoseok dan berlalu pergi.
"Ada apa dengannya" ucap Hoseok yang langsung menyusul Yoon-gi.
Sesampainya di kantor Ana dan Jungkook sudah berada di kantor dan mengobrol di loby kantor. Lagi-lagi Yoon-gi melihatnya dan mengepalkan kedua tangannya.
Yoon-gi berjalan lurus tanpa melihat kearah Ana dan Jungkook.
"Selamat siang Presdir" sapa Ana dan Jungkook sambil membungkuk.
Yoon-gi mengabaikan mereka dan terus berjalan.
•Apa dia marah?• batin Ana.
"Selamat siang Presdir Hoseok" sapa Jungkook.
"Ahh, iyaa siang juga buat kalian" ucap Hoseok tersenyum.
"Kau bukankah yang tadi pagi?" Ucap Hoseok menunjuk Ana.
"Nee Tuan" ucap Ana.
"Ahh baiklah, lain kali kita akan mengobrol aku pergi dulu sampai jumpa" ucap Hoseok tersenyum.
"Nee Tuan" ucap Ana dan Jungkook bersamaan.
****
Sore harinya pukul 18:00, saatnya jam pulang kantor. Ana membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang.
Saat berjalan menuju koridor menuju loby Kantor Ana melihat Yoon-gi dan Dae Hyun berjalan cepat menuju loby. Yoon-gi hanya melirik dengan lirikkan tajamnya menatap Ana.
Ana hanya bisa tertunduk saat melihat Yoon-gi menatapnya. Tiba-tiba Yoon-gi menghentikan langkahnya saat Taehyung menyapa Ana dan menawarkan untuk pulang bersama.
"Ah manager Taehyung" ucap Ana terkejut saat Taehyung menepuk bahunya.
"Kau kenapa?" Tanya Taehyung.
"A..aku masih menunggu sopirku, dia bilang mobilnya mogok dan harus dibawa kebengkel" ucap Ana.
"Kebetulan aku sendiri, aku bisa mengantarmu" ucap Taehyung.
"A..aku tidak mau merepotkan Anda" ucap Ana melirik kearah Yoon-gi yang memperhatikan dari kejauhan.
"Tidak masalah kau tidak merepotkan aku" ucap Taehyung.
"Ini sudah malam akan sulit untuk mencari taksi dimalam hari begini" ucap Taehyung.
"Ba..baiklah" ucap Ana mengikuti Taehyung.
Yoon-gi masih memperhatikannya dari kejauhan dan berlalu. Bisa dilihat dari wajah Yoon-gi dia tampak kesal dan marah.
"Jalankan mobilnya dan cepat" perintah Yoon-gi kesal.
"Baik" ucap sopir.
Selama diperjalanan Yoon-gi hanya menggenggam erat tangannya dan mengingat kembali kejadian dikantor tadi.
Sesampainya dirumah Yoon-gi membanting pintu dan langsung menyuruh seluruh pelayan masuk ke kamar masing-masing dan menghentikan semua pekerjaan rumah malam itu.
Emosinya memuncak dan terduduk di ruang tamu untuk menunggu Ana pulang.
Pukul 19:30 malam Ana belum sampai dirumah dan menambah amarah Yoon-gi yang semakin emosi.
__ADS_1
"Ckk, dimana dia!!" Ucap Yoon-gi membanting gelas yang dia pegang.
"Tuan muda, Nyonya muda telah kembali" ucap Dae Hyun.
Mendengar hal itu Yoon-gi langsung berbalik dan menatap Ana tajam. Ana hanya bisa tertunduk dan tidak berani menatap wajah Yoon-gi secara langsung.
Plaaakk!!
Satu tamparan mendarat dipipi mulus Ana.
"Berani sekali!!" Ucap Yoon-gi.
"Berani sekali kau mendekati pria lain saat dikantor!!!" Bentak Yoon-gi menggema di ruangan.
"Ka...kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak mengakui pernikahan ini saat dikantor"
Plaaakk!!!
Satu tamparan lagi mendarat tepat dipipi kiri Ana.
"Aku menyuruhmu seperti itu bukan berarti kau bisa seenaknya mendekati Taehyung dan Jungkook" ucap Yoon-gi menarik tangan Ana kuat.
"Kenapa?? Kenapa tidak membantah lagi??" Ucap Yoon-gi menarik Ana sangat dekat dengannya.
Ana hanya terdiam dan menahan tangisnya matanya berkaca-kaca seakan tidak bisa membendung rasa sakitnya.
"Kenapa tidak menjawab? Hmm? Apa kau mendadak bisu?" Ucap Yoon-gi menarik dagu Ana kasar.
"Tolong lepaskan, kau menyakitiku" ucap Ana.
"Siapa suamimu!!" Ucap Yoon-gi menekan kata suamimu.
"K..kau.." ucap Ana meringis kesakitan.
"Apa kau merasa.. kau sudah menjadi istri yang baik.. begitukah??" Ucap Yoon-gi kesal.
"A..aniya.. oppa.. tolong lepaskan.. sakit!!" Ucap Ana menangis.
"Nyonya Muda Min Ana, Tolong lakukan tugasmu dengan baik dan perlu kau tau.. kau istriku dan jangan berani mendekati pria lain.. jika aku melihatmu bersama mereka.. aku bisa saja memecat mereka dan menghukummu... Kau mengerti!!!" Ucap Yoon-gi menepis tubuh Ana dan terjatuh di lantai dan berlalu meninggalkan Ana.
"Hikss...hikss.." Ana hanya terdiam dan menangis sendu.
"Nyonya? Mari saya bantu" ucap Dae Hyun.
"Pergilah!! Aku tidak butuh apapun" ucap Ana menangkup wajahnya.
Hari semakin larut jam menunjukkan pukul 10:00 malam, Ana masih tidak bergeming dari tempat duduknya dan melamun menatap pot bunga disamping sofa.
Dae Hyun yang sedari tadi mencoba untuk membujuk Ana tapi tidak dihiraukan sedikitpun.
Ahjuma tertua sekaligus kepala pelayan yang selalu membujuk Ana juga tidak dihiraukan. Sampai akhirnya Yoon-gi keluar dari ruang kerjanya dan melihat Ana yang masih terduduk dilantai.
Yoon-gi yang melihat itu semua mengerutkan dahinya dan berjalan menghampiri Ana.
Pipi Ana masih membekas tamparan dari Yoon-gi kulit putihnya menampakkan bekas kemerahan yang sangat nampak.
Dae Hyun dan para pelayan yang menyadari keberadaan Yoon-gi hanya menunduk.
"Ada apa?" Ucap Yoon-gi.
"Tuan muda, kami sudah berusaha membujuk Nyonya u tuk kembali dan beristirahat di kamar. Tapi nyonya sama sekali tidak menghiraukan kami" jelas Dae Hyun.
Terlihat jelas diwajah yoongi bahwa ia masih sangat marah, tapi jika terjadi esuatu yang mengganggu kesehatan Ana maka, ini akan membuat eommanya marah.
Yoong berjalan kearah Ana dengan cepat mengendong Ana dan membawanya kekamar.
Ana yang kaget spontan mengalungkan tangannya dileher Yoon-gi.
"Apa kau sudah gila? Hmm?" Ucap Yoon-gi tatapan dingin tanpa menoleh kearah Ana yang digendongnya.
"Sejak pukul 19:00 sampai pukul 10:00 kau masih terduduk disitu, apa kau tidak memikirkan kesehatanmu?? Gadis bodoh" ucap Yoon-gi kesal.
Ana hanya terdiam menatap wajah Yoon-gi yang sedang memarahinya dengan tatapan kosong. Tanpa sadar air matanya menetes perlahan membasahi pipinya.
"Aku sudah pernah bilang jangan pernah menangis dihadapanku Nyonya Min Ana" ucap Yoon-gi menaruh kasar tubuh Ana dipinggir ranjang.
"Apa pedulimu?" Ucap Ana yang membuat langkah Yoon-gi terhenti.
"Kau melarangku untuk mengakui pernikahan ini, aku mencintaimu tapi kau tidak mencintaiku, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik tapi kau tidak pernah menatapku sedikitpun" ucap Ana dengan tatapan kosong diiringi air matanya yang membasahi pipinya.
"Aku tidak pernah bahagia semenjak so Eun hadir sebagai anak kandung dari keluarga Kim, sedangkan aku hanya purti angkat mereka. Aku pikir setelah menikah kehidupanku akan menjadi lebih baik, tapi tidak seorang yang mengerti aku selain ibumu" ucap Ana fake smile dan meneteskan air matanya.
"Iya, aku memang bukan istri yang baik untukmu. Tapi ayo kita berjanji" ucap Ana menatap Yoon-gi sendu.
"Carilah wanitamu dan kenalkan padaku, aku akan yakinkan pada eomma dia yang terbaik untukmu dan membuat eomma membenciku. Setelah itu kau bisa menikahi ya dan aku akan pergi dari kehidupanmu" ucap Ana.
Yoon-gi yang mendengar ucapan Ana perlahan berjalan mendekati Ana. Dan langsung menarik Ana dalam pelukannya, seketika tangisnya pecah dan membasahi dada Yoon-gi.
__ADS_1
"Gadis bodoh! Jangan bicara lagi!! Aku memang tidak mencintai mu tapi kau tetap istriku" ucap Yoon-gi memeluk erat tubuh Ana.
"Saranghae Oppa!! Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri" ucap Ana menangis pecah didada Yoon-gi.
"Aku bilang jangan bicara lagi" ucap Yoon-gi memeluk tubuh kecil Ana.
Yoon-gi menggendong Ana dan masih dalam posisi Ana menenggelamkan wajahnya didada bidang Yoon-gi dan membawanya kekamar mandi.
Yoon-gi meletakkan tubuh Ana perlahan dibathtub. Dan menyalakan shower air hangat.
"Mandi dan bersihkan dirimu, aku akan membantumu mandi" ucap Yoon-gi membuka kemejanya.
Ana hanya terdiam melepas satu persatu kancing bajunya.dan menuangkan sabun dan membuat busa dibathtub.
Yoon-gi ikut masuk dan berendam bersama. Hari semakin larut tanpa disadari Ana tertidur dengan mata yang sembab.
Yoon-gi yang melihat Ana tertidur langsung membawanya ke kamar dan memakaikan piyama Ana. Sedikit mengurangi suhu AC karena tubuh Ana sangat dingin. Yoon-gi menatap wajah Ana yang tertidur dengan mata yang sembab.
"Mianhe, aku tidak bisa mencintaimu An, kau memang istriku tapi hatiku bukan untukmu. Mianhe" ucap Yoon-gi mengecup kening Ana dan berbaring membelakangi Ana.
Ana yang berpura-pura tertidur mendengar ucapan Yoon-gi saat itu dan spontan hatinya tertusuk ribuan kali lipat dari sebelumnya. Saat mendengar Yoon-gi mengatakan bahwa hatinya bukan untuknya. Ntah berapa anak panah yang tidak terlihat telah menusuk hatinya.
Ana hanya bisa menangis dalam diam dan menutupi wajahnya dengan bantal agar tangisnya tidak didengar oleh Yoon-gi. Semakin Ana mencintai Yoon-gi semakin bertambah pula rasa sakit yang Ana dapatkan.
Lelah menangis Ana pun keluar kamar menuju dapur dan mengambil es untuk mengompres matanya. Setiap kali air matanya akan menetes Ana selalu menguatkan dirinya sendiri bahwa semua penderitaan ini akan berakhir.
Jam menunjukan pukul 01:00 malam Ana cukup lama menangis, jika Tidak mengingat pergi kekantor mungkin Ana masih menangis saat ini.
Hingga pukul 01:35 ana mengompres matanya dan kembali kekamar matanya sembabnya sudah berkurang meksipun masih terlihat sembab.
Tanpa disadari Yoon-gi berdiri diambang pintu dapur dan memperhatikan Ana.
"Sedang apa?" Ucap Yoon-gi yang membuat Ana sangat kaget.
Ana hanya terdiam dan berjalan melewati Yoon-gi tanpa menghiraukan Yoon-gi.
"Aku bertanya padamu Ana!!" Ucap Yoon-gi.
Ana menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yoon-gi.
"Aku mengompres mataku dengan es batu" ucap Ana senyum tipis pada Yoon-gi.
Yoon-gi terdiam dan melihat Ana berjalan lemah menuju kamarnya.
Keesokan harinya pukul 05:45 Ana terbangun dan mengompres matanya yang masih terlihat sedikit sembab.
Beberapa pelayan sudah berada didapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Nyonya?" Panggil ahjuma kepala pelayan.
"Nee?" Ucap Ana berbalik dengan memegang kompres dimatanya.
"Apa anda baik-baik saja?" Tanya ahjuma khwatir.
"Nee, aku baik-baik saja" ucap Ana tersenyum.
Dengan dress hitam putih dengan sepatu berhak tinggi rambut yang terurai bergelombang membuat Ana terlihat sangat cantik meskipun terlihat sedikit sembab.
Sarapan pagi itu tanpa pembicaraan apapun antara Yoon-gi dan Ana. Merekapun ke kantor seperti biasanya.
Sesampainya dikantor, Ana langsung menuju meja kerjanya dan memulai pekerjaannya.
Saat itu akan diadakan rapat penting bersama beberapa klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan Yoon-gi.
"Selamat pagi Presdir" ucap para karyawan yang melihat Yoon-gi memasuki loby.
Meskipun tidak ada jawaban dari Yoon-gi semua karyawan wajib memberi salam ketika bertemu Yoon-gi.
"Dae Hyun, siapkan proposal kerja sama untuk rapat kali ini" ucap Yoon-gi dingin.
"Baik" ucap Dae Hyun.
Bertepatan dengan itu seorang pria tampan dan diikuti oleh dua pengawalnya memasuki loby perusahaan dan menuju keruangan Yoon-gi.
Dan lagi-lagi Ana menabrak seorang tamu besar yang akan bekerja sama dengan perusahaan ini.
Brukk!!
Seluruh dokumen yang Ana bawa bertebaran dan berserakan. Seluruh karyawan membulatkan mata dengan kerjadian itu dan tidak berani untuk membantu Ana.
"Dia pasti Akan dipecat" ucap para karyawan berbisik-bisik.
"Ahh, Mianhe Tuan aku sedang terburu-buru" ucap Ana membungkuk lalu membereskan dokumen yang berserakan.
"Fishal, bantu dia" ucap pria itu membuat gerakan tangan Ana terhenti seketika.
•Suara ini...•Batin Ana yang langsung mendongak keatas dan melihat siapa Pemiliki suara tersebut.
__ADS_1
Bersamaan dengan pria itu juga sedang melihat kearah Ana kini mereka bertatapan dan keduanya saling membulatkan mata.