
Pagi harinya, pukul 06:30 pagi Ana terbangun dan melihat Yoon-gi masih tertidur.
Hari ini adalah saatnya Ana ke kantor karena hanya 2 hari diberi cuti, melihat Yoon-gi tertidur begitu pulas. Ana segera bangkit dan menuju kamar mandi.
15 menit kemudian Ana keluar dari kamar mandi dan bersiap memakai pakaian kantornya. Sebelum membangunkan Yoon-gi Ana sudah menyiapkan pakaian Yoon-gi.
Dasi, sepatu, pin bunga mawar, dan tas kerjanya sudah disiapkan bahkan Ana menyemir sepatu Yoon-gi.
Setelah itu Ana dengan perlahan duduk disamping Yoon-gi, Wajah putih Yoon-gi yang masih terlelap bagaikan pemandangan yang sangat indah bagi Ana.
"Oppa... Kau tau... Betapa bahagianya diriku saat melihatmu ketika aku membuka mata Dipagi hari... Benar-benar sangat penting bagiku melihat wajahmu Dipagi hari... Semangatku bertambah meskipun aku tau kau tidak mencintaiku" ucap Ana dengan senyuman tipis sebelum membangunkan Yoon-gi.
Betapa terkejutnya Ana ketika Yoon-gi secara tiba-tiba membuka lebar matanya dan langsung menatap Ana.
"Op..oppa.." ucap Ana terkejut.
"Apa yang barusan kau katakan??" Ucap Yoon-gi masih menatap Ana.
"A..aniya oppa.. a..aku hanya ingin membangunkanmu saja" ucap Ana gugup.
"Tidak perlu berbohong, aku mendengar semua yang kau katakan" ucap Yoon-gi bangun dan menyibak selimutnya.
"Menyingkirlah aku mau mandi" ucap Yoon-gi menatap Ana dingin.
"N...nee Oppa" ucap Ana langsung berdiri.
Yoon-gi berjalan tanpa menghiraukan Ana dan langsung menyambar handuknya.
•Begitu tidak pentingkah diriku dimatamu??• batin Ana menahan tangisnya.
15 menit berlalu Yoon-gi keluar dari kamar mandi dan Ana masih setia berdiri menunggu Yoon-gi di luar kamar mandi.
"Oppa?? Aku sudah menyiapkan pakaianmu" ucap Ana senyum.
Yoon-gi tidak menghiraukan Ana dan berjalan menuju lemari dan mengambil pakaiannya dan memakainya. Ana hanya terdiam membeku saat Yoon-gi memakai pakaian yang diambilnya dari lemari.
Memakai dasi dan pin bunga mawar yang diambil dari meja kaca dan sepatu yang diambil dari lemari sepatu. Pakaian yang Ana siapkan seakan percuma.
Setelah memakai pakaian dan sudah rapi Yoon-gi keluar kamar tanpa melirik Ana sedikitpun. Rasa sakit hati dan kekecewaan menyelimuti diri Ana, hatinya membeku saat melihat Yoon-gi mengabaikannya begitu saja.
Baamm!!!
Yoon-gi membanting pintu dan meninggalkan Ana dikamar. Hati Ana membeku Ana hanya terdiam dan tidak bisa berkata apapun air matanya mengalir deras menyapu bersih make up yang dipakainya.
Pedang bermata dua yang diberikan Yoon-gi malah terus menusuk hati dan batinnya. Sesak, sakit dan terluka itu yang Ana rasakan saat ini.
10 menit berlalu Ana masih dikamar dan memperbaiki make up-nya dan melihat pantulan dirinya dicermin.
Tok
Tok
Tok
"Nyonya muda??" Panggil Ahjuma dari luar kamar.
"Aku akan keluar sebentar lagi" ucap Ana.
"Baik" ucap Ahjuma.
Pukul 06:45 Ana masih dikamar memakai sepatunya dan menaruh kembali pakaian Yoon-gi ke lemari.
Brakk!!!
Yoon-gi membuka dan membanting pintu dengan keras. Berjalan dengan kesal menghampiri Ana yang masih menggantung pakaiannya dilemari.
"Oppa??" Ucap Ana terkejut saat mendengar Yoon-gi membuka pintu.
Plakkk!!!
Satu tamparan mendarat tepat dipipi kanan Ana.
"Oppa... Kau.." ucap Ana memegangi pipinya.
"Kau lebih dulu bersiap daripada aku dan kau belum keluar dari kamar sejak tadi!!" Bentak Yoon-gi.
"Mianhe Oppa, aku masih menggantung pakaian mu" ucap Ana tertunduk.
"Begitu lama kah?? Hmm??" Ucap Yoon-gi kesal.
"Kau membuatku menunggumu!!!" Sambung Yoon-gi kesal.
__ADS_1
Ana terdiam dan air matanya kembali mengalir, apa yang bisa Ana lakukan selain menangis?? Semua wanita yang sudah menikah menginginkan kehidupan yang bahagia bersama suaminya. Dicintai oleh suaminya dan saling berbagi suka dan duka.
Tapi hal yang dirasakan Ana sangatlah berbanding terbalik dengan kehidupan sepasang kekasih lainnya.
"Keluar dan segera ke mobilmu!!" Bentak Yoon-gi.
"Dan bukankah aku sudah pernah bilang padamu!! Jangan pernah menangis dihadapanku?!" Ucap Yoon-gi menarik lengan Ana.
"Sa..sakit.." rintih Ana.
"Aku bisa lebih kasar padamu jika kau tidak menurut padaku!!" Ucap Yoon-gi.
"Apa selama ini aku kurang menurut padamu, apa salahku?? Aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Aku mengikuti semua kemauan mu?? Apa aku kurang menurut??" Ucap Ana pelan dengan suara seraknya menahan tangisnya.
Yoon-gi terdiam dan melepaskan tangannya dan meninggalkan Ana.
"Keluar dan segera ke kantor!!" Ucap Yoon-gi tanpa melihat Ana.
"Hiks..hiks.." Ana hanya terdiam dan masih menangis.
****
Perusahaan Min,
Ana terdiam dan melamun sambil memainkan bolpoinnya dan menatap layar monitor.
"Ana?" Panggil seseorang memecah lamunan Ana.
"Ahh, manager Taehyung... Maaf selamat pagi" ucap Ana membungkuk.
"Ahh nee selamat pagi, ada apa denganmu?" Tanya Taehyung.
"Aku.. aku baik-baik saja, mungkin kurang tidur saja" ucap Ana.
"Dua hari ini kau tidak masuk dan Presdir berkata kau izin padanya?" Tanya Taehyung.
"Itu.. benar.. aku tidak enak badan" ucap Ana.
"Kau sedekat itu dengan Presdir?" Tanya Taehyung.
"Ahh... Tidak juga.. "ucap Ana tersenyum.
"Ahh baiklah lupakan saja, nanti makan siang aku dan Jungkook akan makan bersama.. apa kau mau ikut?" Tanya Taehyung.
"Baiklah, tolong selesaikan proposal ini aku ada sedikit urusan. Aku sudah menyuruh sekertaris Tya tapi dia masih menulis proposal untuk siang ini" ucap Taehyung menyodorkan proposal.
"Baik" ucap Ana menerima proposal.
"Dan selesaikan sebelum jam 9 karena ini akan di gunakan untuk rapat bersama Presdir Park, dan nanti jika sudah selesai teliti dengan baik dan antarkan langsung keruangan rapat" ucap Taehyung.
Deg,
•Presdir Park?? Apakah itu Jimin??• batin Ana dan jantungnya berdegup kencang.
"Ana??" Ucap Taehyung melambaikan tangan didepan wajah Ana.
"Ahh nee.. nee aku akan mengantarnya" ucap Ana.
"Baiklah, aku ke ruangan ku dulu" ucap Taehyung berlalu meninggalkan Ana.
•Presdir park?? Itu artinya Jimin... akan datang kemari.. dan jika dia melihatku mengantarkan dokumen ini maka... bencana besar Akan datang!! Yoon-gi dan Jimin bagaimana jika mereka...• Batin Ana jantungnya tidak berhenti berdegup dan terus mencemaskan hal itu.
Pukul 08:45,
"Proposal ini belum selesai dan sudah hampir jam 9 ya Tuhan bantu aku" ucap Ana sambil mengetik cepat.
Ting, pintu lift terbuka menampakkan pria berbadan tinggi dan kekar keluar bersama dengan 2 pengawalnya.
Mata Ana tertuju pada pria tersebut dan benar saja, apa yang di khawatir kan malah terjadi.
Sebelum Ana mengantarkan proposal itu keruang rapat Jimin sudah sampai diperusahaan terlebih dahulu. Ana tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Jimin melihatnya mengantarkan proposal itu ke ruang rapat.
•Apa yang harus aku lakukan??• batin Ana jantungnya semakin bergedup kencang saat melihat Jimin melirik kearahnya.
•Ya tuhan, tatapan itu...• batin Ana yang hanya bisa menunduk.
****
Jimin POV,
Ana?? Bagaimanapun juga jika aku tidak bisa memiliki dirimu maka orang lain juga tidak boleh memiliki dirimu.
__ADS_1
Siapapun suamimu akan aku cari hingga kau kembali padaku, bagaimana bisa kau menghianatiku.. Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Akan aku pastikan suamimu akan menyesal telah merebutmu dariku.
Kau tidak bisa memutuskan hubungan ini secara sepihak, tidak akan pernah bisa. Kau berjanji akan memberikanku segalanya termasuk dirimu tapi kenapa saat aku pergi sebentar saja kau malah menghianatiku.
Tidak Ana tidakk!! Tidak akan aku biarkan itu semua terjadi. Kau adalah milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku. Aku akan merebut mu kembali dan akan aku pastikan siapapun suamimu akan aku buang jauh dari negara ini.
Kita sudah berjanji untuk hidup dan bahagia bersama tapi kau membalas semua itu dengan menghianatiku dan menikah dengan pria lain.
Janji itu, tidak bisa kau ingkari seenaknya Ana. Tidak akan aku biarkan kau bahagia bersama suamimu.
Jimin POV end,
****
Ruang rapat,
Tok
Tok
Tok
Greeppp,
Sekertaris Tya membuka pintu ruang rapat.
"Presdir?? Presdir Park telah tiba" ucap sekertaris Tya.
"Suruh langsung masuk saja, dan mana proposalnya?" Tanya Yoon-gi.
"Itu.. Presdir, salah satu karyawan masih mengetiknya" ucap sekertaris Tya.
"Cepat bawakan proposal itu kemari, bukankah biasanya kau yang membuatnya?? Kenapa kau malah menyuruh karyawan yang menyelesaikannya??" Ucap Yoon-gi agak kesal.
"Maaf Presdir, kemarin aku tidak masuk kantor dan manager Taehyung yang mengerjakannya tadi manager Taehyung ada hal penting dan aku masih menyelesaikan proposal untuk pertemuan nanti siang jadi manager Taehyung menyuruh Ana menyelesaikan nya" jelas sekertaris Tya.
"Ana?? Karyawan baru itu??" Tanya Yoon-gi.
"Benar Presdir" ucap sekertaris Tya.
"Baiklah, suruh Presdir Park langsung masuk" perintah Yoon-gi.
"Baik" ucap sekertaris Tya.
"Silahkan masuk Tuan" ucap sekertaris Tya mempersilahkan Jimin untuk masuk.
°Luna?? Tolong suruh Ana segera bawakan proposal ya keruang rapat° perintah Yoon-gi melalui telefon.
°Baik presdir° Ucap Luna.
•Ana?? Apakah yang dia maksud itu Ana??• batin Jimin yang baru tiba.
"Silahkan duduk Presdir" ucap Yoon-gi.
****
Back to Ana,
"Ana?? Presdir menyuruhmu segera antarkan proposal keruang rapat" ucap Luna.
"Ahh,, iya iya akan segera aku antarkan" ucap Ana berdiri dan terburu-buru.
•Semoga belum terlambat• Batin Ana sedikit berlari kecil.
Sesampainya diruang rapat Ana langsung mengetuk pintu dan masuk.
Tok
Tok
"Masuk" ucap Yoon-gi.
"Maaf, Presdir ini proposal yang anda minta" ucap Ana menyodorkan proposal itu pada sekertaris Tya.
"Kau boleh keluar" ucap Yoon-gi.
"Baik" ucap Ana sedikit melirik kearah Jimin.
Tatapan dingin yang Jimin berikan pada Ana membuat Ana melangkah dengan cepatnya keluar ruangan.
•Ana.. kau semakin cantik, pasti suamimu sangat menyukai itu• batin Jimin smrik saat melihat Ana keluar ruangan.
__ADS_1
"Baiklah rapat dimulai" ucap Yoon-gi.