
Malam harinya pukul 07:00
Malam itu Ana dan beberapa pelayan yang membantunya sibuk didapur untuk menyiapkan makan malam.
Dari siang sampai malam ini Yoon-gi berada diruang kerjanya dan belum keluar hingga saat ini.
Karena khawatir Ana langsung menuju ruang kerjanya untuk melihat Yoon-gi dan memanggilnya untuk makan malam.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" ucap Yoon-gi.
"Oppa?" Panggil Ana lembut.
Sontak kaget saat mendengar Ana memanggilnya dan memecahkan lamunannya.
"Kau? Aku pikir Dae Hyun, ada apa?" Tanya Yoon-gi.
"Saatnya makan malam, oppa sejak siang berada disini dan belum makan bahkan kau melewatkan makan siang tadi" ucap Ana.
Yoon-gi meletakkan gelasnya dan berjalan kearah Ana yang membuat jantung Ana berdegup sangat kencang.
"Aku menunggumu disini dan kau baru datang sekarang" ucap Yoon-gi berjalan kearah Ana.
"Me.. nungguku? Ke..kenapa?" Tanya Ana gugup berjalan mundur.
"Kau belum melakukan tugasmu seminggu ini" ucap Yoon-gi meraih pinggang langsing Ana sampai tubuh Ana membentur dadanya.
"Mi..mianhe Oppa" ucap Ana gugup.
"Setelah makan malam, kau harus melakukan tugasmu, kau mengerti kan chagiya??" Ucap Yoon-gi berbisik ditelinga Ana.
"N..nee Oppa nee" ucap Ana sedikit takut.
"Bagus, ayo makan" ucap Yoon-gi menarik tangan Ana keluar ruangan dan menuju ruang makan.
•Dia tidak mencintaimu Ana, tapi dia suamimu jangan larang dia untuk melakukan itu. Dia berhak atas dirimu dan tubuhmu meskipun tidak ada cinta untukmu• batin Ana tersenyum tipis untuk menyakinkan hatinya.
Ana sudah terlanjur mencintai Yoon-gi yang berhati dingin itu, dan cintanya terus tumbuh perlahan.
Saat makan malam berlangsung suasana canggung dan Ana hanya terfokuskan ke piringnya tanpa melihat ke arah Yoon-gi.
Ekspresi yang Yoon-gi perlihatkan selama makan malam menambah rasa takut dihati Ana. Wajah dingin dan datar membuat Ana hanya bisa tertunduk dan menikmati makanannya.
Setelah selesai makan malam, Yoon-gi duduk diruang TV dengan memainkan ponselnya. Sedangkan Ana dan dibantu beberapa pelayan untuk membereskan sisa makanan dan mencuci piringnya.
Setelah itu Ana menyusul Yoon-gi dan duduk disampingnya.
"Oppa?" Panggil Ana membuat Yoon-gi mematikan ponselnya dan menatap Ana.
"Ada apa?" Tanya Yoon-gi melipat tangannya didadanya.
Ana hanya terdiam dan berdiri disamping Yoon-gi.
"Kenapa diam saja? Katakan ada apa?" Tanya Yoon-gi.
"A..aniya Oppa" ucap Ana langsung duduk disamping Yoon-gi.
Piyama yang dikenakan Ana mengundang perhatian Yoon-gi. Piyama yang sedikit tipis dan terbuka seperti biasa yang dipakai Ana selama baru menikah ini.
Yoon-gi menatap Ana berulang kali dan membuat Ana sedikit risih.
"Oppa? Wae? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Ana.
"Kau mencoba menggodaku?" Tanya Yoon-gi.
"Me..menggoda?"
"Kenapa...kau memakai piyama seperti itu?" Tanya Yoon-gi.
"Apa? Apakah salah? Semua piyamaku seperti ini" ucap Ana melihat dirinya.
"Ayo!!" Ucap Yoon-gi menarik tangan Ana.
"Ayo? Kemana?" Tanya Ana.
"Kekamar, aku akan memakanmu dikamar" ucap Yoon-gi.
"Ta..tapi oppa.."
"Tapi apa? Perlu ku gendong? Hmm?"
"A..aniya" ucap ana mengikuti langkah Yoon-gi.
Sesampainya dikamar Yoon-gi langsung mengunci pintunya dan mendekati Ana.
"O..oppa.." ucap Ana sedikit takut.
"Ini bukan pertama kalinya kita melakukannya kenapa masih terlihat takut? Hmm?" Tanya Yoon-gi melepaskan bajunya.
__ADS_1
"Bu..bukan begitu.."
"Lalu?" Tanya Yoon-gi.
"A..aku gugup" ucap Ana.
"Aku tidak akan kasar padamu, aku akan kasar jika kau membuatku marah" ucap Yoon-gi yang merubah tatapannya.
"N..nee" ucap Ana.
Malam dengan rembulan yang cukup menyinari seluruh kota Seoul menampakkan cahaya yang bersinar terang disertai kelap kelip Lampur kota.
Malam yang panjang bagi Ana dan Yoon-gi.
Cahaya lampu kamar remang-remang dan sinar rembulan yang menembus tirai kamar. Menambah cahaya yang sedikit terang untuk malam mereka.
Keesokan harinya,
Pukul 09:00 Ana kaget melihat jam yang berdentang keras dikamar mereka.
"Matikan jam itu!!" Ucap Yoon-gi.
"Oppa, ini sudah jam 9 apa oppa tidak ke kantor?" Tanya Ana.
"Aku mengambil cuti untuk seminggu, sekarang cepat matikan jam itu" perintah Yoon-gi.
"Nee Oppa nee" Ana berjalan dengan perlahan untuk mematikan jam itu dan menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit berlalu Ana keluar dan melihat Yoon-gi masih tertidur pulas dengan berkeringat. Ana mencoba membangunkan Yoon-gi.
"Yoon-gi oppa?" Panggil Ana lembut sambil menggoyangkan tubuh Yoon-gi pelan.
Yoon-gi masih setia dengan tidurnya.
"Oppa bangunlah dan bersihkan dirimu hari semakin siang, setelah itu kita sarapan bersama, Oppa??" Ana masih berusaha membangunkan sang suami yang tidur.
"Arrgghh, lancang!!" Ucap Yoon-gi yang menepis tangan Ana sontak membuat Ana kaget.
"O..oppa.." ucap Ana memegangi tangannya.
Yoon-gi bangun dan mendekati Ana. Dan mencengkram kuat tangan Ana.
"Jangan ganggu aku saat aku tidur!" Ucap Yoon-gi yang semakin kuat mencengkram tangan Ana.
"Aku tidak suka diganggu saat tidur, aku bisa membunuhmu jika kau mengangguk!! Kau mengerti itu??" Ucap Yoon-gi mendorong Ana hingga terjatuh dilantai.
"M..mianhe Oppa mian" ucap Ana gemetar.
"Keluar!!!" Bentak Yoon-gi.
Rasa perih diarea sensitifnya masih terasanya membuatnya berjalan menuruni tangga sangat pelan dan hati-hati.
Siapa sangka Ibu mertuanya telah berada diruang tamu sedang menonton TV dan memakan cemilan.
"Eomma?" Ucap Ana berjalan kearah Nyonya Min.
"Ana? Kau sudah bangun? Kemarilah" ucap Nyonya Min.
Melihat Ana berjalan sedikit lucu dan sangat pelan membuat ibu mertuanya itu terkekeh dan bertanya.
"Kenapa kau berjalan seperti itu sayang?" Tanya Nyonya Min.
"Ini... Eo...eomma tau kan hubungan suami istri seperti apa" ucap Ana malu.
"Pfftt, apa Yoon-gi bermain kasar sampai kau berjalan seperti itu?" Ucap Nyonya Min.
"Aniya eomma" ucap Ana yang wajahnya memerah.
"Iya baiklah, kau sudah makan?? Ini eomma membuat sandwich untukmu makanlah" ucap Nyonya Min.
"Gomawo eomma" ucap Ana.
"Nee sayang" ucap Nyonya Min.
Pagi itu hari yang cerah bagi kedua wanita yang tengah bercanda ria dan tertawa diruang tamu itu.
Yoon-gi berjalan menuruni tangga hanya dengan celana pendek dan kaos hitam polos dan memakai sandal jepit. Yoon-gi melihat kedekatan antara ibu mertua dan menantu yang bercanda ria diruang tamu sehingga suara tawanya terdengar oleh Yoon-gi.
"Eomma?"
"Eh kau? Sudah bangun? Katakan apa yang kau lakukan pada menantuku?" Ucap Nyonya Min.
"Apa?? Dia istriku jadi aku melakukan hubungan antara suami dan istri apa itu salah?" Ucap Yoon-gi santai dan berbaring dipangkuan Ana sambil mengambil Snack yang ada ditangan Ana.
"Hmm, apalah dayaku jika yang sudah tua begini" ucap Nyonya Min terkekeh melihat ekspresi Ana yang wajahnya memerah.
"Oh ya, Yoon-gi? Apa kau tidak berniat mengajak Ana berlibur?" Tanya eomma.
"Tidak untuk sekarang, seminggu kedepan aku akan dirumah saja" ucap Yoon-gi.
"Kau mengambil cuti?" Tanya eomma.
"Nee" ucap Yoon-gi.
__ADS_1
"Bangunlah kau bisa tersedak jika makan sambil tidur" ucap Ana.
"Hmm" ucap Yoon-gi yang langsung bangun dari pangkuan Ana.
Seharian itu Nyonya Min berada dirumah Yoon-gi dan Ana dan menghabiskan banyak waktu untuk selalu berdua dengan menantu kesayangannya. Ana kembali Merakan kasih sayang seorang ibu yang sebenarnya.
Berbelanja bersama memasak bersama dan melukis ditaman belakang hingga menjelang sore dan menikmati sunset yang indah terbenam. Lampu gemerlap mulai menyala dan menghiasi kota Seoul dengan indahnya.
Pukul 08:00 malam setelah makan malam, nyonya Min menyuruh Dae Hyun mengantarnya pulang karena seharian berada dirumah Yoon-gi dan Ana dan mengabiskan banyak waktunya.
"Eomma akan pulang jaga dirimu baik-baik Ana, bilang pada eomma jika Yoon-gi menyakitimu oke?" Ucap eomma memeluk Ana dengan kasih sayang.
"Nee eomma, eomma tenang saja" ucap Ana.
"Baiklah Appa pasti sudah mencari eomma seharian ini, eomma pulang dulu sampai jumpa sayang" ucap Eomma.
"Nee eomma, sampai jumpa" ucap Ana melambaikan tangan.
Ana masih setia menunggu diluar dan melihat mobil yang mengantarkan ibu mertuanya keluar halaman rumah.
"Mau sampai kapan kau berdiri disitu?" Ucap Yoon-gi yang bersandar diambang pintu.
"Oppa, aku pikir kau sudah masuk" ucap Ana.
"Besok ikut aku ke kantor, aku melihat kau memiliki bakat" ucap Yoon-gi dingin.
"Untuk apa?"
"Tentu saja bekerja" ucap Yoon-gi.
"Bekerja? Apa oppa serius? Wahh aku senang sekali, tapi oppa bukankah kau mengambil cuti untuk seminggu kedepan?" Tanya Ana
"Ada meeting penting dan klien dari luar negeri.. Tapi satu hal yang perlu kau tau. Dikantor berpura-pura lah untuk tidak mengenalku dan selain bos dan karyawan kita tidak ada hubungan apapun" ucap Yoon-gi.
Deg,
Ada yang mengiris dihati Ana, sebenci itukah sampai-sampai Yoon-gi tidak mau mengakuinya didepan semua orang. Pernikahan mereka memang diadakan besar-besaran tetapi hanya orang tertentu yang datang.
Bahkan karyawan dan staff dikantor tidak diundang dalam acara pernikahan Yoon-gi dan Ana.
"Kenapa begitu oppa?" Ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Apa aku ada masalah? Hmm? Kau tinggal turuti saja permintaanku apa itu sulit bagimu?", Ucap Yoon-gi berjalan mendekati Ana dengan tatapan elangnya.
"Ba.. baiklah" ucap Ana gugup dan menahan tangisnya.
"Bagus!!" Ucap Yoon-gi menarik tangan Ana untuk masuk.
Rasa senang dalam hati Ana dengan cepat tergantikan oleh hal yang paling menyakitkan baginya. Suaminya tidak menganggapnya sebagai istri. Mungkin dirumah iya tapi pada dunia luar Ana hanyalah seseorang yang menumpang dalam kehidupan Yoon-gi.
****
Keesokan harinya,
Pukul 06:00 Ana sudah bangun dan menyiapkan semuanya, memasak hingga membereskan rumah dan dibantu beberapa pelayan.
Pukul 06:30 Ana membangunkan Yoon-gi untuk bersiap dan sarapan pagi bersama. Setelah Yoon-gi bersiap tinggallah Ana yang masih memakai pakaian rumah.
"Kau, cepat mandi dan bersiap kita akan berangkat bersama tetapi beda mobil aku tidak mau orang-orang tau kau istriku" ucap Yoon-gi santai dengan mengunyah makanannya.
"Baiklah" ucap Ana fake smile.
Selama Ana bersiap air matanya terus mengalir, tidak bisa dibendung dengan senyuman palsunya. Mengingat kembali apa yang dikatakan Yoon-gi semalam agar tidak ada hubungan apapun selama dikantor.
Hatinya masih terasa sakit dan teriris dengan kata-kata semalam dan pagi ini dia mendapat kata-kata yang tambah melukai hatinya.
Tangis nya pecah ketika memasuki kamar dan selama bersiap.
10 menit berlalu, Ana bersiap secepat kilat agar Yoon-gi tidak menunggu lama dan memarahinya. Sampai Ana lupa untuk sarapan pagi.
Mereka berangkat masing-masing dengan mobil masing-masing, Yoon-gi telah mencarikan sopir pribadi untuk antar jemput Ana dikantor. Sedangkan dia bersama dengan Dae Hyun dan sopir pribadinya.
Sesampainya dikantor, Ana diantar ke devisi nasional karena dilihat dari hasil penilaian semasa SMA ana memiliki bakat yang sangat baik meskipun belum menjadi sarjana tapi inilah pilihan Yoon-gi untuk menempatkan Ana didevisi nasional.
"Perkenalkan saya karyawan baru disini nama saya Kim Ana salam kenal semua mohon bantuannya" ucap Ana membungkuk.
"Ehem!!" Sontak seluruh karyawan kaget melihat kehadiran Yoon-gi disana, selama ini Yoon-gi tidak pernah datang ke devisi nasional untuk alasan apapun itu.
Bahkan bisa dibilang ini pertama kalinya Yoon-gi datang ke devisi nasional.
"Siapa namamu?" Tanya Yoon-gi pada Ana dan berpura-pura tidak saling mengenal.
Ana hanya tersenyum palsu dan selalu menguatkan dirinya dengan batin yang berkata 'semua akan berakhir dengan cepat Ana'.
"Kim Ana" ucap Ana yang membuat Yoon-gi membulatkan matanya dan menatap tajam ke arah Ana.
"Ma..maksudku Min Ana" ucap Ana yang mengerti isyarat dari tatapan Yoon-gi.
"Ohh!", Ucap Yoon-gi dingin.
"Baiklah semuanya kembali bekerja" perintah Yoon-gi yang diiyakan oleh seluruh karyawan.
"Dae Hyun tunjukkan meja kerjanya" perintah Yoon-gi.
__ADS_1
"Baik, Nyonya mari saya antar" ucap Dae Hyun.
"Nee, gamsahabnida" ucap Ana mengikuti langkah Dae Hyun dan menuju meja kerjanya.