Crystal Snow

Crystal Snow
Episode 27


__ADS_3

Ana berlari keluar dan menabrak seorang pelayan yang membawa nampan.


Pyarr...


Nampan yang terlempar pelayan serta Ana basah terkena minuman dan terjatuh bersamaan. Tangan Ana tergores akibat pecahan beling dari gelas itu.


Seluruh mata pengunjung kedai tertuju pada Ana dan pelayan kedai yang terjatuh bersamaan dengan pecahnya beberapa gelas yang dibawa.


Sontak Yoon-gi melihat Ana terduduk dengan lengan tangan yang berdarah, beberapa pelayan dan Yoon-gi langsung membantu ana dan pelayan tersebut.


Darah yang bercucuran dari tangan Ana membuat Yoon-gi sangat khawatir. Manager dari kedai tersebut keluar dari kantor karena mendengar keributan.


"Chagi.. bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Yoon-gi panik.


"M..mian Oppa.." ucap Ana menahan darah ditangannya.


"Ada apa ini" kata manager kedai yang baru saja datang.


Seluruh pelayan terdiam dan tertunduk saat melihat kedatangan managernya.


"Mianhe Tuan.. istriku tidak sengaja menabrak seorang pelayan" ucap Yoon-gi.


Saat manager itu berbalik kearah Yoon-gi dan melihat Ana dengan darah ditangannya. Manager itu membulatkan matanya.


Ya, dia adalah Kim Namjoon.. teman lama Yoon-gi yang sudah tidak ada kabar sejak SMA dan mulai merintis karier nya.


"Yoon-gi?" Ucap Namjoon tidak percaya.


"Namjoon?" Ucap Yoon-gi.


"Kau ada disini.. ya Tuhan betapa senangnya aku melihatmu" ucap Namjoon.


"Yaa.. aku juga.." ucap Yoon-gi memberi pelukan hangat.


Namjoon melepas pelukannya dan menatap Ana dengan tangan yang penuh darah.


"Dia istrimu?" Tanya Namjoon.


"Nee.." ucap Yoon-gi.


"Tangannya terluka bawa saja keruangan ku akan ku bantu untuk mengobatinya" ucap Namjoon.


"Nee" ucap Yoon-gi.


"Dan pelayan yang bertabrakan dengannya Nyonya Min.. kau dipecat" ucap Namjoon dingin.


"Ani!!!" Ucap Ana berbalik.


"Jangan pecat dia.. ini salahku.. aku yang menabraknya.. tolong jangan pecat dia" sambung Ana.


"Tapi Nyonya.. dia..." Ucap Namjoon terpotong.


"Tolong jangan.. aku yang salah" ucap Ana.


"Ku rasa jangan pecat dia.. aku akan mengganti kerugian ini" ucap Yoon-gi.


"Baiklah... Bereskan semua ini dan kembalilah bekerja.. 2 jam lagi kedai ditutup" ucap Namjoon.. berjalan mendahului Yoon-gi dan Ana untuk keruangannya.


Yoon-gi yang terlihat panik hanya bisa terdiam saat melihat Ana meringis kesakitan.


Darahnya cukup banyak mungkin ada serpihan beling yang masuk ke dalam lukanya. Sebelum terlalu parah dan infeksi Namjoon menawarkan untuk mengobatinya untuk menahan sakitnya.


Setelah sampai ke ruangannya Namjoon mengambilkan kotak obat dan memberikannya pada Yoon-gi.


Dengan sangat perlahan Yoon-gi membersikan darahnya dan lukanya. Memang agak perih Yoon-gi tidak bisa melihat Ana kesakitan, dengan berhati-hati dan sangat lembut Yoon-gi mengobati tangan Ana.


"Apakah begitu sakit?" Tanya Yoon-gi.


"Ani oppa.. hanya sedikit perih" ucap Ana meringis sakit.


"Sebaiknya nanti dibawa ke dokter aku khawatir akan ada serpihan beling yang masuk. Takutnya nanti infeksi" ucap Namjoon.


"Kau benar.." ucap Yoon-gi.


"Aniya.. tidak perlu begitu berlebihan ini hanya luka kecil" ucap Ana menyakinkan.


"Kita akan tetap kedokter chagi" ucap Yoon-gi masih membalut luka Ana.


"Tapi Oppa..." Ucap Ana terpotong dengan tatapan Yoon-gi.


"Jangan membantah.. aku ini suamimu.." ucap Yoon-gi.


Ana hanya terdiam saat melihat Yoon-gi menatap tajam dirinya. Namjoon yang melihat suasana itu seakan-akan merasa iri dan terkekeh.


"Selesai" ucap Yoon-gi yang telah selesai membalut tangan Ana.


"Oh iya siapa nama istri mu?" Tanya Namjoon.


"Min Ana" ucap Yoon-gi.


"Kapan kalian menikah?? Aku tidak diundang??" Ucap Namjoon.


"Bukan hanya kau.. Taehyung, Jungkook, Jimin, Hoseok, Jin Hyung.. aku juga tidak mengundang mereka" ucap Yoon-gi.

__ADS_1


"Mwoo?? Apa kami tidak penting?" Tanya Namjoon.


"Ceritanya panjang dan itu akan membuat luka di hati Ana" ucap Yoon-gi menatap Ana.


"Ahh.. aku rasa aku tidak perlu tau soal ini" ucap Namjoon.


"Bukannya aku tidak mau bercerita tapi ini terlalu pahit" ucap Yoon-gi.


"Aku mengerti itu Hyung" ucap Nam-joon menyeruput kopinya.


"Kapan kau menikah?" Tanya Yoon-gi.


"Uhukk uhukkk....!!! Menikah?!!" Tanya Namjoon balik.


"Kenapa? Apakah pertanyaan ini aneh?" Tanya Yoon-gi.


"Mau menikah dengan siapa?? Aku tidak punya pacar ataupun semacamnya" ucap Namjoon santai.


"Lagipula aku sudah nyaman dengan begini" sambung Namjoon.


"Kau itu sudah tua.. menikahlah dan berikan aku keponakan yang lucu" ucap Yoon-gi santai.


"Eh eh eh... Seharusnya kau yang memberiku keponakan Hyung" ucap Nam-joon.


"Sedang diproses.. kau berapa keponakan? Hm?" Ucap Yoon-gi berbisik pada Namjoon.


"15 sudah cukup" ucap Namjoon.


"Mwoo??" Ucap Ana membulatkan matanya.


Namjoon dan Yoon-gi hanya terkekeh melihat ekspresi wajah Ana yang memerah.


Malam pun tiba.. kedai kopi Namjoon hampir tutup dan seluruh karyawan bergegas pulang. Karena sepertinya sebentar lagi hujan akan turun.


Musim dingin akan segera tiba dan hujan akan terus mengguyur. Setelah puas berbincang Yoon-gi mengajak Ana untuk pulang kerumah.


Karena gerimis sudah turun Yoon-gi melepas jaketnya dan menggunakannya sebagai payung untuk berjalan ke mobil.


Betapa terkejutnya Ana saat melihat mobil Jimin masih terparkir tepat disamping mobil Yoon-gi.


Gerimis dan lampu yang remang-remang, Ana berharap Jimin tidak melihat wajah Yoon-gi. Yoon-gi membukakan pintu mobil untuk Ana dan Yoon-gi pun masuk kedalam mobil.


Kaca mobil yang hitam pekat membuat Ana tidak bisa melihat apakah Jimin ada didalam mobil atau tidak.


Perlahan Yoon-gi menyalakan mobil dan menjalankannya menuju rumah. Dan saat itu juga mobil Jimin menyala tapi tidak berjalan dari tempatnya.


Ana khawatir Jimin mengikutinya dan mengetahui rumahnya. Ini akan membuat perang dunia ketiga jika Jimin dan Yoon-gi saling bertemu dan mengetahui segalanya.


Ana hanya terdiam dengan tangan yang menggenggam erat dan sangat dingin. Yoon-gi mempercepat mobilnya agar sampai dirumah dengan cepat.


Yoon-gi membawa Ana masuk kedalam rumah dengan keadaan dress yang kotor karena bercak minuman yang membasahi dress indah milik Ana.


Saat Yoon-gi masuk dengan menggendong Ana seluruh pelayan berbaris dan membungkuk setengah badan termasuk Dae Hyun.


"Dae Hyun?" Panggil Jimin.


"Ya tuan muda" ucap Dae Hyun.


"Panggilkan dokter segera.. dan 2 pelayan ikut aku kekamar" ucap Yoon-gi berjalan kekamar diikuti dengan 2 pelayan yang diminta.


Dae Hyun segera menelfon dokter pribadi keluarga Min untuk memeriksa tangan Ana.


Ana hanya terdiam dan sesekali bibirnya tersenyum saat melihat wajah sang suami. Tatapannya kosong namun pikirannya sangat pusing dan dipenuhi dengan nama Jimin.


Bukan karena cinta tapi Ana hanya takut Jimin melakukan sesuatu yang membuatnya dan Yoon-gi berpisah.


"Chagi.. kau bersama pelayan dulu.. aku akan kembali membawa dokter untukmu" ucap Yoon-gi diikuti anggukan mengerti oleh Ana.


Yoon-gi berjalan keluar kamar meninggalkan Ana bersama 2 pelayannya untuk mandi dan mengganti pakaian.


15 menit berlalu Ana telah selesai mandi dan mengenakan piyama. Salah satu pelayan membuatkan bubur untuk menghangatkan perut Ana.


2 pelayan itu masih setia tersenyum dan menghibur Ana agar tidak kesepian. Menjaga Ana sampai Yoon-gi kembali bersama seorang dokter.


Ceklek,


Yoon-gi membuka pintu dan berjalan masuk bersama seorang dokter tampan dan sangat ramah.


Dokter muda bernama Kim Seok-jin merupakan teman dari Yoon-gi yang umurnya 1 tahun lebih tua.


Kim Seok-jin adalah dokter baik hati dan ramah pada setiap pasiennya. Keluarga Min merekrut Kim Seok-jin agar menjadi dokter pribadi mereka.


Keluarga Min juga tidak menghalangi pekerjaannya sebagai dokter terbaik dirumah sakit. Kim Seok-jin adalah dokter yang dikagumi oleh seluruh pasiennya. Selain baik Dr. Kim Seok-jin juga tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter terbaik.


"Dok tolong periksa istri saya" ucap Yoon-gi.


"Baiklah.. bisakah semua menyingkir berikan sedikit udara.." ucap Seok-jin.


Seok-jin mulai memeriksa tangan Ana dan membersihkannya karena masih terdapat beberapa serpihan beling yang masih menempel pada lukanya.


"Nyonya.. tahan sebentar ya.. ini mungkin akan sedikit perih" ucap Seok-jin lembut.


"Nee dok" ucap Ana meremas seprai ketika Seok-jin membersihkan lukanya.

__ADS_1


Yoon-gi yang melihat Ana berusaha menahan sakit ya dengan meremas sprei mengambil alih tangan Ana dan menggenggamnya.


Setelah selesai dibersihkan Seok-jin membalut luka Ana dengan kain kasa dan memberikan sedikit obat agar cepat mengering.


"Lukanya tidak begitu serius tapi jangan terlalu disepelekan.. aku sudah memberikan obat agar rasa sakit nya sedikit berkurang dan mengering. Aku akan memberikan resep obat untuk diminum dan untuk dioles pada lukanya" ucap Seok-jin.


"Nee dok" ucap Yoon-gi.


"Kalian berdua bisa keluar" ucap Yoon-gi pada 2 pelayan dan dianggukan tanda mengerti.


Yoon-gi langsung duduk disamping Ana dan merangkulnya.


"Sakit?? Hmm?" Tanya Yoon-gi lembut.


"Aniya Oppa" ucap Ana.


"Bisakah kalian menghargai aku??" Tanya seokjin menatap Yoon-gi dan Ana.


"Apa?? Kenapa?? Bukankah kau sudah menikah juga" ucap Yoon-gi santai.


"Tapi istriku dirumah.. kalian membuatku iri" ucap Seok-jin sambil menulis resep obat.


"Pfftt..." Yoon-gi terkekeh lucu saat melihat ekspresi wajah Seok-jin.


"Dokter Seok-jin sudah menikah?" Tanya Ana.


"Nee.. istriku adalah seorang dokter juga sepertiku.. aku menyuruhnya untuk resign karena waktu itu dia hamil dan sampai sekarang aku tidak mengijinkannya bekerja" jelas Seok-jin.


"Siapa nama istri mu?" Tanya Ana.


"Namanya Kim Jiso" ucap Seok-jin memberikan secarik kertas berisi resep obat.


"Anak kalian putra atau putri?" Tanya Ana kepo.


"Chagiya.. kau kepo sekali.." ucap Yoon-gi mencubit hidung Ana gemas.


"Aku hanya ingin tau saja oppa" ucap Ana.


"Aku sebenarnya menginginkan 2 putri kembar tapi aku dikaruniai 1 orang putra yang bisa dibilang sama sepertiku, umurnya baru 2 tahun" ucap Seok-jin membereskan peralatan nya.


"Pasti sangat imut.." ucap Ana..


Seok-jin hanya tersenyum mendengar ucapan Ana.


"Jika kau mau kalian bisa datang kerumahku untuk melihat mereka.. mereka akan senang bertemu kalian.. Kim Seok Hyeon pasti senang bertemu kalian" ucap Seok-jin.


"Itu nama putramu?" Tanya Ana.


"Iyaa" ucap Seok-jin.


"Jika sudah aku harus kembali kerumah sakit.. jika ada sesuatu panggil saja" ucap Seok-jin.


"Baiklah.. terimakasih Dok" ucap Yoon-gi.


Dae Hyun mengantarkan seokjin keluar Yoon-gi masih setia duduk disamping Ana. Ana yang tidak bisa diam dan selalu menatap wajah Yoon-gi membuat Yoon-gi heran.


"Wae?" Tanya Yoon-gi.


"Ani" ucap Ana tersenyum dan memeluk Yoon-gi.


"Lepaskan chagia.. aku mau mandi.." ucap Yoon-gi.


"Baiklah.. mandilah dulu" ucap Ana melepaskan pelukannya.


Yoon-gi tersenyum dan mencubit hidung Ana gemas. Dan berlalu berjalan ke kamar mandi.


Pukul 08:00 malam, selagi Yoon-gi masih mandi Ana keluar kamar dan duduk diteras depan untuk menghirup udara segar. selama ini Ana hanya melihat pemandangan dari balkon kamarnya.


Sesekali Ana menatap beberapa lampu jalan yang meredup, bibirnya tersenyum ketika melihat seorang Anak kecil bergandengan bersama ayahnya dan sangat manja.


Anak kecil itu merengek meminta permen coklat tapi ayahnya mengingatkan bahwa itu akan membuatnya sakit gigi.


Ana tersenyum melihat anak kecil itu yang merengek dalam gendongan ayahnya.


Jalanan cukup rame dengan perjalan kaki yang melintas didepan rumah Ana. Bulan yang tertutup awan hitam membuat langit menjadi gelap dan hanya ada beberapa bintang kecil dilangit.


15 menit pun berlalu Ana masih setiap duduk diteras depan dengan 2 pelayan yang berdiri disamping untuk menemani Ana.


Saat Yoon-gi selesai mandi Yoon-gi tidak menemukan Ana dikamarnya. Dan segera keluar mencari sang istri.


•Kenapa setiap kali pikiranku memikirkan Jimin... Perasaanku berkata kebahagiaan yang aku rasakan saat ini adalah awal dari kehancuran• batin Ana dengan tatapan kosong.


Saat itu malam cukup gelap karena bulan yang tertutup awan hitam kini sepenuhnya tertutup. Lampu jalanan yang meredup membuat suasana menjadi sangat dingin dan ditambah lagi dengan angin malam yang berhembus.


Tap


Tap


Tap


Yoon-gi menuruni tangga dan melihat pintu utama terbuka dengan 2 pelayan yang berdiri diluar.


Yoon-gi memberi isyarat agar kedua pelayan itu masuk dan Yoon-gi keluar menggantikan mereka.

__ADS_1


Ana masih dengan tatapan kosong. Tatapannya memang kosong tapi pikirannya dibayang Bayangi dengan nama dan wajah Jimin.


__ADS_2