
"Aww" rintih Ana saat akan turun dari ranjang.
"Biar aku yang menggendongmu" ucap Yoon-gi menghampiri Ana.
Tok
Tok
Tok
"Tuan??Nyonya??" Panggil ahjuma dari luar kamar.
"Ada apa?" Ucap Yoon-gi.
"Tuan?? Nyonya?? Apa kalian baik-baik?" Tanya ahjuma.
"Nee.. Kami Akan keluar untuk sarapan" ucap Yoon-gi membawa Ana ke kamar mandi.
"Baik" ucap Ahjuma.
Pukul 10:30 pagi hujan masih menyelimuti kota Seoul. Hujan yang cukup lebat dan cukup lama mengguyur seluruh kota.
Yoon-gi menurunkan Ana di bathtub dan menyalakan keran air hangat.
Dan menuangkan sabun.
Ana dan Yoon-gi berendam cukup lama, setelah selesai keduanya langsung menuju ruang makan.
Rumah yang begitu besar sampai tidak bisa mendengar rintikan hujan saat berada dilantai paling bawah.
Meskipun Angin masuk dari seluruh celah di rumah mewah itu tapi rumah besar itu masih memiliki sisi hangat jika sedang hujan lebat.
Yoon-gi dan Ana duduk dimeja makan dan memakan makanan masing-masing.
Setelah selesai makan Ana berniat mencuci piring dan membereskan meja makan. Tapi dengan cepat Yoon-gi menarik tangannya.
"Jangan!!" Ucap Yoon-gi.
"Wae??" Tanya Ana bingung.
"Ini sedang hujan jika kau memegang air dingin kau akan kedinginan" ucap Yoon-gi.
"Oppa, aku hanya akan mencuci ini saja tidak akan Sampai berlebihan seperti itu" ucap Ana senyum.
"Ahjuma?? Bereskan semua ini" perintah Yoon-gi.
"Baik" ucap Ahjuma dan 3 pelayan yang membereskan meja makan.
"Ehh??" Ana bingung
"Apa?"
"Aniya Oppa" ucap Ana dengan senyum khasnya.
Ntah kenapa Ana mulai merasakan bahwa sikap sang suami mulai berubah dingin seperti sebelumnya.
Tatapannya dan wajah datarnya bisa melambangkan jika sang suami mulai berubah kembali.
Tapi meskipun begitu Ana masih bersyukur karena Yoon-gi masih perhatian dan peduli dengannya meskipun itu terpaksa karena Ana adalah istrinya.
Senyum tipis Ana mengembang saat melihat Yoon-gi menarik tangannya.
Tangan yang sangat kuat itu kini sedikit menyamankan hati Ana saat berada di genggamannya.
****
Seharian itu hujan tanpa hentinya mengguyur kota Seoul hingga menjelang malam. Hujan yang sedikit mengkhawatirkan Ana.
Ana terduduk di balkon kamarnya dan memandang setiap tetes hujan yang turun. Sedangkan Yoon-gi bersandar di kursi panjang didalam kamar dan memainkan ponselnya.
Angin yang lumayan kencang membuat tetesan air membasahi wajah Ana. Ana memejamkan matanya dan membiarkan setiap tetes air hujan membasahi wajahnya hingga menembus kehatinya.
Senyuman tipis ya mengembang saat air hujan membasahi wajah cantiknya. Rambutnya yang bergelombang berwarna hitam gelap semakin menambah kecantikan Ana ketika rambutnya basah.
Menjelang sore hari semakin gelap dan masih diiringi rintikan hujan beserta angin. Yoon-gi masih setia dengan kursi dan ponselnya. Sedangkan Ana masih terduduk dan merasakan setiap tetes air hujan menerpanya.
Tiba-tiba air hujan tidak lagi menetes di wajahnya dan Ana perlahan membuka matanya dan melihat Yoon-gi berdiri didepannya.
"Apa kau sudah gila?" Ucap Yoon-gi dengan wajah kesalnya melihat Ana basah disekujur tubuh.
Rambut panjang Yoon-gi yang basah karena air hujan dan bajunya yang diterpa angin membuat Ana hanya terdiam.
Rambut basahnya yang menutupi sebagian keningnya membuat Ana hanya tersenyum saat melihat sang suami menghadang air hujan agar tidak mengenainya.
Senyuman Ana menghilang ketika Yoon-gi mencengram tangannya dengan kuat dan menyeretnya masuk ke dalam kamar.
Bamm!!
Yoon-gi menutup pintu dengan sangat kuat.
Bruukk!!
Yoon-gi menghempaskan Ana hingga terjatuh dilantai dan membasahi karpet bulu dikamar mereka.
"Apa kau sudah gila?? Haa?? Kau tau itu hujan lebat dan kau malah dibalkon dan sengaja membiarkan air hujan membasahi tubuhmu!!" Bentak Yoon-gi.
"M..mianhe Oppa" ucap Ana dengan suara bergetar.
"Dengar baik-baik, jika kau sakit dan eomma menyalahkan ku lagi!! Apa yang bisa kau perbuat hmm??" Ucap Yoon-gi berjongkok dan mencengkram kuat pipi Ana.
"O..oppa... Sa..sakit..." Rintih Ana yang mencoba melepaskan tangan Yoon-gi.
__ADS_1
"Aku tidak peduli kau sakit atau tidak.. jika bukan karena eomma aku tidak akan pernah baik padamu!!! Dan lagi aku baik padamu agar kau tidak sakit dan tidak terluka!!" Bentak Yoon-gi menggema di seluruh ruang kamar.
"Mengertilah selagi aku masih baik padamu!!" Ucap Yoon-gi menekan suaranya dan menghempas Ana.
"Jika kau terpaksa melakukan itu aku mohon jangan pernah bersikap baik padaku demi melindungiku.. jangan membuatku berharap akan dirimu untuk mencintaiku.. baru saja kau berkata ajari kau untuk mencintaiku tapi ternyata semua itu hanya kebohongan.. kenapa kau melakukan ini padaku!! Kenapa!!! Hikss...hikss..." Ucap Ana tak kalah besar dengan suara Yoon-gi dan tangisnya pecah begitu saja.
Plakkk!!!
"Lancang!! Kau sudah berani berbicara keras kepadaku!!!" Ucap Yoon-gi menahan emosinya. Dan berlalu membiarkan Ana dengan keadaan terpuruknya.
Brakk!!
Yoon-gi membanting pintu kamar mandi.
Jiwa Ana sakit tapi lebih sakit lagi batinnya yang mendengar bahwa kebaikan yang dilakukan hanya demi rasa kasihan. Cinta yang terus tumbuh kini semakin besar karena harapan yang Yoon-gi berikan untuk Ana. Tapi harapan itu hanyalah harapan tanpa pembuktian.
•Aku pikir dia mencintaiku• batin Ana tertampar kenyataan dari sang suami.
Ana masih terdiam dan tidak bergemis sedikitpun menekuk lututnya dan memeluknya kuat.
Hujan semakin deras dan semakin dingin. Menambah kesedihan Ana yang membuatnya sangat hancur.
Ana tertunduk dan menangis sebisa mungkin untuk melepas rasa sakit hatinya. Tapi bagaimanapun juga Ana melepas rasa sedihnya kata-kata yang Yoon-gi ucapkan tetap terngiang dipikiran Ana.
Ceklek,
Yoon-gi keluar dari kamar mandi dan melihat Ana yang masih terdiam di samping tempat tidur.
"Belum berhenti juga??" Ucap Yoon-gi yang masih diselimuti rasa emosinya.
Ana masih terdiam dan tidak bergeming tapi Yoon-gi bisa mendengar Isak tangis Ana tanpa suara.
Perlahan Yoon-gi berjalan dan mendekati Ana dengan tatapan tajamnya Yoon-gi menarik tangan Ana dan terlihat jelas wajah pucat Ana karena terlalu lama menangis.
"Belum berhenti juga??" Ucap Yoon-gi pelan namun terdengar sangat marah dan meremas kuat bahu Ana.
"Aku sudah berhenti, apa yang akan kau lakukan" ucap Ana dengan suara seraknya dan mata sembabnya.
"Pergi dan mandi!! Jika kau sampai sakit lagi dan jika eomma memarahiku tunggu akibat yang akan kau tanggung" ucap Yoon-gi menyeret Ana kedalam kamar mandi.
Byurrr!!!
Yoon-gi melempar Ana kedalam bathtub dan menyalakan kran air hangat.
Ana hanya bisa tersenyum saat Yoon-gi keluar dengan membanting pintu.
Air hangat yang mengalir terasa sangat nyaman, tapi tetap terkalahkan oleh rasa sakit yang Ana rasakan.
Hatinya, jiwanya, pikirannya hancur seketika. Baru saja ada yang bisa dilakukan dengan sedikit harapan untuk mendapatkan cinta dari sang suami, tapi dengan cepat itu semua menghilang dan pudar.
Harapan kecil yang diharapkan bisa menjadi harapan besar dan menjadi nyata, malah diinjak dan dihancurkan hanya dalam satu detik.
Senyuman palsu dan air mata yang terus mengalir deras dipipi Ana menjadi saksi bisu atas semua rasa sakit yang dirasakan.
Dengan begitu cepat Ana tertampar oleh kenyataan yang sebenarnya bahwa Yoon-gi tidak mencintainya dan tidak akan pernah mencintainya.
•Ini terlalu sulit bagiku, tapi keluarga Kim lebih berharga daripada kebahagiaanku• Batin Ana fake smile.
•Ayah, meskipun kau bukan Ayah kandungku tapi aku menyayangimu. Aku tidak akan membuatmu malu karena aku, akan aku jalani kehidupan ini, setidaknya masih Ada Eomma (Eomma Yoon-gi) yang menyayangi ku disini• Bantin Ana menangkup wajahnya.
15 menit berlalu, Ana mencoba untuk bangkit dan mengambil handuk yang digantung Yoon-gi didekat bathtub.
Kakinya gemetar dan berjalan sambil memegang dinding, setelah mendapatkan handuknya Ana mengeringkan tubuhnya dan mengenakan piyama yang di ambilkan Yoon-gi.
Kakinya gemetaran dan bibirnya nampak pucat.
"Apa penyakitmu kambuh lagi" ucap Ana memandang pantulan wajahnya dicermin.
"Tuhan, Jika aku tidak baik untuknya mengapa kau memilihku untuk menjadi istrinya" Ucap Ana masih memandang dirinya dicermin dan tanpa sadar air matanya mulai menetes.
Wajah pucatnya, rambut basahnya yang berantakan, kakinya yang gemetar. Membuat Ana ingin menyerah dengan semuanya. Tapi demi keluarga dan Ayah angkat yang sangat dia sayangi Ana bertahan dan merelakan kebahagiaanya.
Tok
Tok
Tok
"Ana??? Kau tidak tidur dalam kan??" Panggil Yoon-gi.
"Aku akan keluar Oppa" ucap Ana pelan dengan berjalan sambil memegangi dinding.
Ceklek,
Ana membuka pintu dan keluar. Menampakkan Yoon-gi yang berdiri dihadapannya dengan melipat tangannya. Wajahnya masih terlihat sangat marah, bahkan tatapannya melebihi dinginnya salju.
"Ada apa Oppa" tanya Ana masih berdiri dengan memegangi pintu.
"Kau sakit?" Tanya Yoon-gi dingin.
"Aniya, aku hanya sedikit kedinginan" ucap Ana senyum tipis.
Tanpa berbicara Yoon-gi mengangkat Ana dan membaringkannya di kasur. Ana hanya terdiam dan spontan mengalungkan tangannya dileher Yoon-gi.
Piyama yang cukup tipis dan terbuka, Yoon-gi langsung menarik selimut dan menutupi tubuh Ana dan segera mematikan AC karena cuacanya cukup dingin.
"Diam disini" ucap Yoon-gi datar.
Ana hanya tersenyum menandakan iya.
Yoon-gi keluar kamar dan berjalan ke dapur.
__ADS_1
"Dimana semua pelayan dirumah ini!" Ucap Yoon-gi kesal.
6 pelayan yang mendengar teriakan Yoon-gi langsung menuju dapur.
"M..mianhe Tuan muda" ucap Ahjuma kepala pelayan
"Apa aku membayar kalian hanya untuk bersantai??" Ucap Yoon-gi dengan nada tinggi.
"Aniya Tuan" ucap Ahjuma menundukkan Kepalanya.
"Buatkan bubur dan antar ke kamarku" perintah Yoon-gi dingin dan berjalan kembali ke kamar.
"Baik Tuan" ucap Ahjuma.
"Tuan muda?" Panggil Dae Hyun.
"Hmm" ucap Yoon-gi menghentikan langkahnya.
"Tuan muda, besok Jam 9 pagi ada rapat dengan Presdir Park Jimin, jam 2 siang ada pertemuan dengan Presdir Jung Hoseok dan Nona besar Kim So Eun berulang tahun Keluarga Kim mengundang Anda dan Nyonya muda untuk datang, acaranya di mulai jam 8 malam" ucap Dae Hyun.
"Kau siapkan saja proposal untuk rapat besok dan soal ulang tahun Carikan kado yang bagus aku dan Ana akan datang" ucap Yoon-gi kemudian berjalan menuju kamar.
"Baik" ucap Dae Hyun.
Tap
Tap
Tap
Yoon-gi berjalan menaiki tangga dan menuju ke kamar.
Greepp,
Yoon-gi membuka pintu dan melihat Ana melihat keluar dinding kaca yang besar dan menatap setiap air hujan yang turun, hari yang semakin malam membuat hujan dan cahaya lampu kota terlihat seperti pelangi malam.
Ana sesekali tersenyum tipis, dan itu membuat Yoon-gi hanya memperhatikan Ana diambang pintu.
Ceklek,
Yoon-gi menutup pintu dan berjalan ke arah Ana, Yoon-gi duduk tepat disamping Ana dan menyentuh kening Ana.
"Syukurlah kau tidak demam" ucap Yoon-gi membuat Ana terdiam dan menatap wajah suaminya.
Tok
Tok
Tok
"Tuan muda??" Panggil Ahjuma.
"Masuk" ucap Yoon-gi.
"Tuan, ini bubur yang Anda minta" ucap Ahjuma.
"Letakkan dimeja itu" ucap Yoon-gi.
"Dan ambilkan obat di laci itu dan letakkan juga dimeja" sambung Yoon-gi.
"Baik" ucap ahjuma.
Setelah itu Ahjuma keluar kamar dan menutup pintunya. Yoon-gi berjalan dan mengambil obat serta bubur yang ada diatas meja.
"Makanlah, kau bisa makan sendiri atau mau aku suapi??" Tanya Yoon-gi.
"Aku akan makan sendiri" ucap Ana senyum.
"Baiklah, ambil ini dan makanlah setelah itu minum obat ini dan tidur" ucap Yoon-gi.
"Nee" ucap Ana menerima mangkok yang diberikan Yoon-gi.
"Aku akan duduk disana, jika butuh sesuatu katakan saja" ucap Yoon-gi berjalan kearah sofa.
"Nee Oppa" ucap Ana senyum tipis tapi bisa terlihat bahwa Ana sangat sedih.
"Ahh, aku hampir lupa.. besok kita akan pergi ke rumahmu adikmu Euna ulang tahun istirahat lah yang cukup agar kau terlihat baik besok" ucap Yoon-gi.
"Nee" ucap Ana.
•Benar, besok Adalah hari ulang tahun Euna dan selalu dirayakan setiap tahunnya• Batin Ana dan mengaduk buburnya.
Yoon-gi bersikap baik hanya karena takut Ana sakit dan terluka, ntah apa yang terjadi padanya sehingga berubah 180°.
•Ingat Ana, dia baik hanya karena ingin melindungimu bukan karena mencintaimu• Batin Ana, dengan senyuman tipis dan menatap bubur yang sedang diaduknya.
Sesekali matanya tertuju pada Yoon-gi yang memainkan ponselnya sambil tersenyum.
•Jika kau duduk disampingku dan menemaniku, aku...• Batin Ana menahan tangisnya bahkan tidak melanjutkan kata-katanya meskipun berbicara dalam hatinya.
•Apakah itu Irene?? Hingga kau tersenyum semanis buah saat memegang ponselmu??• Batin Ana.
Yoon-gi yang menyadari Ana sedang menatapnya menurunkan ponselnya dan menatap Ana.
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Tanya Yoon-gi.
"Aniya Oppa, aku sudah selesai makan dan meminum obatnya. Aku akan tidur" ucap Ana meletakkan gelas di meja samping ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Hmm, tidurlah" ucap Yoon-gi.
•Selamat malam Chagiya• Batin Ana memejamkan matanya dan air matanya menetes.
__ADS_1