
Pukul 07:00 malam Ana mendengar suara mobil Jimin memasuki halaman rumah. Dengan cepat Ana membuka pintu dan mendapati Jimin yang akan menekan bel rumah.
Jimin tidak berkata apapun dan langsung menerobos masuk tanpa menghiraukan Ana sedikitpun.
Ana terdiam senyumannya membeku saat Jimin menerobos masuk dan hanya menyenggol bahunya. Jimin memang bukan suami Ana tapi perlakuan Jimin membuat Ana sakit hati.
Ana menutup pintu pelan dan seketika air matanya menetes. Sejak kepergian Yoon-gi dia belum menelfon Ana hingga malam ini. Ana menggenggam ponselnya kuat dan menatap layar ponselnya.
Pelayan yang melayani Jimin sesekali melirik Ana yang hanya melihat dari kejauhan. Jimin tidak berbicara ataupun merespon Ana meskipun hanya berbicara satu kata.
Seakan-akan kehadiran Ana tidak ada bagi Jimin. Sampai akhirnya Ana yang mendahului untuk berbicara padanya.
"Park Jimin?" Panggil Ana lirih.
Jimin tidak menjawab dan hanya menoleh tanpa menatap Ana.
"Bo..bolehkan aku pulang? A..aku sudah dari kemarin disini" ucap Ana hati-hati.
"Apa aku memperbolehkan mu pulang? Sebelum Yoon-gi pulang dari Swiss kau tetap dimansion ini.. jangan pernah mencoba untuk kabur ataupun keluar dari mansion ini.. jika kau melakukan hal itu maka... Aku tidak tau apa yang akan ku lakukan padamu!!" Tekan Jimin.
"Aku hanya bertanya.. jika tidak boleh maka aku akan tetap disini.. aku akan kembali ke kamar" ucap Ana senyum miris dan berjalan menuju kamar.
Para pelayan yang melihat itu semua hanya terdiam dan menundukkan Kepalanya ada rasa iba dihati mereka untuk Ana. Ana adalah gadis baik yang selalu mendapat amarah yang menyakitkan dari Jimin.
Dengan cepat Ana menaiki tangga dan menuju kamarnya. Sesampainya dikamar Ana terdiam air matanya sudah tidak bisa menetes. Rasanya percuma jika menangis tapi tidak bisa merubah segalanya.
Ana berjalan ke balkon kamarnya menatap bintang yang bertaburan dan bulan yang bundar dengan sempurna. Pikirannya memikirkan Yoon-gi kapan dia akan kembali dari Swiss.
Menunggu telfon darinya itulah yang Ana lakukan saat ini. Senyuman mirisnya mengembang saat menatap langit bertaburan bintang dan bercahaya.
Langit yang menjadi saksi bisu atas rasa sakit hati dan kekecewaan dalam diri Ana. Semuanya sudah terlambat jika ingin diperbaiki dari awal. Semuanya sudah terjadi, cepat atau lambat Yoon-gi akan tau hal ini.
Ana masih setia berdiri dibalkon kamar itu dan menatap gedung-gedung tinggi pencakar langit yang sangat jauh dari mansion mewah itu.
Perlahan Ana memejamkan matanya dan mendengar setiap langkah kaki yang semakin mendekatinya. Tangan kekar yang tiba-tiba melingkar diperutnya dan dagu yang diletakkan di Bahu Ana. Ana bisa merasakan setiap hembusan nafas yang menerpa telingannya dari seorang pria yang kini memeluknya.
Perlahan pelukan itu terlepas dan tangan itu membalikkan tubuh Ana berhadapan dengannya. Ana membuka matanya dan mendapati Jimin yang berdiri dihadapannya.
Dengan tatapan hangat yang diberikan Jimin senyuman Ana mengembang dibibirnya. Pemilik bibir tipis ini tersenyum pada pria yang kini berada dihadapannya.
Angin malam berhembus kencang perlahan-lahan bintang dilangit menghilang dan bulan yang tadinya sangat bundar kini mulai tertutup awan mendung. Air hujan mulai turun dan setiap tetesnya mengenai dua orang yang tengah bertatapan.
Angin yang cukup kuat membuat wajah Ana tertutupi oleh rambut panjangnya. Tangan Jimin yang tidak tinggal diam langsung menyibak rambut Ana menangkup wajahnya dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ana.
Cup,
Satu ciuman dalam yang diberikan Jimin pada Ana. Perlahan tangannya menekan tengkuk leher Ana dan memperdalam ciumannya.
•Jika malam ini terjadi maka... Yoongi... mian.. aku harus mengingkari janjiku padamu.. tolong jangan memebenciku.. aku mencintaimu Tuan Muda Min Yoon-gi• batin Ana dengan memejamkan matanya perlahan air matanya ke.bali menetes.
Satu tangan menekan tengkuk leher Ana dan satu tangan lagi menarik pinggang Ana sangat dekat dengannya. Ana melingkarkan tangannya keleher Jimin dan membiarkannya merasakan hal yang lebih.
Setiap tetes air hujan mengenai wajah mereka langit yang mulai gelap bulan dan bintang yang telah ditelan wana hitam menjadi saksi bisu malam itu.
Perlahan Jimin melepaskan ciumannya dan menatap Ana dalam. Tatapan mereka bertemu saat hujan dengan derasnya mengguyur tubuh keduanya.
"Kenapa berhenti?" Ucap Ana.
"Kau mau lebih? Bagaimana jika nanti ada baby park disini? Bukankah kau harus mengisinya dengan baby Min?" Ucap Jimin menunjuk perut Ana dan perlahan melepaskan dekapannya.
"Biarkan saja.. biarkan baby Park dan baby Min berbagi tempat tinggal disana" ucap Ana sukses membuat Jimin membulatkan matanya.
"Aku tidak akan melakukannya.. lebih baik sekarang kita masuk dan kau harus mandi.. jangan berfikir yang aneh-aneh" ucap Jimin menggendong Ana menuju kamar mandi.
Perlahan Jimin menurunkan Ana ke bathtub dan menyalakan kran air hangat. Saat Jimin akan keluar tangannya ditahan oleh Ana dan menariknya sampai terjatuh ke bathtub.
"Apa? Apa yang ingin kau lakukan? Mencoba menggodaku?" Tanya Jimin menatap Ana.
"Temani aku.. jangan keluar" ucap Ana.
"Ana... Jangan bertingkah seperti ini.. kau tau aku tidak bisa menahannya jadi.... Jangan memancingku ku mohon" ucap Jimin beranjak untuk berdiri dan ditahan lagi oleh Ana.
"Baiklah" ucap Ana senyum.
Jimin langsung berdiri dan keluar dari kamar mandi dan terduduk disofa dengan tubuh basahnya.
__ADS_1
"Ada apa denganku?? Dia yang memintanya sendiri tapi malah aku yang tidak mau menyentuhnya.. ada apa denganmu Park Jimin!!" Ucap Jimin memejamkan mata dan bersandar disofa.
15 menit berlalu,
Ana keluar dari kamar mandi dan bersamaan dengan Jimin yang mengganti pakaiannya. Saat itu Ana hanya memakai handuk keluar dari kamar mandi.
Dan tidak sengaja Ana masuk keruang ganti dan melihat Jimin yang tengah telanjang dada untuk memakai pakaiannya.
"Jimin kau.." ucap Ana terkejut begitupun dengan Jimin.
Jimin berbalik dan melihat Ana hanya terbalut dengan handuk yang menampakkan separuh dadanya dan separuh dri pahanya. Jimin menelan Saliva dengan kasar dan membelakangi Ana.
"Ahh.. maaf aku tidak tau kalau kau ada didalam" ucap Ana santai berjalan kearah Jimin.
"Cepat pakai pakaianmu Ana" ucap Jimin dingin.
"Iya baiklah" ucap Ana mengambil pakaian dari lemari.
•jimin pasti punya rencana lain.. aku harus membuatnya sibuk agar tidak menjalankan rencana itu sampai Yoon-gi kembali.. apapun caranya.. jika Jimin menganggapku wanita yang tidak baik sekalipun demi suamiku akan aku lakukan• batin Ana miris dan hatinya sangat teriris dengan kata-kata nya sendiri dan matanya telah berkaca-kaca.
"Park Jimin?" Panggil Ana memegang punggung Jimin.
"Ada apa?" Tanyanya dingin.
"Tolong ambilkan bajuku.. handukku hampir lepas ini akan terlepas jika aku mengangkat tanganku" ucap Ana.
"Terlepaspun aku tidak akan melihatnya ambil saja sendiri" ucap Jimin.
"Jika kau tidak mau mengambilkannya maka aku tidak akan pakai baju.. aku akan memakai handuk saja" ucap Ana duduk disofa dekat lemari.
Jimin berbalik dan menoleh kearah Ana menatap Ana tajam tapi Ana berusaha tenang. Padahal dalam hatinya sangat takut jika Jimin marah.
"Kenapa kau bersikap begitu? Hm? Memancingku? Kau ingin mendapat sentuhan ku begitu?!" Ucap Jimin dengan nada tinggi menarik tangan Ana.
"Bukankah itu yang kau inginkan.. ingat saat aku memohon agar kau tidak meminta tubuhku? Saat kau mengancam ku untuk pertama kalinya saat kau menculikku dan mengurungku dimansion ini?? Aku menolaknya tapi kau memaksaku dan sekarang aku akan memberikannya dan kau malah menghindar... Apa tujuan dan keinginan mu Tuan Muda Park Jimin?" Tanya Ana dengan sedikit keberanian yang ia kumpulkan.
"Mauku... Menyentuhmu dalam hubungan yang sah Dimata orang" ucap Jimin menatap Ana dalam.
"Aku tidak mau menyentuhmu dalam keadaan kau masih bersuami dan status kita hanyalah kekasih bukan suami istri!!" Sambung Jimin menekan kalimatnya.
"Aku tidak akan pernah menjadi milikmu Jim, aku akan mempertahankan hubunganku dengan Yoon-gi sampai kami memiliki anak dan cucu.. itu janjiku padanya" ucap Ana.
"Bukankah itu yang kau mau? Aku hanya menepati ucapan ku.. aku tidak mau kau mencelakai Yoon-gi hanya karena aku tidak menepati kata-kata ku" ucap Ana lirih.
"Pakai pakaianmu dan jangan memancingku.. sekali lagi... Jika kau memancingku lagi maka.. akan ku pastikan kau akan menyesal.. tidak ada kata ampun jika aku sudah melakukannya.. jangan menganggap ucapan ini main-main.. aku akan benar-benar melakukannya jika kau memancingku sekali lagi.." ucap Jimin menekan setia katanya.
"Jika kau melakukannya kau pasti akan berhenti juga kan tidak mungkin kau melakukan itu sam.." (Terpotong) ucap Ana sengaja.
"Sampai aku puas!! Sebelum aku puas tidak akan ku lepaskan!!" Ucap Jimin menatap Ana tajam dan keluar dari ruang ganti.
Deg,
Seperti belati yang menusuk hati Ana hingga menembus kejantung.
Brak!
Jimin menutup pintu agak kasar, Ana terdiam dan berfikir apa yang dia lakukan itu salah atau benar. Ana hanya tersenyum menatap pantulan dirinya dicermin.
Ana berdiri dan mengambil piyama didalam lemari dan memakainya. Piyama yang agak tertutup lengan panjang dan celana panjang bercorak bunga mawar hitam putih.
Saat Ana keluar dari ruang ganti, ana tidak mendapati Jimin dikamar dan mencarinya keluar kamar keruang tamu ruang makan dan ruang baca tapi tidak menemukan jimin.
Ana kehalaman belakang juga tidak ada didepan semua mobil Jimin terparkir dan tidak ada yang pergi.
Sampai Ana bertanya pada pelayan.
"Ahjuma? Dimana Jimin?" Tanya Ana.
"Tuan muda ada diruang kerjanya Nyonya" ucap Ahjuma.
"Ahh baiklah" ucap Ana senyum dan berlaku keruang kerja Jimin.
"Apa dia sudah makan?" Tanya Ana.
"Belum Nyonya.. aku akan mengantarkan ini ke ruang kerjanya Tuan" ucap Ahjuma membawa nampan makanan.
__ADS_1
"Biar aku saja yang mengantarkannya" ucap Ana senyum dan mengambil alih nampan dari tangan pelayan.
"Tapi nyonya.. Tuan muda bilang tidak ingin bertemu dengan anda untuk saat jika Nyonya kesana aku takut nyonya akan dimarahi" ucap Ahjuma khawatir.
"Akan ku tanggu kemarahannya" ucap Ana senyum paksa.
Deg,
Pelayan itu menatap Ana seakan hatinya yang teriris.
"Nyonya..." Ucap Ahjuma merasa iba.
"Aku akan baik-baik saja" ucap Ana miris.
Pelayan hanya menganggukan dan menatap Ana berjalan keruang kerja Jimin.
"Dia bukan istri Tuan Muda Park tapi kenapa dia melakukan ini" ucap pelayan itu lirih meneteskan air matanya melihat Ana.
Ana berjalan membawa nampan makanan itu menuju ruang kerja Jimin. Sesampainya didepan pintu Ana menghela nafas panjang meskipun jantungnya berdetak kencang tapi...
Ana langsung membuka pintu tanpa mengetuknya, ruangan yang sangat gelap dan tidak ada cahaya sedikitpun perlahan Ana meletakkan nampan itu dimeja yang ia lihat samar-samar.
"Ji... Jimin... A..apa kau didalam?" Ucap Ana menelan Saliva kasar.
Tidak ada jawaban dari Jimin hanya ada suara AC dan detik jarum jam yang berbunyi. Tiba-tiba pintu ruangan itu tertutup dan Ana membulatkan matanya karena didalam ruangan itu tidak ada cahaya sama sekali.
"I..ini... Pintunya tertutup" ucap Ana takut berusaha membuka pintu.
"Pintunya terkunci" ucap Ana lirih.
Detik berikutnya Ana hampir kehilangan nafasnya dan terperosot bersandar di pintu. Tangannya lemas dan Ana memiliki kelainan klaustrafobia.
Ana memiliki kelainan ini karena sewaktu kecilnya Ibu angkatnya mengurungnya di gudang sempit dan gelap jika Ana melakukan kesalahan. Seringnya Ana dikurung ketakutan dalam kegelapan ini menjadi penyakit yang susah dihilangkan dalam diri Ana tapi Ana sendiri tidak mengetahui hal itu yang sudah lama ada pada dirinya.
"Buka pintunya tolong!!.. Jimin tolong aku.. kau dimana.. dadaku sesak" rintih Ana memegangi dadanya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku.. Jimin tolong aku ku mohon" ucap Ana menangis dan membuat nafasnya semakin sesak.
•Klaustrafobia• batin Jimin yang sedari tadi berdiri disamping pintu tapi Ana tidak mengetahui.
"Jimiiinnn... Tolong aku.." teriak Ana.
Jimin menyalakan lampunya didetik terakhir nafas Ana yang hampir putus. Ana bernafas lega saat melihat cahaya yang bersinar menusuk matanya.
"Haahhh..." Dengan keringat berpeluh Ana bersandar di pintu dan tidak melihat Jimin.
Samar-samar Ana melihat bayangan Jimin yang berdiri dihadapannya. Ana membuka matanya perlahan dan melihat Jimin dihadapannya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku.." ucap Ana lirih menatap Jimin yang berjongkok dihadapannya.
"Kau bertanya kenapa? Aku hanya mengujimu saja Yoon-gi Hyung bilang kau takut kegelapan jadi aku ingin tau apa itu benar atau tidak" ucap Jimin.
"Keterlaluan!! Kau sudah mengetahui itu sejak lama kenapa kau lakukan ini?? Kau mau membunuhku?" Ucap Ana dengan mata berkaca-kaca
"Kalau iya bagaimana" ucap Jimin dingin.
Perkataan itu sukses membuat Ana membulatkan matanya dan air matanya mengalir tanpa aba-aba. Ana menatap Jimin lekat dengan air mata yang mengalir deras dipipinya. Seakan-akan kata-kata Jimin sebelumnya hanyalah angin lalu.
"Kau mau membunuhku?? Kenapa tidak langsung menusukkan belatimu kedadaku atau mengarahkan pistolmu di kepalaku? Kenapa harus dengan cara seperti ini?" Ucap Ana tatapan kosong dengan air mata mengalir deras.
"Aku tidak mau mengotori tanganku dengan darahmu" ucap Jimin santai.
"Berikan belatimu.. akan ku bunuh diriku sendiri agar kau senang.. ternyata ini keinginanmu?? Kau membawaku kemari karena ingin membunuhku perlahan kan?? Atau kau berfikir jika kau tidak bisa memiliki diriku maka Yoon-gi juga tidak boleh makanya kau ingin membunuhku.. begitu kan??" Ucap Ana menangis.
"Jawab aku Park Jimin!!" Ucap Ana dengan nada tinggi.
"Kau cukup pintar berfikir kenapa aku harus menjawabnya?" Ucap Jimin berdiri.
"Setega ini kau denganku?" Ucap Ana lirih terpaku dalam tangisnya.
"Apa kau masih mengingat kata-kata ku dulu? Apa yang aku bilang dan kau berjanji padaku? Saat kita resmi berpacaran sebulan setelah itu apa yang aku katakan padamu Kim Ana!!" Ucap Jimin menekan katanya.
"Putar memorimu dan ingat apa yang pernah aku katakan!!" Ucap Jimin kasar.
Ana terdiam dan mengingat semua kejadian awal dia bertemu dengan Jimin dan bagaimana Jimin berjanji padanya begitu pun dengannya. Sekatapun Ana tidak pernah melupakan kata-kata Jimin dan janjinya untuk selalu setia dengannya sampai mau memisahkan begitupun dengan Ana.
__ADS_1
Jimin adalah orang yang lembut hangat dan perhatian tapi apa yang dia ucapkan baik atau buruk itu akan tetap dilakukan meskipun orang lain telah melupakannya tapi saya ingat Jimin selalu aktif apalagi soal janji dan impiannya bersama Ana yang pernah mereka bangun bersama selama empat tahun terakhir ini.
__________________