
"Oppa?... Kau sudah datang?"
"Apa aku membangunkanmu?" Tanya Yoon-gi.
"Aniya Oppa" ucap Ana dengan suaranya khas bangun tidur.
"Aku akan mandi" ucap Yoon-gi beranjak dan menuju kamar mandi.
"Nee, aku akan menyiapkan pakaianmu" ucap Ana.
Sore itu sunsetnya cukup bagus berwarna jingga. Setelah selesai menyiapkan pakaian Yoon-gi Ana keluar dan berdiri dibalkon kamarnya sembari menatap matahari yang semakin menghilang.
Angin yang berhembus membuat Ana memejamkan matanya dan membiarkan angin melewati wajahnya disetiap hembusan angin.
Yoon-gi yang sudah memakai pakaiannya melihat Ana berdiri di balkon dengan dress yang berhembus akibat angin menerpanya.
Sunset yang sangat indah berwarna jingga kemerahan yang menyinari kota Seoul. Yoon-gi berjalan dan berdiri diambang pintu menatap Ana dari belakang yang menikmati sejuknya sore hari.
"Kau bisa masuk angin nanti" ucap Yoong yang seketika membuat Ana membuka matanya.
"Oppa" ucap Ana saat melihat Yoon-gi berdiri diambang pintu.
"Mandilah dan bersiap untuk makan malam" ucap Yoon-gi berlaku meninggalkan Ana dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Nee" ucap Ana mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi.
15 menit berlalu, Ana keluar dari kamar mandi mengenakan piyama berwarna merah tua yang bermotif bunga mawar.
Ana melihat Yoon-gi tertidur dengan ponsel ditangannya. Perlahan Ana mengambil ponselnya dan meletakkannya di meja.
Ana ingin membangunkannya untuk makan malam tapi Ana berfikir itu akan mengganggunya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan lesu, jadi Ana membiarkan Yoon-gi tertidur.
Setelah itu Ana berjalan keluar kamar dan menuju ruang makan dimana makanannya sudah siap.
"Ahjuma, bisakah kalian simpan dulu makanannya" ucap Ana.
"Nee Nyonya, tapi kenapa?" Tanya ahjuma.
"Yoon-gi oppa masih tidur, jadi simpan saja dulu setelah dia bangun nanti dipanaskan baru sajikan kembali" ucap Ana.
"Nee Nyonya" ucap Ahjuma dan berlalu untuk menyimpan makanannya.
Ana berjalan menuju ruang tamu dan menonton televisi sambil memakan beberapa cemilan dan meminum jus.
Pukul 19:00 malam Yoon-gi terbangun dan berjalan menuju ruang makan, tapi Yoon-gi tidak melihat sepiring makanan pun dan menuju ruang tamu karena mendengar suara televisi dan melihat Ana duduk sambil memakan cemilan.
"Ana?" Panggil Yoon-gi.
"Oppa.. kau sudah bangun" ucap Ana berdiri menghampiri Yoon-gi.
"Apa para pelayan tidak masak, kenapa tidak ada makanan?" Tanya Yoon-gi.
"Aku menyuruh mereka menyimpannya karena oppa masih tidur tadi" jelas Ana.
"Apa oppa lapar?" Sambung Ana.
"Hmm" ucap Yoon-gi malas.
"Baiklah, oppa duduk dulu dimeja makan aku akan mengambil makanannya untuk dipanaskan dulu" ucap Ana.
"Hmm" ucap Yoon-gi sambil berjalan menuju meja makan.
Selagi Ana memanaskan masakan Yoon-gi memperhatikan Ana dengan mata sayu, dalam hatinya masih memikirkan apakah pernikahan ini benar atau salah.
Yoon-gi menyadari bahwa Pernikahan ini Hanya untuk membantu keluarga Kim. Dan Yoon-gi juga tersadar bahwa dirinya tidak bisa mencintai Ana.
"Ini oppa" ucap Ana menyodorkan makannya dan segelas jus jambu.
"Aku mau air mineral" ucap Yoon-gi.
"Ahh, baiklah" ucap Ana menukar jus jambu dengan air biasa.
Selama Yoon-gi makan Ana hanya diam dam memperhatikannya. Karena sudah banyak memakan cemilan Ana sudah merasa kenyang.
Ana hanya menatap wajah Yoon-gi yang sedang lahapnya makan dan tanpa disadari senyumannya mengembang sempurna saat melihat suaminya begitu dekat.
Rasa cintanya semakin hari semakin tumbuh dan tidak ada kata berkurang. Ntah baik atau buruk perlakuan Yoon-gi pada Ana, rasa cinta Ana untuk sang suami malah terus bertambah.
•Andai saja kau mencintaiku seperti aku mencintaimu, mungkin kebahagiaan ini berkali-kali lipat lebih dari yang aku bayangkan• Batin Ana dengan lamunannya menatap wajah Yoon-gi dalam.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku begitu?" Ucap Yoon-gi yang menyadari Ana menatapnya sedari tadi.
"Aniya, aku hanya senang saja melihat Oppa makan dengan lahap" ucap Ana senyum.
"Hmm" ucap Yoon-gi melanjutkan makannya
•Dia masih sama belum menunjukkan perubahan sikapnya padaku, kadang baik dan kadang dingin.. aku tidak mengerti dengan sifatnya yang sebenarnya• Batin Ana.
Setelah selesai makan Yoon-gi berjalan menuju ruang TV dan memutar drama Korea. Diikuti Ana yang duduknya agak jarak dengan Yoon-gi tapi masih satu sofa dengannya.
Dalam drama 'What wrong with secretary Kim' terdapat beberapa adegan yang romantis dan saat adegan ciuman yang cukup dalam, Ana hanya terdiam saat melihat drama itu sedangkan Yoon-gi langsung mengganti channel-nya.
•Andai pernikahan ini sehangat drama mereka... pasti aku sangat bahagia sekarang• Batin Ana tersenyum tipis.
Yoon-gi terlihat sangat santai malam itu, Ana hanya terdiam dan bersandar di sofa yang cukup nyaman untuk membaringkan tubuh kecilnya.
•Sedingin inikah hubungan kami berdua?? Dia bahkan tidak berbicara denganku sama sekali, jangankan berbicara melirikku saja tidak• Batin Ana yang sesekali melihat kearah Yoon-gi yang memakan cemilan.
"Oppa?" Panggil Ana.
"Hmm" ucap Yoon-gi tanpa melihat kearah Ana.
"Aku akan ke kamar, aku rasa aku mulai mengantuk" ucap Ana.
"Hmm" ucap Yoon-gi yang matanya masih terfokuskan ke televisi.
"Baiklah, selamat malam" ucap Ana dan berlalu ke kamar.
Ntah apa yang membuat Ana bersedih sehingga tanpa sadar air matanya mengalir cukup deras, Ana menutup mulutnya agar tidak bersuara dan juga agar Yoon-gi tidak mengetahuinya.
Braaakk!!
__ADS_1
Ana menutup pintu cukup keras dan tersungkur di balik pintu dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku pikir setelah menikah, aku akan bahagia... Nyatanya itu hanya sebuah mimpi dan tidak akan terjadi.. Aku tidak bisa mendapatkan cinta suamiku sendiri meskipun aku mencintainya" ucap Ana menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa ini terjadi padaku, orang tua kandungku membuangmu dan sekarang aku harus membalas Budi orang tua angkatku dengan menikah dengan pria seperti es ini... Aku tidak mengerti dengan sikapnya yang berubah-ubah seperti ini..." Ucap Ana masih menangis dalam diam.
Tok
Tok
Tok
"Ana? Buka pintunya" Panggil Yoon-gi.
Seketika Ana Terkejut dan mengusap air matanya. Dan langsung membaringkan dirinya diranjang dan berpura-pura sudah tidur.
"Ana?? Kau sudah tidur??" Panggil Yoo hi yang terus mengetuk pintu.
Ceklek
Yoon-gi membuka pintu kamar dan masuk.
"Jika pintunya tidak dikunci untuk apa aku memanggilnya tadi" ucap Yoon-gi sambil menutup pintu dan menguncinya.
Yoon-gi berjalan dan melihat Ana sudah tertidur Yoon-gi menambah suhu AC karena malam itu agak gerah dan panas.
Lalu Yoon-gi merebahkan tubuhnya disamping Ana yang posisinya membelakangi Yoon-gi.
Cupp!!
Satu kecupan mendarat di kening Ana dan membuat Ana terkejut tanpa membuka matanya.
"Selamat malam chagiya" ucap Yoon-gi memakaikan selimut untuk Ana.
•Jika kau tidak mencintaiku, kenapa kau melakukan ini Yoon-gi aa... kau membuatku semakin mencintai mu.. kenapa kau harus memanggilku dengan sebutan Chagiya.. kenapa...• batin Ana yang perlahan membuka matanya dan menangis dalam diam.
****
Pagi harinya,
Kringg
Kringg
Kringg
Alarm ponsel yang Ana stel berbunyi, tangannya yang mencoba mengambil ponselnya diatas meja dan mematikannya. Telihat pukul 06:00 pagi Ana segera bangun dan berjalan ke meja riasnya untuk menyisir rambut.
Sesekali Ana menatap Yoon-gi yang masih tertidur dipantulkan kaca sambil menyisir rambut panjangnya.
Ana hanya bisa tersenyum tipis saat melihat Yoon-gi tertidur seperti buntalan kapas yang putih.
•Bolehkah aku memelukmu saat aku tidur?? Jika boleh itu pasti sangat menyenangkan• Batin Ana yang melihat Yoon-gi dari pantulan cermin dan tersenyum tipis.
Setelah itu, Ana berlalu ke kamar mandi untuk mandi.
15 menit kemudian, setelah selesai mandi Ana masih melihat Yoon-gi yang tertidur. Pagi itu cuacanya tidak mendukung gerimis disertai awan putih menyelimuti kota Seoul dan rintikan air menetes pada dinding kaca besar.
"Oppa?" Panggil Ana lembut.
" Oppa.. apa hari ini oppa tidak ke kantor?" Tanya Ana lembut.
"Jam berapa sekarang?"
"Pukul 06:30" ucap Ana.
"Hmm, ambilkan ponselku di atas meja dekat sofa itu" ucap Yoon-gi.
"Nee" ucap Ana berdiri dan berjalan mengambil ponsel Yoon-gi.
Kringg
Kringg
Ponsel Yoon-gi berbunyi dan terdapat nama Irene disana.
•Irene??• batin Ana saat melihat nama Irene dilayar ponsel Yoon-gi.
"Siapa yang menelfon" tanya Yoon-gi yang masih setia dengan tidurnya dengan posisi tangan yang menutupi matanya.
"Irene" ucap Ana.
Yoon-gi kaget dan bangun dari tidurnya.
"Angkat dan speakers" ucap Yoon-gi dan duduk dipinggir ranjang.
"Nee" ucap Ana.
📲:"Chagiya???" Ucap Irene dengan suara manja.
📱:" Hallo??" Ucap Ana dengan suara pelan.
📲:"Kau?? Dimana Yoon-gi? Kenapa ponselnya ada padamu??" Ucap Irene.
Ana melirik kearah Yoon-gi yang berjalan kearahnya dan langsung memeluk Ana dari belakang.
"Katakan aku sedang tidur" bisik Yoon-gi ditelinga Ana.
📱:"Yoon-gi oppa masih tidur" ucap Ana.
📲:"Bohong,, berikan ponselnya padanya sekarang juga" ucap Irene mulai kesal.
📱:" Tapi dia sedang tidur, dia akan marah jika dibangunkan" ucap Ana.
📲:"Heiii,, aku katakan berikan ponselnya padanya.." ucap Irene kesal.
"Matikan" bisik Yoon-gi.
"Tapi oppa..." Ucap Ana menutup lubang suara di ponsel Yoon-gi.
"Matikan saja" bisik Yoon-gi dengan mata yang sedikit tertutup dan masih mengantuk.
__ADS_1
📲:" Heiii kau mendengarku bukan?? Berikan pon...."
Tutt tutt tutt!!
Ana mematikan telfonnya.
Ana masih terdiam menggenggam erat ponsel Yoon-gi dan Yoon-gi masih dalam posisi memeluk Ana.
"Kau marah?" Ucap Yoon-gi tepat ditelinga Ana yang membuat Ana merinding.
"Aniya Oppa" ucap Ana menahan air matanya agar tidak menetes.
"Aku sudah menyiapkan air untuk oppa mandi" ucap Ana dengan suara bergetar.
"Kau menangis?? Hmm??" Tanya Yoon-gi yang mempererat pelukannya.
"Aniya Oppa" ucap Ana.
"Biarkan aku memelukmu lebih lama, ini sangat dingin" ucap Yoon-gi meletakan dagunya dibahu Ana dan memejamkan matanya.
"Aku akan mematikan AC nya" ucap Ana.
Yoon-gi langsung membalikkan butuh Ana dan mencium bibir Ana sekilas.
"Kau terlalu banyak bicara" ucap Yoon-gi menarik dekat pinggang Ana.
Ana terdiam dan menundukkan wajahnya, Yoon-gi menarik kepala Ana dan didekatkan didadanya dan memeluk Ana erat.
"Aku tau kau mencintaiku An, aku tau kau menangis setiap saat, aku juga tau kau selalu bertanya kenapa aku terlihat perhatian padamu dan kadang dingin denganmu" ucap Yoon-gi yang membuat air mata Ana menetes.
"Aku tidak menampakkan cintaku karena aku tidak percaya dengan cinta, tolong ajari aku bagaimana caranya agar aku bisa mencintaimu" ucap Yoon-gi membuat Ana terdiam dengan air mata yang masih mengalir.
"Apa oppa bisa mencintaiku??" Ucap Ana.
"Suatu saat pasti bisa" ucap Yoon-gi.
Ana menenggelamkan wajahnya didada Yoon-gi dan menangis sehingga membasahi piyama Yoon-gi.
Semakin erat pelukan Yoon-gi pada Ana dan gerimis yang awalnya mereda menjadi hujan yang sangat deras dan disertai angin kencang membuat seluruh tirai kamar berkibar.
Ana memejamkan matanya dan sayu-sayu rasa ngantuknya kembali pada diri Ana. Yoon-gi menggendong Ana dan menidurkan nya di ranjang.
Yoon-gi mengambil ponselnya dari genggaman Ana dan menelfon sekretarisnya.
📱:"Sekertaris Tya?"
📲:"Nee Presdir?" Ucap sekertaris Tya.
📱:"Aku ambil cuti hari ini kau urus semua dokumen untuk besok rapat dengan perusahaan park" perintah Yoon-gi.
📲:"Baik presdir" ucap sekertaris Tya.
Tutt tutt tutt
Yoon-gi mematikan telfonnya dan meletakkan di meja. Sesekali matanya menuju kearah Ana yang tertidur dengan cepat dipelukannya.
•Irene?? Sepertinya aku harus mengingkari janji kita, aku sudah mulai mencintai Ana• batin Yoong menatap Ana lembut dan langsung menuju ke kamar mandi.
15 menit kemudian, Yoon-gi keluar dari kamar mandi dan masih melihat Ana tertidur. Yoon-gi tersenyum tipis dan ikut berbatik dibelakang Ana dan memeluknya.
•Bantu aku agar aku bisa mencintaimu An• batin Yoon-gi yang mempererat pelukannya.
Aman bisa merasakan pelukan Yoon-gi tapi karena kantuk yang membuat matanya tidak bisa terbuka Ana hanya bisa merasakan pelukan hangat dari sang suami.
Selama menikah hingga saat ini, ini kali pertama Yoon-gi memeluk Ana saat sedang tidur.
Hujan Dipagi hari itu semakin deras hingga siang. Hujan yang begitu lebat membuat Ana dan Yoon-gi tertidur pulas dikamar mereka.
Hingga pukul 09:07 Ana terbangun dan melihat Yoon-gi masih tidur dan memeluknya hujan yang belum berhenti membuat cuaca semakin dingin dan terlihat mendung putih diluar jendela.
Ana tersenyum tipis saat melihat tangan kekar itu melingkar diperut Ana.
•Seandainya aku bisa merasakan ini setiap hari• batin Ana tersenyum tipis saat mendongakkan wajahnya yang hampir bersentuhan dengan wajah Yoon-gi.
Hembusan nafas Yoon-gi bisa dirasakan oleh Ana kini wajahnya semakin dekat dengan Yoon-gi dan...
Cupp,
Ana memberanikan diri untuk mengecup bibir Yoon-gi sekilas dan membuat Yoon-gi terbangun.
Deg,
Ana terkejut saat melihat mata Yoon-gi terbuka secara spontan.
"Berani sekali" ucap Yoon-gi dengan suara khas bangun tidur.
"Op...oppa..." Ucap Ana perlahan menyingkirkan tangan Yoon-gi.
Yoon-gi yang menyadari Ana akan menyingkirkan tangannya malah menarik Ana sangat dekat bahkan tidak ada cela sedikitpun untuk Ana bisa melepaskan pelukannya.
"I..itu... A..aku hanya...." Ucap Ana terbata.
"Ssstttt, kau terlalu berisik.. kau dengar hujan sudah begitu deras dan kau banyak bicara" ucap Yoon-gi menatap Ana.
"A..aku hanya"
"Diam!!" Ucap Yoon-gi.
"M..mian..." Ucap Ana yang wajahnya memerah.
"Kau membangunkanku bukan?? Sekarang aku sudah bangun kau mau apa?" Ucap Yoon-gi.
"Kau tadi melakukan apa hmm??" Sambung Yoon-gi.
"M..mianhe oppa" ucap Ana yang langsung terdiam.
"Bagaimana jika kita melakukan itu Dipagi hari?" Tawar Yoon-gi smrik.
Ana membulatkan matanya mengerti apa yang dimaksud Yoon-gi dengan melakukan itu.
"I..itu..."
__ADS_1
"Kau yang menggangguku duluan chagiya dan cuaca ini sangat mendukung, kau kedinginan kan jadi mari kita hangatkan" ucap Yoon-gi menatap Ana dalam.
•Jika aku tau akan seperti ini, aku tidak akan menciumnya tadi• batin Ana tersenyum tipis saat melihat wajah Yoon-gi sangat dekat dengan wajahnya.