
"Kau istirahat lah, aku mau mandi setelah itu kau mandi" ucap Yoon-gi.
"Baik" ucap Ana sedikit canggung dengan suasana baru.
Selagi Yoon-gi sedang mandi Ana merebahkan tubuhnya sebentar di atas kasur dan menatap langit-langit kamar.
"Semoga pernikahan ini berjalan hingga aku bisa mencintainya pria yang sekarang adalah suamiku" ucap Ana.
"Semoga saja kehidupanku lebih baik dari sebelumnya, ibu mertuaku sangat baik padaku. Semoga saja aku bisa merasakan kasih sayang ibu seperti dulu" ucap Ana.
Setelah beberapa menit merebahkan tubuhnya, Ana bangkit dari tidurnya dan mencoba melepas gaun pernikahannya. Ana tampak kesulitan saat melepas resleting gaun itu. Tangannya tidak sampai untuk meraih resleting gaunnya.
"Kenapa gaun ini malah tersangkut" ucap Ana yang masih berusaha membuka gaunnya.
Dengan bersamaan Yoon-gi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di perutnya menutupi bagian perutnya hingga paha.
Yoon-gi menatap Ana yang sedang membuka resletingnya dengan susah payah. Ana tidak menyadari bahwa Yoon-gi telah keluar dari kamar mandi dan sedang menatapnya.
"Haiss, tanganku sampai sakit dibuatnya.. bagaimana caranya aku melepaskan gaun ini" ucap Ana menyerah untuk membuka gaunnya.
Bagian punggung Ana sudah terlihat sebagian dan Yoon-gi hanya menatapnya dari ambang pintu kamar mandi. Yoon-gi berjalan kearah Ana dan membantu membukakan resletingnya.
Sreeeeettt!! Yoon-gi membuka resleting hingga bawah dan membuat Ana sangat terkejut.
"Ka..kau..." Ucap Ana berbalik dan melihat Yoon-gi.
"Apa?"
"Se..sejak kapan kau ada disana" tanya Ana berusaha menahan gaunnya yang hampir jatuh.
"Sejak kau berusaha membuka resleting gaun ini" ucap Yoon-gi santai.
"Kau melihatku?",
"Apa? Kenapa? Ada masalah? Bukankah kau istri ku sekarang?" Ucap Yoon-gi membuka handuknya.
"Aaaaahhh!!" Teriak Ana dan menutup matanya dengan tangannya saat melihat Yoon-gi membuka handuknya.
"Apa?" Ucap Yoon-gi santai.
"Kau.. apa yang kau lakukan" ucap Ana masih menutupi matanya.
"Pergilah, dan bersihkan dirimu" ucap Yoon-gi sambil memakai pakaiannya.
Dengan cepat Ana masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
"Pria itu, benar-benar tidak punya malu" ucap Ana didalam kamar mandi.
"Heiii Pabo!! Aku bisa mendengarmu dari sini" teriakan Yoon-gi dari luar kamar mandi.
"Mi...mian" ucap Ana.
15 menit berlalu Ana keluar dari kamar mandi, karena Ana lupa membawa baju ganti maka Ana hanya memakai handuk yang menutupi tubuhnya dari dada hingga lutut.
Betapa terkejutnya dia saat melihat Yoon-gi berbaring diatas kasur dan memainkan ponselnya.
"Ahhh!!" Teriak Ana.
Yoon-gi menurunkan ponselnya dan menatap Ana tajam.
"Bisakah kau berhenti berteriak?" Ucap Yoon-gi dingin.
"Mi..mian... Aku tidak terbiasa dengan ini" ucap Ana.
"Itu.. ganti pakaian disana" ucap Yoon-gi.
•Tubuhnya lumayan bagus• batin Yoon-gi yang melihat Ana berjalan menuju ruang ganti.
Ana berjalan kearah ruang ganti yang ditunjukkan Yoon-gi. Dan memakai piayamanya. Setelah selesai Ana berjalan kearah tempat tidur dan duduk didepan meja rias dan menyisir rambut panjangnya.
Yoon-gi meletakan ponselnya dan menghilangkan tangan nya sambil menatap Ana.
•Gadis ini lumayan cantik juga• Batin Yoon-gi.
Ana masih belum menyadari bahwa Yoon-gi menatap dirinya. Ana masih terus menyisir rambutnya dan setelah itu Ana berbaring disamping Yoon-gi.
Ana tidak berani melihat Yoon-gi makanya Ana tidak tau bahwa Yoon-gi menatapnya. Beberapa menit berlalu Ana bangun dari baringnya dan berdiri membelakangi Yoon-gi.
•Aku merasa, kalau dia sedang menatapku• batin Ana jantungnya mulai berdegup kencang
__ADS_1
•Semoga dia tidak melakukan apapun padaku• ucap Ana menggenggam erat tangannya.
Tiba-tiba tangan kekar milik Yoon-gi melingkar diperut Ana dan mendekapnya sangat kuat. Ana terkejut dan sedikit canggung dan bingung harus berbuat apa.
"A..apa yang kau lakukan?" Ucap Ana.
"Menurutmu apa?" Ucap Yoon-gi berbisik ditelinga Ana dengan nada Berat.
"A..aku tidak tau" ucap Ana gugup.
"Menurutmu apa yang dilakukan suami istri saat malam pertama?" Tanya Yoon-gi yang mempererat pelukannya.
•Cengramannya kuat sekali• batin Ana.
Ana masih terdiam saat Yoon-gi mulai mencium lehernya.
"Tu..tunggu dulu.. tunggu..." Ucap ana mencoba melepaskan pelukan Yoon-gi.
"Katakan saja tanpa harus melepaskan pelukannya" ucap Yoon-gi.
"Ka...kau minum anggur?" Tanya Ana.
"Hmm..." Ucap Yoon-gi meletakan dagunya dipundak Ana.
"Ibuku telah memberikan kau padaku. Bukankah rugi jika aku tidak menyentuhmu Nona Kim Ana... Ohh mian, maksudku Nyonya Muda Min Ana" ucap Yoon-gi.
"A..aku rasa kau mabuk" ucap Ana takut.
"Kenapa? Kau takut? Hmm?" Ucap Yoon-gi membalikkan badan Ana dan masih memeluknya.
"Ini malam pertama kita, bersikaplah seperti istri yang baik.. atau aku akan memaksamu!!" Ancam Yoon-gi.
•Di..dia...• batin Ana tidak percaya dengan ucapan Yoon-gi. Ntah dia akan mengatakan saat mabuk saja atau lain kali dia akan mengucapkan ancaman seperti ini lagi.
"Meskipun kita tidak saling mencintai.. tapi tidak salah kan jika kau memenuhi tugasmu sebagai istri? Hmm? Bagaimana? Nyonya Min Ana??" Tanya Yoon-gi.
•sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, tapi dia sudah menjadi suamiku dan dia berhak atas tubuhku, apa aku harus mengiyakan permintaannya.. aku tidak keberatan melakukannya tapi jika dia dalam keadaan mabuk seperti ini....• batin Ana bimbang.
"Heii.. jawab!!" Ucap Yoon-gi.
"A...aku tidak keberatan melakukannya.. ta..tapi jika kau mabuk.. a..aku tidak mau" ucap Ana.
Yoon-gi membulatkan matanya karena mendengar Ana bicara seperti itu. Yoon-gi memperkuat cengkramannya pada pinggang ramping Ana.
"Ta..tapi...ka..."
Belum selesai Ana berbicara Yoon-gi susah ******* bibir lembut Ana dan menuntun nya keatas kasur dan mulai menindih Ana.
Ana tidak bisa bergerak sedikitpun karena tenaganya tidak ada apa-apa nya dibandingkan tenaga Yoon-gi. Yoon-gi mengunci semua pergerakan Ana hingga Ana tidak bisa bergerak.
Yoon-gi masih ******* bibir Ana dan tangannya mulai melepas kancing baju piyama Ana. Ana berusaha menahannya hanya saja cengraman tangan Yoon-gi yang menahan tangannya lebih kuat dibanding pemberontaknya.
****
Keesokan harinya,
Perlahan Ana membuka matanya dan melihat Yoon-gi masih tertidur disampingnya. Rasa perih pada bagian sensitif nya sangat terasa. Ana mencoba bangun dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan menutupi tubuh Yoon-gi.
Ana menambah suhu AC nya karena melihat Yoon-gi berkeringat. Ana mencoba untuk berjalan ke kamar mandi tapi baru beberapa langkah Ana tersungkur dilantai.
"Awww!!" Rintih Ana terjatuh dilantai.
Yoon-gi yang mendengar itu langsung terbangun dan melihat Ana terduduk dilantai.
"Apa yang kau lakukan disana?" Tanya Yoon-gi dengan mengumpulkan tenaganya.
"A..aku mau ke kamar mandi.. tapi..."
"Tapi apa?" Tanya Yoon-gi.
"Ini terlalu sakit untuk berjalan" ucap Ana.
Yoon-gi beranjak dari duduknya dan menarik piyama disampingnya dan memakainya. Yoon-gi berjalan kearah Ana dan menggendongnya menuju kamar mandi.
Yoon-gi meletakkan Ana di bathtub dan menyalakan keran air hangat dan menyiapkan handuk Ana.
"Mandilah" ucap Yoon-gi keluar kamar mandi dan merebahkan tubuhnya kembali di tempat tidur.
Sementara itu Ana berendam di bathtub dan menatap langit-langit kamar mandi.
__ADS_1
"Rumah yang sangat mewah" gumam Ana.
15 menit berlalu Ana mencoba untuk keluar kamar mandi, tapi saat baru saja berjalan beberapa langkah Ana kembali terjatuh dan terkena wastafel.
Bruukkk!!!
"Aaaaa!!" Teriak Ana saat tangan kanannya mengenai wastafel.
Yoon-gi sontak kaget mendengar Ana berteriak dari dalam kamar mandi. Yoon-gi langsung mendobrak pintu kamar mandi dan Ana masih terduduk di bawah wastafel dan mencoba untuk berdiri.
"Gadis bodoh!!" Ucap Yoon-gi dengan cepat mengangkat tubuh Ana dan membawanya keluar.
"Apa yang kau lakukan eoh? Bagaimana jika kepalamu yang terbentur?" Ucap Yoon-gi sambil berjalan membawa Ana keluar.
"Mi...mian, aku tadi mau berjalan tapi terlalu sakit dan aku terjatuh" ucap Ana pelan.
"Pabo! Kau bisa memanggilku dan tidak perlu melakukan itu" ucap Yoon-gi mengambil kotak P3k.
"A..aku tidak mau merepotkan mu" ucap Ana.
Yoon-gi tidak menanggapi ucapan ana dan segera mengobati siku ana yang terluka.
"Buka pahamu" ucap Yoon-gi.
"Wa..wae??"
"Aku akan memberikan salep agar tidak terlalu sakit" ucap Yoon-gi.
"A..aku akan melakukannya sendiri" ucap Ana mengambil salep dari tangan Yoon-gi.
"Kau yakin bisa?"
"I..iyaa.. iya tentu saja aku bisa" ucap Ana.
"Baiklah terserah padamu, aku harus bersiap-siap dan pergi ke kantor" ucap Yoon-gi.
"Baik"
Beberapa menit kemudian Ana mencoba berjalan sambil memegangi tembok. Ana berjalan menuruni satu per satu tangga dan menuju dapur.
Belum sampai kedapur kepala pelayan menyuruh Ana untuk duduk dimeja makan dan jangan kedapur.
"Nyonya muda" sapa kepala pelayan.
"Iya" ucap Ana menghentikan langkahnya.
"Nyonya, tolong jangan kedapur" ucap kepala pelayan itu.
"Eoh?? Wae??" Tanya Ana.
"Nyonya, Tuan berpesan agar nyonya tidak menginjak dapur untuk memasak ataupun hanya melihat-lihat" ucapan kelapa pelayan menjelaskan.
"Wa..wae??" Tanya Ana bingung.
"Aku melarangnya apa butuh alasan?" Ucap Yoon-gi yang berdiri di tangga.
"Tapi kenapa?" Tanya Ana.
"Dirumah ini banyak pelayan jadi jangan melakukan apapun" ucap Yoon-gi santai duduk dimeja makan.
"Ta..tapi aku suka memasak bagaimanpun aku sudah menikah tidak akan baik jika setiap hari kau dimasakkan oleh pelayan. Aku istrimu biarkan aku yang melayanimu" ucap Ana.
Sontak Yoon-gi menengok kearah Ana dan menatapnya.
"Wa..wae?? Kenapa kau menatapku begitu? Apa aku salah bicara?" Tanya Ana gugup.
Yoon-gi meletakkan sendok ya dan berjalan menghampiri Ana.
"Kau memang Istriku, aku melarangmu karena aku tidak suka tanganmu kotor" ucap Yoon-gi.
"Tapi bagaimanapun aku harus melayanimu. Jika kau melarangku melakukannya bagaimna bisa aku menjadi istri yang baik untukmu?" Ucap Ana.
Yoon-gi menarik nafas kasar dan mengembuskan nya dengan kasar juga.
"Cheng de, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan dirumah ini" ucap Yoon-gi berbalik dan melanjutkan makanannya.
"Duduk dan temani aku sarapan" sambung Yoon-gi menyuruh Ana.
"Ba..baik" ucap Ana.
__ADS_1
Sarapan pertamanya dan hari pertamanya menjadi seorang istri, Ana bingung apa yang harus dia lakukan ketika suaminya sedang bekerja.
****