Crystal Snow

Crystal Snow
Episode 26


__ADS_3

Pagi harinya,


Gerimis Dipagi hari membuat mendung putih dan hawa dingin menyatu. Ana masih tertidur pulas dalam dekapan Yoon-gi. Keduanya masih sama-sama memejamkan matanya dengan rapat.


Jam besar di ujung kamar berdentang cukup keras menunjukkan pukul 07:00. Hujan yang melanda Dipagi hari membuat tidur keduanya makin nyenyak.


Ana terkejut dan langsung membuka matanya saat mendengat jam yang berdentang. Ana melihat wajah Yoon-gi yang sangat dekat dekat dengan wajahnya.


Perlahan Ana menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya. Dan mencium pipinya.


"Gomawo" ucap ana lirih.


Ana mengangkat tangan Yoon-gi dan meletakkannya lembut. Perlahan Ana mengambil piyama dan memakainya kemudian mematikan jam yang berdentang cukup keras.


Kemudian Ana berjalan membuka pintu dan berdiri dibalkon kamar sambil menatap setiap air hujan yang menetes. Dedaunan kering yang basah terkena air memiliki aroma tersendiri.



Hujan semakin deras mengguyur kota Seoul. Ana masuk dan melihat Yoon-gi sudah berdiri diambang pintu dengan memakai piyama putih dan tangan yang terlipat didadanya. Yoon-gi menatap Ana dalam membuat Ana tersenyum lalu memeluknya.


"Wae chagiya?" Tanya Yoon-gi membalas pelukan Ana.


"Aniya.. aku hanya ingin memelukmu saja" ucap Ana.


"Apa tadi malam masih kurang? Hmm?" Tanya Yoon-gi memperkuat pelukannya.


"Ani" ucap Ana singkat menenggelamkan wajahnya didada Yoon-gi.


"Mau mandi?" Tanya Yoon-gi.


"Nee.. tapi dingin" ucap Ana.


"Akan aku hangatkan airnya" ucap Yoon-gi menggendong Ana menuju kamar mandi.


15 menit kemudian, setelah selesai mandi Ana dan Yoon-gi memakai baju santai. Pagi itu mereka berdua tidak ke kantor dan semua karyawan diliburkan oleh Yoon-gi.


Seharian itu Yoon-gi hanya ingin berdua bersama Ana menikmati kebahagiaan berdua bersamanya. Cuaca yang mendukung semakin membuat Yoon-gi tidak mau berpisah dengan Ana.


"Pelayan!" Panggil Yoon-gi.


"Nee Tuan Muda" ucap Ahjuma.


"Antarkan makanan kemari" ucap Yoon-gi.


"Baik" ucap Ahjuma.


Ana dan Yoon-gi duduk disofa disamping jendela dengan posisi Yoon-gi memeluk Ana. Dengan menatap setiap tetes air hujan yang menempel di jendela kaca.


"Oppa??" Panggil Ana.


"Nee chagia"


"Saranghae" ucap Ana.


"Nado saranghae chagia" ucap Yoon-gi mengecup kening Ana.


Hujan cukup deras disertai Guntur dan kilap yang membuat cahaya tersendiri.


Mengingatkan Ana akan kejadian berbulan-bulan lalu saat Yoon-gi belum mengakui dirinya.


Berbeda dengan hari ini yang dia rasakan. Bukan hanya cinta dan pelukan hangat dari sang suami yang sangat dicintainya tapi juga kebahagiaan yang selama ini hilang dari keluarganya.


Ana berharap kebahagiaan ini terus tumbuh sampai Yoon-gi dan dirinya menua dan memiliki banyak anak cucu.


Hanya harapan dan penantian untuk mewujudkan semua impian Ana. Selalu berdoa dan berusaha agar apa yang disemogakan tersemogakan.


Hujan mulai reda matahari sayu-sayu mulai muncul dri balik awan dan bersinar. Setelah selesai sarapan pagi Ana tertidur di dada Yoon-gi sedangkan Yoon-gi hanya mengelus lembut rambutnya.


Sesekali tangannya mengelus wajah Ana yang tertidur pulas. Mengecup keningnya dan mempererat pelukannya. Cahaya matahari mulai menembus dimatanya dan membangunkannya dari tidurnya.


Perlahan Ana membuka mata dan melihat Yoon-gi tersenyum gummy di hadapannya. Kulit putihnya bagaikan salju ditambah dengan bibir Semerah darah rambut yang menutupi sebagian wajahnya membuat Yoon-gi terlihat sangat tampan.


Ana hanya tersenyum dan mempererat pelukkannya seakan tidak mau melepaskan sang suami. Yoon-gi hanya bisa tersenyum dan membalas pelukan Ana.


Kamar yang sangat sunyi, hanya ada suara detik jarum jam yang mengisi kamar mewah itu.


Sesekali Ana memainkan tangannya didada Yoon-gi yang terbuka karena kancing piyamanya terlepas. Yoon-gi hanya tersenyum melihat Ana seperti Anaknya.


Melihat Ana begitu manja rasanya seperti seorang ayah yang bermain bersama putrinya.


"Chagi?" Panggil Yoon-gi dengan mengelus rambut panjang Ana.


"Nee?" Ucap Ana lirih dengan mengangkat wajahnya menatap Yoon-gi.


Cup,


Yoon-gi mencium bibir Ana sekilas.


"Kapan kau memberiku baby Min?" Tanya Yoon-gi mengelus pipi Ana.


"Tuhan akan memberinya untuk kita nanti" kata Ana senyum.


"Aku tidak memaksamu untuk cepat memberiku anak. Tapi pernikahan kita sudah hampir setengah tahun tapi kau belum hamil" ucap Yoon-gi.

__ADS_1


"Apa kita harus membuatnya lagi?" Tanya Ana dengan menggigit bibir bawahnya menggoda Yoon-gi.


"Aihh jangan lakukan itu.. aku bisa menahan apapun kecuali itu jangan memancingku" ucap Yoon-gi menutup matanya.


"Benarkah?? Tidak mau?? Ya sudah" ucap Ana berbalik badan.


Dengan sigap Yoon-gi meraih pinggang Ana dan menidurkannya disofa dan menindihnya.


"Jangan memancingku atau kau tidak akan bisa berjalan selama sebulan kedepan" ucap Yoon-gi.


"Ani Ani.. ayo turun oppa kau berat" ucap Ana terkekeh.


"Haisss" ucap Yoon-gi menindih Ana.


"Yaaakk... Oppa ayolah menyingkir" ucap Ana keberatan dan berusaha memindahkan tubuh Yoon-gi.


"Oppa.... Ampuni aku.." ucap Ana.


Yoon-gi hanya terkekeh dan berkali kali mencium bibir Ana dan bangun.


"Haaaahhhhh.. kau akan membunuhku jika begitu" ucap Ana bangkit dari tidurnya.


Yoon-gi terkekeh melihat Ana dengan bibir manyunnya.


"Baiklah.. ayo kita ke mall untuk berbelanja" ucap Yoon-gi menarik Ana untuk mengganti pakaian.


"Oppaaaaaa... Aku tidak mau" ucap Ana.


"Harus mau.. kita akan membeli banyak barang.. ayo istriku tercinta ayoo" ucap Yoon-gi dengan cepat menggendong tubuh ramping Ana. Ana hanya terkekeh dan Hanay bisa menuruti kemauan sang suami.


Ana mengganti pakaian begitupun dengan Yoon-gi. Mereka tidak tau saja seluruh pelayan rumah sangat khawatir dengan mereka yang sedari tadi tidak keluar kamar.


Dae Hyun dan pelayan rumah hanya terdiam dan terduduk di ruang khusus pelayan dan berbincang-bincang. Kemudian salah atau pelayan mendengar pintu kamar Yoon-gi terbuka.


Nampak Yoon-gi dan Ana yang melenggang keluar kamar dengan senyuman diwajah masing-masing. Dengan cepat seluruh pelayan berbaris sesuai barisan dan membungkuk setengah badan saat Yoon-gi dan Ana lewat.


"Dae Hyun.." panggil Yoon-gi.


"Nee Tuan muda" ucap Dae Hyun menunduk.


"Siapkan mobil.. aku akan pergi" perintah Yoon-gi.


"Baik" ucap Dae Hyun.


"Dan kalian semua.. kerjakan pekerjaan sesuai pekerjaan kalian.." ucap Yoon-gi dingin.


"Baik" ucap seluruh pelayan.


Dae Hyun kembali dan berkata mobil sudah siap. Yoon-gi dan Ana berjalan keluar dan segera menuju mall.


Sikap Yoon-gi yang dingin dan angkuh, bagaimana mungkin Yoon-gi mau melakukan itu semua. Ya, tentu saja mau karena menuruti keinginan dari wanita yang dia cintai.


Tuan muda yang dikenal angkuh sombong dan dingin sedingin gunung es itu mencair ketika bersama Ana yang selalu membuatnya tersenyum.


Setelah seharian berkeliling dan bersantai mengunjungi beberapa museum dan tempat wisata. menjelang malam Yoon-gi mengajak Ana berhenti sejenak disebuah kedai kopi tempat kesukaan Yoon-gi dengan teman-temannya sebelum menikah.


Teman-teman?? Ya, tentu saja mereka adalah Jimin,Taehyung,Jungkook, Hoseok, seokjin dan Namjoon.


Seok-jin adalah seorang dokter medis terkaya di kota Seoul dan pemilik beberapa cabang rumah sakit dibeberapa kota terutama Busan dan Daegu. Sedangkan Namjoon adalah seorang dosen jenuis sekaligus pemilik 5 kampus terbesar diSeoul dan termasuk pemilik beberapa cabang kedai kopi dan cafe Gwangju dan manager disebuah kedai kopi yang merupakan miliknya sendiri.


Saat itu kedai kopi sederhana itu lumayan sepi dan hanya ada beberapa orang didalamnya karena 3 jam lagi kedai akan ditutup. Hanya ada beberapa mobil yang terparkir diparkiran kedai itu.


Saat Yoon-gi memarkirkan mobil tepat disamping mobil berwarna hitam pekat. Ana membulatkan mata saat melihat mobil itu. Dan bayang-bayang seseorang muncul dalam pikirannya.


•Ana tidak mungkin itu mobilnya.. ada banyak mobil seperti itu.. harus berfikir positif saja• batin Ana menarik nafas kasar dan dengan jantung berdegup lumayan kencang.


"Chagi? Kau baik-baik saja" tanya Yoon-gi yang melihat Ana menghembuskan nafas kasar.


"Nee Oppa.. aku baik-baik saja" ucap Ana senyum Pepsodent.


"Baiklah.. kajja kita masuk" ucap Yoon-gi membuka pintu mobil dan membukakan pintu mobil Ana.


"Silahkan Nyonya" ucap Yoon-gi membungkuk setengah badan layaknya pelayan.


Ana terkekeh dan menggandeng tangan Yoon-gi. Hawa dingin yang dirasakan Ana membuat tubuhnya merinding seperti merasakan sesuatu.


Tingg..


Tingg..


Tingg...


Yoon-gi membuka pintu kedai dan lonceng diatasnya berbunyi. 2 pelayan kedai yang membungkuk setengah badan menyambut Ana dan Yoon-gi. Kemudian mereka mencari meja kosong dan mendapat meja nomor 27.



Pelayan yang melihat kedatangan Ana dan Yoon-gi langsung menghampiri dengan ramah dan menyodorkan buku menu makanan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya.. silahkan.. ingin memesan apa?" Ucap pelayan dengan ramah.


"Kau apa chagi?" Tanya Yoon-gi.


"Samakan saja dengan milikmu" ucap Ana senyum.

__ADS_1


"Hmm baiklah" ucap Yoon-gi mulai membuka menu makanan.


Saat Yoon-gi masih melihat menu makanan dan memilih untuk memesan Ana melihat sekitar. Kedua yang cukup luas seperti cafe membawa suasana nyaman dan sangat dingin pas sekali dengan cuaca setelah hujan.


Kedai yang memiliki ketenangan dan dihias dengan dekorasi yang sangat indah dan dipenuhi dengan lampu Tumblr yang berwarna warni.


Mata Ana berhenti melihat sekeliling dan tertuju pada seorang pria dimeja nomor 29 dengan memakai pakaian serba hitam dan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya.


Laki-laki itu menyeruput secangkir kopi mocca dengan sedikit gula yang dimasukkannya. Perlahan laki-laki itu menatap Ana tajam tapi Ana tidak bisa melihat jelas siapa laki-laki itu karena lampu Tumblr yang remang-remang.


Yoon-gi tidak mengetahui hal itu karena Yoon-gi duduk membelakangi laki-laki tersebut. Ana masih berusaha menatap dan memastikan bahwa laki-laki itu bukan laki-laki yang sedang berada dalam pikirannya.


_Dag dug_


_Dag dug_


Jantung Ana masih berdegup lumayan kencang dan berdoa agar laki-laki itu bukanlah laki-laki yang ada dipikirannya.


"Chagi? Kau baik-baik saja?" Tanya Yoon-gi setelah memesan makanan.


"N..nee.. aku baik-baik saja oppa" ucap Ana menelan ludah kasar saat laki-laki itu memperlihatkan jelas wajahnya.


Jantung Ana berdegup semakin kencang dan tidak teratur tangannya sangat dingin dan langsung menundukkan wajahnya.


Ya, siapa lagi jika bukan Jimin. Laki-laki yang bisa menggetarkan tubuh Ana hanya dengan tatapannya. Entah sengaja ataupun tidak Jimin hanya tersenyum miring dengan memegang cangkir kopinya.


Jimin tidak tau bahwa laki-laki yang duduk dihadapan Ana adalah Yoon-gi. Jimin masih menatap Ana dengan senyumannya.


Jantung Ana berdetak lebih cepat dari perkiraannya Ana hanya menunduk dan terdiam saat makanannya tiba Ana makan dengan pelan dan sesekali melirik Jimin yang masih duduk menatapnya.


•Apa yang aku takutkan terjadi.. mobil itu adalah mobil jimin. Dan sekarang dia berada dihadapanku ya Tuhan tolong jangan pertemukan Yoon-gi dengan pria kejam ini• batin Ana.


"Op..oppa" panggil Ana disela-sela makan mereka.


"Nee" ucap Yoon-gi.


"Aku mau ke toilet sebentar" ucap Ana.


"Biar ku antar" ucap Yoon-gi.


"Ani.. biar aku sendiri saja oppa tunggu aku disini" ucap Ana.


"Baiklah.. jangan lama-lama nee.. setelah ini kita pulang" ucap Yoon-gi.


"Nee Oppa." Ucap Ana.


Ana berjalan nunduk menuju ke toilet dan pada saat itu Ana berfikir bahwa Jimin tidak melihatnya tapi dugaannya salah. Jimin melihat Ana ke toilet dan segera menyusulnya.


Ceklek,


Ana menutup kamar mandi dan terdiam menatap wajahnya dicermin.


"Kenapa aku harus bertemu dengan Monster itu" ucap Ana memejamkan matanya.


"Siapa yang kau sebut Monster" tanya seorang pria yang bersandar dengan melipat tangannya di balik pintu setelah menutup pintunya kembali.


Sontak Ana terkejut mendengar suara yang sangat familiar itu. Ana berbalik dan terdiam saat melihat Jimin tersenyum miring dihadapannya.


"Ka..kau.." ucap Ana takut.


"Ya aku.. kenapa?? kaget?? aku tidak menyangka akan bertemu kekasihku tercinta disini!! Tapi kau tau?!! Hatiku sangat sakit melihat kau bersama suamimu!!" Ucap jimin.


"Ka..kau jangan macam-macam" ucap Ana gemetar.


"Kau sudah tau aku ada dicafe yang sama denganmu tapi kau malah ke toilet tanpa ditemani suamimu.. kau memang memberiku kesempatan chagia" ucap Jimin berjalan mendekati Ana.


"A..aku mohon jangan mendekat.." ucap Ana tidak bisa mundur kemanapun.


"Kenapa tidak?? Aku masih kekasihmu kan" ucap Jimin perlahan berjalan ke arah Ana.


"Jimin.. a..aku mohon jangan me...ndekat tolong Jimin" ucap Ana ketakutan.


Jimin semakin dekat dan mencengkram tangan Ana kuat.


"Kenapa.. kau.. kabur... dari.. masion?" Ucap Jimin menekan setiap kata.


"Sakit..." Rintih Ana.


"Orang-orang ku ada diluar aku bisa saja menyuruh mereka menghabisi nyawa suamimu itu.. aku tidak tau seperti apa wajahnya tapi sepertinya dia tidak asing bagiku.. jawab atau aku akan membunuh suamimu" ucap Jimin.


"Aku tidak mau tinggal bersama monster seperti dirimu.. Jimin yang aku kenal dulu tidak seperti ini.. kau bukan Jimin ku.. bukan.. aku tidak mengenalmu tolong lepaskan aku" ucap Ana menangis.


Jimin melepaskan tangan Ana. Ana terduduk dilantai dan menangkup wajahnya.


"Pergi!!" Kata Jimin dengan tatapan kosong menatap Ana.


"Apa?" Ana terdiam mendengar ucapan Jimin yang membiarkannya pergi.


"Pergi sebelum aku berubah pikiran" ucap Jimin.


"Ka.." ucap Ana terpotong saat Jimin menatapnya tajam.


"Aku tidak suka mengulangi ucapanmu.. pergi atau aku berubah pikiran" ucap Jimin dingin.

__ADS_1


Dengan cepat Ana menghapus air matanya dan berlari keluar menghampiri Yoon-gi yang menunggunya lama.


•Jiminku..?!!• batin Jimin masih dengan tatapan kosongnya setelah Ana pergi.


__ADS_2