
Setelah kembali mengantarkan proposal jantung Ana perlahan membaik, wajar saja jantung itu susah dikendalikan. Suami dan mantan kekasihnya Mereka berada disatu ruangan tapi tidak saling mengetahui.
Jimin tidak mengetahui bahwa Yoon-gi suami Ana dan Yoon-gi tidak mengetahui bahwa Jimin adalah mantan kekasih Ana. Lebih tepatnya Kekasih Ana karena diantara Ana dan Jimin belum saling mengucapkan kata putus.
Jimin adalah pria yang sangat keras kepala apapun yang dia inginkan pasti akan didapat. Pria berdarah dingin dan kejam.
Ana tidak tau harus berbuat apa jika Yoon-gi dan Jimin mengetahui kebenarannya. Ana merasa itu tidak penting karena Yoon-gi tidak mencintainya.
"Cepat atau lambat semua akan terungkap, haiss" ucap Ana frustasi.
Disisi lain Ana berfikir bahwa Jimin masih kekasihnya yang dikhianati demi keluarga Kim dan menikah dengan Yoon-gi.
Tapi, Hati Ana telah dicuri oleh Yoon-gi. Ana tidak bisa bilang tidak karena memang hatinya hanya untuk seseorang yang sekarang adalah suaminya.
Meskipun Yoon-gi keras dan kadang menyakiti Ana tapi ntah kenapa, Ana begitu mencintainya. Bahkan cinta itu terus bertumbuh.
•Tatapannya tadi.. kenapa aku merasa akan ada badai besar yang akan menghancurkan ku• Batin Ana menatap keluar kaca dan langit mendung dengan angin yang membawa terbang dedaunan.
Pukul 12:00 siang saatnya jam istirahat, dan bertepatan dengan Yoon-gi yang telah selesai rapat dan mengajak Jimin untuk makan siang bersama.
Mereka bertemu disebuah cafe dekat kantor yang pernah didatangi oleh Yoon-gi dan Hoseok.
Yoon-gi berjalan dengan Jimin sedangkan Ana berjalan dengan Taehyung dan Jungkook.
Tatapan sinis yang diberikan Yoon-gi tidak terlihat oleh Ana bahkan Ana tidak tau bahwa Yoon-gi ada di cafe yang sama dan bersama Jimin.
Jimin mengikuti arah pandangan Yoon-gi dan Jimin pun melihat Ana bersama Taehyung dan Jungkook.
•Apa salah satu diantara mereka adalah suami Ana?• batin Jimin.
•Dan.. tatapan Yoon-gi juga berbeda.. kenapa ada situasi yang sulit untuk dipahami seperti ini• batin Jimin kesal saat melihat Ana bercanda dengan Taehyung dan Jungkook.
Sifat Yoon-gi dan Jimin hampir mirip, dari seorang Presdir yang berhati dingin, cuek, kejam, tegas dan memiliki sikap yang sama kerasnya. Ntah apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui yang sebenarnya dan memperebutkan Ana.
Yah, meskipun Yoon-gi tidak mencintai Ana tapi setiap kali Ana bersama Taehyung atau Jungkook tatapan Yoon-gi sangat berubah, seperti ada kecemburuan dimatanya.
"Bukankah itu..." Ucap Jungkook menunjuk Yoon-gi dan Jimin yang jarak duduknya tidak jauh dari mereka.
"Presdir!!" Ucap Taehyung.
"Prufffttt, Ana menyemburkan minumannya saat mendengar Taehyung mengatakan presdir.
"Ana kau baik-baik saja??" Tanya Taehyung dan Jungkook bersamaan.
"Nee, aku hanya sedikit tersedak" ucap Ana meletakkan gelasnya.
"Ini.." ucap Taehyung dan Jungkook yang bersamaan lagi dan sama-sama memberikan tisu.
Ana bingung dan mengambil kedua tisu dari tangan Taehyung dan Jungkook.
"Gomawo" ucap Ana mengelap bibirnya.
"Nee" ucap Taehyung.
•Dia... disini.. apa dia melihatku, jika iya... ya Tuhan.. apa yang akan dapatkan lagi nanti• Batin Ana menundukkan wajahnya rambut panjangnya menutupi sebagian wajah cantiknya.
Pukul 02:00 siang,
Yoon-gi Ada pertemuan penting dengan Presdir Jung Hoseok yang akan membahasa kerjasamanya mereka untuk bulan depan.
Setelah selesai pertemuan lagi-lagi Hoseok bertabrakan dengan Ana.
"Aww.." ucap Ana terjatuh.
"Mianhe, mari ku bantu" ucap Hoseok.
"Ahh, Presdir Hoseok.. mianhe tidak hati-hati" ucap Ana membungkuk.
"Tidak apa-apa" ucap Hoseok senyum lebar.
"Pertemuan sebelumnya aku menabrak Anda dan pertemuan kedua aku menabrak Anda lagi.. mianhe" ucap Ana malu.
"Kau terlalu sungkan, ini artinya kita bisa menjadi teman" ucap Hoseok terkekeh.
"Mianhe Tuan, anda adalah presdir yang terkenal sedangkan aku hanya karyawan biasa aku rasa itu tidak pantas" ucap Ana.
"Aku tidak memilih teman dari kalangan, selagi baik bisa dijadikan teman aku tidak masalah" ucap Hoseok.
"Tapi.. ini..." Ucap Ana terpotong.
"Ahaha, aku harus segera kembali. Semoga kita bertemu lagi dan dipertemuan berikutnya kita bisa menjadi teman" ucap Hoseok terkekeh.
"Ahh nee, Tuan nee" ucap Ana.
"Sampai jumpa" ucap Hoseok senyum.
•Andai saja Yoon-gi seperti dia pasti aku selalu bisa melihat senyumannya setiap harinya• batin Ana tersenyum tipis.
****
Sore harinya jam pulang, pukul 18:00
__ADS_1
Ana masih membereskan barang-barang nya tiba-tiba Luna datang.
"Ana?" Panggil Luna.
"Nee?" Ucap Ana masih membereskan barang-barang nya.
"Presdir memanggilmu keruangannya" ucap Luna.
Deg,
Ana menghentikan aktivitas nya dan memandang Luna.
"Presdir??" Ucap Aan tertegun.
"Iya Presdir menyuruhmu segera keriangannya" ucap Luna.
"Kau segeralah kesana, aku pulang duluan sampai jumpa besok An" ucap Luna berlalu.
"Nee.. nee.." ucap Ana dengan jantung berdebar.
"Tenanglah Ana tenang.. hufftt" ucap Ana membuang nafas dan berjalan menuju ruangan Yoon-gi.
Tap
Tap
Tap
Ting, pintu lift terbuka dan menampakkan Dae Hyun di depan ruangan Yoon-gi yang menunggu Ana.
"Nyonya muda, Tuan muda menunggu Ana didalam" ucap Dae Hyun.
"Ba..baiklah" ucap Ana masuk saat Dae Hyun membukakan pintu.
Yoon-gi tidak terlihat disekitar ruangannya yang luas. Ana tidak mencari dan tidak menemukan Yoon-gi.
"Dimana dia?" Ucap Ana melihat sekitar.
"Sudah datang??" Ucap Yoon-gi dibalik pintu tepat dibelakang Ana yang membuat Ana terkejut.
Ana terkejut dan spontan berbalik kebelakang dan melihat Yoon-gi memegang gelas berisi anggur dan bersandar di pintu.
Dengan tatapan dinginnya Yoon-gi menggenggam erat gelasnya hingga..
Pyarr!!! Gelasnya pecah dan tangan Yoon-gi berlumuran darah.
Deg, jantung Ana berdegup kencang saat melihat Yoon-gi memecahkan gelas dengan atau kali genggaman dan berjalan ke arah Ana.
Ana menelan salivanya kasar dan jantungnya semakin berdegup kencang.
"Oppa... I..itu... Ta..tanganmu berdarah.." ucap Ana berjalan mundur perlahan.
"Jawab pertanyaan ku Nyonya Min Ana!!!" Ucap Yoon-gi menatap tajam kearah Ana.
"A..aku tidak me..langgar pe..rintahmu" ucap Ana terbata-bata saat tubuhnya membentur meja dan Yoon-gi semakin mendekatinya.
Sraaakkk!!
Yoon-gi merobek tali baju Ana dan membalut tangannya dengan robekan tali itu. Ana menutupi dadanya yang talinya telah dirobek oleh Yoon-gi.
"Kau tidak melanggar ya??.. lalu kenapa kau selalu makan siang bersama Taehyung dan Jungkook?? Di cafe!!" Ucap Yoon-gi dingin dengan membalut tangannya.
"Oppa... Itu... A..aku hanya makan si...ang bersama...ti...tidak melakukan..a..apapun" ucap Ana terbata dengan memegangi kerah bajunya yang robek.
"Oppa.. a..aku mohon.. ja..jangan lakukan a...apapun padaku...a..aku mohon" ucap Ana meneteskan air matanya.
"Jika aku mau melakukannya? Bagaimana?" Ucap Yoon-gi menatap tajam Ana dengan tatapan elangnya.
"Aku mohon.. jangan lakukan.." Ucap Ana menangis.
"Aku sudah berkali-kali katakan padamu, aku tidak suka kau menangis dihadapanku!!" Ucap Yoon-gi menarik tangan Ana.
"Aww..." Rintih Ana.
"Aku.. bisa menyakitimu lebih dari ini.. jika kau tidak menurut padaku!! Sudah berapa kali aku melihatmu mengabaikan ucapanku... Dan masih berani dekat dengan kedua manager itu!!" Ucap Yoon-gi kesal dan memperkuat cengkramannya.
"A..aku hanya menghargai a...ajakan mereka... Oppa lepaskan.. kau menyakitiku" ucap Ana merintih dan air matanya terus mengalir.
Yoon-gi tidak mendengarkan Ana dan semakin kuat mencengkram lengan Ana. Darah yang keluar dari tangan Yoon-gi menembus hingga baju Ana.
Dengan keadaan setengah sadar dari mabuknya Yoon-gi menyakiti Ana tanpa dia tahu itu adalah kesalahan.
Ana hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apapun. Mulutnya membatu untuk mengucapkan maaf pada suaminya.
Hatinya membeku dan rasa sakit yang Ana rasakan bagaikan mati rasa. Rasa sakit yang didapat seakan-akan telah meresap keseluruh jiwanya.
Menangis dan menangis tanpa hentinya air mata Ana mengalir deras. Sesekali Yoon-gi menamparnya hingga tersungkur, rasanya tidak sanggup lagi tapi hatinya sangat mencintai Yoon-gi.
"Kau... Kenapa kau selalu membuatku marah!!" Bentak Yoon-gi.
"Tidak pernah menurut denganku dan tidak mendengarkan aku!!"
__ADS_1
"Kau bosan hidup? Hm? Kau merasa berat dengan larangan ku?? Begitu??" Bentak Yoon-gi.
"A..aniya Oppa... Sakit.." ucap Ana memegangi tangannya.
"Kau membuatku kehilangan kesabaran Nyonya Min Ana!!" Bentak Yoon-gi menyeret Ana keluar ruangan.
"Ingat!!! Malam ini!!! So Eun berulang tahun bersikaplah dengan baik saat disana!! Jangan tampakkan wajah sedihmu dan perlihatkan wajah bahagiamu dihadapan orang tuamu!! Atau aku akan melukaimu lebih dari ini!! Sekarang keluar dan pulang!!" Ucap Yoon-gi mendorong Ana hingga tersungkur.
"Nee" ucap Ana memegangi tangannya.
Yoon-gi berjalan mendahului Ana yang masih terduduk didepan ruangannya. Sore itu seluruh karyawan telah pulang dan hanya tersisa security.
"Nyonya, mari saya bantu" ucap Dae Hyun mengulurkan tangannya.
Ana terdiam dengan Isak tangisnya dan mengulurkan tangannya. Dae Hyun membawa Ana ke mobilnya.
Sedangkan Yoon-gi hanya memperhatikan dari dalam mobil dan satu mobil dengan Yoon-gi.
****
Rumah,
Brakkk,
Yoon-gi membanting pintu tanpa perlu dibukakan pintu oleh pelayan.
"Pelayan!!" Teriak Yoon-gi.
"Nee Tuan muda" ucap Ahjuma.
"Rawat dia 2 jam kedepan dan aku mau pukul 8 malam dia sudah baik-baik saja, jika tidak kalian semua bisa meninggalkan pekerjaan kalian" ucap Yoon-gi penuh kekesalan.
"Baik" ucap Ahjuma membawa Ana ke kamar.
Kamar,
Sampai kamar Ahjuma dan 2 pelayan lainnya membantu Ana membersihkan dirinya. Siku Ana sedikit terluka karena Yoon-gi mendorong Ana cukup kuat.
Saat itu Yoon-gi ada diruang kerjanya, sedangkan Ana dan 3 pelayannya ada di kamar untuk mengobati lukanya dan menenangkan dirinya.
Sebenarnya Ana tidak apa-apa dan hanya luka kecil disikunya dan dengan mudah diobati. Tapi rasa sakit dihatinya yang tidak bisa diobati dan akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan luka hatinya.
Mata Ana sedikit sembab akibat menangis sejam lebih Ana mengompres matanya dengan air dingin dan sudah membaik.
Pukul 07:20 Ana bersiap-siap untuk menghadiri pesta ulang tahun Euna. Ana mengenakan gaun biru langit dengan motif bunga yang didesain langsung oleh desainer ternama di Korea Selatan dan direkrut langsung oleh Yoon-gi untuk menjadi desainer pribadi.
Ceklek,
Yoon-gi membuka pintu dan masuk kedalam dimana Ana sudah siap dengan dandanannya. Meskipun wajah Ana terlihat kurang baik tapi make up yang digunakan Ana dapat menutupinya dan tidak memperlihatkan wajah kurang sehatnya.
"Kalian semua boleh keluar" ucap Yoon-gi.
"Baik" ucap 3 pelayan yang berlalu keluar kamar.
Ana hanya terdiam dan menunduk sesekali melirik Yoon-gi dari pantulan kaca yang berdiri dibelakangnya. Tiba-tiba Yoon-gi memeluk Ana dari belakang dan mencium pipi Ana.
"Mian" ucap Yoon-gi dan mencium Ana sekilas.
Kemudian Yoon-gi melepaskan pelukannya dan berlalu keruang ganti. Seketika air mata Ana kembali menetes ditelapak tangannya.
"Kau tidak salah, akulah yang bersalah" ucap Ana pelan dengan senyum tipisnya.
10 menit berlalu Ana masih terduduk di meja riasnya menunggu Yoon-gi bersiap. Setelah itu Yoon-gi keluar dari ruang ganti dan menghampiri Ana.
"Kajja" ajak Yoon-gi sambil memberikan tangan kanannya untuk digandeng Ana.
Ana hanya tersenyum setiap melihat Yoon-gi Ana masih merasakan rasa sakit dihatinya, tapi anehnya cintanya tidak pudar sedikitpun.
Ana meraih tangan Yoon-gi dan menggandengnya.
"Tunggu, Mian untuk hari ini... Maaf terlalu kasar padamu" ucap Yoon-gi menatap Ana.
"Aniya Oppa, aku yang salah seharusnya aku menuruti keinginanmu" ucap Ana senyum tipis.
"Aku tau hatimu masih terasa sakit akibat ulahku, tapi aku harap kau mengerti kenapa aku melakukan itu padamu" ucap Yoon-gi.
"Aku mengerti Oppa" ucap Ana senyum.
"Apa tanganmu baik-baik saja?" Tanya Ana.
"Nee" ucap Yoon-gi.
"Mian Oppa, aku selalu membuatmu marah" ucap Ana.
"Diam! Jangan katakan apapun kita akan terlambat jika kau terus bicara, aku sudah menyiapkan kado untuk Euna" ucap Yoon-gi menutup bibir Ana dengan jarinya.
Ana hanya tersenyum tipis.
•Bahkan saat aku berlaku kasar padamu, kau masih mengkhawatirkan aku.. Ana maaf aku harus melakukan ini.. Mianhe Chagia.. aku janji ini akan cepat berakhir dan kita akan bahagia• Batin Yoon-gi dengan senyum manisnya.
•Aku akan menghadapinya sendiri, kau tidak boleh tidak boleh ikut menghadapinya.. kau tidak akan sanggup biar aku saja.. kau sudah membuatku mencintaimu.. kau harus bertanggung jawab Min Ana• batin Yoon-gi yang terus menatap Ana.
__ADS_1